
Tak lama kemudian makanan yang di pesan oleh Kharisa pun tiba, pelayan menata makanan di atas meja dengan minuman yang sudah di campur sesuatu di dalam sana.
"Terimakasih." tutur Kharisa dengan tersenyum lebarnya.
Pelayan sudah pergi meninggalkan Kharisa dari tempat itu, tanpa menunggu lama Kharisa pun segera menyantap makanan karena sejak tadi perutnya sudah sangat lapar. Dari kejauhan Khard tersenyum menyeringai, hari ini adalah hari besar untuknya dan Kharisa.
"Ini bayaranmu." ucap Khard yang baru saja di hampiri oleh salah satu pelayan yang di beri Khard tugas.
"Maafkan aku Kharisa, aku tahu ini salah. Tapi hanya dengan begini kau tidak akan menolakku lagi." ucap Khard lirih.
"Astaga mengapa tubuhku merasa gerah seperti ini? dan ini mataku tiba-tiba mengantuk sekali apa karena aku kelelahan dan terlalu banyak makan?" gumam Kharisa merasa ada yang tidak beres dengan dirinya saat ini.
Dengan cepat Khard menghampirinya. "Kharisa, kau ada di sini juga ternyata?" tanya Khard berpura-pura tidak tahu.
Mata Kharisa sudah mulai meredup ia tidak bisa melihat jelas wajah Khard. Namun ia bisa yakin jika suara itu adalah Khard.
"Khard, tolong aku." tutur Kharisa yang sudah sangat lemas hingga menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu.
"Ayo aku bantu." ajak Khard membopong tubuh Kharisa menuju lorong kamar yang ada di restoran itu.
"Khard, ini kita mau kemana? aku tidak bisa melihat jelas?" tanya Kharisa yang mengikuti langkah Khard di sampingnya.
"Tenang Kharisa, aku membawamu ke kantor kita akan lewat jalur pintas saja." tutur Khard seraya tersenyum penuh kemenangan.
Belum sempat Kharisa menjawab, kini matanya sudah tertutup dan dengan cepatnya Khard sudah menggendong tubuh Kharisa menuju kamar.
Keduanya saat ini sudah tidak melanjutkan kerja mereka yang tinggal setengah hari lagi. Di dalam kamar Khard merebahkan tubuh Kharisa dengan perlahan dan mulai memandangi wajah cantik wanita itu.
Sementara tangannya sudah membuka semua pakaian yang ia pakai begitu juga dengan pakaian Kharisa sudah ia lepas tanpa sehelai kain pun.
"Kharisa, hanya dengan seperti ini takdir tidak akan mampu memisahkan kita." tutur Khard.
__ADS_1
Wajahnya sudah mendekat dan mulai mendaratkan bibir merahnya itu pada bibir Kharisa. Khard menikmati permainan bibir yang kini membuat birahinya semakin memuncak. Tatapan mata Khard semakin sendu merasa kenikmatan yang di buat oleh dirinya sendiri.
Indera perasanya sudah menelusuri semakin dalam dan semakin dalam lagi rongga mulut wanita di hadapannya saat ini. Kharisa masih tak sadarkan diri, Khard begitu rakusnya melahap habis bibir. Hingga ia puas dengan permainan bibir itu kini bibirnya turun dengan lidah yang terjulur panjang menelusuri leher yang terlihat tiga lipatan yang membuat kecantikan Kharisa semakin sempurna.
Permianannya terus berulang dari bibir ke leher hingga ke cuping telinga milik Kharisa. Tangan Khard sudah beraksi dengan kuatnya di bagian dua bongkahan padat dada milik Kharisa. Di kamar itu hanya ada satu suara desahan dari mulut pria itu.
Khard begitu menikmati permainannya dan ia terus menelusuri tiap inti tubuh Kharisa hingga ia membenamkan wajahnya di bagian belahan dua pangkal paha Kharisa.
Dengan rakusnya ia menelan seluruh cairan yang Kharisa keluarkan hingga kini Khard telah puas dengan permainan itu ia mulai mengarahkan tubuhnya berada tepat di area terlarang Kharisa.
"Kharisa, saat ini kita bermain kilas. Nanti akan ada waktunya kita bermain dengan cukup lama." tutur Khard yang sudah tidak sanggup untuk melanjutkan permainannya.
***
Tiba-tiba ponsel milik Gara berdering menandakan ada panggilan masuk dari Tuan Tedy. Randa dengan cepat menganggkatnya dan mengarahkan pada Gara.
"Gara, di mana Kharisa?" tanya Tuan Tedy.
"Ini jam kerja, Ayah. Pasti di kantor menantu Ayah kan sangat rajin." sindir Gara.
"Lalu pria itu?" tanya Gara menuju pada Khard.
"Khard maksudmu? dia juga tidak ada." terang Tuan Tedy.
