
"Baik, Ayah." jawab Kharisa.
Tak lama setelah itu, terlihat mobil yang baru saja sampai di depan rumah. Tuan Tedy dengan cepatnya meminta Kharisa untuk masuk.
"Tuan, saya permisi ke kantor dulu." sahut Khard dengan menundukkan kepalanya.
"Hati-hati jaga menantuku yah, Khard." ucap Tuan Tedy.
Kini Kharisa dan Khard pun pergi meninggalkan rumah menuju kantor. "Khard, maafkan saya selalu merepotkanmu."
"Tidak apa-apa Kharisa, ini sudah menjadi tugas saya. Anggap saja kita sambil mengakrabkan diri jadi dalam bekerja kita bisa lebih rileks." Kharisa mengangguk tersenyum mendengar apa yang Khard katakan ada benarnya juga. Setidaknya hidupnya sedikit lebih tenang tidak selalu penuh dengan upaya menyabarkan diri dengan menghadapi Gara yang menguji kesabarannya.
Setelah kepergian Kharisa kini Tuan Tedy tampak menghela nafasnya kasar dan menggelengkan kepalanya. "Ada apa, Ayah?" tanya Nyonya Harina.
"Seharusnya mereka hari ini menghabiskan waktu bersama, Bu. Bukannya satu sibuk tidur dan satunya sibuk bekerja."
Perkataan Tuan Tedy membuat istrinya terkekeh. "Ayah, bukannya seharusnya bangga memiliki menantu yang begitu bersifat tanggung jawab dan rajin pada perusahaan kita?" tanyanya heran.
"Yah tapi bukan seperti ini juga, Bu. Kalau begini namanya bukan memiliki menantu tetapi memiliki karyawan baru."
"Ayah tidak mau tahu pokoknya Gara harus tetap berada di kantor meski pun dia tidak ingin memimpin perusahaan itu, setidaknya dia harus ikut andil dalam bekerja keras bukan hanya Kharisa saja." tutur Tuan Tedy tampak kesal.
"Ibu, sekarang bangunkan Gara dan suruh dia menemani Kharisa di kantor. Biar bagaimanapun ini adalah hari pertama pernikahan mereka."
Nyonya Harina ketakutan melihat reaksi suaminya, akhirnya dengan cepat ia bergegas menuju kamar putranya.
"Gara, anak Ibu. Bangunlah cepat dan susul istrimu di kantor. Gara." panggil Nyonya Harina seraya mengguncangkan tubuh Gara pelan.
"Aduuh." Gara masih terlihat kesulitan bangun kepalanya yang masih terasa berat sungguh membuatnya enggan untuk membuka matanya.
"Gara ayo bangun, jangan sampai Ayahmu sakit lagi."
Akhirnya setelah beberapa lama, Gara pun bangun dari tidurnya. Wajahnya begitu kesal namun ia harus menyusul Kharisa tanpa sarapan.
Nyonya Harina yang bersama Tuan Tedy sama sekali tidak di sapa oleh putranya ketika selesai bersiap. Dengan langkah kesal Gara melewati mereka dan melajukan mobil ke arah kantor.
"Sial lagi-lagi aku harus seperti ini, mau sampai kapan hidupku selalu di kaitkan dengan wanita itu?"
__ADS_1
Sepanjang jalan Gara terus menggerutu kesal sesekali tangannya menghempas setir mobilnya. Kharisa yang sudah sampai di kantor segera melanjutkan pekerjaan yang semalam sudah ia kerjakan bersama Khard.
"Kharisa dia wanita yang cantik dan juga baik. Aku sangat beruntung bisa dekat dengannya meskipun kami tidak bisa bersama. Tapi setidaknya bisa bersama setiap waktu saja aku sudah sangat bahagia tanpa gangguan dari pria itu." gumam Khard sembari mencuri-curi pandangan pada Kharisa.
Tanpa ia sadari dari sudut luar ruang kerja yang tidak begitu jauh terlihat sosok pria yang memperhatikan gerakan Khard saat ini.
Gara tampak menyunggingkan bibirnya tertawa sinis pada tingkah kedua orang yang berada di ruang kerja itu. "Kerja, bicaranya saja kerja tapi mengambil kesempatan berduaan." gumamnya seraya menggelengkan kepala merasa geli dengan tingkah Kharisa dan Khard yang bersikap baik-baik di depan Ayahnya.
Akhirnya Gara yang tidak ingin masuk ke ruangan itu masuk ke ruangan yang tidak begitu jauh dari ruangan istrinya saat ini dan membaringkan tubuhnya di sofa. Fikiran Gara kembali tertuju pada Mr. Dave yang saat ini pasti sudah menunggu kepulangannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering betapa terkejutnya Gara saat melihat jika panggilan itu berasal dari Mr. Dave.
"Gara, apa kau masih ingat siapa dirimu?" Tiba-tiba suara itu terdengar tanpa bicara basa basi terlebih dulu.
