
Setelah cukup lama akhirnya Kharisa kembali tenang, Gara semakin was-was melihat depresi sang istri tadi.
"Apa yang baru terjadi, Tuan? mengapa bisa tiba-tiba seperti ini lagi? apakah sesuatu kembali terdengar atau terlihat oleh pasien?" Dokter merasa ada yang membuatnya penasaran.
Karena sesuai dengan ucapannya jika Kharisa bisa saja kembali kumat jika ia melihat hal yang mengingatkan dirinya dengan kejadian menakutkan itu.
Gara diam. Ia bingung karena istrinya sejak tadi hanya terlelap. "Tidak ada, Dokter. Istri saya hanya tertidur dan tiba-tiba mengamuk." terang Gara.
Dokter yang tidak terpikirkan sejauh langkah Reynka merasa janggal namun ia juga masih bimbang, berhubung Gara sampai sejauh ini belum juga menceritakan tentang kasus yang di alami sang istri.
***
Semenjak kejadian saat itu, Gara semakin memperketat penjagaan. Bahkan ia sama sekali tidak mengijinkan siapa pun masuk ke ruang rawat itu. Termasuk Reynka. Di depan pintu ruangan sudah terlihat penjagaan oleh dua orang lelaki yang sengaja di bayar khusus. Mengingat saat ini Gara dan Randa bukanlah anggota mafia lagi, mereka sudah hidup tanpa adanya anak buah.
Keadaan Meisa semakin membaik, begitu juga dengan Tuan Tedy. Keduanya sudah di perbolehkan untuk kembali ke rumah, meski sampai saat ini Kharisa terlihat tidak banyak bicara. Ia selalu diam dalam pelukan sang suami.
Randa yang sudah selesai mengurus seluruh administrasi rumah sakit kini menghampiri Gara.
"Semuanya sudah selesai, kita pulang sekarang?" tanyanya setelah menutup pintu ruangan kembali.
Gara mengangguk setuju. Ia sungguh tidak ingin berlama-lama di rumah sakit. "Apa kau sudah menemui atasan istriku?"
"Iya, sudah. Beliau memahami kondisi Kharisa. Dan untuk surat pengunduran diri juga sudah di terima."
"Bagus. Terimakasih, Randa."
"Sama-sama, sekarang mari kita keluar. Yang lain juga sudah menunggu kita." Randa mempersilahkan Gara dan Kharisa untuk menuju ke mobil. Di sana Tuan Tedy dan Nyonya Harina sudah sangat antusias dengan kepulangan mereka.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tidak ada percakapan selama di perjalanan. Keduanya sudah mematuhi perintah Gara untuk tidak berbicara dulu pada Kharisa.
Pelukan erat masih saja melingkar di tubuh Gara. Kharisa sama sekali tidak bisa lepas dari sang suami.
Melihat hal itu ada perasaan sedih bercampur bahagia di wajah Tuan Tedy. Ia senang melihat Kharisa begitu bergantung dengan putranya. Sedangkan melihat ketakutan menantunya, ia sedih karena dirinyalah yang membuat Kharisa menjadi depresi seperti itu.
"Ayah, apa kita sebaiknya meminta ganti Dokter untuk Ayah. Ibu khawatir jika Reynka masih datang ke rumah." bisik Nyonya Harina pada sang suami.
"Iya, Ibu benar. Nanti sampai di rumah Ayah akan meminta ganti Dokter saja. Ayah sudah cukup banyak salah pada Kharisa. Kali ini Ayah tidak akan biarkan hal itu terjadi lagi." ucap Tuan Tedy.
Setelah perjalanan yang tidak begitu jauh, akhirnya mobil pun tiba di kediaman Tuan Tedy. Tampak dua pria sudah berdiri di depan pintu rumah megah itu.
"Akhirnya Kak Risa dan Ayah sudah kembali lagi." Vano mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Ingat kata Kakak ipar, jangan banyak bicara." sahut Vino.
"Ayo, jemput Kak Risa." Vano menarik tangan kembarannya untuk mendekat pada pintu mobil yang terbuka.
Keduanya saling berlomba mendekat, namun saat melihat sikap Kharisa yang masih memeluk bahkan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Gara, kini membuat dua adiknya berhenti mendekat.
"Sebaiknya kita masuk." Gara mengerti dengan tatapan sedih Vino dan Vano. Namun keduanya tidak bisa memaksa kehendaknya. Kharisa sedang dalam masa pemulihan kejiwaan saat ini.
Nyonya Harina yang sadar akan perubahan ekspresi dua pria itu segera mengambil alih perhatian mereka.
"Vino, Vano, bantu Ibu, Nak."
Keduanya serentak bersuara. "Iya, Bu. Mari Ayah."
