Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 77. Berbelanja


__ADS_3

Setelah Vino dan Vano keluar dari ruangan kerja Kakaknya mereka tampak merencanakan sesuatu.


"Ternyata wanita ribet yah kalo cemburu?" ucap Vano.


"Yah begitulah, Van. Makanya kita nggak usah pacaran."


"Lah kenapa? kan sama aja nikah sama pacaran tetap ketemu sama wanita." ujar Vano kembali bertanya.


"Setidaknya kalo sudah nikah, tinggal di geret pulang aja. Kalo pacaran, hedeh kita tidak punya hak apa-apa. Bisa-bisa sampai setahun tuh masalah nggak kelar-kelar."


"Haha...iya bener juga yah."


Mereka kembali ke ruang kerja masing-masing sementara di sisi lain, tepatnya di kediaman Tuan Tedy.


Tampak sepasang suami istri tengah tertawa menikmati pertunjukan di layar tab milik Tuan Tedy.


"Ya ampun Gara ini jahil sekali sih, Ayah? kasihan Kharisa kalau begitu." ucap Nyonya Harina memperhatikan tampilan ruang kerja anak dan menantunya.


"Tapi itu yang bikin kangen kan, Bu? seperti Ayah dulu?" goda Tuan Tedy.


Nyonya Harina terkekeh melihat akal licik suaminya itu. "Gara benar-benar nurun deh sifatnya sama Ayah. Makanya Ibu suka pusing kalau kalian berdua ribut. Sama-sama keras, Ibu jadi pasrah saja. Kalian tidak ada yang mau mengalah."


"Itu namanya pria sejati, Bu. Sekali tidak, yah tetap tidak." ucap Tuan Tedy membela diri.


Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Hingga kini tiba waktunya para pekerja di perusahaan CW Sejahtera untuk pulang ke rumah tanpa terkecuali.


Kharisa dengan sigap melangkah keluar ruangan. Ia tampak kesal setelah melirik ke ruangan sang suami yang masih betah dengan tirai pelindung itu. "Dasar, nggak ingat waktu. Katanya selalu ada. Mana buktinya? jam pulang saja dia masih betah berduaan. Awas saja sampai rumah kamu, Gara." umpatnya kemudian berjalan ke lantai bawah untuk menemui sang adik.


Berhubung Kharisa belum memiliki ponsel, sang adik sengaja menitipkan sebuah pesan pada Randa.


"Kharisa." panggil Randa dengan santai.


"Hey. Ada apa, Randa?" tanya Kharisa menghentikan langkahnya seketika.


"Vino bilang kalian mau pulang bareng yah?"


"Iya, benar. Dimana dia?" tanya Kharisa.


"Vino sudah di mobil. Kalau Vano pulangnya bareng sama aku nanti. Kalian hati-hati yah."


"Oh begitu, iya terimakasih Ran." Kharisa melenggang pergi dari hadapan Randa. Ia menuju mobil yang sudah siap untuk jalan mengantarkan ia pulang.


Tanpa melihat sang pengemudi, Kharisa masuk dan duduk di sebelah kursi kemudi. Hening. Kharisa merasa ada yang ganjal dengan sikap adiknya yang terkenal hebohnya.

__ADS_1


"Vin-" Mata Kharisa membulat saat melihat siapa yang ada di samping dirinya saat ini.


"Kamu?" tanyanya terkejut sembari memperhatikan mobil di spion depan. Pikirnya apakah salah masuk mobil? ternyata ini benar mobil adiknya. Itu artinya adiknya dengan suaminya tengah bersekongkol.


"Vino, Vano." umpat Kharisa dalam hati sembari mengeratkan rahangnya dan mengepal keras tangannya.


Gara hanya tersenyum sembari mengedipkan matanya. "Kenapa? kita akan senang-senang hari ini." ujarnya.


"Tidak, aku lelah. Aku mau istirahat." sahut Kharisa menampakkan wajah cemberutnya.


"Biasanya kalau istri mau istirahat itu tandanya mau menemani suaminya, begitu kan?" goda Gara lagi.


Wajah Kharisa tampak gugup. Ia terlihat begitu gelisah. "Sejak kapan kamu di luar?" tanyanya penasaran.


"Sejak ada yang cemburu dengan ku."


"Apa cemburu? siapa yang cemburu? aku tidak cemburu dengan mu." elak Kharisa yang tanpa sadar sudah terpancing dengan ucapan sang suami.


"Oh...jadi karena cemburu kau meninggalkanku begitu?"


"Mana ada, sembarangan bicara. Siapa bilang cemburu?"


"Sudahlah, sebaiknya kau diam. Dan nikmati perjalanan kita ini."


Perjalanan yang hening kini membuat Kharisa mendadak heran karena mobil yang di bawa suaminya sudah berbelok mengarah ke mall.


"Waktunya kamu berbelanja, ayo turun." Gara sudah membuka pintu mobil tempat Kharisa duduk. Namun wanita itu masih berdiam di dalam enggan untuk keluar.


"Kau saja yang belanja. Lagi pula aku sudah punya banyak barang. Aku mau pergi memanah saja." ucapnya.


