
Bersabarlah dalam melewati segala lika-liku yang telah kau hadapi, kala waktu indah tiba rasanya akan tak mampu mengucap syukur atas berkah yang Tuhan sediakan.
______________________________
Di ruangan yang begitu terdengar heboh tampak buliran bening penuh bahagia lolos begitu saja. Tubuh wanita paruh baya pun langsung sigap memberikan pelukan yang begitu hangat pada wanita yang tengah terbaring lemah di atas pembaringan rumah sakit.
Suasana tampak haru, Tuan Tedy tak henti-hentinya menganggukkan kepala mengucap syukur.
"Kharisa, kamu sudah menjadi istri dan menantu yang begitu memberikan kami kebahagiaan, Nak." seru Nyonya Harina menitihkan air matanya. Menemukan kening miliknya pada kening sang menantu.
"Risa juga berterimakasih, Bu. Kalian sudah mengangkat kami sebagai anak kalian. Ayah dan Ibu sungguh memiliki hati yang sangat mulia. Kami hanyalah orang asing yang baru kalian kenal." sahut Kharisa lirih.
"Ssst jangan katakan kalian orang asing. Kalian anak-anak baik kami." ujar Nyonya Harina.
Di tengah-tengah perbincangan penuh kasih antara dua keluarga yang saling mengasihi, terdengar ketukan pintu dari luar ruangan itu.
“Maaf mengganggu, kami akan membawa pasien untuk pindah ke ruang perawatan.” ucap suster seraya mendekati ranjang pembaringan Kharisa.
“Silahkan sus,” titah Tuan Tedy.
Semuanya mengiringi kepergian Kharisa bersama beberapa perawat menuju ke ruangan VIP. Terdengar derap langkah kaki saling bersahutan hingga mereka sampai pada sebuah ruangan yang tengah siap menyambut kehadiran seorang Ibu dan anak yang baru lahir ke dunia.
“Selamat sayang,” pintu terbuka bersamaan dengan beberapa buah balon raksasa yang berterbangan menyambut kedatangan senyuman bahagia penuh haru seorang Kharisa, wanita yang kini begitu beruntung memiliki kedua mertua yang sangat menyayanginya dan suami bodoh yang begitu mencintainya.
“Suprise...” seru mereka serempak tersenyum.
Senyum semakin mengembang di wajah Kharisa, untuk yang kesekian kalinya buliran bening lolos di kedua pipinya.
Terdengar ia akan tangis di iringi tubuh yang gemetar tak kuasa menerima semua kebahagiaan yang telah di takdirkan untuknya saat ini.
“Kak Risa, selamat yah. Jangan menangis lagi.” seru Vano memberikan pelukan hangat di kala tubuh sang kakak ia dekap hangat, kemudian di susul oleh Vino yang tak kalah bahagianya.
"Akhirnya keluarga kita bertambah juga, Kak Risa. Selamat yah." ujarnya.
Terdengar suara lembut seorang wanita di ambang pintu yang masih terbuka. "Ini anaknya, Ibu." ucap perawat menyerahkan baby Gani pada sang Ibu.
Kharisa yang tengah berbaring menatap dalam sang anak. Tangannya menyambut tubuh mungil sang malaikat. Bahagia tak lagi bisa di ungkapkan. Melihat ketampanan sang putra dengan bibir mungil yang mulai menyesap setiap inchi dada sang Ibu demi mencari sumber pengisi perutnya.
__ADS_1
Suara sesapan terdengar begitu nyaring di dada seorang wanita yang telah berubah status menjadi seorang Ibu.
Tangan Kharisa mengusap pelan puncak kepala sang anak yang tengah sibuk mengisi perutnya. Gara tak rela menjauhkan dirinya dari sang istri. Matanya terus terpaut dengan sang anak.
"Gara, saat ini kau sudah menjadi Ayah, Nak. Bersikaplah semestinya seorang Ayah." tutur Tuan Tedy.
"Iya, Ayah." sahut Gara pasrah.
"Istirahatlah, kau pasti lelah. Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Gara pada sang istri.
"Iya aku lapar dan sangat haus. Aku makan itu saja." tunjuk Kharisa dengan arahan pandangannya menuju nakas yang telah di sediakan dari rumah sakit.
Gara bergegas menyuapi sang istri setelah membawa nampan kemudian ia letakkan di pangkuannya.
