
"Papa! Aku harus pulang!" Kata Cherly disuatu siang yang cerah disaat Sang Ayah duduk diberanda depan rumahnya bersama Ali Ramadhan.
Pak Hermawan menatap Cherly sejenak."Pulang? Bukankah kamu baru pulang kemari. Dirumah Ayah atau rumah masa kecilmu?"Jawab Sang Ayah tak mengerti.
Cherly menunduk pelan. Memilih menghindari tatapan kedua lelaki yang telah tahu rahasia penting dari kehidupannya hanya dengan melihat dari gerak bahasa tubuh yang ditampilkannya. seperti saat ini.
"Aku ingin pulang ke kampung kita! didesa!" Akhirnya Cherly berkata tegas kesasarannya. Kedua lelaki didepannya akhirnya menarik nafas lega.
Entah apa alasan dibalik itu nanti pasti akan diketahui dibelakangan hari.
Dan akhirnya Sang pensiunan TNI yang bijak itupun berkata.
"Oh. Boleh saja! Kau bisa tinggal dirumah perkebunan kita dikampung. Tadinya Om Manta telah lama mengurus perkebunan luas itu. Lalu malah pindah dan fokus pada perkebinan sawitnyang hasilnya katanya lebih menjanjikan . Ha ha ha ha kau tahu Ali! Itu persepsi si Manta saat harga sawit melonjak naik. Nanti tiba saatnya harga sawit anjlok hingga nominal terendah maka dia mencoba lagi peruntungan di kacang kedele! yang berlahan lembab di dekat jembatan gantung ditepi sungai yang dulu kita pernah menangkap ikan jurung dengan jala dibawah jeram kecil dulu!" Terang Pak Hermawan lagi kepada Adik lettingnya . Lebih tepatnya kakak Barra suami Cherly. "Dan Anehnya saat dia pindah Si Manta malah menyuruh Pak Pras yang tinggal disitu dan mengolah sawah dan tegalan yang lumayan luas. Padahal Si Manta tahu Pak Pras Bakatnya menyerut kerajinan kayu! Lucu kan? Dan nyatanya gak genah genah juga , Pak Pras malah. pergi merantau ke Kalimantan. Dan menjadi pengusaha kerajinan Industri kecil rumahan , Ya udah! Akhirnya sekarang dikosongkan dulu! Hitung hitung pemulihan zat Hara tanahnya biar gak rusak dulu, Ya kan Li? " Tanya Pak Hermawan kepada Pak Ali.
Diamini oleh sang sahabat baik itu . Sambil memberi opini dan masukan seputar pembaharuan tanah didesa.
Sebenarnya Mereka berdua berfikir kalau Cherly dan Barra akan berlibur sekitar dua pekan sambil mengolah lahan. Dan tidak berpikir untuk pindah sendirian hanya dengan membawa anak anaknya tanpa Barra.Persahabatan kepompong Pak Hermawan dan Ali Ramadhan memang tak dapat diterpa oleh masalah yang membuat persahabatan mereka terurai.
Malah kedua pria Parobaya itu tetap makin mesra.
Minum minum kopi dengan camilan pisang goreng ditengah Sepoi angin sore seolah tak ada masalah yang mengusik keasyikan mereka berdua sambil bercerita tentang kisah usang mereka yang setua pohon beringin disamping rumah pak RT yang katanya ditunggui sekompi gendruwo saking kuno nya.
Mengapa kisah kisah disaat mereka masih aktif dalam kedinasan Prajurit dulu diulang ulang hingga ribuan kali sejak Cherly masih unyu unyu sampai jadi emak emak tukang semprong gini?
"Huh. ...Mereka seharusnya musuhan kek sejenak biar Barra tahu efeknya pada dua lelaki tua ini, Hingga Barra sadar dengan kelakuannya yang tak berubah dari dulu! udah tua tapi masih bersikap Flamboyan. Cinta cinta taik kucing,'Kata Cherly dalam hati sambil menatap kedua lelaki tua didepannya yang sedang tertawa tawa. persis pasangan Gay! Pikir Cherly yang berotak kadang jahat dan kekanakan. Hmm kadang jodoh itu tak jauh dari sifatnya. itu yang pernah dia dengar dari neneknya waktu mereka berkunjung kedesa saat Cherly masih Remaja Ting Ting.
