
Suara Desingan pesawat yang akan tinggal landas dan terbang tinggi secara bergantian dari waktu demi waktu membuat Cherly merasa kian mual.
Kepalanya terasa sakit.
Kini dia berada di atas Tribune pengunjung yang dipenuhi oleh para pengantar penumpang dengan yang akan berangkat ke berbagai tujuan.
Baik keluar negeri atau penerbangan domestik dalam negeri.
Cherly terlihat disana dengan stelan Dominan putih
Dia tampak merengkuh lengan besar Barra dengan tangan kecilnya.
Dua belas menit lagi waktu untuk mereka.
Setelah itu Barra akan tinggal landas dengan pesawat yang membawanya. Terbang dan pergi jauh kembali ketempat tugasnya. Masa Dinas luarnya sudah habis. Kembali dengan tugas utamanya sebagai Pegawai Negeri Sipil pada sebuah Instansi Pemerintahan Negara. Dia baru saja meminta izin Mutasi ketempat yang dianggapnya menantang dan ingin terus berkembang dalam mendidik anak anak Negeri. Dengan segenap kemampuan yang ada. Dengan berbekal Potensi dan Kompetensi dirinya secara Optimal. Dan dia ingin dengan suasana lain dari tempatnya yang telah pernah dilaluinya. Dengan mengantongi izin dan Rekomendasi Kantor pemerintahan Kota agar memindahkannya ketempatnya kini bertugas. Dibagian Barat Indonesia.
Suatu daerah yang sedang giat dengan pembangunan dan pengembangan disegala bidang.
Barra Tampak sangat gagah dengan kemeja kotak kotak besar berwarna campuran warna merah, Hitam dan putih dengan les biru, Dengan dua kancing terbuka memperlihatkan Kaos putih tipisnya putihnya yang bersih.
Dipadu Jeans biru pudar dengan sepatu hitam yang bagus.
Kaca mata hitam bertengger menutupi kedua matanya yang membuat penampilannya bagai Artis Country dengan Idol Jeans yang top.
Tubuh kecil Chers seakan lenyap dari pandangan ketika dia merapatkan dirinya dengan tubuh suaminya dengan cemas seakan akan waktu itu semakin menipis buatnya.
Sementara Barra yang terlihat tenang dengan langkahnya yang tegap dibawah tubuhnya yang menjulang.
Barra menatap Cherly yang tampak memucat ditengah keramaian para pengunjung yang mungkin membuatnya pusing.
Kaos Lengan panjang putih hitam dan jeans putihnya terlihat serasi membalut tubuh Chers. Dengan rambut digelung sembarangan meninggalkan untaian rambut panjangnya yang bertiup berkeriapan oleh angin yang berhembus ditribune pengunjung.
Wajahnya yang polos tanpa make up dan tampak pucat itu membuat Barra Iba. Dengan mengenggam jemari Chers yang terletak diatas pahanya.
Chers meletakkan kepala bersandar dilengan Atas Barra.
"Seharusnya kau tak usah mengantarku! Wanita itu sangat sensitif dan itu bisa membuyarkan semangatku, Kau sudah berkomitmen untuk meneruskan pendidikanmu Cherly! Dan kau akan tinggal bersama kedua orangtuamu, Kau pasti bisa bertahan. Kau juga punya teman yang banyak! Yang akan selalu menghiburmu," Kata pria itu pelan sambil terus melihat kedepan dari balik kaca mata hitamnya.
Dia melihat kearah arlojinya.
Dan membuka kacamatanya. Lantas menyelipkannya kesaku depan kemejanya.
"Chers! Aku akan langsung boarding pass Dan pesawat akan segera berangkat." Kata Barra memberitahu.
Dengan pelan sambil menatap Cherly yang tercenung kedepan.
Seakan tak kuasa melihat kearah Barra.
__ADS_1
Pria itu meraih tubuh Cherly untuk bangkit berdiri didepannya. Mengelus wajah istrinya yang terlihat sangat sendu.
Memegang kedua sisi wajah Chers yang tak kuasa membendung tangisnya, Dan menubrukkan wajahnya kedada Barra Sambil menangis.
"Kau pasti akan melupakanku! dengan segudang kesibukanmu, Kau kan pria jahat!" Katanya sambil menangis.
Membuat Barra tersenyum sa'at mengelus rambutnya.
"Kau berubah jadi begini dramatis malah membuat aku merasa lucu! Mengapa kau tak memakiku dan selalu mengatakan, Dasar Pria Tua!" Kata Barra sambil mencium ujung kepala Cherly yang harum.