"Sini sayang, Gani sepertinya sudah terlelap." ujar Nyonya Harina mengambil sang cucu untuk di letakkan pada box bayi.
"Ayah, Ibu, kalian pulanglah istirahat. Biar Kharisa kami yang jaga di sini." pintah Gara pada kedua orangtuanya.
***
Malam harinya setelah kepulangan para keluarga tampak Nyonya Harina begitu gelisah di atas pembaringan tanpa bisa memejamkan mata dengan tenangnya.
"Ada apa, Bu?" tanya Tuan Tedy sembari meraih pundak sang istri.
"Ibu kangen cucu, Ayah." tutur Nyonya Harina.
Tuan Tedy tersenyum. "Ayah juga, apa kita pindah tidur saja, Bu?" ajaknya memberikan tawaran.
Tidak menunggu lama, dua orangtua itu begitu semangat keluar dari rumah dengan membangunkan Randa yang masih mengusap kedua matanya di tengah malam.
"Randa, apa kau tidak mencuci wajah tadi?" tanya Nyonya Harina.
"Tidak, Bu." sahut Randa begitu beratnya.
"Nanti kau mengantuk Nak di jalan." sahut Tuan Tedy.
"Tidak, Ayah. Biar di sana bisa tidur lagi nanti." jawab Randa.
__ADS_1
Sementara di ruangan Kharisa, tampak Gara terduduk memangku sang anak. Kharisa yang sudah terlelap bersama dua adik kembarnya perlahan terbangun merasa lelah di tubuhnya karena berbaring terus.
Netra coklat itu menangkap pemandangan yang tanpa ia duga begitu menggemaskan. Gara beberapa kali hendak menjatuhkan kepalanya dari sandaran dinding. Kedua tangan yang memangku sang anak tanpa kenal lelah.
Bibir ranum yang tak lagi pucat itu tertarik melengkung membentuk sebuah senyuman di sana. Kharisa sangat terhibur. "Kau pasti lelah." ujarnya lirih nyaris tak terdengar.
Terus di d lihat perlakuan sang suami, hingga Gara pun membuka matanya yang terpejam dalam keadaan duduk itu. Mendapati baby Gani terlelap, perlahan tangan pria itu bergerak dan berjalan mendekati box baby lagi dan hendak meletakkan tubuh mungil sang anak di sana. Namun, belum sampai mendarat sempurna, kembali terdengar suara rengekan tangis dari bibir mungil itu.
"Astaga, usiamu baru satu hari sudah begitu semangat mengerjaiku, Gani." gerutu Gara kembali membawa putranya ke dalam gendongannya.
Kharisa yang tidak tega melihat suaminya pun bertanya, "Apa dia rewel terus?" tanyanya.
Gara pun tersadar jika sang istri ternyata sudah bangun. Ia menoleh menatap wajah Kharisa. "Iya, sejak tadi tidak mau tidur di tempat ini." jawab Gara.
"Kemari, Gani pasti lapar." pintah Kharisa.
Gara membawa sang anak mendekati istrinya kemudian memberikan baby Gani. Dengan cekatan Kharisa pun memberikan ASI pada anaknya.
"Aku berbaring di sini yah?" ucap Gara menunjuk ke arah tempat pembaringan pasien dimana Kharisa berada.
"Apa kau tidak sempit?" tanya Kharisa.
"Asal denganmu, makin sempit semakin enak." Bola mata Kharisa membulat sempurna mendengar ucapan sang suami.
Gara pun berbaring sembari memposisikan tubuhnya miring menghadap sang istri. Tak lupa tangannya melingkar di pinggang Kharisa yang terhimpit oleh tubuh baby Gani.
"Sayang, Vino sama Vano suruh pulang saja. Aku kangen." bisik Kharisa dengan kedua mata yang terpejam.
"Untuk apa kau suruh mereka pulang? lagi pula mereka tidak mungkin mau pulang selama kita masih di sini." ujar Kharisa.
Wajah Gara semakin ia selundupkan ke dalam paha sang istri.
Tok Tok Tok
Terdengar ketukan pintu di luar ruangan Kharisa. "Sayang, Gara, bangun." panggil Kharisa setengah berbisik karena takut sang anak bangun.
"Hem...ada apa sih?"
__ADS_1
"Itu ada yang ketuk pintu malam-malam begini. Siapa yah?" tanyanya penasaran.