
Mobil tampak melaju melewati kendaraan lainnya yang sedang berlalu lalang hari itu. Di tempat yang berbeda waktu yang sama tiga mobil saling berlomba menuju satu lokasi yang sama.
Ponsel Vano kembali berdering. "Halo..." ujarnya setelah menempelkan benda pipih tersebut pada telinganya.
"Gara masih belum mengangkat teleponnya." tutur Randa.
"Vano, bagaimana?" Kharisa meraih bahu sang adik dengan ekspresi khawatirnya.
Vano menggeleng pelan. Wajah Kharisa semakin sendu. Matanya berkaca-kaca, "Tidak. Dia tidak boleh menyerahkan dirinya." ucap Kharisa lirih.
Buliran bening perlahan lolos di wajah Kharisa. Mobil masih terus melaju.
Setelah perjalanan singkat yang cukup menegangkan itu, mendadak suara decitan mobil terdengar bahkan sudah membentur mobil yang berhasil ia hadang di pintu masuk kantor kepolisian.
Gara terlihat turun dari mobil tanpa menghiraukan siapa yang sudah mematahkan jalan mobilnya. Pria itu berjalan cepat tanpa mau menatap mobil yang menghadangnya.
"Gara, hentikan!" Kharisa berteriak kala tubuhnya baru turun dari mobil.
Gara yang sudah berjalan menoleh ke samping. Kharisa berlari ke arahnya dan memeluk tubuh suami tercintanya. "Aku mohon jangan gegabah." ujarnya sesenggukan.
Gara yang masih berdiri mematung kini mulai mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan sang istri.
Suasana cukup ramai, Kharisa masih terus menangis. "Kakak ipar, tidakkah Kakak ipar mau membesarkan keponakan ku?" sahut Vano yang berdiri sembari bersedekap di depan mobilnya.
Gara menatap penuh kebingungan pada adik iparnya. Vano tersenyum lebih lebar. "Kak Risa hamil." sahutnya.
Saat itu juga Gara mendorong pelan tubuh istrinya dan menangkup wajah sang istri yang sudah banjir air mata itu. "Benarkah kau hamil?" tanya Gara tak percaya.
Kharisa mengangguk pelan. Pelukan mendadak yang begitu bahagia membenamkan tubuh Kharisa padanya. "Maafkan aku, maafkan aku. Kharisa percaya denganku, aku sudah menyesali semua perbuatanku. Sekarang apakah aku boleh egois untuk hidup bahagia bersamamu dan anak kita?"
Tiba-tiba suasana hening kala terdengar suara seseorang. "Selamat siang, maaf Bapak, Ibu. Apakah ada kecelakaan di sini?" tanya seorang polisi itu.
"Ti-tidak Pak, tidak apa-apa. Maaf tadi suami saya mau melaporkan saya karena sudah mau pergi dari rumah. Maafkan kami Pak. Suamiku, ayo kita pulang. Aku tidak jadi pergi dari rumah." Khasiat menarik tangan Gara menuju ke mobilnya.
__ADS_1
Polisi itu hanya menggeleng pelan dan memperhatikan kepergian dua mobil itu.
Di perjalanan,
Vano terus mengikuti mobil di depan sana.
"Kharisa, apa kau sungguh mau memaafkan aku?" tanya Gara ragu.
"Awalnya bahkan aku tidak sanggup melihatmu lagi. Dulu aku pernah berjanji akan membalas kematian kedua orangtuaku pada pelakunya. Tapi entah mengapa saat semua terungkap, aku tidak sanggup untuk membencimu. Bahkan rasa takut kehilanganmu jauh lebih besar saat ini."
Gara menghela nafas merasa lega, ia meraih tangan istrinya dan mencium punggung tangan Kharisa. "Aku akan melakukan apa pun yang kau mau. Ijinkan aku menjadi lebih baik lagi." tutur Gara.
Kharisa menangis, sedih hatinya. Mengapa saat semua terungkap ia bahkan tak sanggup untuk kehilangan pria yang sudah merenggut nyawa orangtuanya. Andai bukan Gara, Kharisa pasti akan menuntut untuk di hukum mati. Tapi saat ini, bahkan ia tidak rela jika sampai ada yang tahu suaminyalah yang membunuh dua orang yang paling berharga di hidupnya.
