
Tubuh Kharisa mendadak membeku, ia tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Bagaimana tidak? manik matanya menyaksikan secara langsung kejadian naas yang menimpa pria yang pernah menemaninya selama hubungannya dengan Gara masih sangat buruk, dan pria itu juga yang memiliki kenangan begitu buruk padanya.
Seketika mesin di pabrik itu terhenti mendadak. Namun sayang, semua sudah terlambat. Tubuh Khard tidak utuh lagi. Semua pekerja berlari untuk melihat di bawah dan sebagian juga menghubungi kantor polisi.
"Ayo kita pergi." Gara merangkul erat bahu sang istri. Ia tahu Kharisa sangat syok dengan kejadian barusan.
Langkah kaki yang gontai itu terus tertuju mengikuti arah sang suami melangkah. Buliran bening lolos begitu saja di kedua pipinya. Gara bisa merasakan dengan jelas tubuh sang istri yang sangat dingin.
Setibanya di dalam mobil, Kharisa memeluk sang suami. Bayangan dirinya yang hampir saja pergi dengan naas sangat cukup untuk membuatnya ketakutan.
Berbeda dengan Gara, pria itu sudah biasa melihat darah segar seperti itu. Mobil melaju meninggalkan tempat kejadian itu. Mungkin setelah polisi tiba, Gara dan Kharisa beserta pekerja di pabrik akan di mintai keterangan. Tapi yang jelas itu murni kecelakaan.
Hari itu, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah perjalanan yang cepat dan hening, kini Gara memarkirkan kendaraannya di garasi mobil itu.
"Ayo." ajaknya setelah membuka pintu mobil untuk sang istri.
"Gara, ada apa? kok kalian..." Nyonya Harina tidak melanjutkan ucapannya saat melihat kedipan mata sang putra.
Nyonya Harina mengangguk pelan kemudian memberi jalan untuk anak dan menantunya masuk ke rumah. Kharisa masih di rangkul Gara menuju ke kamarnya.
Setibanya di kamar,
"Berbaringlah." pintanya kemudian memberikan selimut dan menata di atas tubuh wanita yang tampak pucat itu.
Bibir merah muda itu mendarat seketika di kening wanita berparas tegas itu. Tangannya yang berbulu kekar mengusap lembut cairan bening di sana. "Jangan menangis, selama ada aku, kau akan baik-baik saja. Kita akan terus bersama." ujarnya kemudian.
Kharisa tampak jauh lebih tenang, entah karena ucapan atau karena kecupan singkat yang penuh cinta itu dari sang suami. Yang jelas kini ia pun memejamkan matanya seiring usapan lembut yang terus bergerak di kepalanya.
Akhirnya terlelap lah wanita yang penuh ketakutan itu dalam belaian Gara.
"Aku tidak jahat, tapi setidaknya aku merasa tenang dengan kejadian ini. Dia tidak akan lagi mengganggu atau mengejar mu, Kharisa. Mungkin Tuhan jauh lebih memiliki pelajaran yang baik di bandingkan aku jika menghajarnya. Maafkan aku, Khard." gumam Gara kemudian beranjak dari kamarnya bermaksud menemui sang Ibu yang di penuhi rasa penasaran tentunya.
Di sudut sofa terlihat wanita paruh baya dengan sanggul yang tertata rapi di rambutnya melirik kedatangan sang putra yang baru saja muncul.
Gara terus melangkah mempersempit jarak antara dirinya dan sang Ibu. "Gara, ada apa lagi? siapa yang berbuat jahat? apa mereka melukai Kharisa? atau..." Nyonya Harina yang di penuhi kecemasan pun menghentikan pertanyaan beruntunnya dan kembali duduk mengikuti arah sang putra yang duduk di sofa.
__ADS_1
Tampak Gara menghela napasnya kasar dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa itu. "Pria itu sudah tidak ada, Bu." ujarnya tanpa penjelasan.
Bukannya sedih, Nyonya Harina tersenyum lega diiringi helaan napas panjangnya. "Bagus dong, astagfirullah... maksud kamu tidak ada? meninggal?"
"Iya, Bu. Dia meninggal-" (Belum usai Gara menjelaskan apa yang terjadi mendadak suara seorang pria paruh baya pun menyahut).
"Siapa yang meninggal?" tanya Tuan Tedy.
"Khard, Ayah. Dia kecelakaan di pabrik tadi." sahut Gara.