Kakak lelaki Barra menatap wajah Cherly .
Tampak muram. Memang sejak kedatangan Cherly kembali kerumah sang Ayah. Ali Ramadhan mencium ada sesuatu yang tak beres antara hubungan Cherly dan Barra..
Dan disaat Cherly berkata akan pulang kekampung Pak Hermawan Tempat dimana Banta dilahirkan. Ali Ramadhan makin curiga.
Apa yang dikuatirkan olehnya pasti terjadi.
Namun kali ini Ali Ramadhan tak akan campur tangan dalam keluarga sang adik.
Barra bukan anak kecil yang selamanya harus diarahkan dan dikoloni dalam nasehat yang berulang ulang. Barra sudah lebih dari dewasa dalam menyikapi hidup keluarganya. Dan didalam kehidupan ini Barra malah cerdas dari orang orang disekitarnya.
Jika Barra dan Cherly berseteru oleh sebab apapun itu. Ali Ramadhan Tak akan perduli. Barra harus siap dengan segala konsekuensinya. Dan menuai karma atas segala perbuatannya kepada Cherly.
__ADS_1
Ali Ramadhan sangat mendukung perpindahan Cherly dan anak anaknya kedesa yang cantik itu.
Anak anak Cherly yang cantik itu. Akan tumbuh sehat disana. Terlebih di cantik Paquita. Cherly masih menyembunyikan Rahasia tentang penculikan Paquita. Cherly Hanya berkata bahwa Paquita sedang melaksanakan pendidikan formalnya dan tinggal diasrama.
Sehingga Paquita tak ikut untuk pergi bersama Ibu dan saudara saudaranya. Cherly Akhirnya memilih untuk menjauhi Suaminya Barra dan memilih untuk pergi dan menjadi salah satu penjaga sebuah desa permai yang terletak dibentang alam yang terbuka tanpa gunung besar hanya berpagar bukit landai dikelilingi oleh hutan jati yang indah. Ditambah rimbunan Meranti hutan lahan kering yang menghijau dibentangkan barat desa membuat bias senja menjadi penuh variasi warna hijau gelap dan Bianglala senja membuat varian keajaiban alam yang unik.
Sejauh mata memandang hanya hamparan sawah basah dengan liukan sungai besar dikejauhan. Dengan bukit ditumbuhi Savana tempat Hewan ternak merumput. Sebelum melintas kearah bukit landai yang subur dipenuhi oleh tetumbuhan keras berdaun payung raksasa. Dari bentangan sungai meliuk berkelok kelok Persis selendang dari sang penari.
Rumah penduduk yang padat dikota kecamatan itu semakin tertinggal jauh dibelakang Bis besar yang ditumpangi Cherly dan anak anaknya.
Cherly telah mantap ingin merubah suasana yang dianggapnya tak pernah berpihak padanya. Tiba saatnya dia harus memutuskan sendiri. Langkah yang diambilnya kedepan. Dia tak ingin melibatkan siapapun khususnya keluarganya sendiri. Menjaga nama baik Barra dan menjaga privasi keluarganya Dimata anak anaknya agar kelak tak ada kebencian kepada Ayahnya. Barra.
Dia nekat meninggalkan rumah dan sekolah nyaman anak anaknya. Demi menghindari kekisruhan rumah tangganya. Barra bagai membuat kolam jernih menjadi penuh riak dan merubah warna dari bening menjadi berlumpur.
Banta si sulung hanya terdiam sejak tadi. Anak lelaki itu hanya memangku sang Adik! Amaliah. Yang tertidur dengan kepala terkulai dipangkuan sang kakak lelakinya yang berwajah dingin. Namun anak lelaki itu Sesekali mencium balita dipangkuannya dengan penuh kasih sayang.
Banta memang terkesan dingin dan kaku. Tapi dibalik sikapnya. Dia sangat menyanyangi adik adiknya.