Cherly Hanya diam dan terus menangis.
Membuat Barra terpaksa melepaskannya dengan pelan.
Dan memanggil seseorang dari tribune sebelah kiri.
Seorang pemuda dengan topi pet sambil memegang koran yang baru dibacanya.
" Tolong antar Istriku pulang, Jhon! Dan hati hati dijalan" Katanya kepada pemuda itu sambil berpamitan.
Pemuda itu mengangguk patuh dan mengajak Cherly pergi turun melalui eskalator tangga.
Cherly tampak lesu dengan mata yang membengkak merah.
Sa'at didalam mobil Cherly mengoceh dengan bersimbah airmata diiringi oleh ingusnya yang meleleh sari bawah hidungnya yang mancung.
Tadi Barra menyebutnya dengan panggilan Jhon.
"Kau tahu Jhon! Aku sangat benci perpisahan! Karena aku selalu ingin dengan sebuah pertemuan," Katanya tanpa sadar dan terdengar konyol ditelinga pemuda itu.
"Semua orang sama kok Nona, Tak ingin ada perpisahan," Balas pemuda yang melihat Chers dari kaca depan.
Sambil tersenyum.
Mungkin pemuda itu berkata dalam hatinya.
"Alangkah konyolnya perkataan gadis cantik ini, Bahkan Anak TK pun tak ingin berpisah dari bonekanya,"
Katanya dalam hati.
Benar kata Barra menyebut Chers dengan sebutan "Gadis Bodoh"
Chers tak peduli dengan semua sebutan Barra tentang dirinya.
Dia memang bodoh telah jatuh cinta kepada Barra.
Dan Chers tak ingin berpisah dari Barra. Dan satu hal lagi yang terpenting. Dia merasa tak pernah mengingat Neo saat bersama dengan Barra.
__ADS_1
...****************...
Aneh!
Cherly tidak pulang kerumahnya, Melainkan pulang kerumah Barra yang selalu diejeknya.
Dalam waktu dua hari, Perasaan itu berubah banyak.
Tuhanlah yang telah membolak balik hati dan perasaan HambaNya.
Seperti saat ini, Disuatu senja yang.mulai turun. Cherly tengah duduk bersama Bu Ani dan Siti, Adik Bu Ani.
Kedua wanita yang bekerja untuk Barra.
"Kamu beruntung mendapatkan Barra, Sherly," Kata wanita tua itu perlahan.
"Cherly Bu!" Ralat Cherly sambil tersenyum.
"Iya Sirly" Kata wanita tua itu dengan menyebut nama yang salah kembali.
"C, Bu! Coklat! Comot! Cinta!" Katanya menyebut dengan awalan kata dengan huruf C.
"He he he , Ibu kurang hafal," Kata wanita 65 Tahun itu dwngan tertawa memperlihatkan giginya yang ompong dibagian tengah .
Mungkin ini yang menyebabkannya sulit menyebutkan nama Cherly.
"Beruntung? Maksud Ibu?" Tanya Cherly Ingin tahu.
"Barra itu adalah seorang pemuda yang sangat baik, Dia mengatur semuanya yang bersangkutan dengan dirinya dengan sangat baik" Kata Bu Ani.
"Barra memiliki sesuatu yang cukup untuk dirinya, Dia memiliki Rumah, Mobil dan Bahkan istri yang cantik" Kata wanita itu dengan menatap Cherly yang terperangah.
"Istri yang Cantik?" Katanya tak enak hati dan merasa cemburu bukan kepalang.
"Oh Jadi! Perjaka tua itu sudah menikah," Pikiran jahat melintas diotaknya.
"Jadi Si Barra sudah pernah menikah Bu!" Katanya dengan panas didalam dadanya.
" Ya udah To nak! Namanya Sherly! Yang sekarang duduk dihadapan Ibu," Kata wanita itu terkikik dengan geli melihat ekspresi marah Cherly.
"Ah. Ibu bisa saja!" Kata Cherly malu dan mohon pamit masuk kedalam rumah.
Dan masuk kedalam kamarnya dan Barra. Tempat mereka menghabiskan malam malam yang indah bersama.
Dan Cherly selalu teringat saat Barra mengecup keningnya disaat Barra mengiranya telah tertidur.
"Tidurlah Cherly! Dan jangan pernah mimpikan orang lain selain aku didalam tidurmu," Bisik Barra.
__ADS_1
Membuat airmata Cherly mengalir lagi.