Tuan Tedy tersenyum hangat melihat kesigapan keduanya. Benar-benar anak yang sopan dan baik.
"Ayo Ayah, hati-hati."
"Terimakasih, yah." tutur Tuan Tedy.
Keduanya mengantarkan Tuan Tedy hingga ke kamar. Sedangkan Gara sudah membawa sang istri ke kamar mereka juga.
Kharisa di baringkan di tempat tidur dengan sangat hati-hati. Saat hendak beranjak dari tempat tidur, tangan Gara di raih oleh Kharisa.
Gara kembali duduk di samping sang istri. Ia mengusap lembut lalu mencium puncak kepala sang istri. "Tidurlah, aku akan menemanimu. Cepatlah sembuh, agar kita bisa liburan."
Mendengar kata liburan, seketika mata Kharisa yang lemah mendadak berbinar. "Liburan?" tanyanya dengan penuh semangat.
"Hem, kau ingin liburan?"
Kharisa menganggukkan kepalanya cepat. "Aku sangat menginginkannya."
"Baiklah, sekarang istirahat. Jika kau sudah sehat kita segera berangkat, oke?"
Wajah Kharisa yang begitu gembira kini kembali berubah ekspresi. "Aku baik-baik saja. Aku tidak sakit."
"Iya kau tidak sakit. Tapi kelelahan. Ayo pejamkan matamu. Aku akan terus memeluk mu."
"Aku lapar."
"Lapar? katakan ingin makan apa?"
__ADS_1
"Aku ingin makan..." sejenak Kharisa berpikir, matanya tampak menatap langit-langit kamar itu. "Ikan mas."
"Baiklah, sepertinya ngidammu mulai yah. Sebentar aku akan meminta pada Bibi."
Saat Gara hendak bergegas, kembali lengannya di tahan oleh Kharisa. "Aku ingin makan sambil memancingnya."
"Apa tidak ada jalan lain? selain memancing?"
Kharisa menggelengkan kepalanya, namun Gara semakin tampak khawatir. Bukan karena jarak yang ia tidak suka menempuhnya. Namun, ia khawatir jika tiba-tiba Kharisa kambuh lagi. Selama daerah yang mereka kunjungi di Kota, rasanya Gara masih was-was takut jika sesuatu akan menghampirinya saat bersama Kharisa.
"Oke, aku akan menyiapkannya. Tunggu sebentar."
Gara tampak meraih ponselnya di dalam saku celana lalu menghubungi Randa.
Telepon pun terhubung. "Hali, Randa. Tolong minta pelayanan siapkan alat pancing dan berikan ikan mas di kolam."
"A-pa? di kolam? Serius, aku tidak salah dengar, kan?" Randa merasa indera pendengaran miliknya sepertinya sedang gangguan.
"Sudahlah siapkan saja. Aku butuh cepat."
Telepon terputus. Kini Randa beranjak ke dapur untuk meminta pelayan melakukan apa yang Gara perintah padanya tadi.
***
Di ruangan Yang tidak begitu besar tampak dua orang berlawanan jenis kelamin saling berhadapan. Dengan petugas kepolisian yang siap siaga.
"Bagaimana? apakah semuanya berjalan dengan lancar?"
"Awalnya sukses. Tapi setelah kejadian itu, aku sama sekali tidak bisa menyentuh Kharisa kembali. Bahkan Gara sama sekali tidak membiarkan siapa pun masuk ke ruangan rawat itu."
"Seharusnya kau bermain lebih cantik lagi. Aku yakin jika Kharisa selalu seperti itu pasti Gara akan meninggalkannya. Mereka pasti akan malu jika harus merawat orang yang depresi dan aku bisa segera merawatnya. Begitu pun dengan mu. Kau bisa melanjutkan hubungan mu dengan Gara."
"Tapi nyatanya tidak semudah itu. Kau pikir mereka orang bodoh?" sahut Reynka yang geram dengan ucapan Khard.
"Baiklah, sekarang kau hanya bisa membantu ku agar mendapatkan masa tahanan yang ringan. Setelah itu aku yang akan beraksi di luar. Siapkan saja uang untukku dan pengacara yang hebat."
"Oke, aku serahkan dengan mu. Tapi ingat jangan sampai mengecewakan aku. Uang itu tidak gratis."
"Maaf, waktu besuk sudah habis. Mari ikut saya." Tangan Khard kembali di borgol dan Reynka sudah keluar dari tempat terkutuk itu.
Ia melangkah melenggang menuju mobil miliknya. Kembali ia melajukan kendaraan kesayangan itu ke arah rumah sakit. Hari ini ia akan bersabar sembari menunggu jadwal pemeriksaan keadaan Tuan Tedy.
__ADS_1
Yah, setidaknya masih ada satu jalan untuk ia berusaha masuk ke dalam rumah yang sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya itu.