"Aku mencintaimu. Tolong jadilah suami yang baik untuk anak-anakku kelak. Aku menerima semua masalalu mu. Aku sedih karena tidak bisa menghukum penjahat itu. Mungkin ini sudah takdir kita untuk saling menerima kekurangan masing-masing." tutur Kharisa penuh ketulusan.
Gara yang bersyukur memiliki istri begitu mulia hatinya mau memaafkan dirinya. Sungguh ia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi saat ini.
Sesampainya di rumah.
"Vino..." Vano terkejut melihat saudara kembarnya sudah begitu penuh emosi.
"Van, cepat kemasi barangmu. Kita pergi sekarang." seru Vino. "Dan aku akan melaporkan ini semua ke kantor polisi sekarang." lanjut Vino lagi.
"Tidak, sekarang ikut aku ke kamar." bantah Vano.
Vino yang mendengar penolakan saudara kembarnya terkejut. "Apa-apaan ini, Van? kau tidak membela mereka, kan? Kau tidak boleh berpihak dengan pembunuh itu!" hardik Vino menujuk ke arah Gara.
Tuan Tedy dan Nyonya Harina hanya diam. Mereka percaya anak-anaknya bisa damai. Karena mereka tidak bisa lagi mengatakan apa pun. Semua cukup sudah campur tangan mereka yang mengakibatkan pertemuan dua keluarga itu. Bisa-bisa Vino akan menyalahkan mereka sebagai orangtua.
"Baiklah kalau kau tidak mau pergi. Aku yang akan membawa Kak Risa pergi. Ayo Kak." tangan Vino begitu kuat mencengkram tangan Kharisa yang masih Berdiri berdampingan dengan sang suami.
"Vino, dengar Kakak dulu." tolak Kharisa yang sudah menangis.
__ADS_1
"Tidak, Kak Risa tidak boleh hidup dengan pria pembunuh ini lagi. Ayo Kak, kita harus pergi. Dia yang melenyapkan orangtua kita dan membuat kita menderita, Kak." teriak Vino terdengar menggelegar di ruang tersebut.
Kharisa yang semakin menangis, di bantu Gara. "Vino, tolong jangan seperti ini."
"Diam kau pembunuh!" hardik Vino.
Vano pun tak tinggal diam, ia menarik lengan Vino dengan kuat agar melepaskan tangannya pada Kharisa.
"Vin, hentikan!"
Satu pukulan mendarat di wajah Vano saat Vino memberontak pegangan dari Vano. Semuanya terkejut.
"Sialan!" teriak Vano yang merasa pipinya sakit. Ia pun membalas bogem mentah pada saudara kembarnya.
Keduanya saling beradu tangan. "Vino, Vano, cukup, Dek!" Kharisa histeris melihat pertengkaran dua adiknya itu.
"Vino lepaskan Vano." teriak Gara yang berusaha melerai keduanya.
"Kepalaku..." lirih Kharisa dan seketika ambruk di lantai.
Gara yang tidak melihat keadaan istrinya terkejut mendengar teriakan sang Ibu.
"Gara, Kharisa." teriak Nyonya Harina berlari mendekati menantunya dan segera memangku kepala wanita berbadan dua itu.
"Astaga... Kharisa." Gara membiarkan Vino dan Vano terus beradu tangan dan mulut.
Wajah Kharisa yang sembab kini tampak pucat. Gara dengan cepat menggendong istrinya lalu membaringkan di sofa.
"Bu telpon dokter segera." pintah Tuan Tedy panik.
"Kita harus bawa Kak Risa pergi!" teriak Vino yang sudah berbaring di lantai dengan tubuh Vano di atas menindih sembari memukulinya.
"Tidak, Kak Risa harus bahagia. Kau pergi saja jika mau." bantah Vano.
__ADS_1
"Vano, Vino, lihat Kakak kalian pingsan." tegur Tuan Tedy setengah berteriak meski rasanya ia sangat lemah.
Keduanya saling memandang ke arah tempat dimana Kharisa tadi berdiri. Kosong, kemudian mereka menatap ke arah sumber suara Nyonya Harina yang panik. Disana sudah terlihat kakak mereka terbaring lemah.