Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 51. Persidangan


__ADS_3

Usai bersiap kini Kharisa dan gara keluar dari kamar mereka. Tatapan teduh terlihat di wajah Nyonya Harina saat ini. Segaris senyum di wajah wanita cantik yang sudah berumur itu terukir jelas.


"Kalian sudah mau pergi?" tanya Nyonya Harina menghampiri sepasang suami istri itu.


"Iya Bu, biar Kharisa bisa lebih cepat sampai di rumah dan istirahat." sahut Gara.


Kecanggungan masih tampak jelas di wajah Kharisa, keduanya berubah begitu drastis. Gara yang biasa sangat kasar kini sudah melemah. Kharisa yang biasanya ketus kini terlihat lebih pendiam.


Keduanya melangkah menuju mobil di antar oleh Nyonya Harina sampai benar-benar masuk di dalam mobil.


"Gara pelan-pelan saja bawa mobilnya." tutur Nyonya Harina.


"Iya Bu."


Kendaraan beroda empat melaju dengan kecepatan sedang keluar dari gerbang kediaman Tuan Tedy. Nyonya Harina membalikkan tubuhnya dengan senyum puas di wajah sedikit berkerut itu.


Ia masuk menghampiri sang suami yang sejak tadi berada di dalam kamarnya.


Decitan pintu terdengar pelan dengan dorongan dari tangan Nyonya Harina. Manik mata sendu milik Tuan Tedy menangkap sosok wanita yang begitu setia merawatnya.


"Ayah, Ibu bawa turun kita lihat-lihat barang yang baru Gara beli." seru Nyonya Harina.


Wajah lemas Tuan Tedy seketika mengeluarkan senyuman yang tenang.


Keduanya keluar dari kamar menuju ruang tengah. Di sana para pelayan sudah meletakkan barang belanjaan Gara untuk Kharisa.


Tuan Tedy hanya duduk, sedangkan Nyonya Harina memeriksanya satu persatu barang yang Gara beli.


"Anak kita so sweet loh Ayah, Ibu saja tidak pernah Ayah belikan seperti ini."


Suara yang tidak begitu ramai kini terdengar di telinga Vino dan Vano. Keduanya ikut bergabung dengan rasa senang.


"Ayah, Ibu." sapa kedua pria itu.


"Hey kalian, sudah selesai belajarnya?" tanya Nyonya Harina.

__ADS_1


"Sudah, Bu." sahut Vino.


***


Di rumah sakit suara pijakan kaki begitu terdengar berirama saat bersentuhan dengan marmer rumah sakit. Gara dan Kharisa menuju ke ruang khusus Dokter kandungan. Gara sudah membuat janji saat di perjalanan tadi.


Pasangan suami istri itu kini sudah masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter memeriksa Kharisa dan jangan lupakan manik mata Gara yang sangat antusias melihat layar menampilkan keadaan janin yang masih tak berbentuk di dalam sana.


Seulas senyuman di tunjukkan oleh Dokter itu. "Keadaan baik-baik saja. Untuk Nyonya sebaiknya jangan terlalu kelelahan karena usia kandungannya masih sangat muda."


"Baik, Dok." jawab Gara.


Dokter menyudahi pemeriksaan Gara pun membawa Kharisa untuk segera keluar dari rumah sakit itu.


Tak lupa Gara meminta selembar kertas hasil USG kandungan sang istri untuk ia lihatkan pada Tuan Tedy.


"Apa sebaiknya kau tidak berhenti kerja dulu?" tanya Gara ragu namun berharap Kharisa mau mempertimbangkan ucapannya.


"Aku mengambil cuti saat mau melahirkan saja nanti. Lagi pula ada dua adikku yang harus aku hidupi." tutur Kharisa terus melanjutkan langkahnya tanpa menatap wajah suaminya.


Gara menghentikan langkahnya, ia merubah posisi menghadap sang istri dan meraih kedua pundak Kharisa. Membawanya menatap dirinya di sela-sela lorong rumah sakit yang banyak pengunjung.


Namun belum sempat ia melepaskan genggamannya, Kharisa sudah lebih dulu menahan tangannya dan menggelengkan kepala. "Pakailah, aku tahu kau mendapatkan ini dari Mr. Dave, bukan?"


Gara terdiam tanpa kata. Memang benarlah apa yang Kharisa ucapkan itu. Mr. Dave lah yang memenuhi seluruh kebutuhan Gara. Jika tidak? dari mana pria ini mendapatkan uang.


