Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 42. Kharisa Salah Tingkah


__ADS_3

Gara yang mendengarnya hanya memejamkan matanya, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri setelah mendengar ucapan Kharisa.


"Kau yakin dengan keputusan ini, kau harus yakin, Gara." gumamnya.


Kharisa yang menatap Gara diam menunggu jawaban dari suaminya.


"Serahkan dan percaya padaku. Aku akan berusaha melindungi mu. Kau istriku, istri yang Ayah pilih untukku." tutur Gara.


"Besok kita ke rumah?" tanya Gara menatap wajah Kharisa.


Keduanya saling membisu kembali, Kharisa ragu untuk menuruti permintaan Gara.


Pria itu menggenggam tangan Kharisa ia meyakinkan jika Tuan Tedy akan mengerti. Setelah cukup lama usaha Gara berbicara dari hari ke hati akhirnya Kharisa pun memberikan sebuah anggukan.


"Kau benar mau?" tanya Gara.


"Iya, tapi sepulang aku kerja." jawabnya.


Gara tersenyum senang, "Yasudah ayo kita lanjut lagi biar cepat selesai. Kau harus istirahat cepat." pintah Gara.


Mereka berdua tampak jauh lebih akur dari biasanya meski Kharisa tampak jual mahal pada Gara. Namun Gara masih tak patah semangat meluluhkan hati istrinya itu.


Malam itu mereka sudah fokus memeriksa seluruh dokumen beberapa kali Kharisa juga tampak mencuri-curi pandangan pada Gara.


"Mengapa dia bisa jadi berubah seratus persen seperti ini?" gumamnya masih tampak bingung.


Tatapannya buyar saat sadar jika Gara sudah menangkap basah tingkah Kharisa. Wajah wanita itu tampak memerah malu karena telah ketahuan.


"Em sudah selesai." ucap Kharisa dengan suara gugupnya.


Ia jadi terlihat semakin salah tingkah saat Gara tersenyum padanya. "Terimakasih yah." tutur Gara.


Pria itu segera mengemasi seluruh kertas yang ada di kasur itu dan membawanya kembali ke atas meja.


Kharisa masih duduk diam menatap punggung suaminya. Gara yang baru selesai menata dokumen itu kini mendekat pada Kharisa dan meraih tubuh istrinya.


Kedua tangannya menuntun tubuh Kharisa dalam diam mengarahkan pada kasur yang sudah tidak cukup layak itu.


"Astaga mau apa dia?" gumam Kharisa begitu bingungnya harus melakukan apa saat Gara begitu dekat dan akan meminta haknya malam itu.


Wajah Kharisa tampak panik, rasanya ingin sekali ia menolak namun entah apa yang membuat dirinya sama sekali tidak bisa menolak Gara.


Kedua mata Kharisa sudah terpejam karena ia malu jika harus melihat wajah Gara dalam keadaan sangat dekat seperti itu, terlebih lagi saat ini Gara sudah mulai memiringkan wajahnya untuk mendaratkan satu ciuman atau bahkan serangan bibir hingga ke dalam. Tidak ada yang tahu saat ini.

__ADS_1


"Kharisa ayo tenanglah." gumamnya terus memejamkan matanya semakin kuat karena sadar dengan hembusan nafas Gara yang begitu semakin terasa.


"Tidurlah yang nyenyak." ucap Gara yang sudah memastikan Kharisa tidur dan memakai bantal dengan tepat.


Wajahnya tersenyum melihat Kharisa yang terkejut dan membulatkan matanya saat mengetahui jika Gara hanya menuntunnya agar berbaring dan mengambil bantal di bawah sana.


"Ya Tuhan Kharisa kau sungguh memalukan." pekiknya pada dirinya sendiri seraya menggigit kecil bibir bawahnya demi menahan malu itu.


"Apa kau-" (ucap Gara yang belum sempat bertanya apakah Kharisa menginginkan sentuhan darinya sudah terpotong saat melihat Kharisa menutup wajahnya dengan bantal).


Gara menyunggingkan sebuah senyuman seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu istrinya.


"Memalukan sekali diriku ini, ih awas kau Gara." pekik Kharisa di balik bantal yang menutupi wajahnya.


"Ada apa?" tanya Gara tiba-tiba kembali mengejutkan Kharisa saat melihat wajah suaminya sudah berada di balik bantal yang sama.


"Kau ini." pekik Kharisa yang sudah merubah posisi tidurnya dengan membelakangi Gara kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Kharisa merasa dadanya berdegup begitu kencangnya. Belum selesai ia menenangkan diri, kini tangan kekar Gara sudah kembali melingkar di perut rata milik Kharisa yang berposisi membelakangi dirinya.


"Tidurlah, jangan terus menutup wajahmu seperti itu nanti tidak bisa bernafas." bisik Gara yang sudah meletakkan wajahnya di bagian tengkuk leher sang istri.