Kehilangan Paquita memberi arti yang sangat dalam baginya . Betapa hancur untuk dia dan Ibunya saat ini. Namun kekalutan itu sedikit mereda. Karena Dua hari yang lalu seseorang menggantungkan sebuah Paper bag kecil didekat loker diruang ganti sekolahnya. Ada sebuah Audio mini portabel. Lengkap dengan rekaman Audio Dan Visual gambar dan Video real. Disana terlihat Paquita sedang bermain disebuah taman dengan tiga orang wanita. sambil tertawa tawa. hari. Jam . menit dan detik berisi tanggal bulan dan tahun tertera dengan jelas dan terlihat sangat asli .
Bukan editan.
Siapa yang menculiknya? Menculik lalu membahagiakannya? Bukan kah ini aneh?
Hanya pertanyaan itu berkelebat dikepala Banta Dan Ibunya. Namun setidaknya dapat menepis kekhawatiran Cherly jika Paquita mendapat perlakuan buruk dari sang penculik.
Dan memo yang aneh tertempel di Pintu depan rumah Cherly dan Barra!
"PAQUITA BAIK BAIK SAJA! DIA AKAN MENDAPAT PENDIDIKAN YANG LAYAK BERSAMAKU! JANGAN BERFIKIRAN KALAU DIA DALAM BAHAYA. DIA BAHKAN LEBIH BAIK SAAT BERSAMAKU"
Sebuah memo yang aneh!
Dan Cherly berfikir dengan keras. Bukankah Paquita putrinya? Bagaimana mungkin dia lebih bahagia tinggal bersama penculiknya dari pada tinggal dengan keluarganya sendiri.
Dasar gila! Desisnya geram. Dia selalu berdoa siang dan malam untuk putrinya. Agar segera diketemukan dengannya.
Gila!
Cherly teringat seseorang yang dianggapnya gila namun berhati Dewa.
__ADS_1
Dan Dewa gila itu mencintai Dirinya dan Paquita yang saat itu masih berada dalam rahimnya
Wajah tampan oriental berambut sedikit gondrong.
mata sipit dan mirip aktor Korea pujaan sang Mama saat remaja. Yah ...Cherly menggeliat senang dengan wajah memerah. Theodore Alexis!
"Aku akan menjemput Paquita kelak setelah dia terlahir keduniaa. Paquita milikku. Dia adalah reinkarnasi dirimu Cherly! Wajahnya kelak seperti dirimu." Kata sang dewa gila saat itu.
Yap persis. Wajah dan perilaku Paquita hampir semua mirip Sang ibu.
Tak salah lagi. Pasti dia .
Theodore Alexis. Dan Dome raksasa miliknya. yang teramat sangat mewah. Tiba tiba terbit senyum diwajah pucatnya.
"Biarlah tinggal disana Paquita sayang! Om Theo Akan menyanyangi dirimu!" Katanya ssmbil menyandarkan kepalanya di jok belakang punggungnya.
Setidaknya kelak Paquita tak bernasib Seperti dirinya.
"Istri jutawan rasa pelayan"
Cherly terlalu lelah dengan semua permainan hidup ini.
Terlalu banyak drama. Terlalu banyak intrik yang membuatnya kian melayang tak tentu arah. Dengan cepat meraih ponselnya.
dan mulai membuat catatan pada pesan pengiriman.
Dimana ada dua nama tertera disana .
Sam Dan Barra.
"Tidak usah bersusah payah mencari Paquita, Dia sudah kembali Kerumah. Rumah yang aman dan menjadikan dirinya ratu disana. Dan perlakuan yang diterimanya bahkan lebih baik dari perlakuanmu kepada kami saat ini. Kau tidak perlu membuang waktumu untuk anakku! Fokus saja dengan kehidupanmu dan wanita wanita mu! Katakan pada Sam. Urus saja Truddie dan anaknya!"
salam dari kami .
Cherly dan anak anak.
Berlanjut ya Readers?
Judul berikutnya nya.
__ADS_1
Dewa gila itu adalah Theodore Alexis!