Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 111. Selesai


__ADS_3

Memaafkanlah selagi bisa memaafkan, selagi kau ingin hidupmu tanpa beban dan dendam.


_________________________________


Dua orang berwajah tak lagi muda tampak membuka pintu ruangan rawat dimana Kharisa terbaring dan lainnya.


"Ayah, Ibu." ucap Gara terkejut saat hendak melingkarkan tangannya di tubuh sang istri.


Tuan Tedy dan Nyonya Harina menampakkan jajaran gigi putih di ambang pintu. "Kita kangen, bolehkan Risa? Ibu sama Ayah tidur di sini juga?" tanya Nyonya Harina melangkah perlahan.


Kharisa tersenyum hangat. "Boleh dong Ibu, Ayah. Ayo masuk." aja Kharisa berbicara pelan takut sang anak terbangun.


Malam yang begitu hangat membangunkan Vino dan Vano kala merasakan tubuh Randa yang mendadak ambruk di tengah-tengah keduanya menelungkupkan tubuhnya.


Semua terbangun kala mendengar decitan pintu kembali tertutup. "Gani sudah tidur?" tanya Tuan Tedy melihat cucunya yang berada di gendongan Kharisa.


"Iya Ayah, baru saja." jawab Kharisa.


"Kemari, biar Ayah gendong tidur sama kami." Kharisa memberikan sang anak dengan hati-hati.


Tampak tubuh mungil baby Gani menggeliat sejenak di dalam hangatnya pelukan sang Kakek. Lengkaplah malam itu, satu keluarga tidur di ruangan yang berukuran tidak begitu besar.


Badcover berbahan tebal terampar lebar di bawah lantai rumah sakit itu. Di sanalah semuanya saling memejamkan mata begitu tenang. Sementara Gara masih mengeratkan pelukannya pada sang istri di ranjang pasien yang berukuran pas-pasan itu.

__ADS_1


Kharisa tampak memandang seluruh wajah yang terpejam.


"Wajah ini semua yang tidak pernah terbayangkan olehku akan mengisi hari-hariku di dunia setelah kepergian Ayah dan Bunda." Sebuah senyuman penuh haru mengembang di wajah cantik nan bengkak sang Ibu yang baru saja berubah statusnya itu.


Satu persatu ia tatap penuh arti, Nyonya Harina yang terlelap dengan memeluk sang cucu begitu menyejukkan hati Kharisa. Bagaimana tidak? selama ini sosok Nyonya Harina yang selalu memperlakukan dirinya dan adik-adiknya seperti anak kandung, begitu pula dengan Tuan Tedy.


Pria tua yang begitu percaya dengan Kharisa melebihi pada anaknya sendiri. Ia bahkan tak segan-segan memberikan perusahaan hasil kerja kerasnya untuk Kharisa meski ia tahu menantunya sudah memiliki perusahaan sendiri.


Kembali netra itu menatap dua wajah tampan sang adik, "Terimakasih Tuhan, kau memberikan aku dan adik-adikku kesempatan untuk hidup bahagia bersama. Semoga kebersamaan kami akan tetap seperti ini kedepannya. Hanya mereka keluarga yang aku miliki yang tersisa." batin Kharisa menatap begitu dalam pada dua wajah yang mirip tersebut.


Tak lama terlihat tubuh pria yang menggeliat di tengah-tengah sang adik. Randa, betapa besarnya pengorbanan pria itu untuk menutup segala akses hati sang sahabat pada Kharisa dulu. Bagaimana pun Kharisa tidak akan melupakan jasa pria yang kini juga menjadi sahabatnya.


Terakhir, Kharisa menata wajah mungil malaikat hatinya yang baru saja lahir. Baby Gani, kehadiran bocah tampan yang selama ini begitu di tunggu-tunggu di keluarga mereka.


Tak ada lagi rasanya yang ia perlu minta pada sang kuasa. Lengkap sudah kebahagiaannya saat ini. Terakhir setelah wanita itu mengusap lembut buliran bening yang lolos dari pelupuk matanya, dua manik coklat itu bergerak ke arah wajah pria tampan yang berbaring di sebelahnya dengan tangan yang melingkar di pinggangnya.


Hati yang begitu bahagia membawa tangan lentik yang masih tampak gemuk akibat proses lahiran yang baru saja usai meraih pipi sang suami.


"Gara, aku tidak pernah terbayangkan pernikahan kita bisa sebahagia ini. Pernikahan yang berawal hanya dengan permainan saja. Apakah saat ini game itu masih berlaku untuk ku? Aku begitu mencintaimu, suamiku. Aku sangat mencintaimu." tutur Kharisa lirih namun tanpa ia sadari sang pria yang berada satu tempat pembaringan dengannya masih bisa mendengar ucapannya.


"Aku juga sangat mencintaimu, istriku. Game itu tidak akan pernah ada. Itu hanyalah kebodohanku saja. Tolong lupakan semuanya, kini ingatlah semua kebahagiaan kita yang akan selalu aku berikan untukmu dan keluarga kita." Satu kecupan mendarat di punggung lengan Kharisa yang berada dekat dengan wajah Gara.


Gara yang semula berbaring kini merubah posisinya menjadi duduk bersama istrinya, di temani penerangan yang begitu cerah membuat keduanya menikmati pemandangan di depan mereka.

__ADS_1


Sebelah tangan kekar nan berbulu melingkar di pundak sang istri kala ia sadar indahnya pemandangan yang terlewatkan saat itu. "Cintaku yang penuh untukmu, Kharisa. Teruslah membawaku ke jalan yang baik." ucap Gara mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.


Kedua hidung yang tinggi kini tampak saling menempel sempurna. Masing-masing mata mereka saling bertautan. Tatapan yang begitu dalam membawa Kharisa semakin terbuai.


"Cita kita akan terus seperti ini. Tidak ada dan tidak akan pernah ada namanya game dalam pernikahan. Itu adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal yang pernah ku lakukan."


Buliran air mata bahagia milik Kharisa lolos kala merasakan bahagia yang sangat sempurna Tuhan ciptakan untuknya. Sungguh semua di luar dugaannya, mengingat betapa buruknya nasib yang telah ia lalui sebelumnya.


Perlahan-lahan wajah Gara mulai mencari posisi teromantis untuk meraih bibir putih itu. Saat Kharisa memejamkan matanya tiba-tiba terdengar suara deheman seseorang.


"Ehem..."


Keduanya tampak menghentikan aktifitas mereka. Kharisa mendadak tersenyum dan membaringkan tubuhnya menutup selimut di bagian wajahnya. Sementara Gara berdecak kesal melihat wajah Vino tersenyum ganjil.


"Jangan sakiti Kak Risa lagi." ancam Vino.


"Aku akan membahagiakan istriku, tenang saja." sahut Gara memilih membaringkan tubuhnya menyusul sang istri.


Vino pun tersenyum bahagia melihat pemandangan di sekitarnya. "Berasa jadi korban tanah longsor gue." batin Vino kembali merebahkan tubuhnya menikmati malam yang tersisa.


Kini kebahagiaan begitu terasa di keluarga mereka. Sungguh apapun kepahitan yang telah Kharisa dan Gara lewati semua telah berakhir manis.


Meski tak henti-hentinya Kharisa mengeluarkan tangis kesedihan, namun Gara tak henti-hentinya memberikan pelukan hangat untuk mendukung sang istri dan selalu berada di samping menguatkan Kharisa hingga kebahagiaan pun telah mereka raih saat ini dengan lahirnya buah hati baby Gani di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


_____________END_____________


__ADS_2