
Waktu silih berganti dengan cepat. Selama beberapa bulan Gara selalu rutin membawa sang istri untuk mengecek keadaan janin di dalam rahim Kharisa.
Tak lupa dua adik kembar Kharisa selalu berada di sisi mereka. Yah, Vino dan Vano selalu mengawasi gerak-gerik kakak ipar mereka di akhir masa hamil sang kakak.
Seminggu setelah kepulangan dua pasangan yang tengah usai melewati masa honeymoon kadaluarsa. Tuan Tedy dan Nyonya Harina pantas di sebut dua sejoli yang menolak masa tua mereka sebab honeymoon tidak ada dalam catatan di usia seperti mereka.
Pagi buta yang begitu enggan untuk seluruh penghuni bumi membuka mata karena cuaca yang begitu dingin akhirnya memaksa seluruh penghuni rumah megah terpaksa berjingkat kaget dari tempat pembaringan kala terdengar suara keributan.
"Aaaa Vino! Vano! Sayang! Ayah! Ibu!" teriakan seorang wanita begitu lantang memenuhi setiap sudut rumah itu.
Wanita berbadan dua dengan perut yang sangat besar telah terduduk di lantai dapur yang masih gelap gulita hanya di temani lampu kompor itu.
Seruan langkah kaki berbondong-bondong terdengar berlari mendekati sumber suara.
"Astaga, Kharisa." pekik Tuan Tedy yang lebih dulu tiba.
"Ayah, perut Risa sakit." keluhnya seraya menengadah memegangi perut buncitnya.
Semuanya pun sampai di dapur, tak lupa pelayan setia di rumah itu segera mengambil alih kompor yang masih menyala untuk segera mematikannya.
"Bertahanlah." Tanpa aba-aba Gara langsung menggendong tubuh sang istri. "Randa, kita ke rumah sakit." pintahnya kemudian.
Randa yang segera berlari mengambil kunci mobil dengan sigap mengantarkan mereka ke rumah sakit.
"Vino, Vano, ayo." ajak Nyonya Harina pada dua adik kembar Kharisa.
"Ibu, tunggu. Ayah juga ikut." Tuan Tedy mengejar sang istri keluar rumah.
Dua mobil saling berkejaran di pagi buta itu di iringi teriakan dari Kharisa. "Sakit." tak henti-hentinya ia terus berucap sembari mencengkeram lengan Gara.
"Sabar sayang, sebentar lagi." ucap Gara mengelus pelu di dahi sang istri.
"Randa, cepat sedikit! jalanan juga sepi." pintah Gara kemudian.
Roda empat itu seketika melaju dengan cepat hingga meninggalkan jauh mobil yang di kemudikan Vino. "Ya Tuhan, Randa laju sekali itu." tutur Nyonya Harina.
Suara ketenangan yang di perdengarkan kicauan burung pagi itu berbanding terbalik dengan suasana yang sangat menegangkan di ruang bersalin. Seluruh tenaga medis di buat kewalahan akibat ulah Gara.
"Cepat berikan yang terbaik untuk istri saya! Kalau tidak kalian akan saya habisi di ruangan ini." ancamnya di sela-sela teriakan sang istri kesakitan.
"Pak Gara, tolong jaga sikap anda. Anda menghalangi proses persalinan." tegur Dokter yang menangani Kharisa.
__ADS_1
"Anda berani main-main dengan saya?" tanya Gara penuh selidik.
Kharisa menggeleng melihat sikap arogan suaminya yang sangat membahayakan semuanya.
"Lihat! Istri saya kesakitan. Apa kalian mau saya buat lebih sakit dari ini? hah!"
Keringat gugup membasahi tubuh mereka yang ketakutan. "Bu, tolong jangan teriak. Semakin anda teriak, Pak Gara semakin marah." bisik seorang perawat di dekat Kharisa.
Sementara Gara terlihat mencengkeram kerah jas Dokter di bawah sana. Kharisa semakin tidak tahan melihat keributan dan sakit yang ia rasa. "Ibu...!" teriak Kharisa begitu kencang hingga terdengar di luar ruang tunggu.
Indera pendengaran Nyonya Harina menangkap panggilan menantunya dengan tajam. "Ibu, Kak Risa." ucap Vano.
"Ada apa ini?" gumam Nyonya Harina.
"Pasti gara-gara di Gara lagi ini." gerutu Vino lirih namun masih bisa terdengar.
"Sebentar." Nyonya Harina berjalan cepat menuju ke ruangan dan mengetuk pintu penuh kecemasan.
Tok Tok Tok
Salah seorang perawat pun membuka pintu ruang bersalin. "Ibu, silahkan masuk. Bu Risa memanggil anda."
