Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 52. Kesalahan Bersama


__ADS_3

Di ruangan luas dan menegangkan memperlihatkan beberapa macam ekspresi dari masing-masing wajah yang hadir di dalam persidangan itu.


Seakan hawa panas memenuhi ruangan yang mengalahkan dinginnya AC. Getaran di tubuh seorang wanita yang sejak tadi terus menguasai dirinya. Tidak ada lagi ketenangan dan ketegasan terlihat dari sorotan dua manik mata indah itu.


Di mana Kharisa yang selalu mampu mengatasi setiap masalah? Di mana Kharisa yang bisa berbicara dengan tenang demi mengalahkan perdebatan dengan lawannya?


Semua sudah tak dapat terlihat jelas lagi, bahkan netra tegas yang selalu terpancar itu kini sudah tak sanggup melihat wajah lawan bicaranya. Buliran bening menutupi manik mata tegas itu.


Kekuatan. Yah hanya kekuatan dari Gara, sang suami yang sejak tadi membantunya agar tetap mampu memberikan semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ia dapatkan.


Suara perdebatan semakin tak terkendali hingga beberapa kali terdengar teguran dari hakim ketua antara Khard dan juga Kharisa.


Setelah lamanya waktu terlewati kini usai sudah sidang hari itu. Gara membopong tubuh Kharisa keluar dari pengadilan dengan wajah penuh kecemasan. Terlihat jelas wajah Kharisa yang pucat dan sembab.


Sedangkan persidangan tentu tidak hanya sampai di situ. Banyaknya pertanyaan yang lontarkan pada Gara dan juga Kharisa semakin membuat Khard di beratkan dalam hukuman karena sebagai suami, Gara tentu sangat keberatan.


Ia ingin Khard mendapatkan hukuman yang seadil-adilnya. Di tambah lagi pengaduan Gara jika istrinya bukan menyerahkan kehormatan pertama kali padanya, melainkan pada pria brengs*k itu.


Lengkaplah sudah penderitaan Khard saat ini, jangan lupakan seorang yang terlibat dalam kasus pemerkosaan itu, seorang pelayan di sebuah restoran tentu juga ikut masuk dalam kasus ini. Karena ia telah melakukan persekongkolan atas tindakan asusila yang di lakukan Khard.


Teriknya matahari seakan mewakili perasaan Gara yang tengah berkobar. Hatinya benar-benar terbakar, seandainya ia memiliki kesempatan untuk menghabisi bahkan mencincang-cincang tubuh pria itu, tentu akan jauh lebih memuaskan.


Hukuman penjara bukanlah hal yang sulit di lalui. Setidaknya Khard tidak merasakan sakit yang Gara rasakan tiap kali melihat Kharisa menangis.


Tangan besar itu menuntun langkah wanita yang terlihat gontai seakan tak memiliki tenaga lagi. Kekuatan Kharisa sudah habis hari ini dengan tangis yang terus banjir.


Malu. Sungguh memalukan memperlihatkan diri di depan pengadilan tadi. Wanita yang seakan menunjuk dirinya yang sudah tidak memiliki kehormatan lagi. Kesucian yang seharusnya ia berikan pada sang suami namun di renggut oleh pria brengs*k seperti Khard.

__ADS_1


Menjijikkan! Itulah yang terus terlintas di benak Kharis. Ia tidak lain sebagai wanita yang menjijikkan. Tidak mungkin ia mampu menyerahkan sisa dirinya itu pada suami yang nyata-nyata sah mendapatkan kehormatannya.


Jika seperti ini, siapa yang bersalah? Gara sebagai suami tentulah merasa jauh bersalah. Kalau ia tidak mengacuhkan Kharisa tidak akan mungkin orang lain masuk dalam pernikahan mereka. Dan Kharisa juga tentu salah, telah membuka pintu untuk orang asing masuk dalam rumah tangganya.


Mungkin semua juga salah waktu, waktu yang membuat keduanya terjebak dalam situasi yang seharusnya tidak terjadi.


Semua sudah terjadi, tidak akan bisa terulang. Kini hanya bisa berjalan dan menatap ke depan. Bagaimana Kharisa dan Gara melewati masa lalu yang sangat menyakitkan itu? itulah yang harus keduanya pikirkan.


