
Hari itu tampak suasana kantor sedang tidak terkendali. Beberapa pericuh bahkan ada yang melempari batu ke arah kantor milik Kharisa yang masih di kelola oleh sang suami.
Keduanya keluar berjalan tergesa-gesa setelah pintu lift terbuka.
"Maaf Kharisa, Gara, sebaiknya kalian jangan keluar. Bahaya." peringatan Randa terdengar begitu serius.
"Tidak Randa, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Gara penasaran.
"Mereka menuntut karena tidak setuju atas pembangunan pabrik yang akan memakai tanah mereka." tutur Randa menjelaskan.
"Kan sudah di jelaskan kemarin sama wakil dari mereka kita akan bayar sesuai harganya." sahut Gara heran.
Kharisa pun semakin penasaran. "Tunggu ini sudah di setujui sama pemilik tanah, kok tiba-tiba seperti ini?" tanyanya.
"Entahlah." jawab Gara.
"Randa, maaf. Kita harus berhadapan dengan mereka secepatnya sebelum banyak kerusakan yang mereka lakukan di luar sana." Kharisa berjalan cepat dengan perutnya yang menonjol di ikuti sang suami dan juga Randa.
Di luar begitu banyak massa yang mengamuk.
Tap Tap Tap
Saat terdengar langkah kaki yang tidak begitu tertangkap indera pendengaran, namun suasana semakin ricuh kala mata penuh amarah itu menangkap sosok yang mereka bisa lihat dari penampilan dan pengawalnya di belakang. Pasti adalah pemilik perusahaan ternama tersebut.
"Itu dia! Pembeli paksa tanah kita." teriak teriakan begitu terdengar jelas.
Kharisa yang mendengar merasa penasaran.
"Maaf sebelumnya. Tolong tenang. Kita bicarakan baik-baik." tutur Kharisa setengah berteriak demi memperdengarkan suaranya pada para pendemo.
"Bicarakan baik-baik bagaimana? Kami menolak keras untuk menyerahkan tanah kami pada kalian." tolak salah satu perwakilan dari pericuh itu.
"Hey! Dengar di sini sana sudah memiliki tanah sepenuhnya yang kami beli dari kalian, lalu apa masalahnya?" Kini Gara pun bersuara dengan nada yang terdengar emosi. Kharisa dengan sigap menarik lengan suaminya agar mundur ke belakang.
__ADS_1
"Tolong simpan tenaga Bapak-bapak. Saya tunggu satu perwakilan untuk bicara di depan dengan saya. Sampaikan penolakan kalian dengan jelas." Kharisa berbicara dengan begitu tenangnya.
"Wah Gara, ini salahmu sepertinya. Aku tadi ikut-ikutan yah." Randa yang merasa akan ada masalah pun segera undur diri dari sana.
Gara tampak mengernyitkan dahinya heran. Pria itu dengan setia berdiri di samping sang istri. Tak lama satu orang pria maju di hadapan Kharisa.
"Dimana masalahnya, Pak?" tanya Kharisa tegas.
"Kami hanya ingin mendapat harga yang sesuai dengan kualitas tanah dan keuntungan dari perusahaan kalian. Itu saja, tapi kami rasa di sini perusahaan anda mempermainkan kami. Pembelian tanah sama seperti pembelian tanah pada umumnya. Sementara kalian mendapatkan keuntungan yang berlipat setelah pembangunan di atas tanah kami." tuturnya menjelaskan.
"Apa-apaan ini? memangnya anda mau mendapatkan harga tinggi mentang-mentang yang membeli perusahaan saya? Tidak. Aturan dari mana ini? saya tidak terima." sahut Gara terdengar memaksakan pendapatnya.
"Sayang, diamlah. Biarkan aku mendengar dan menyelesaikan semuanya." sahut Kharisa.
Gara mulai menatap tajam pria di hadapannya. "Oh jadi ini biang keroknya. Anda ini orang kaya tapi tidak bisa menghargai jerih payah kami. Jelas-jelas kalian yang membutuhkan tanah itu." hardik pria yang bertubuh penuh keluh itu menatap kesal pada Gara.
"Pak, tolong. Boleh saya lihat harga penetapan tanahnya berapa? saya rasa ini ada kesalahpahaman." tutur Kharisa.
"Sayang, Kharisa, ini tidak ada kesalahpahaman. Ini semua jelas sesuai dengan perjual beli tanah. Percaya padaku." sahut Gara membela dirinya.
Setelah dokumen hasil pembelian itu di baca Kharisa. Ia pun paham. Tampak wanita itu menghela napas kasar.
"Pak, saya akan membayar yang sesuai. Di sini ada kesalahan harga dari pihak perusahaan. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan saya ingin bertanya bagaimana bisa kalian bertanda tangan menyentujui pembelian ini, jika tidak terima?" ucap Kharisa lagi.
