
Tirai jendela melambai-lambai kala angin siang memasuki ruangan tak terlalu terang dengan nuansa serba hitam. Asap yang di keluarkan oleh mulut yang sudah berkerut itu ikut terbang berpencar ke segala sudut ruangan.
Hengki pria yang memiliki segalanya jauh di bandingkan dengan Mr. Dave. Bahkan ia adalah sumber dari segala bisnis mafia. Penjualan narkoba, senjata, sampai alat perang lainnya dialah yang mengelola dan berhasil meraup keuntungan besar dari usahanya yang selalu lolos.
Tanpa ia harus turun tangan, tentu semua sudah ada yang mengendalikannya.
Tok
Tok
Tok
Tiga ketukan di ambang pintu yang terbuka. Membawa mata hitam legam itu melirik jauh ke depan sana.
"Bos, memanggil ku?" tanya salah seorang bertubuh tidak begitu tinggi namun terlihat lincah.
"Habisi markas si bule sialan itu, dan bawa pria yang bernama Gara, Gara Crisswong. Pastikan markas mereka rata hari ini juga!" pintah Hengki dengan nada penuh penekanan.
Tanpa penolakan atau pertanyaan lagi, kini pria itu segera bergegas menundukkan kepalanya dan tubuhnya membentuk sudut sembilan puluh derajat. "Baik, Bos."
Hengki kembali menyandarkan kepala dan selang beberapa menit kini terdengar kembali suara sepatu dengan alunan heelsnya yang saling bersentuhan dengan marmer ruangan itu.
Kursi kosong di hadapan Hengki kini tergoyahkan saat tubuh mungil wanita itu ia banting di kursi yang empuk. Bibir mungil merah merekah bergumam tak jelas. Rambut cokelat terang terlihat berkilau di suasana ruangan yang remang-remang itu. Hengki sungguh merasakan ketenangan tiap kali berada di ruangan yang tidak begitu terang. Namun saat wanita itu datang ia segera menekan salah satu bagian ruangan agar lebih terang sedikit.
"Ada apa? apa uang belanja mu habis, Sayang?"
"Aku tidak jadi hang out, padahal aku sangat bosan." keluhannya dengan menggulung rambutnya begitu manja di hadapan sang suami.
Hengki menyunggingkan senyumannya melihat tingkah menggemaskan nan manja Resa. Tingkah itulah yang selalu membuat Hengki gemas dan tidak bisa mengendalikan diri setiap kali bersama dengan istri yang bisa dilihat seperti anaknya itu.
Usia keduanya memang terpaut sangat jauh. Hengki berusia lima puluh delapan tahun, sementara Resa berusia dua puluh lima tahun.
Pria yang tadi menikmati masa tuanya dengan duduk di kursi kebesarannya sembari mengayun-ayunkan tubuhnya di kursi itu kini menepuk sebelah pahanya yang saat ini berposisi menyilang.
Resa tersenyum merekah mendapatkan perintah itu. Ia pun bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kaki dan mendaratkan tubuhnya di pangkuan sang suami.
"Apa kau bosan dalam hal ini? hem?" Hengki sudah mengusap lembut tengkuk leher putih mulus itu. Resa tak lagi mau menahan suara kenikmatannya itu.
Ia melampiaskan apa yang ada di benaknya seketika. Semua sentuhan yang di berikan oleh Hengki membuat Resa terbang ke angkasa. Ia puas dengan permainan suaminya itu. Usia baginya tidaklah bisa menjadi patokan bagi wanita mungil itu. Kebahagiaannya sudah terpenuhi dengan suami tuanya saat ini.
__ADS_1
Dan hal ini tentu tidak menjadi yang pertama mereka melakukan di ruangan itu. Ini adalah kesekian kalinya.
Jika di ruangan remang itu telah berlangsung adegan hot, berbeda dengan sebuah markas yang sudah ricuh. Seluruh tembakan sudah saling beradu.
Dron yang di terbangkan para anggota Hengki sudah di tembak secepat mungkin oleh tim kemanan di markas Mr. Dave.
"Ada penyusup...ada penyusup!" Suara teriakan terus terdengar hingga semua anggota keluar dari dalam dengan cepat berpencar ke seluruh sudut markas.
Andai saja Gara tidak ingin di bawa pulang mungkin mereka sudah melemparkan bom di markas itu. Namun tujuan utama mereka adalah membawa Gara seperti yang di perintahkan oleh Hengki.
Beberapa orang terlihat bersembunyi di pepohonan yang dekat dari markas itu.
"Terobos saja gerbang itu." sahut pimpinan pasukan yang memandu penyerangan.
"Siap," salah seorang yang sudah berbekal senjata di tangannya.
Tanpa ragu, ia berjalan tegas bak robot anti peluru. Kedua tangannya menembaki gerbang tinggi hingga terjebol dengan luas. Tak perduli berapa senjata yang menembak ke arahnya.