Keduanya mendadak syok. Karena yang mereka tahu jika Khard masih di sel tahanan. Begitu pun Gara, pria itu sebenarnya masih penasaran dengan apa yang terjadi. Mengapa Khard bisa bebas di luar?
"Bukannya dia di penjara?" tanya Tuan Tedy kemudian.
"Iya, Gara. Bagaimana bisa dia di pabrik? lalu apa yang terjadi dengan Kharisa tadi?" Nyonya Harina pun ikut menimpali.
Gara mulai bercerita dari awal mula kejadian hingga sampai akhirnya pabrik mereka menekan satu nyawa. Suami istri itu tampak menegang setelah mendengar cerita sang anak.
"Jadi begitu? ya Allah, hampir saja menantu kita ikut pergi, Ayah. Mulai sekarang Gara kamu harus benar-benar menjaga Kharisa. Ibu tidak mau hal berbahaya terjadi dengannya lagi."
"Segitunya khawatir sama Kharisa. Dulu saja Ayah paksa-paksa. Atau jangan-jangan kamu dulu sok jual mahal yah?" goda Tuan Tedy seraya terkekeh geli.
Gara menghela napas kemudian meninggalkan kedua orangtuanya tanpa kata.
"Ayah ini, suasana lagi genting masih saja sempat menggoda Gara." tegur Nyonya Harina.
"Ayah kangen, Bu. Lama sudah tidak berkelahi dengannya."
Nyonya Harina menggelengkan kepala. Suaminya benar-benar mencari gara-gara sepertinya.
Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata. Sepanjang jalan, Gara terus berkutat dengan pikirannya sendiri. "Bagaimana atau siapa yang bisa membantu Khard keluar dari penjara?"
Sementara di luar sana begitu heboh berita yang menyebar tentang insiden di salah satu pabrik ternama itu.
"Hah? ini serius berita asli?" Randa begitu terkejut saat melewati loby perusahaan dan mendengar suara di televisi. Matanya membulat melihat tulisan insiden kecelakaan itu terjadi di pabrik milik Tuannya.
__ADS_1
Dan nama yang tertera di pemberitaan jelas nama Khard. Beberapa kali Randa mengusap matanya dan benar, nama itu masih tetap tertera di layar lebar itu.
"Astaga, ini benar. Aku harus hubungi Gara." ujarnya tanpa mengalihkan tatapannya dari televisi dan membiarkan tangannya bergerak meraih ponselnya di saku celananya.
Sambungan telepon tersambung.
"Udah tahu berita, belum?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Soal Khard?" tanya Gara datar.
"Sudah tahu? apa yang terjadi sebenarnya?" Randa bertanya lagi.
"Kita ketemu di kantor polisi sekarang." Sambungan telepon pun terputus.
Dengan cepat Randa berlari keluar kantor menuju mobilnya. Ia masuk ke mobil dan melajukan kendaraannya itu ke arah tempat yang di perintahkan oleh sang Bos.
Sementara di sisi yang berbeda, di rumah sakit. Sebuah ruangan sudah terlihat berantakan. Hembusan nafas mulai tidak teratur.
"Sial! kenapa bisa seperti ini? bahkan aku tidak mendapatkan apa-apa sampai saat ini. Ah...kacau semua!" Reynka memerah wajahnya menahan kemarahan.
Marah bukan karena Khard tiada, melainkan selama ini ia sudah mati-matian memberikan apa yang di perlukan pria itu.
"Oke, sekarang aku harus bisa berjuang sendiri. Apa pun caranya." Reynka kembali bergumam dan keluar dari ruangannya menuju mobil.
"Dokter Reynka, mau kemana? ini pasien masih banyak." terang sang asisten Reynka yang mengejar wanita berjas putih itu ketika hendak meninggalkan rumah sakit.
"Aku ada urusan." sentak Reynka.
"Tapi Dok, ini masih jam praktek." ujar suster itu lagi.
Reynka memutar bola matanya malas. Bagaimana dia bisa melupakan jam kerjanya. Akhirnya dengan langkah kesal, wanita itu kembali masuk ke tempat kerjanya.
***
Di kantor polisi.
__ADS_1
"Apa? bagaimana bisa?" Gara mengamuk ketika mendengar penjelasan dari petugas kepolisian saat mendengar ada yang menjamin keluarnya Khard.