"Mereka pasti selingkuh dan berkencan di luar sana sampai tidak ingat kerja." tutur Gara yang membuat Tuan Tedy begitu kesal.
"Gara, jaga bicaramu!" pekik Tuan Tedy segera mengakhiri panggilan itu.
"Ini kesempatanku untuk membuktikan pada Ayah jika wanita itu dan pria itu tidak ada baiknya sama sekali." gumam Gara dengan tersenyum menyeringainya.
"Randa, perintah sekarang juga untuk mencari mereka berdua. Cepat!" teriak gara dengan geramnya.
"Baik, Tuan." sahut Randa segera menghubungi beberapa anggotanya untuk melacak keberadaan Kharisa.
Tidak butuh waktu lama, salah satu anggota mereka yang memang sempat di suruh berhenti mengikuti Kharisa kini mengecek seluruh cctv dari perusahaan mereka dari bagian dalam hingga bagian luar. Kebeadaan Kharisa tertuju ke arah jalan, kemudian ia mengecek lagi cctv yang di jalan itu. Ia melihat langkah Kharisa menuju sebuah restoran.
__ADS_1
"Tuan, posisinya saat ini ada di restoran. Untuk saat ini istri anda masih belum kami temukan. Saya akan mengecek melalui cctv restoran ini." ucapnya dengan bergegas pergi tanpa mengakhiri panggilan video itu.
"Cepat arahkan ponselnya pada cctv itu." pintah Gara yang melihat reaksi wajah anak buahnya.
Mata Gara menatap tajam saat melihat keadaan istrinya yang sudah di bopong dengan Khard dalam keadaan lemas tak berdaya menuju sebuah kamar. "Kharisa." ucapnya lirih.
"Randa, kita pergi sekarang." teriak Gara memaksa Randa.
"Tuan, biarkan mereka yang meyelesaikan semuanya." bantah Randa yang khawatir dengan keadaan Gara.
"Randa." hardik Gara begitu marahnya saat perintahnya di cegah oleh Randa.
Dengan cepat Gara melepas perban tangannya di ikuti suntikan infus yang menempel di tangannya segera ia tarik dengan kasarnya. Terlihat tetesan darah yang keluar dari sana namun ia tidak memperdulikannya. Ia membuka kasar pintu ruang rawat itu.
"Gara." teriak Reynka yang sudah berlari dari lorong rumah sakit saat melihat kehadiran Gara.
"Aww." teriak Reynka yang tersungkur karena dorongan Gara begitu kasar saat wanita itu ingin memeluk lengan mantan kekasihnya.
"Gara." Reynka terus berteriak meminta Gara kembali padanya namun Gara tidak memperdulikan sama sekali.
Tatapan pria itu benar-benar mendidih saat menyaksikan Khard yang membawa Kharisa. Sangat berbeda dari perkirannya jika Kharisa tengah bersenang-senang dengan pria itu.
***
Kini Khard begitu menikmati permainannya hingga ia tidak perduli dengan keadaan Kharisa yang sudah memperlihatkan bercak darah di bawah sana. Tubuh berototnya kini berlumuran keringat yang sudah menetes pada tubuh mulus Kharisa.
Hentakan demi hentakan kasar terus ia lakukan demi mendapat puncak kepuasannya. Mata Khard kini terpejam dan mengerang begitu panjang. Seketika tubuhnya terkulai lemas hingga menindih tubuh Kharisa.
Gara tersenyum puas, ia bisa mengambil keperawanan wanita yang sangat ia dambakan. "Dengan begini aku yakin kau tidak akan mungkin meninggalkan aku Kharisa. Pasti kau akan memilih denganku dari pada suamimu itu." tutur Khard dengan yakinnya.
Gara yang sudah melajukan mobilnya bersama Randa tidak perduli dengan tangan yang masih meneteskan darah yang sama sekali tidak sempat ia bersihkan.
Karena jarak begitu memakan waktu, dengan cepatnya pasukan yang tadi mengecek cctv segera menghampiri kamar di mana Khard telah memperk*sa Kharisa.
Tubuh kekarnya mendobrak pintu kamar itu hingga membuat Khard terlonjak kaget dari tempat tidurnya. Matanya membulat sempurna melihat kehadiran tiga orang pria yang masuk ke kamar itu.
"Beraninya kau." Salah satu pasukan Gara sudah menghampiri Khard dan mengahajrnya beberapa kali.
__ADS_1
Dengan tubuh tanpa busana Khard sudah di pegang dengan dua orang pria itu. Kharisa yang masih tidak sadarkan diri segera di tutup selimut oleh salah satu pria itu. Ia merasa bersalah karena melihat hal itu, namun mau bagaimana lagi tidak mungkin ia membiarkan pemandangan itu menjadi tontonan.