"Mengapa kau tidak mau memakainya? ini juga aku dapat karena kerja kerasku." sahut Gara.


Kharisa menggelengkan lagi kepalanya. "Kalian bekerja di dunia seperti itu. Bagaimana bisa aku mau ikut menikmati uang yang kalian peroleh dari hal yang tidak baik? aku akan memakai uangmu jika kau mendapatkan kerjaan yang lainnya."


Gara terdiam dan melepas tangannya, ia berekspresi datar dengan pandangan yang kosong. Sementara Kharisa sudah melangkah pergi meninggalkan suaminya ke mobil.


Gara yang baru tersadar dari lamunannya pun segera melanjutkan langkah dengan wajah yang tidak bisa di ekspresikan lagi.


Memang benar keinginan Kharisa sangat baik, tapi itu semua tidak bisa dengan mudah terlaksanakan. Bertambah lagi beban Gara kali ini, selain kegelisahannya kini Kharisa juga menuntutnya tanpa secara langsung untuk berhenti dari kelompoknya itu.

__ADS_1


Mobil yang sudah terisi dengan satu wanita di dalam kini terbuka kembali saat Gara ikut masuk ke dalam mobil. Suasana kembali canggung.


Gara tak tahu harus mengatakan apa lagi kali ini. Ia bahkan tidak punya hak untuk melarang Kharisa kerja. Tidak mungkin juga jika Gara harus meminta bantuan keuangan dari sang Ayah.


Meski Tuan Tedy tidak akan keberatan untuk hal itu, bagaimana pun Gara adalah pewaris tunggal dari perusahan Tuan Tedy.


***


Sejak pengakuan Gara tentang Kharisa pada Rifal, kini pria itu tak lagi menempatkan Kharisa sebagai sekertarisnya. Kharisa kembali di perkerjakan di posisi awalnya. Sedangkan Rika sudah kembali menjadi sekertaris Rifal lagi.


Tanpa ada yang tahu jika selama ini Rika hanyalah di pindah tugas dengan Rifal di cabang perusahaan yang berada di kota itu juga.


"Presdir, apakah Kharisa masuk hari ini?" tanyanya di sela-sela langkah mereka menuju lift untuk masuk ke ruang kerja.


"Dia meminta ijin hari ini." tuturnya.


"Apa ada perkembangan?" tanya Rika penasaran dengan kerja sama mereka selama ini.


Rika tahu benar jika Presdir tampannya ini sangat lama mengidamkan Kharisa. Mereka adalah teman sejati, sekaligus atasan dan bawahan yang sangat kompak dalam bekerja.


Hembusan napas kasar terlihat di tubuh Rifal. "Dia sudah berumah tangga dan sedang hamil."


Manik mata hitam legam itu membulat sempurna semakin terlihat tajam dengan bingkaian eyeliner hitam tipis di sana. Rika sangatlah tidak percaya jika Kharisa sudah menikah.


Tentu sia-sia yang mereka usahakan selama ini. Patah hati terlihat jelas di wajah Rifal kali ini. Pupus harapannya dengan wanita dambaannya itu.


"Tenang saja, jika memang dia bukan jodohmu mungkin ada yang lebih baik kedepannya." Rika mencoba memberikan semangat pada Rifal.


Jika suasana patah hati di gedung Kairin Group kini berbeda halnya dengan suasana di persidangan.


Khard tampak kekeh jika ia sangat mencintai Kharisa.


Suasana menegangkan sekaligus membuat sakit yang teramat pada Kharisa. Dengan setia Gara terus berada di samping sang istri saat memberikan kesaksian. Begitu juga dengannya saat mendapat kesempatan bicara ia terang-terangan membuka semua yang terjadi di hotel saat itu. Semua terjadi karena dirinya yang lambat beraksi.


Kharisa terus meminta untuk Khard di berikan hukuman yang setimpal karena dirinya sangat tidak terima tentang perlakuan pria itu yang sudah merebut kesuciannya secara lancang.

__ADS_1


"Kharisa, aku benar-benar mencintai mu. Aku melakukan hak itu karena aku tidak ingin kau bersama pria yang tidak mencintai mu itu." teriak Khard kekeh dengan pendiriannya.


Tangan Gara mengepal mendengar perkataan Khard di depannya dan di depan banyaknya para saksi.


__ADS_2