Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 99. Terungkapnya Kebahagiaan dan Kesedihan


__ADS_3

Terkadang cinta datang di waktu yang salah. Bukan waktu, tetapi takdirlah yang membuat semuanya menjadi bertemu. Antara masa depan dan masa lalu. Jika cinta itu tulus, yakinlah sepahit apapun masa lalumu semua akan kembali. Cinta tahu tempatnya untuk pulang.


_____________________________________


"Apa benar yang dia katakan? kau yang membunuh orang tua kami?" Vino sudah melotot menatap kedua orang di dalam kamar itu tanpa bisa lagi merendahkan nada bicaranya.


Gara seketika itu juga terkejut menatap ke arah pintu. Randa dan Gara saling pandang membisu.


Sementara Vino sudah masuk ke dalam kamar itu, tanpa tertahankan lagi tangan pria yang terbilang masih muda itu sudah mendarat di wajah Gara tanpa perlawanan.


Satu pukulan mendarat di pipi Gara, hingga tangan itu kembali melayang di udara hendak memukul lagi, sedang tangan yang sebelah sudah mencengkeram kera baju Gara.


"Vino, Vino, hentikan. Ini semua tidak-"


"Tidak apa? kalian berdua pembunuh! pembunuh orangtuaku. Kalian harus bertanggung jawab." Vino pun tampak geram. Bahkan tubuhnya gemetaran menahan emosi yang ingin ia lampiaskan.


Bagaimana tidak. Semasa kecilnya bahkan tiga saudara itu terpaksa hidup menderita hanya karena kedua orang tua mereka di bunuh, bahkan pemberitaan tersebut menunjukkan jika kedua orangtuanya mengalami kecelakaan hingga mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam laut.


Kharisa dan kedua adiknya yang masih kecil tidak bisa melakukan apa-apa saat penyelidikan kasus kecelakaan tersebut di tutup tanpa penjelasan yang memuaskan.


Mata Vino menyala, buliran bening tampak menggenang di kelopak mata indah itu. Kematian kedua orangtuanya sangat menyakitkan hatinya. Bagaimana bisa ia menerima dengan lapang dada?


"Lepas! lepaskan aku!" Vino kembali memberontak saat kedua tangannya di jadikan satu oleh Randa ke belakang. Namun Vino tak tinggal diam meski tangan sudah terkunci, masih ada kaki. Pria itu terus saja menggerakkan kakinya ingin menendang Gara meski tak terjangkau.


Gara terdiam merutuki kebodohannya di masa lalu. Sungguh hal ini benar-benar memukul jiwanya. Saat ini baru Vino yang tahu, bagaimana jika Kharisa? bahkan Tuan Tedy dan Nyonya Harina juga tahu akan hal ini? Tidak. Gara tidak sanggup jika harus menerima konsekuensinya saat ini. Saat dimana ia sudah mulai merasakan kehangatan keluarganya dengan menunggu hadirnya sang anak yang saat ini sudah positif di kandungan Kharisa.


Di sisi lain pada rumah yang sama.


Wanita paruh baya tampak berdiri gelisah di depan pintu tersebut. Wajahnya menegang kala pintu kamar mandi terdengar berdecit.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Nyonya Harina penasaran pada sang menantu.


Wajah Kharisa mendadak tersenyum sumringah. Tanpa sadar wanita itu berloncat kegirangan dengan menggenggam test pack di tangannya.

__ADS_1


"Positif, Bu." ucapanya seraya memeluk sang mertua.


Kedua wanita itu tersenyum bahagia masih mengeratkan pelukannya.


"Kharisa mau kasih kejutan untuk Gara dan Ayah. Ibu bantu Kharisa yah?"


Dengan senyum yang mengembang Nyonya Harina mengangguk pelan. "Ayo, kita temui mereka."


Dua wanita itu berjalan menuju tempat Tuan Tedy berada. Tepatnya di ruang tengah. "Ayah, dimana Gara?" tanya Kharisa masih tersenyum penuh arti.