"Bu, kami satu persatu terpaksa menandatangani surat pembelian ini. Karena kami di janjikan harga yang sesuai untuk perusahaan ternama yang tentunya kami mengenal baik perusahaan ini." terangnya.
"Kharisa, kita akan rugi jika menurut pada mereka." bisik Gara.
Mata Kharisa melotot memberikan isyarat pada sang suami agar berhenti berbicara. "Bapak, tolong bawa semuanya pulang. Besok pagi pembayaran akan segera kalian terima. Saya janji. Ini hanya salah paham." ujar Kharisa meyakinkan.
"Baik, saya percaya dengan Ibu. Tapi dengan Bapak ini saya tidak percaya."
Setelah kepergian pria itu pun, Kharisa membawa suami tercintanya masuk ke ruang kerja.
__ADS_1
"Kenapa mengambil keputusan seperti itu?" tanya Kharisa sembari bersedekap.
"Seperti itu apanya? Ini dunia bisnis, kita harus memperhitungkan semuanya dengan baik. Jika tanah mereka akan memberikan keuntungan itu bagus. Bagaimana jika tanah itu memberikan kerugian untuk perusahaan?" tanya Gara balik.
"Dimana-mana namanya membeli tanah yang di gunakan untuk perusahaan harganya tidak bisa di sama ratakan dengan harga jual beli di luar sana. Harganya harus lebih tinggi. Sejak kapan mengambil keputusan seperti ini tanpa bertanya padaku?" ujar Kharisa.
"Iya, mungkin aku bukan pemilik perusahaan ini yang tidak berhak untuk memutuskan sesuatu yang baik untuk perusahaan ini." jawab Gara lesu.
Kharisa pusing mendengar ocehan suaminya yang begitu sensitif. "Aku yang hamil, dia yang sensitif haduh." batik Kharisa memijat keningnya.
"Ini bukan persoalan siapa pemilik perusahaan. Jelas Ayah pemiliknya, dan kamu suami ku yang berhak mengelola perusahaan ini. Tapi ini menyangkut harga jual beli tanah dimana pihak yang paling membutuhkan adalah kita. Maka kita harus berani memberikan harga tinggi. Lagi pula mereka tidak sedang menganggurkan tanah itu. Mereka saat ini masih mengoperasikan tanah sebagai ladang pencarian nafkah mereka." ujar Kharisa menjelaskan.
Rasanya bicara dengan Gara sangat sulit jika tentang perusahaan. Pria itu akhir-akhir ini jauh lebih sensitif.
"Apa Randa tidak membantumu untuk memikirkan hal ini kemarin?" tanya Kharisa.
"Dia memihakmu, mungkin karena kau pemilik perusahaan yang sebenarnya." sahut Gara lagi masih menengadah enggan menatap wajah Kharisa yang duduk di kursi di hadapannya berseberangan dengan meja.
"Saat ini, bisakah kita bicara tentang harga jual beli itu? bukan tentang siapa yang berhak atas perusahaan ini?" tegas Kharisa yang mulai kehilangan kesabaran.
"Ada apa?" sahut Gara dengan tidak pekanya.
"Semua perusahaan pasti akan memberikan harga yang tinggi jika ingin memiliki tanah yang utuh seperti yang kita butuhkan saat ini. Itu sebagai ganti ruginya mereka juga karena tidak bisa mengelola tanah mereka." jelas Kharisa.
"Lalu?" ucap Gara.
"Jika mencintaiku dan menghargaiku, jangan pernah katakan siapa yang paling berhak atas perusahaan ini. Yang jelas sekarang dan seterusnya jika untuk masalah tanah seperti ini, dengarkan nasihat Randa kalau tidak ingin berdiskusi denganku." Kharisa pun hendak melangkah keluar ruangan sang suami. Ia menghindari agar berselisih paham dengan suaminya yang sedang sensitif itu.
"Tunggu!" ucap Gara meraih lengan Kharisa dan seketika berdiri kemudian melangkah mendekati sang istri dari arah belakang tangan itu melingkar pada perut yang berisi buah cinta mereka.
"Maaf jika aku membuatmu kesal." bisik Gara di telinga sang istri.
Kharisa membalikkan tubuhnya perlahan menghadap sang suami. "Aku akan selalu memaafkanmu. Tapi jangan pernah menganggap kedudukanmu serendah itu di banding aku. Ini semua milikmu. Aku hanya di percaya Ayah untuk mengawasinya saja dan membantumu."
__ADS_1
"Tapi apa aku salah jika menghargai tanah itu dengan harga yang wajar? Perusahaan kita akan stabil pengeluarannya tidak pemborosan." lanjutnya lagi.
"Hah, aku pikir pikirannya sudah terbuka." batin Kharisa yang bingung menjelaskan pada suaminya yang bodoh atau buta perasaan itu bagaimana lagi agar paham sistem dunia bisnis yang sebenarnya.