Mendengar penuturan sang perawat itu, Nyonya Harina pun masuk dan mendekati menantunya. "Bu, suruh Gara keluar saja."
Tatapan bingung Nyonya Harina terjawab kala melihat anaknya sibuk mengurusi Dokter tanpa perduli dengan sang istri yang terus mengejan.
"Bu, biarkan aku di dalam. Mereka menyakiti Risa." sahut Gara dengan ketusnya.
"Maaf Ibu, Pak Gara menekan kami setiap kali Bu Risa kesakitan. Kami tidak bisa konsen menjalankan persalinan jadinya." terang sang Dokter dengan ragu-ragu.
"Gara, keluar kamu! Kamu mau bunuh anak istrimu?" hardik Nyonya Harina.
"Tapi, Bu." sangkal Gara berusaha mempertahankan dirinya berada di dalam sana. Rasa cemas begitu menguasai dirinya hingga tidak bisa sama sekali mengontrol emosi.
"Ibu bilang keluar."
Tanpa perlawanan, Gara keluar dari ruangan bersalin. Di dalam, kini terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya. Kharisa mengejan di pandu dengan Dokter. Sementara Nyonya Harina berusaha menyemangati sang menantu sesekali mengusap kening tersebut.
"Ayo sayang, sedikit lagi." ucap Nyonya Harina.
Beberapa menit setelah keluarnya Gara dari ruangan bersalin, kini terdengarlah suara tangisan bayi yang memekakkan telinga. Mata coklat milik Gara membulat sempurna mendengar sang buah hati telah lahir.
__ADS_1
"Anakku." ucapnya begitu cepat dan berjalan hendak mendobrak pintu ruangan bersalin.
"Buka pintunya." teriak Gara.
Tuan Tedy menggeleng frustasi melihat kebrutalan anak semata wayangnya. "Hey anak tidak tahu adab. Apa yang kau lakukan? bikin malu saja." teriak Tuan Tedy.
Sontak Gara menoleh kebelakang menatap sini sang Ayah. "Ini rumah sakit, Gara. Bukan penjara bawah tanah. Biarkan tim medis mengatasi semuanya." ujar Tuan Tedy mencegah sang anak.
"Ayah, anak Ayah benar-benar pantas membuat Gara-Gara. Namanya Ayah dapat rekomendasi dari mana sih?" tanya Vino meledek.
"Apa-apaan kamu, Vin? menghina namaku." sahut Gara menatap tajam adik iparnya.
"Itulah kesalahan Ayah. Nanti namanya akan di buat ulang bersamaan dengan anaknya saja. Ayah mau ganti namanya jadi si Sabar." seru Tuan Tedy sembari terkekeh.
Pintu terdengar terbuka, seorang Dokter keluar bersama tim medis lainnya. Semua langsung masuk serentak menghampiri Kharisa.
"Mau di bawa kemana anakku, Bu?" tanya Gara panik.
"Mau di bersihkan dulu. Gara, kamu ini tenang sedikit kenapa sih?" tegur Nyonya Harina geram melihat tingkah putranya.
"Risa, apa ada yang sakit?" tanya Gara.
Kharisa mengangguk dengan tatapan lelah di netra indah miliknya. "Apanya yang sakit? katakan! Mereka melakukan apa tadi? Ibu, mengapa membiarkan Kharisa kesakitan? Tunggu sebentar, akan ku habisi mereka." Gara melepaskan genggamannya pada Kharisa dan hendak keluar menyusul para tenaga rumah sakit yang menangani sang istri tadi.
"Gara!" hardik Nyonya Harina.
"Duduk!" bentak Nyonya Harina menunjuk kursi di ruangan itu untung putranya.
Gara terdiam dan menurut pada sang Ibu. "Kharisa baik-baik saja. Sakit, memang itu yang di rasakan wanita setiap habis melahirkan." terang Nyonya Harina.
"Gara, apa-apaan sih? sejak kapan kebodohan itu muncul." celetuk Randa menggelengkan kepala.
"Risa, terimakasih sayang. Kamu sudah kasih cucu untuk Ayah dan Ibu. Wajahnya cantik sekali." Nyonya Harina tersenyum penuh haru.
"Iya Bu, sama-sama. Oh iya, namanya siapa yah?" tanya Kharisa.
"Kak Risa, usul kalau bisa namanya jangan sampai ada kata Gara, Onar atau teman-temannyalah. Nanti bikin pusing." celetuk Vino menatap sang Kakak ipar.
"Namanya Gani Anggara Crisswong." ucap Gara tegas.
"Nama yang bagus. Ayah setuju." ucap Tuan Tedy.
__ADS_1
"Itukan ada nama Garanya lagi." sahut Randa menyadari.
"Yang penting bukan Gara kan? lagi pula aku Ayahnya." bantah Gara sinis.