
Gara yang menghentikan mobilnya tepat di markas besar milik Mr. Dave tampak di sambut cepat dengan beberapa aggota mafia lainnya.
Gara turun dari mobilnya dan melangkah menuju tempat di mana ruangan khusus Mr. Dave. Tangannya mengetuk ruangan transparant itu dengan suasana yang seperti biasa tampak gelap. Hanya bagian tertentu saja yang di sorot oleh lampu penerang ruangan itu.
Mr. Dave memang selalu menyukai kegelapan di mana pun ia berada. Dan hal itu tak bisa terlepas juga oleh Gara.
"Mr. Dave." ucap Gara dengan tegas seraya terus melangkahkan kakinya mendekat pada pria yang saat ini tengah membelakangi dirinya dengan melipat kedua kakinya duduk bersandar di sofa kebesarannya.
"Kau sudah datang rupanya." ucap Mr. Dave tanpa mau membalikkan tubuhnya menatap Gara.
Suasana hening, Gara menarik nafasnya dalam lalu ia kembali mengatakan. "Maafkan saya, Mr Dave. Terpaksa saya tidak bisa ikut bersama anda saat ini. Ayah saya sedang dalam keadaan sangat tidak baik. Bisakah saya-" (ucapan Gara terhenti saat melihat tangan Mr. Dave naik ke atas sejajar dengan kepalanya yang bersandar di sofa).
"Apa benar begitu? bukan karena wanita itu?" Mr. Dave berkata dengan sangat tepat.
Mata Gara tampak berputar kesana kemari seolah ia tidak sadar jika dirinya saat ini bukan hanya membohongi Mr. Dave melainkan juga tengah membohongi dirinya sendiri.
"Gara, apa yang kau katakan?" gumamnya juga merasa bingung.
"Benar, Mr. Dave. Saya takut jika terjadi apa-apa dengan Ayah saya. Saya mohon setelah Ayah sehat saya segera menyusul anda." sahut Gara.
"Pergilah." pintah Mr. Dave.
Gara menundukkan kepalanya kemudian bergegas pergi meninggalkan markas itu. Mr. Dave tampak beberapa kali menganggukkan kepalanya dengan senyuman menyeringai di wajahnya.
"Saat ini aku tidak memaksamu, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu Gara." ucapnya dengan mengepal tangannya erat.
Gara keluar dari ruangan dan beberapa anggota yang berjaga di luar ruangan itu menunduk hormat padanya. Semua menatap kepergian Gara dengan tatapan datarnya.
"Urusan Mr. Dave selesai, saatnya aku bertemu Ayah sebelum menjemput Kharisa nanti sore." gumamnya seraya melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Mobil pun kembali melaju ke kediaman Tuan Tedy sebelum tiba di rumah, Gara menyempatkan untuk membelikan kue Tuan Tedy.
Ia kembali melajukan mobil itu dan beberapa saat setelahnya Gara pun tiba di rumah.
"Ayah itu Gara." ucap Nyonya Harina tersenyum lega saat melihat kehadiran putranya di depan halaman rumah mereka.
Kebetulan Tuan Tedy tengah menikmati suasana depan rumah mereka dengan kursi roda sambil makan di suap oleh Nyonya Harina.
"Kau sudah kembali rupanya?" sapa Nyonya Harina.
"Ini Gara bawakan brownis pandan kesukaan Ayah." ucap Gara dengan menyodorkan bungkusan kue pada Nyonya Harina.
Tuan Tedy tersenyum senang mendapat perhatian dari anaknya. "Untuk Ayah?" tanya Tuan Tedy tidak percaya.
"Iya." ucap Gara.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Ayah?" tanya Gara.
"Ayah sudah baik," sahut Tuan Tedy.
"Gara, apa Ayah boleh meminta tolong padamu?" tanya Tuan Tedy tampak raut ragu di sana menatap wajah putranya.
Gara tampak mengernyitkan dahinya dalam. "Minta tolong apa, Ayah?" tanya Gara.
"Ayah minta tolong kau periksa keadaan kantor, karena beberapa hari ini Ayah sudah tidak bisa turun ke kantor sedangkan Khard sampai hari ini tidak bisa Ayah hubungi." terang Tuan Tedy.
"Astaga bagaimana aku bisa melupakan kantor Ayah?" gumam Gara tersadar dengan satu kerjaan yang belum ia selesaikan.
"Baiklah, Ayah jangan khawatir, Gara akan mengatasi semuanya. Ayah sebaiknya istirahat saja." pintah Gara.
Tuan Tedy dan Nyonya Harina tersenyum lega mendengar perkataan Gara. "Kalau begitu Gara segera ke kantor Ayah sekarang." ucapnya dengan beranjak kembali ke dalam mobilnya.
***
Sedangkan Kharisa yang sejak tadi duduk merasa aneh dengan tatapan Rifal padanya. Ia menundukkan kepalanya saat Rifal terus menatapnya dengan tatapan dalam.