Jika Gara tulus mencintai Kharisa, ia tidak akan mungkin meninggalkan istrinya. Meski tahu bagaimana keadaannya.


Langkah keduanya berdiri di depan mobil milik Gara. "Kita harus berisitirahat, tapi tidak di rumah." tutur Gara.


Kharisa yang banjir dengan air mata menatap wajah pria yang sejak tadi terus di sampingnya. Untuk yang pertama kalinya Gara tersenyum sangat tulus dan penuh arti.


Arti yang begitu membuat Kharisa semakin sakit, ia sangat bersalah telah mempercayai pria lain selain suaminya. Buliran bening tak kuasa ia tahan untuk yang kesekian kalinya kembali jatuh. Sumpah demi apa pun Kharisa sudah tak mampu berucap apa-apa lagi. Tubuh dan bibirnya yang membungkam kini serentak bergetar menahan tangis yang ia sendiri sudah tak mampu memendamnya.


Setidaknya Gara sudah meminta para awak media yang ingin meliput kasus sang istri agar tidak melakukannya.


Cukup malu yang Kharisa dapatkan, jangan lagi sebuah berita yang akan menyeret namanya bersama Khard.


"Menangislah! Menangislah saat ini. Tapi aku tidak mau lagi setelah ini." Suara khas milik Gara terdengar samar-samar namun jelas di indera pendengaran Kharisa.


Keduanya masih saling berpelukan. Gara masih setia memberikan sandaran terhangat untuk Kharisa. Wajah wanita itu kini tak terlihat, ia membenamkan wajahnya hingga tanpa sadar air mata dan cairan dari hidungnya sudah membasahi kaos milik Gara.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang nampak memperhatikan gerak-gerik keduanya dari sudut yang tidak begitu jauh. Senyuman sinis terlihat di garis bibir itu.


Beberapa waktu telah terbuang sia-sia, kini waktunya Gara dan Kharisa beranjak masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Masih mau menangis?" tanya Gara yang mengusap wajah sang istri dengan tangannya.


Kharisa menggelengkan kepalanya, semuanya sudah tumpah bersamaan dengan air mata yang buang tadi. Dadanya begitu terasa lega, bukan karena air mata tentunya. Namun karena pelukan yang begitu membuat Kharisa merasa tak sendirian.


Tanpa ia sadari kehadiran Gara yang selalu di sampingnya perlahan sudah memenuhi hati dan pikirannya. Mungkin sampai saat ini bibir Kharisa masih mengatakan semua demi Tuan Tedy, namun hati tentu tidak akan bisa berbohong.


"Maaf," ucap Kharisa yang membulatkan matanya saat melihat baju di dada bidang Gara sudah basah dan terlihat menjijikkan karena ada bercak putih di sana.


Dengan gerakan cepat Kharisa menarik tissue di tasnya dan mengelapnya. Gara kembali menarik segaris bibirnya, ia tersenyum gemas melihat tingkah Kharisa yang begitu malu saat melihat hasil tangisannya beberapa waktu itu.


"Sudah, biarkan saja."


Kedua tangan mereka saling berpagutan di hadapan dada bidang itu. Gara mencegah aksi Kharisa yang tidak berguna itu, aksinya tentu tidak akan menghasilkan apa-apa karena kotorannya sudah banyak di sana. Di tambah lagi kaos yang Gara kenakan berwarna hitam. Lengkap sudah kotoran yang terlihat jelas di sana.


Gara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana kembali hening.


Sedangkan di sisi lain, kini Khard sudah kembali di bawa dengan mobil tahanan menuju sel. Ia di bawa dengan beberapa narapidana lainnya yang memiliki jadwal sidang di hari yang sama.


"Tenang Kharisa, aku yakin hukumanku tidak akan lama. Kamu bukanlah bocah yang masih berada di bawah perlindungan anak. Aku akan segera bebas dan menjemputmu. Kita akan hidup bahagia bersama."


Tatapan Khard yang begitu berambisi memiliki Kharisa seakan membuatnya kebal akan hukuman dalam penjara. Ia masih akan terus berjuang di akhir nanti.


Bagaimana kisah Gara dan Kharisa selanjutnya? kemana kah mereka pergi?


Lalu siapakah yang sudah mengetahui kasus Kharisa dan Khard saat itu?


Nantikan di episode selanjutnya!

__ADS_1


__ADS_2