
Cherly masuk kedalam rumah mengikuti Barra dengan langkah pelan. Hari semakin malam. Jam didinding kayu menunjukkan angka sembilan malam. Kembali kerumah ini membuat Chers mengingat kembali kesebuah peristiwa yang tidak mengenakkan hatinya.
Tatkala Barra meninggalkan dirinya dirumah ini.
Cherly duduk dikursi kayu dengan raut yang lelah.
Lelaki itu masuk kedalam kamar dan mengganti bajunya dengan dengan kaos putih polos dipadu Celana Navigasi bersaku. Dengan motif loreng Abu abu dan hijau.
" Kau pasti belum makan!"Tebaknya sa'at keluar dari kamar.
Cherly mengangguk pelan Dengan sangat jujur.
Dia hanya makan sereal yang dibuat oleh Ibunya siang tadi.
"Kemarilah!" Ajaknya sambil menarik lengan Cherly agar berdiri mengikutinya kedapur.
Cherly bangkit dengan pelan dan merasa sangat kecil saat berdiri disisi pria itu. Dengan tinggi 155 cm. Dengan berat Badan 48 kg. Dengan postur yang langsing dan beratnya lebih banyak berasal dari dada dan bokongnya yang berdaging.
Membuat tubuh langsingnya sangat indah dan proporsional. Menurut kaca mata temannya teman populernya.
Pria itu mulai membuka penutup makanan yang terbuat Anyaman rotan yang berbentuk lingkaran. Terlihat unik dan sangat menambah suasana Vintage.
Dibawah penutup makanan itu tersedia Daging sambal manis pedas dan gulai nangka dicampur udang dengan santan yang pekat.
Di dalam toples kaca dimeja kayu terdapat beberapa kerat kerupuk ikan tenggiri.
Semua telah siap dimeja.
Beserta cuci tangan yang berisi air didalam mangkuk besar dari kaca.
Barra mendudukkan Cherly yang masih berdiri disisi meja makan itu.
" Makanlah,"Suruhnya. Melihat Cherly yang canggung.
Cherly mengangguk dan mencuci tangannya dan menyuap nasi yang telah dibubuhkan Barra kepiringnya dengan porsi yang cukup sedikit. Beserta lauk pauknya.
Cherly mulai makan dengan pelan menggunakan jari tangannya seperti Barra yang makan dengan suapan suapan yang besar.
Oh ada apa dengan mulutnya yang terlihat lebar itu?
__ADS_1
Dia makan dengan piring besar dan menyuap makanan seakan telah didera kelaparan selama berhari hari.
Cherly menatap dengan tak heran. Mungkin tubuh tinggi dengan badan besar itu membutuhkan pasokan makanan yang besar untuk disimpan ditubuhnya yang berotot besar.
Cherly menyudahi makanannya dengan tanpa menambah lagi. Dia terbiasa dengan sedikit makanan.
Saat pria itu mengelap tangannya dan kemudian menghabiskan air putih yang tersisa digelasnya. Dan berkata.
"Jangan melamunkan pacarmu itu didepanku, Aku tak suka!"Katanya dengan mata tajam.
"Aku tak.melamunkan siapapun Barra! Jangan memancing persoalan denganku," Jawab Cherly sengit yang sejak tadi berdiam diri. Energinya mulai datang sehabis menyantap makanan dirumah Bara.
Pria itu bangkit dan berdiri menuju keruang tamu meninggalkan Chers sendirian dibangku kayu didapurnya.
Cherly bangkit dengan cepat dan menghentak kakinya kelantai semen yang kasar itu.
"Aku mau tidur dimana? Aku tak suka berdiri terlalu lama," Kata Cherly Hampir gila melihat lelaki itu terus mengacuhkannya. Kini Barra duduk dibangku depan merokok dengan nikmat. Tak berapa lama kemudian lelaki itu mematikan puntung rokoknya yang masih bersisa separuh.
Lalu berdiri ditengah ruangan yang berlampu terang. Sambil membuat desain berbentuk diagram garis pada sketsa besar white board dengan spidol hitam.
White Board itu besar. Berkaki empat terbuat dari kayu yang berdiri lebar diruang tamunya.
"Barra! Aku mau tidur! Aku capek!" Teriaknya kesal.
Pria dewasa itu hanya mengangkat wajahnya sejenak dengan mengangkat sebelah alis tebalnya kearah Chers.
"Tidurlah , Dikamar! Tak perlu menungguku,"Godanya dengan tersenyum sinis.
Dengan melirik sebal Cherly Merengut dan masuk kedalam kamar!" Huh! Siapa yang menunggu siapa?" Katanya sambil membuka gaunnya yang menggoda itu, Dan merasa puas membuat pria itu cemburu.