Gara meneguk kasar salivahnya karena tahu maksud dari perkataan Mr. Dave. "Ma-afkan saya, Mr. Semua terjadi tanpa saya rencanakan. Dan saya akan secepatnya kembali setelah kesehatan Ayah saya membaik." ucap Gara tanpa berani menutupi pernikahannya itu.
"Ingat jika kau berani bermain-main nyawamu akan menjadi taruhannya."
"Baik, Mr. Saya mengerti." sahut Gara yang ingin segera mengakhiri panggilan itu namun Mr. Dave kembali bersuara.
"Selesaikan pekerjaan di Indonesia, ada satu yang harus kau selesaikan dengan baik. Saya akan mengirimkan Randa padamu." tutur Mr. Dave kemudian segera mengakhiri panggilan itu.
***
"Ayah mau kemana?" tanya Nyonya Harina pada sang suami saat melihat Tuan Tedy mengambil tongkat miliknya dan melangkah memakai jas berserta syal yang melingkar sempurna di lehernya.
"Ayah mau memastikan jika Gara bisa bersikap baik pada Kharisa, Bu." tuturnya dan segera masuk ke mobil.
Nyonya Harina yang tidak mau membiarkan suaminya pergi bersama supir segera mengikutinya naik ke mobil. "Pak Jun, kita ke kantor sekarang." pintah Tuan Tedy.
Pak Jun yang sebagai supir pribadi Tuan Tedy segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Di rumah hanya tersisa Vino dan Vano yang sedang belajar bersama guru privatenya.
"Huuh sayang sekali aku terlambat. Kakaknya sudah menikah." gumam Pak Refi yang putus asa mengetahui jika Kharisa sudah menikah.
"Pak," panggil Vino yang ingin menanyakan sesuatu dalam pelajaran mereka membuyarkan lamunan pria itu seketika.
"Eh iya, ada apa?"
__ADS_1
Akhirnya mereka kembali melanjutkan proses pembelajaran dengan ekspresi Pak Refi yang masih merasa kecewa.
Sedangkan Tuan Tedy yang bersama Nyonya Harina saat ini baru saja tiba di kantor. Para pekerja menyambutnya dengan baik dengan menundukkan kepalanya memberi hormat.
Mata Tuan Tedy tertuju ke depan fokus dengan langkahnya saat ini di dampingi istri tercintanya, hingga mereka keluar dari lift dan menuju ruang kerja di mana Kharisa berada saat ini.
"Hah A-ayah." ucap Kharisa terkejut melihat dari dalam ruangan yang transparant itu.
Belum sempat ia menyambut kedatangan ayah mertuanya, Tuan Tedy sudah datang lebih dulu dan segera membuka pintu ruangan kerja itu.
"Kharisa." panggilnya dengan menatap segala sudut ruangan itu.
"Iya Ayah, ada apa Ayah kemari?" tanya Kharisa penasaran.
"Di mana Gara?"
Kharisa bingung mengapa Ayahnya mencari Gara di ruang kerja itu bukankah tadi sudah di katakan jika Gara masih tertidur di rumahnya.
"Bukankah Gara masih tidur tadi, Ayah?" tanya Kharisa dengan wajah bingungnya.
"Tadi Ibu membangunkannya dan meminta untuk menemanimu di sini, Sayang." tutur Nyonya Harina.
Kharisa dan Khard saling menatap heran karena yang mereka tahu sejak tadi Gara sama sekali tidak ada datang menemui mereka.
"Yanti kemari." panggil Tuan Tedy melalui telfonnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya karyawan itu yang baru saja tiba dengan langkah tergesa-gesanya.
"Dimana Gara?" Suara Tuan Tedy terdengar meninggi seperti orang yang tengah menahan emosi di sana.
"Tuan Gara ada di ruangan itu, Tuan."
Tanpa mengatakan apa pun lagi, kini Tuan Tedy segera menghampiri ruangan yang di tunjuk oleh Yanti tadi, tangannya membuka pintu dan tatapannya begitu marah melihat Gara yang sedang tertidur di sofa dengan menselonjorkan tubuhnya kemudian melipat kedua tangannya di dada.
"Byuuuuur." Suara siraman air yang ada di dalam gelas segera tumpah membasahi wajah Gara akibat siraman dari Tuan Tedy.
"Ayah!" teriak Gara begitu marahnya karena ia kaget mendapat perlakuan seperti itu.
__ADS_1
Kekesalah Tuan Tedy benar-benat tidak bisa tertahankan lagi, mengapa putra satu-satunya yang mereka miliki justru sama sekali tidak memikirkan masa depan keluarganya. Dan bahkan Tuan Tedy sama sekali tidak membuatnya hidup susah hanya untuk meneruskan apa yang sudah di usahakan untuk anaknya. Lalu bagaimana dengan Gara? ia menyia-nyiakan apa yang sudah ia miliki saat ini.