"Maaf Presdir, apakah makannya sudah selesai?" tanya Kharisa memberanikan diri.
"Eh iya, apa sudah kenyang?" tanya Rifal terkejut dari lamunan panjangnya.
"Iya sudah, Presdir." sahut Kharisa.
"Bukannya tadi katanya ingin mengatakan sesuatu?" gumam Kharisa mengingat ajakan makan siang itu untuk membahas kerjaan.
"Oh iya, Presdir." jawab Kharisa cepat.
Setidaknya Kharisa memilih untuk segera pulang ke kantor dan melewati masa kerjanya lebih cepat. Sungguh rasanya tidak enak jika terus bersama dengan pria itu.
Di perjalanan masih suasana tampak hening, "Kharisa." panggil Rifal dengan mata yang entah sejak kapan menatapnya.
"Iya, Presdir." sahut Kharisa sopan.
"Nanti malam apakah ada waktu kosong?" tanya Presdir Rifal.
"Kosong?" tanya Kharisa tidak mengerti waktu kosong seperti apa maksudya, tentu Kharisa tidak akan kosong waktunya saat sampai di rumah tentu Kharisa akan segera tidur.
"Coba masukkan nomormu di ponsel ini." pintah Rifal.
Kharisa menatapnya gugup, dengan ragu tangan itu mengambil benda tipis itu setelah tangan Rifal kembali menyodorkannya.
"Tenang Kharisa, ini hanya untuk pekerjaan. Tentu saja semua sekertaris akan seperti ini di perlakukannya." gumam Kharisa menenangkan dirinya.
__ADS_1
Keduanya kini sudah tiba di kantor dan kembali fokus bekerja, begitu juga Rifal yang kembali fokus bekerja sesekali matanya melirik layar laptop yang sengaja ia perkecil tampilan cctv itu.
***
"Selamat siang, Tuan Gara." sapa para pekerja di kantor Tuan Tedy.
Suasana kantor itu masih tampak seperti biasanya, Gara segera melangkah ke arah bagian meja kerja Khard. Matanya pusing setelah membuka satu persatu berkas yang sudah menumpuk itu.
"Otakku sepertinya tidak mampu di bidang ini." tutur Gara mengusap kasar wajahnya.
"Kharisa." ucapnya tanpa sadar menyebut nama istrinya itu.
"Baiklah aku akan membawa semua berkas ini ke mobil, dan nanti malam aku bisa meminta bantuan darinya." ucap Gara.
"Bawa ini semua ke mobilku." pintah Gara.
"Ke mobil, Tuan?" tanya salah satu pekerja yang ada di ruangan itu.
"Ba-baik, Tuan." ucapnya dengan cepat segera membawa beberapa berkas yang tertumpuk banyak di meja Khard saat itu.
Setelah lelah kesana kemari, Gara memutuskan untuk duduk sejenak di ruangan itu, dan memejamkan matanya. Ia merasa sangat mengantuk mata tajam itu perlahan tertutup dengan sempurna.
Cuaca yang sangat terik di luar sana dengan sinar mentari yang menyorot begitu tajamnya perlahan sudah kembali terlihat teduh, keberadaannya kini tak lagi sejajar dengan posisi arah jarum jam dua belas. Para pekerja sudah berlalu lalang di kantor Tuan Tedy menandakan jika jam kerja mereka sudah habis.
"Tuan...Tuan." panggil salah seorang pekerja yang membangunkan Gara.
"Ada apa?" tanya Gara dengan mata yang sudah memerah.
"Ini sudah jam pulang kerja, Tuan." ucap pekerja itu dengan pelannya.
Gara mengusap kasar matanya dan segera berdiri tanpa mengatakan apa pun, ia melirik jam di tangannya yang sudah menandakan istrinya sudah pulang kerja.
"Kharisa." ucapnya dengan beranjak cepat dari kantor itu berlari ke arah mobil dan segera ia melajukan mobilnya.
Tidak butuh waktu lama untuk Gara sampai di kantor tempat istrinya bekerja. Kharisa tampak berjalan di samping Rifal. Mata Gara menatap tajam pada Kharisa, "Siapa pria itu?" tanyanya dari dalam mobil.
"Gara," ucap Kharisa dalam hati saat menyadari kehadiran suaminya.
"Maaf Presdir, saya pulang dulu." ucap Kharisa yang belum sempat mendapat tawaran dari Rifal untuk pulang bersama ia sudah lebih dulu menjauh dari pria itu.
Gara masih menatap jelas bagaimana tatapan Rifal pada istrinya sampai saat ini, "Untuk apa kau kemari?" tanya Kharisa.
"Melihat tingkahmu yang selalu saja menggoda laki-laki. Apa perlu aku memenjarakan pria itu juga?" pekik Gara.
"Kau-" (ucapan Kharisa yang belum sempat membantah kini Gara sudah lebih dulu memintanya masuk ke dalam mobil).
__ADS_1
"Apa-apaan kau ini?" tanya Kharisa kesal.