Tuan Tedy menatap wajah ceria menantu dan istri tercintanya itu. "Ada apa dengan kalian?" tanya Tuan Tedy kepo.


"Rahasia." ujar Nyonya Harina ikut menimpali.


Namun belum sempat ketiga orang tersebut berbincang lebih banyak lagi, tiba-tiba terdengar suara teriakan berasal dari kamar Randa.


"Hentikan Vino!" teriak Randa mencegah Vino yang memberontak dalam pegangannya. Namun pria itu masih saja memberontak hendak menyerang Gara.


"Brengsek! Kepar*t kau!" teriak Vino lagi.


Vano yang berada tak jauh dari tempat keributan pun ikut berlari.


"Ada apa ini? Vino, ada apa, Dek?" Kharisa terkejut melihat pemandangan menegangkan di hadapannya.


"Suami Kakak ini pembunuh!"


Kharisa berjalan mendekati sang adik. "Apa katamu Vino? Kakak tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini, Vino?" sentak Kharisa geram melihat kemarahan sang adik.


"Vino mau lihat, apa setelah ini Kakak masih mau membela suami Kakak yang pembunuh ini?"


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi sang adik. Kemarahan Vino bahkan mengundang emosi sang Kakak. Tidak pernah sekalipun Kharisa menyentuh bahkan membentak sang adik.

__ADS_1


Namun kini ia sudah menyentuh wajah Vino demi menyadarkan cara bicara sang adik.


Gara tertunduk membisu, tak ada pembelaan atas dirinya sendiri.


Vino memegangi pipinya. "Dia yang membunuh orangtua kita, Kak Risa. Kakak masih mau menampar Vino?"


Tubuh Kharisa yang marah seketika bergetar syok menerima kenyataan yang ia dengar. Bibirnya keluh tak mampu lagi berkata, genggaman yang mengepal berisi test pack jatuh saat itu juga.


Bagai bumi yang runtuh, hancur berkeping-keping. Tak bersisa apa pun, cinta yang begitu besar membuahkan kebahagiaan namun kini tinggallah kenangan. Manik mata yang semula memancarkan kebahagiaan berubah kelam. Tetesan air mata pun lolos begitu saja.


Kharisa menatap wajah sang suami, ia bertanya dengan sorot mata nanar itu.


Nyonya Harina, Tuan Tedy dan Vano masih diam mematung. Mereka berusaha mencerna perdebatan di depan itu.


"Gara, katakan yang sebenarnya!" teriak Tuan Tedy membuyarkan ketegangan di kamar Randa.


Tidak ada kata yang sanggup Gara ucapkan lagi saat ini. Hanya ada satu kata, "Maafkan aku, Kharisa." ucapnya lirih tanpa berani menatap sang istri.


"Tidak." Kharisa menggeleng pelan.


Tubuhnya yang sudah lemas kini terhuyung tak mampu lagi menopang beban di tubuhnya. Kharisa terduduk menangis. Ia tentu tahu apa penyebabnya.


"Apa yang Kakak ipar lakukan? Apa salah orangtua kami, Kak?" Kini Vano mulia angkat bicara.


Gara yang tak mampu mengatakan apa pun kini bergegas pergi tanpa menjelaskan apa pun pada semuanya. Bahkan matanya tak berani menatap Kharisa yang terduduk di lantai sembari menangis.


"Gara! kemana kamu?" teriak Nyonya Harina.


"Kharisa, berdiri Nak. Ayo ke kamar Ibu antar." Nyonya Harina bersama Vano membantu memapah tubuh lemas Kharisa.


Vino langsung memberontak pegangan Randa. Matanya menatap tajam dan berlalu pergi ke luar rumah.


Pria itu mengejar mobil Gara yang melaju memecah keramaian kota yang sedang padat-padatnya jam berangkat kerja.

__ADS_1


"Tidak, ini tidak benar Bu. Gara tidak mungkin membunuh orangtua Kharisa. Tuhan cobaan apa lagi ini?" tangis Kharisa pun pecah di tengah pelukan Nyonya Harina dan Vano.


__ADS_2