
Mendapat siraman air dari sang ayah mata gara tertuju dengan sangat tajam dan membulat pada Tuan Tedy.
"Ayah! Gara ikut berteriak karena keterkejutannya saat tertidur dan mendapat siraman air itu.
Semua yang melihat kejadian itu hanya bisa tercengang dengan wajah syok. "Ayah memerintahkan mu ke kantor untuk menemui istrimu dan menemaninya bekerja, bukan untuk tidur seperti ini. Kau sudah menjadi suami seharusnya memiliki tanggung jawab untuk keluargamu."
Tuan Tedy tampak terlihat sangat marah besar pada putranya ia benar-benar kecewa. "Sungguh kau berbeda dengan Kharisa, dia yang bukan anak kandung ku justru dia yang berguna sangat besar di perusahaan ini. Dan kau sebagai anak kandung ku justru sama sekali tidak memiliki fungsi untuk perusahaan ini."
Gara yang merasa sangat tidak bisa menahan amarah lagi segera pergi dari ruangan itu meninggalkan semuanya tanpa mengucapkan satu kata pun. Ia melajukan mobil dengan kecepatan yang tinggi dengan tujuan tanpa arah.
Menginjak gas mobil dan semakin menginjaknya lagi hingga Gara kini tak bisa mengendalikan kelajuan mobil itu saat melihat ada sebuah mobil truk besar melintas di depannya.
"Aaaaaaaaaaa." Teriaknya begitu nyaring hingga mobil pun tertabrak dengan bak truk yang bermuatan tinggi itu.
***
Sementara di kantor yang lainnya masih berusaha menenangkan kemarahan Tuan Tedy.
"Ayah tenanglah dulu semua ini hanya salah paham saja." ucap Kharisa yang berusaha menutupi sikap suaminya agar Tuan Tedy jauh lebih tenang dan penyakitnya tidak kambuh lagi.
"Kharisa, jangan menutupi tingkah suamimu lagi, Ayah sudah benar-benar tidak tahan menghadapi pria semacam dirinya itu. Ayah pikir dengan menikahkan kalian, Gara akan bisa jauh lebih mempertimbangkan setiap hal yang akan dia lakukan."
Kharisa hanya terdiam ia harus berusaha membuat semuanya baik-baik agar penyakit Tuan Tedy tidak semakin parah.
__ADS_1
Namun belum sempat semuanya membaik kini ponsel milik Tuan Tedy kembali berdering menandakan ada sebuah panggilan. Dan ternyata panggilan tersebut berasal dari pihak rumah sakit yang tentu mengetahui identitas pasien tersebut.
Dengan cepat pria paruh baya itu mengangkat ponsel miliknya dan menempelkan benda tipis itu di telinganya. Semua terdiam dan tiba-tiba mereka terkejut melihat reaksi Tuan Tedy yang merasa dadanya begitu sesak saat mendengar apa yang barusan ia dengar dari telepon itu.
"Ayah ada apa? apa yang terjadi?" Kharisa bertanya dengan wajah begitu cemasnya dengan tangan yang segera merebut ponsel dari tangan Tuan Tedy.
Kembali sambungan dari ponsel itu menjelaskan jika pasien yang bernama Gara saat ini sedang dirawat di rumah sakit atas insiden kecelakaan tabrakan.
Mendadak tubuh Kharisa dingin dan kaku ia benar benar syok mendengar apa yang terjadi pada suaminya itu.
"Ibu, Gara kecelakaan dan saat ini dia sedang dirawat di rumah sakit keadaannya sedang kritis." ucap Kharisa dengan wajah yang sudah menangis ia ketakutan dan memeluk tubuh Nyonya Harina.
Khard yang membantu memapah tubuh Tuan Tedy menuju mobil sementara Nyonya Harina membantu Kharisa berjalan ke mobil juga. Mereka bersama-sama menuju rumah sakit dengan tergesa-gesa.
"Mungkin ini adalah teguran untukmu Gara karena kau terlalu mencampakkan kedua orang tuamu." gumam Kharisa meskipun dirinya juga ikut merasakan kesedihan melihat Tuan Tedy dan Nyonya Harina begitu terpukul.