Apa dia cemburu?
Cherly memakai Gaun malamnya yang terbuat dari brokat polos tipis berwarna pink tanpa lengan. yang hendak dibawanya sa'at berencana menginap dirumah Truddie.
Dia masa bodoh dengan pria yang sedang berkutat dengan pekerjaannya diruang tamu.
Dan dia akan memakai selimut lebar yang ada dua lipatan dikamar Barra. Dan pria itu tak akan tidur dengan cepat. Pikir Chers, Merasa nyaman dengan gaun indahnya.
Chers membersihkan wajahnya dengan air mawar dari tasnya dan mengoleskan pelembab itu dengan tipis.
__ADS_1
Mengurai rambutnya yang selembut sutra.
" Kau persis Bidadari,.. Istriku.."Suara dari belakangnya begitu dekat hingga menyentuh telinganya yang terasa ada hembusan panas. Chers menoleh kearah suaminya yang berwajah jantan Itu kini tak mengenakan apa apa dibagian atas tubuhnya yang ditumbuhi bulu bulu halus namun lebat. Menyusun bagai lembaran garis tebal yang rapi hingga turun kebawah pusarnya. Yang hanya dililit handuk kecil berwarna biru."Jangan Bara, Aku takut dan rasanya sangat sakit," Bisik Cherly dengan tubuh melemas saat pria itu memeluknya dari belakang. Dan menunduk menggigit bahunya yang mulus dengan lembut.
Cherly tanpa sadar meenguh pelan saat tubuh kecilnya diekspos dengan penuh kelembutan.
Sehingga Cherly merasa berjalan diatas pelangi.
Dan tangan pria itu mulai mengelus perutnya kembali dari belakang, Menyentuh leher dan pundak Chers yang harum dengan hidung dan bibirnya.
"Chers...Aku Ingin..Merasakanmu..Kembali," Desahnya pelan. Dan Cherly merasa aneh saat kepalanya mengangguk dan mulai memejamkan matanya menikmati sentuhan suaminya yang mulai dalam.
"Gadis kecil yang nikmat, Kau benar benar Ajaib," Katanya dengan suara yang semakin bergairah panas.
Chers tak ingin menjawab hal yang tak ingin dijawabnya. Saat ini dia hanya menikmati kenikmatan dan rasa panas yang menderanya. Saat sesuatu yang panas dan menggelegak dengan membentuk gelembung besar yang ingin meledak dibawah sana.
Barra terduduk ditempat tidur dengan kaki bersila dikasur tipis biru itu dan mendudukkan Chers dipangkuannya. Dengan mata terpejam menggigit bibir bawahnya dengan raut kesakitan dan perih tak terhingga. Pria dewasa itu tersenyum diantara garis rahangnya yang keras dengan cekukan tajam matanya yang meredup. Dan membuat Chers terus bergerak pelan dan kemudian melaju seirama dengan naluri mereka berdua. Hingga Chers menjerit tertahan berkali kali. Dengan wajahnya yang berpeluh terlihat indah dan hebat Dimata Sang James Bond yang tak bisa berhenti dalam waktu yang lama.
Tangan Chers terkulai dibahu Barra yang kukuh dan berotot. Dengan tetes keringat yang mulai muncul mengalir membentuk garis lurus kebawah memanjang membasahi kasur tipis yang lembut itu.
Waktu seakan tiada habis habisnya Saat Chers dan Barra berteriak serentak melambung keatas awan.
Barra memberikan sesuatu yang selama ini dinantinya.
Dan mereka tenggelam dalam ayunan malam yang melingkupinya dalam derai hujan yang mulai turun menumpahkan aliran deras ditengah lembah yang telah menyiram benih yang telah tumbuh dengan semakin subur ditengah Huma.
Berkali kali Guruh dan gelegar halilintar yang menyambar pohon pohon basah yang tak terjamah.
Namun Suara dari balik malam itu tetap terdengar hingga pagi menjelang. Dan tubuh kecil yang berisi penuh keajaiban itu tergeletak terkulai didada Barra yang masih tetap berdegup kencang, Menandakan Hasrat besar yang belum sepenuhnya usai.
Dengan pelan layarpun tertutup.
Saat Barra menyusul merebahkan tubuhnya yang berpeluh. Mendekap sang Dewi yang terlelap dalam mimpi indahnya.
Dengan lekukan lukisan mimpi yang tertera dalam tiap dengkur halusnya.
Barra menyentuh kening Chers dengan bibirnya yang masih panas.
,"Sebut namaku saat kau tertidur, Chers," Bisiknya lirih selirih angin seusai hujan.
__ADS_1