
Di suasana jalan yang tampak ramai dua mobil saling beradu, lebih tepatnya satu mobil melaju dan mobil yang satu berniat menyerangnya. Dengan amarah berapi-api Vino menatap tajam ke arah mobil sang Kakak ipar. Beberapa kali ia mendapat teriakan klakson kala mobilnya menyerempet beberapa pengendara lainnya.
Tak perduli apapun, yang terpenting saat ini Vino ingin melenyapkan pria yang sudah membuat hidupnya hancur sejak kecil bersama kedua saudaranya.
Langit yang begitu cerah perlahan bergeser berganti dengan awan yang tampak gelap, tangisan dari atas langit pun sedikit demi sedikit berjatuhan. Satu titik dua titik mulai mendarat di kaca kendaraan yang mengisi padatnya jalan saat itu.
Kecepatan semakin tinggi, kini Gara berada di jalanan yang semakin sepi dan menanjak. Tanpa perduli mobil di belakang terus mengikutinya.
"Bagaimana bisa aku ikut andil dalam membuat keluarga wanita yang aku cintai lenyap? Mengapa dunia harus sesempit ini? mengapa aku harus jatuh cinta jika akhirnya akan seperti ini?" umpat Gara kesal.
"Ah...!" kembali tangan yang bergemetar itu memukul setir mobil.
Belum sempat ia melampiaskan seluruh kemarahannya, terdengar ketukan lebih tepatnya gedoran di kaca mobil Gara.
"Buka pintunya!" teriak Vano dengan mata melotot.
Gara membuka pintu mobil di samping dan belum sempurna terbuka, "Bug" bogem mentah langsung mendarat di wajahnya begitu keras.
Tidak ada perlawanan, kembali tangan Vino melayang di wajah Gara tepatnya di pangkal hidung yang mancung itu.
Masih hening. Kemarahan Vino makin meluap melihat ekspresi Gara yang tak membela ataupun melindungi diri. Kerah baju Gara di cengkram begitu erat dan terjadilah penyerangan berkali-kali sepihak. Lemas tak berdaya, bukan karena pukulan tapi karena kenyataan yang amat pahit. Gara lemas, semangat hidupnya seakan hilang.
"Brengsek! mati kau! mati kau! Kau yang membuat kami semua menderita!" Vino terus menghajar Gara tanpa jeda.
__ADS_1
Tangan dan mulut terus beraksi. Salah satu adik Kharisa yang memang terlalu lincah tidak akan membiarkan mulutnya menganggur. Pria yang memang pada dasarnya selalu berbicara kini meramaikan suasana yang hening.
Hanya satu nama yang selalu terngiang di kepalanya. Kharisa. Apa yang harus ia lakukan saat ini? meminta maaf dan memohon untuk tetap bersama? Tidak. Rasanya itu sungguh egois bukan?
Bibir pecah, hidung memar dan tampak sedikit kulit terkelupas beserta tetesan darah. Tulang pipi membiru. Tubuh yang berdiri tegak kini berlutut dengan pandangan kosong. Jelas terlihat buliran bening menggenang di kelopak mata tersebut.
Di jalan yang menanjak dan sepi terlihat dua orang yang terduduk lemas. Gara lemas karena serangan batin dan fisik. Sementara Vino lemas karena kehabisan tenaga setelah melampiaskan semua amarahnya.
Bahkan adik kembar Kharisa itu, kini bernafas terengah-engah. Beberapa saat baru ia menyadari sesuatu.
"Sial. Mengapa aku baru sadar dia kan mantan mafia. Pasti tubuhnya tidak muda merasakan sakit. Hah bodohnya aku. Hanya membuang-buang tenaga saja. Mana tanganku sakit dan berdarah begini." geram Vino merutuki kebodohannya sesaat sembari menatap tulang-tulang punggung tangannya yang berdarah.
Marah karena merasa tidak di hiraukan, akhirnya Vino bergegas masuk ke mobil meninggalkan Gara yang masih diam.
Di dalam mobil.
Di kediaman Tuan Tedy, di sebuah kamar.
"Apa lagi ini, Bu? Mengapa Kharisa harus menerima kenyataan pahit ini? bagaimana dengan anak Kharisa?" tangisnya lirih tak berdaya lagi.
"Kak, Kak Risa hamil?" tanya Vano terkejut matanya menatap Nyonya Harina dan mendapatkan anggukan pelan.
Vano yang syok hanya bisa menghela napas pelan. "Kak Risa, semua sudah berlalu. Kakak berhak menentukan kehidupan Kakak kedepannya bersama dengan calon keponakan Vano." tutur Vano lembut.
__ADS_1
Seperti biasa. Adik Kharisa yang satu ini selalu bersikap dewasa dan tidak banyak bersuara.
"Iya Nak, kamu saat ini sudah memiliki calon malaikat kecil yang harus kamu pikirkan kebahagiaannya. Ikutilah kata hatimu, Ibu tidak bisa melakukan apapun, Ibu tidak ingin membela anak Ibu sendiri. Ibu sendiri jujur kecewa dengan masalalu Gara. Tapi kita tahu bagaimana dia saat ini. Bahkan kamu sendiri sebagai istri yang mendukung penuh." tutur Nyonya Harina berlinangan air mata.
Batinnya juga sebagai orangtua terpukul, kali ini ia bisa merasakan puluhan keluarga yang sakit hatinya karena aksi dari masalalu anaknya tersebut.
"Tolong biarkan Kharisa sendiri dulu." Kharisa pun bersuara setelah lama menangis dalam diamnya.
Nyonya Harina menatap Vano dan mengangguk pelan. Keduanya keluar dari kamar tersebut dan menutup pintu kamar Kharisa.
"Ayah, Bunda... Kharisa harus bagaimana? Bahkan Kharisa tidak bisa menerima semua kenyataan ini..." tangisnya pun pecah sembari memegang perutnya yang masih rata ia merebahkan tubuh dan meringkuk di atas tempat tidur.
Tidak ada suaranya terdengar hanya kedua pundak yang terus bergetar mengikuti tangisan heningnya.
Buliran bening mengucur deras menembus spray bantal yang ia kenakan.
Sementara di ruang tengah suasana begitu senyap. Empat orang yang duduk dengan tegang saling diam.
"Ayah mewakili semuanya sangat minta maaf dengan kalian, Vano." Tuan Tedy pun bersuara memecah keheningan setelah beberapa saat terdiam. Sesekali pria tua itu menghela napas yang terasa begitu sesak.
Bagaimana tidak? Baesannya meregang nyawa dengan insiden mengetikkan semua hasil dari karya anak satu-satunya tersebut. Rasanya sungguh malu, jelas sebagai orangtua ia mengakui telah gagal mendidik anaknya.
Vino pun ikut menghela napas kasar dan memijat pangkal hidungnya. "Vano tidak bisa mengatakan apapun, Ayah. Semuanya terjadi di luar nalar. Tapi semua kebaikan Ayah dan Ibu selama ini mungkin menjadi pengobat kesedihan kami semua. Kalian hadir sebagai orangtua yang penuh kasih pada kami. Tapi Vano tidak bisa mengatakan jika Vino dan Kak Risa mau menerima ini semua. Semuanya Vano serahkan dengan Kak Risa. Apapun kebahagiaan Kak Risa, Vano dukung, Ayah." serunya dengan nada berat.
__ADS_1
Beberapa percakapan itu kini kembali berakhir dengan keheningan.
Terdengar suara geretan koper seketika membuat mata yang ada di ruang tengah tersebut menatap ke arahnya serentak.