"Tuan tenanglah, tenangkan diri anda jangan sampai anda juga ikut sakit karena berita ini. Gara pasti akan baik-baik saja dia adalah pria yang kuat." tutur Khard yang berusaha meyakinkan Tuan Tedy agar tidak membuat dirinya sakit.
"Aku sangat mencemaskan putra Khard, walau bagaimanapun dia adalah anak satu-satunya yang kami miliki." sahut Tuan Tedy dengan mengusap matanya yang sudah meneteskan air mata perlahan dan perlahan semakin banyak.
Beberapa saat selama perjalanan mereka terus mencemaskan keadaan Gara yang sudah terbaring dengan keadaan kritis di rumah sakit. Kini mereka pun sampai di depan rumah sakit dan dengan cepat mereka berlari sementara Tuan Tedy yang dipapah oleh Khard menuju ruang IGD.
Sesampainya di depan ruang IGD Tuan Tedy yang merasa tak kuasa menahan kekhawatirannya kini kembali tersungkur karena keadaan tubuhnya memang sedang tidak begitu sehat. Semua panik melihatnya dan segera memanggil dokter untuk membantunya memeriksakan keadaan Tuan Tedy.
__ADS_1
"Ayah sadarlah Ayah jangan membuat Ibu ikut semakin khawatir seperti ini." Nyonya Harina menangis sembari memeluk tubuh suaminya yang sedang terbaring lemas di atas tempat tidur pasien.
"Ibu jangan menangis, semua akan baik-baik saja, ada Kharisa yang akan menemani Ibu di sini dan Ayah pasti akan segera sadar." tutur Kharisa berdiri di belakang Nyonya Harina seraya mengusap punggung wanita paruh baya itu.
Beberapa saat kemudian dokter pun memberi kabar tentang keadaan Gara. "Bagaimana dokter keadaan putra saya?" tanya Nyonya Harina.
"Nyonya, saat ini putra anda sudah melewati masa kritisnya namun, putra anda masih tidak sadarkan diri dan saya ingin memberitahukan jika untuk saat ini tangannya mengalami gangguan hingga tidak bisa digunakan normal seperti biasanya hal itu diakibatkan karena benturan setir mobil yang mengenai tangannya." terang dokter.
Nyonya Harina tampak syok ia membungkam mulutnya seakan tidak bisa menerima hal yang ia dengar barusan. "Apa itu artinya putra saya cacat, dokter?" tanya Nyonya Harina.
"Itu hanya sementara saja Nyonya untuk perkembangan selanjutnya kita akan melihat bagaimana tubuh Tuan Gara mereaksi pengobatan dan perawatan dari kami." perang dokter dengan wajah berekspresi datarnya.
Nyonya Harina yang merasa lemas dan tidak bertenaga merebahkan tubuhnya pada sandaran tubuh Kharisa, saat ini hanya menantunya lah yang bisa membantunya menenangkan diri dari semua masalahnya.
"Ibu saat ini Gara sudah melewati masa kritisnya sebaiknya ketika Ayah sudah sadar kalian pulanglah ke rumah dan beristirahatlah biarkan Kharisa yang akan menjaga Gara di sini." pintah Kharisa.
Tapi Ibu tidak bisa tenang di rumah jika tidak mengetahui perkembangan Gara di sini." bantah Nyonya Harina.
"Ibu, percayakan pada Kharisa. Ketika ada perkembangan dari Gara, Kharisa akan segera mengabari kalian di rumah." lanjutnya lagi.
Khard yang saat ini menemani Tuan Tedy di ruangan segera memberi tahu Nyonya Harina dan Kharisa jika Tuan Tedy sudah sadar dari pingsannya.
Nyonya Harina yang mendengarkan permintaan Kharisa kini beranjak menemui sang suami di ruangan tersebut.
__ADS_1
Seperti yang Kharisa minta jika jangan mengatakan keadaan buruk tentang Gara pada Tuan Tedy. Itu semua demi kesehatan Tuan Tedy saat ini.