Tubuh Kharisa merespon dengan rasa geli yang menjalar di tubuhnya saat merasakan hembusan nafas itu.


Gara yang sadar dengan hal itu segera menarik tubuh Kharisa agar membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengannya.


"Seperti ini akan jauh lebih nyenyak." ucap Gara membenamkan wajah Kharisa dalam pelukannya tanpa mau mendengarkan penolakan dari istrinya.


Kharisa tidak melakukan penolakan meski awalnya ia berusaha mengeraskan diri agar tidak berhadapan dengan Gara.


Saat ini Kharisa sudah diam di pelukannya. Wajahnya tampak tersenyum tanpa Gara tahu.


"Aku memang merasa tenang berada di pelukan ini, tapi aku takut jika ini akan melukaiku suatu saat nanti." ucap Kharisa dalam hatinya.


Keduanya pun menutup mata mereka lalu terlelap dalam dinginnya malam di temani selimut yang tidak begitu tebal.


Tapi kehangatan pelukan dari Gara sangatlah mampu mengalahkan dinginnya malam itu bagi Kharisa.


Di kamar sebelah Vino dan Vano baru selesai belajar. "Sut." panggil Vino pada saudara kembarnya.


"Hem." ucap Vano yang melepaskan headset di telinga.


"Sepertinya di kamar sebelah sudah aman, buka saja headset mu nanti telinga mu rusak." pintah Vino.

__ADS_1


Akhirnya Vano pun menurut lalu mereka segera merebahkan tubuh dengan rasa penat di kepala yang sehari sampai malam harus belajar demi masa depan mereka semua.


Tenang, tak ada suasana yang mengganggu heningnya malam itu. Begitu menemani tidur yang panjang untuk kedua pasangan suami istri yang baru saja mulai akur itu, yaitu Gara dan Kharisa.


***


Seperti biasa Kharisa bangun subuh untuk mandi dan solat lalu ia bergegas ke dapur untuk memasakkan dua adiknya dan juga suami tampannya itu.


Sebelum keluar dari kamarnya, Kharisa tersenyum melihat wajah Gara yang masih tampak pulas. Ia tahu jika semalam Gara sama sekali tidak tidur, dan baru beberapa menit pria itu terlelap dalam pelukan hangatnya.


Perlahan Kharisa mendekat pada Gara dan duduk di depan wajah suaminya, tangannya mengusap pelan wajah tenang itu di bagian kening yang memperlihatkan beberapa helai rambut tergerai ke wajah.


"Aku tahu kau sangat sulit tidur, entah karena apa. Yang jelas aku senang saat melihat wajahmu yang terlelap seperti ini." gumam Kharisa.


Setelah cukup lama, Kharisa memutuskan segera ke dapur memasak. Ia beberapa kali ke kamar mandi kembali mengeluarkan isi perutnya.


"Beruntung ini hanya sesekali saja, kalau tidak bagaima aku bisa kerja di kantor?" gumam Kharisa segera mencuci wajahnya.


"Kak Risa, ada apa?" tanya Vano pelan.


"Vano, tidak apa-apa. Kakak kedinginan semalam begadang." terang Kharisa berbohong.


"Sudah Kakak istirahat saja. Biarkan Vano yang memasak yah. Ayo Vano antara ke kamar." ajaknya dengan menuntun Kharisa melangkah ke kamar karena terlihat sangat lemas.


"Kak," Suara Vano yang ingin bicara segera di hentikan Kharisa dengan membungkam mulutnya.


"Jangan ribut, Kakak iparmu baru saja tertidur." bisiknya tak tega jika Gara terganggu.


Vano menganggukan kepalanya mengerti, ia tersenyum dalam hati. "Sepertinya Kak Risa begitu perhatian dengan Kakak ipar belakangan ini." gumamnya.


Vano akhirnya segera keluar dari kamar kakaknya dan beranjak ke dapur. Di sana sudah ada Vino yang mulai memasak nasi di rice cooker.


"Kak Risa masih sakit?" tanya Vino.


"Iya, aku tidak tega Kak Risa sepertinya kelelahan." tutur Vano.


Keduanya fokus masak agar cepat selesai tanpa ada yang berbicara lagi.


Gara yang masih terlelap kini terbangun saat mencium aroma wangi Kharisa yang sudah bersiap dengan pakaian formalnya.


"Astaga dia sudah bangun, padahal tadinya aku ingin tidak membangunkannya karena tidurnya masih sebentar sekali." gumam Kharisa yang menatap dari pantulan cermin di depannya itu.


Gara duduk di pinggir tempat tidur, sembari mengusap kasar kedua matanya menghadap pada Kharisa. Ia tersenyum melihat wanita cantik di depannya saat ini sungguh terlihat berkelas sekali.

__ADS_1


__ADS_2