Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 82. Kesombongan Yang Berasal Dari Kegugupan


__ADS_3

Menyadari suasana yang tegang itu, Randa dengan cepat membuka rapat mereka saat itu. Sementara Kharisa tampak menunduk malu.


Hari yang seharusnya ia fokuskan untuk memulai bekerja sama dengan Gara justru membuat Gara seorang diri melakukannya. Keringat dingin mulai mengucur di wajah pria itu saat ia berdiri di depan.


Meski semua merasa tidak tega melihat Gara, namun mereka hanya bisa menikmati pemandangan gugup di depan sana. Yang terpenting adalah isi meeting mereka kali ini.


Randa membungkam mulutnya yang ingin tertawa. Jahat, mungkin hal itu yang lebih tepatnya di tujukan pada Randa. Ia tertawa di bawah penderitaan Gara. Beruntung semua berjalan dengan baik.


Hingga akhirnya meeting berlalu dengan lancar. Hembusan nafas kasar Gara terdengar jelas kemudian mengusap peluh yang lolos begitu saja.


"Akhirnya selesai juga, ini semua pasti karena suntikan semangat dari istriku." batin Gara menatap Kharisa yang sejak tadi tidak bersuara.


Manik matanya melirik ke arah Randa. Ia menaikkan sebelah alis matanya kemudian menyunggingkan senyuman di sana. "Kau tidak boleh mengejekku lagi, aku sudah biasa dalam hal ini." sahut Gara menyombongkan dirinya.


"Cih...sombong sekali anda. Wajah sudah seperti mayat hidup begitu." ledek Randa kemudian berlalu pergi.


Namun belum sempat ia meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba Randa terkejut. "Kau sengaja membuat ku malu? aku tidak mau tahu aku marah denganmu Gara. Mereka semua menertawakanku."


Setelah sekian lama Kharisa bungkam, akhirnya wanita itu mulai mengoceh sembari sedikit meninggikan nada bicaranya. "Hey...aku tidak sengaja. Lagi pula lampunya mati mana aku tahu tempatnya yang benar." bantah Gara tidak mau mengakui kesalahannya.


Randa kembali menoleh ke belakang. "Sebaiknya soal di atas ranjang di bicarakan di atas kasur saja. Tuh ada cctv." Sembari menunjuk ke atas pojok ruangan, Randa menyunggingkan senyumannya.


Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan keduanya yang masih menatap cctv di atas itu. Mata Kharisa membulat. Hari ini ia benar-benar di permalukan oleh suaminya sendiri.


Dengan langkah tergesa-gesa Kharisa keluar meninggalkan suaminya. Ia melangkah menuju ke ruang kerjanya. Tanpa memperdulikan panggilan Gara di belakang.


"Kharisa... Kharisa." Tidak ada sahutan dari Kharisa.

__ADS_1


Gara berlari mengejar sang istri, selangkah lagi pria itu berhasil masuk ke ruangan kerja Kharisa, namun tiba-tiba, "Bruuuk."


Suara tubuh yang menabrak pintu kaca transparan itu. Kharisa membanting pintu ruangannya hingga wajah Gara pun menjadi korbannya.


"Astaga." Kharisa terkejut mendengar suara benturan di luar ruangannya. Tampak sosok pria yang berdiri memegangi wajahnya kesakitan.


Bahkan beberapa karyawan yang bekerja di lantai yang sama dengan mereka tercengang. Kasihan, lucu, dan terhibur. Itulah yang mereka rasakan mendapatkan tontonan gratis dari pemilik tunggal CW Sejahtera.


Kharisa yang sadar akan perlakuannya segera membuka kembali pintu ruangannya dan menghampiri Gara. "Apa yang sakit?" tanyanya meraih tangan Gara yang menutupi wajahnya.


"Wajahku." sahut Gara tanpa mau membuka tangannya.


Mendengar ringisan Gara, Kharisa merasa prihatin. "Ya ampun gara-gara aku dia jadi begini." batin Kharisa merasa iba.


Wanita itu masih tampak mengenakan jas di depannya. Dengan memasukkan lengan jas dari arah depan, ia menuntun Gara menuju ke ruang kerjanya. "Ayo ke ruangan ku."


"Duduklah di sini, aku akan meminta alat untuk mengompres hidung mu." Kharisa sungguh tidak tega saat melihat hidung mancung yang tampak merah milik Gara.


Dengan cepat ia pun beranjak meraih telepon genggam yang ada di ruang tersebut. Kharisa tampak berbicara di telepon dan memerintahkan seseorang untuk ke ruangan membawakan pesanannya.


Di luar ruangan Randa tampak mengernyitkan dahinya. Kemudian ia melangkah mendekati salah satu karyawan yang ada di sekitarnya. "Hey, ada apa dengan Bos?" tanyanya tanpa menatap wajah wanita yang berpenampilan rapi tersebut.


"Tadi wajahnya terbentur pintu kaca saat hendak masuk ke dalam ruangan itu, Tuan." ujarnya sembari menunjuk dengan pandangannya.


"Kau yakin hanya terbentur pintu?" selidik Randa.


Wajah wanita itu tampak heran. Bagaimana ia berbicara seolah itu hanya kecelakaan kecil saja. "Iya hanya itu, Tuan." jawabnya dengan pandangan ragu.

__ADS_1


Randa yang mendengar justru kini tersenyum ganjil. "Dasar sudah pandai main drama rupanya sekarang." ujarnya kemudian melangkah pergi.


Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan seorang cleaning servis. "Hey, apa itu?" tanya Randa melihat benda yang tidak seharusnya ia bawa berkeliaran di kawasan kantor ini.


"Ini Tuan, atas permintaan Nyonya Kharisa."


"Yasudah pergilah."


Randa hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari menuju keruang kerjanya.


Di ruang kerja Kharisa, terdengar suara ketukan pintu yang menampilkan sosok yang sejak tadi di tunggu.


"Masuk." ujar Kharisa.


"Ini Nyonya alat kompresnya." seraya menyodorkan alat pengompres pada Kharisa, pria itu segera pergi dari ruang kerja Kharisa.


"Terima kasih yah."


Setelah kepergian cleaning servis, Kharisa tampak memulai aksinya menyentuh perlahan hidung mancung sang suami.


"Aduh...aduh sakit." ucap Gara dengan wajah datarnya hanya suara yang menampilkan jika ia sedang kesakitan.


Astaga, bisakah wajah pria ini sedikit berubah jika merasakan sesuatu? namun nyatanya memang hal itu sama sekali tidak sakit. Mungkin hanya Kharisa yang terlalu merasa bersalah hingga ia tidak menyadari ekspresi suaminya yang sejak tadi terus memandangi wajahnya yang begitu dekat dengannya.


"Sudah, sebaiknya kau istirahat saja. Ini tidak akan bengkak."


"Tapi ini akan bengkak jika tidak di kompres sampai sakitnya hilang." Gara meraih tangan Kharisa yang hendak pergi dari sofa itu.

__ADS_1


__ADS_2