Beberapa pasukan lainnya yang melihat jalan masuk itu telah terbuka, seketika berloncatan bak ninja menerobos masuk ke markas melalui jalan yang sudah di buka oleh rekannya itu.
Wajah tenang Mr. Dave seketika merah padam melihat markasnya di serang entah apa penyebabnya.
"Tuan, sebaiknya anda pakai pengaman dan kita pergi dari sini. Serangan ini benar-benar brutal. Mereka memiliki alat yang jauh lebih canggih dari kita." terangnya dengan wajah panik.
Danu yang meneropong dari tempat pengamanan bisa memastikan semua tidak akan bisa membunuh satu pun anggota yang menyerangnya.
Para anggota Hengki terus berjalan tanpa perduli serangan tembakan dari berbagai arah.
Mr. Dave berlari bersama Danu menuju pintu darurat yang tersedia dari ruangan pribadinya itu. Hanya berbekal senjata dan perlengkapan anti peluru yang hanya bisa menangkal serangan bagian tubuh depan saja terpaksa mereka berlari meninggalkan markas yang selama ini baik-baik saja.
Semua anggota Mr. Dave satu persatu tumbang, dan hanya satu yang mereka sisakan.
"Tunjukkan di mana tempat penjara kalian!" ucap salah satu anggota pasukan yang sudah mencengkram leher pria yang berlumuran darah itu.
"Cepat!" teriak seorang yang bertubuh paling pendek dari yang lainnya.
Dia adalah Robi, orang kepercayaan Hengki. " Di...di bawah, i...tu jalannya." tunjuknya ke arah samping lift yang terlihat sebuah dinding dengan bentuk pintu terborgol.
Tubuhnya yang lemas di jatuhkan cepat dan salah satu dari pasukan Hengki segera mengecek kebenaran pintu itu. Dan benar setelah menembak, kunci pun terbuka dengan cepat.
__ADS_1
Ia turun ke bawah, meski sedikit gelap namun ketajaman matanya mampu melihat tangan setiap langkahnya.
Ada beberapa orang di bawah itu, ia tentu mengenali siapa yang ia cari. Nama Gara memang tak asing di telinga para mafia.
"Ayo aku bantu." ucap pria itu membopong tubuh Gara dari dalam jeruji besi setelah menembak kunci sel itu.
Gara yang sangat lemas, tak mampu mengatakan apa-apa. Matanya melirik ke arah Randa yang sudah semakin lemas.
"Ada apa?" tanya pria itu melirik ke arah Randa.
Gara terus menunjuknya. Randa hanya berbaring dengan tatapan sesekali terbuka dan kembali tertutup lagi.
"Dia di keluar kan juga?" tanya pria itu menduga-duga.
Gara hanya mengedipkan matanya pelan. "Hei, satu bantu aku!" teriak pria itu ke arah pintu di atas sana.
Dua orang dari atas segera berlari cepat turun. "Ada apa?" tanyanya penasaran.
"Itu, bantu dia. Gara memintanya."
Dengan cepat Randa pun di bopong keluar dari sel. Beberapa orang yang berada di sel meminta mereka untuk mengeluarkan mereka semua. Dengan penuh kebimbangan akhirnya mereka semua di bebaskan, namun hanya Gara dan Randa saja yang masih di bantu hingga di bawa keluar dari markas terkutuk itu.
Randa dan Gara saling bertatapan penuh haru. Keduanya tidak menyangka jika akan ada yang membantu mereka. Meskipun masih tanda tanya siapa yang membantu keduanya.
Terlihat Randa tersenyum sedikit karena tubuhnya yang lemas. Senyuman yang menandakan jika ia sangat salut dengan Gara yang tidak melupakan dirinya dalam keadaan seperti ini.
Kesetiaan Randa saat ini membawanya ke dalam jalan keberuntungan. Selain di selamatkan, ia juga bisa keluar dari kelompok yang di pimpin oleh Mr. Dave. Tentu dengan bantuan Hengki.
Keduanya di bawa ke dalam mobil. Mobil melaju menuju ke rumah sakit setelah melaporkan hasil kerja mereka para Hengki.
***
Bunyi mesin pendeteksi jantung berdetak stabil. Dengan ritme yang pas. Frekuensi terlihat stabil di monitor. Tetesan demi tetesan cairan makan mengalir melalui selang transparan. Deru nafas terlihat jelas di manik mata yang tertutup dengan buliran bening itu.
Kharisa terus setia duduk di samping tempat tidur Tuan Tedy. Lelehan air mata di kedua sudut ekor mata menampakkan diri. Seolah berkata jika ini mimpi buruk yang menghampirinya.
Bagaimana bisa mertuanya dan suaminya membuatnya khawatir di saat yang bersamaan seperti ini?
"Kharisa." panggil Nyonya Harina yang membuka pintu ruang rawat suaminya.
__ADS_1
"Ibu." Kharisa berlari memeluk tubuh Nyonya Harina dengan isak tangis yang sulit ia tahan lagi.