"Tidak ada memanah-memanah lagi. Ayo." Gara sontak menggendong tubuh istrinya keluar dari mobilnya.


"Gara, hentikan! turunkan aku!" Kharisa terus meronta namun sang suami enggan menurutinya.


Semua pengunjung melihat pemandangan romantis itu. Mereka tersenyum-senyum melihat pertunjukan langka itu. Gara terus melangkah seakan bertingkah layaknya robot. Buta dan tuli. Ia terus berjalan tanpa mendengar permintaan Kharisa yang meminta turun.


"Gara turunkan aku! aku malu!" pekik Kharisa yang sudah membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Keduanya kini sudah menaiki eskalator, para mata terpana melihatnya. "Dasar pria gila, dia pikir ini kamar pribadi apa seenaknya membuat keresahan." batin Kharisa yang sudah malu untuk bersuara.


Suara penolakannya hanya akan membuat para pengunjung semakin heboh. Dan saat ini lebih baik dia diam.


Tepat di sebuah butik ternama. Dengan barang-barang limited edition, Gara menurunkan tubuh Kharisa dari gendongannya. Kharisa di dudukkan pada sofa empuk yang tersedia di tempat itu.

__ADS_1


"Pilih barang yang kau inginkan." pintah Gara dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ti-" Belum sempat Kharisa mengucapkan penolakan Gara sudah lebih dulu mencegahnya.


"Tidak ada penolakan." ucap Gara.


Kharisa terdiam, justru kali ini ia menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuhnya di sofa itu. Ia membuang wajahnya enggan untuk memilih pakaian.


"Maaf, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang pelayan yang bekerja di butik itu.


"Oh, tidak." sahut Kharisa dengan menampilkan senyuman manisnya.


"Tolong ambil semua baju yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Dan ini untuk pembayaran." Gara menyerahkan ATM yang sudah berisikan uang hasil kerjanya selama memimpin perusahaan sang Ayah.


Manik mata Kharisa mendelik mendengar perintah sang suami pada pekerja tersebut. "Kartu ATM? bukannya dia punya kartu kredit?" batin Kharisa bertanya-tanya.


"Tidak, jangan dengarkan ucapannya. Aku tidak mau belanja." Kharisa mencegah pelayan itu.


"Cepat ambilkan, aku yang membayarnya." pintah Gara.


"Baik, Tuan."


Saat Kharisa hendak duduk lagi di sofa, Gara melirik sang istri. "Mau aku gendong lagi? atau memilih tas sendiri?" ancaman yang terdengar menakutkan namun membahagiakan bagi wanita lainnya termasuk Kharisa.


Kharisa bukanlah wanita munafik. Ia juga tentu senang di perlakukan istimewa dengan suaminya. Tapi ada hal yang membuat dirinya menolak seluruh perlakuan itu khusus untuk hari ini. Yaitu karena Gara sudah membuatnya cemburu buta dan juga Kharisa masih berpikir jika Gara menggunakan uang dari Mr. Dave.


Kharisa masih diam sibuk bertarung dengan pikirannya sendiri, sampai akhirnya Gara sudah kembali meraih tubuhnya hendak menggendong lagi. "Sudah tidak perlu. Baiklah aku memilih sendiri saja." Kharisa sontak berdiri meninggalkan Gara dan memilih tas yang tertata rapi di rak kaca tersebut di hiasi lampu khusus yang membuat tampilan barang di butik itu semakin terkesan mewah dan menarik.


"Tasnya bagus semua. Bisa-bisa aku tidak akan rela memakainya."


Di sela-sela Kharisa tengah berjalan perlahan memperhatikan tas-tas di hadapannya, Gara tiba-tiba berdiri di belakangnya tanpa terdengar langkahnya. "Ambil yang mana kau suka. Semua kerja kerasku untuk istriku."


Merinding mendengar ucapan pelan di belakang Kharisa yang terasa nafas menyapu bagian leher belakangnya.


"Aku tidak butuh ini semua, seorang istri bahagia bukan dengan barang-barang mewah. Tapi dengan kesetiaan suaminya." Kharisa hendak meninggalkan suaminya, namun Gara lebih dulu mencegahnya dengan menggenggam lengannya.


"Aku bahkan sangat setia dengan mu. Apa kau cemburu dengan sebuah manekin?" tanyanya menatap Kharisa penuh harap.


"Manekin?" batin Kharisa terkejut.


"Sudah sekarang pilihlah." pintah Gara.


Kharisa dengan acak mengambil tas sesuai dengan hitungan yang di berikan Gara. Para pelayan di butik itu hanya memandang dengan wajah tersenyum-senyum saja. Sementara untuk baju sudah di kemas dalam paper bag yang rapi.

__ADS_1


Kini mereka memutuskan untuk pulang ke rumah karena Gara khawatir jika Kharisa akan kelelahan. Gara fokus mengemudikan mobil, sementara Kharisa benar, wanita itu sungguh kelelahan. Bahkan ia sudah terlelap di samping suaminya.


__ADS_2