
"Aku tak tahu mereka siapa Sam! layar CCTV disudut taman itu tak dapat mendeteksi pelaku. Tugasmu hanya melacak lewat radar detektor arlojimu! Data Paquita telah terkirim ke emailmu!" Titah Barra dengan suara beratnya. Punggungnya yang lebar tertutupi kaos tipis lengan pendek berwarna krem itu tampak basah oleh keringat.
Lekuk tubuh kekarnya itu terlihat tegar! Dia yakin Paquita baik baik saja. insting dan indra keenamnya sangat peka. Barra sedikit banyak dapat mengetahui Kejiwaannya sendiri. Dia dapat mengendalikan pikiran berdasarkan firasat tentang seseorang. Indra kasat matanya telah terasah tajam dengan penguasaan tentang Psikologis seseorang yang jauh berada dalam jangkauan. Oleh karena itu Cherly sering menyebutnya "Cenayang"
......(Suara Sam!)
Barra mengerutkan keningnya sejenak.
"Menurut penjaga taman orang yang mendekat kearah Paquita saat terakhir kali tiga seorang pria berjas hitam panjang berwajah oriental dengan dua orang pengawal dibelakangnya. Dan saat mereka keluar taman mereka membuat jalan terpisah. Kurasa mereka mencoba mengecoh dengan memecah jejak diantara mereka."Sambung Barra.
.....(Suara Sam)
"Aku sudah menduganya! Namun aku masih memastikannya dengan asumsi darimu Sam!"Lanjut Barra.
kemudian menutup teleponnya dengan wajah mengerikan. urat dipelipisnya menyembul tercetak jelas. Rahangnya bergerak gerak dan tangannya besarnya mengepal dengan kuat.
"Theodore Alexis! Kau memiliki nyawa yang banyak? Kau ingin mengajakku bermain main? Mari kita mulai bermain! "Seringainya tampak menakutkan. Wajah membiru bekas cukuran itu tampak tegang. Paquita adalah Putri kesayangannya. Walau Barra mencintai semua anak anaknya. Paquita tetaplah berbeda dihatinya.
Gadis kecil itu berada didalam kandungan Cherly tanpa setahunya. Dan tak merawat Cherly saat mengandung Paquita. Menyebabkan Cherly diculik Alex dan mengklaim Paquita adalah miliknya.
Peristiwa menyedihkan itu meninggalkan jejak yang mendalam buat Barra.
Barra merasa bersalah kepada Cherly dan Paquita karena saat itu sibuk dengan Zheba dan Maya. Sehingga Barra tak sadar Cherly telah mengandung anaknya. Dan sejak saat itu Barra mencurahkan kasih sayang yang luar biasa buat Paquita. Sebagai rasa menebus kesalahannya.
Terlepas dari semua itu.
Paquita adalah anak yang sangat cantik dan penurut mirip Dengan Ibunya Cherly.
Lagi pula stylenya selalu tampak indah.
Dean dan Amaliah juga cantik dan ganteng. Namun Paquita tetap yang memiliki posisi berbeda dicari Barra.
Kini Barra menoleh kearah kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati berukir itu. Melihat Cherly menangis seharian dengan wajah basah membuat Barra perih.
Pria itu mendekat dan memeluk Tubuh mungil Cherly dengan erat. mencium puncak kepala Istrinya dengan menghirup aroma harum Cherly yang tak pernah berubah sejak 10 Tahun yang lalu. Harum bagai perpaduan aroma kayu cendana hutan dan melati yang lembut. Menatap wajah cantik istrinya dengan bibir bawahnya yang basah. Wajah Cherly tetap cantik dimatanya. Menggemaskan walau kini dipenuhi ingus dan air mata.
__ADS_1
Barra tak pandai basa basi untuk menghibur.
Kosa kata nya terlalu sedikit sebagai seorang guru.
Barra lebih banyak bertindak daripada berkata kata. Dia pendiam dan lebih suka melakukan tindakan tepat sasaran.
Barra meraih kepala sang istri kedadanya yang lebar dan kukuh.
Tubuh Cherly seakan tenggelam dibalik tubuh besarnya.
Mengelus punggung kecil Cherly dengan halus dengan jari jari besarnya yang kuat.
"Kita makan ya? Aku takut kau akan sakit Tak makan sejak siang kemarin!"Bujuknya dengan pelan. Sambil mengangkat dagu Cherly mendekati bibirnya. Dan mengecup Bibir Cherly sejenak. Menghapus air mata dan ingus Cherly dengan jemarinya hingga bersih. Dan menjilat wajah bekas ingus dan air mata itu menjadi basah karena lidah Barra yang lembab.
"Oh.. geli Dong Bar!"Kata Cherly dengan suara serak habis nangisnya. Barra hanya menatapnya dengan tajam bercampur gemas. Dia tak pernah membiarkan Cherly tidur dan menangis sendirian.Dan selalu memberikan kehangat lewat tubuhnya yang selalu panas.
"Kulit wajah dan tubuhmu manis! Makanya aku suka sekali menjilatinya, "Katanya jujur. Dan tangannya mulai mengelus dan bermain main didalam dress pendek Cherly. Membuat Cherly sejenak lupa kesedihannya.
Ini yang diharapkan oleh Barra.
Barra membaringkan Cherly keranjang mereka dengan sentuhan yang mulai menggila diatas tubuh kecil istrinya yang seakan tenggelam kekasur tebal mereka.
"Aku berjanji akan membawakan putri kita kembali untukmu. Chers! Aku janji! "Bisiknya ketelinga istrinya yang kini mulai mendesah.
Dan mengelinjang kesana kemari. Dengan tubuh kecilnya yang seksi. Barra selalu menatapnya dengan penuh cinta walau emosi berbeda Diawal. Tak terdengar lagi tangisan Cherly. Berganti ******* yang tiada henti hentinya. Geraman berat Barra terdengar berkali kali. Cherly mengerang sakit saat Barra menghentak terlalu kuat sebab emosi menguasai dirinya saat mengingat Alexis yang membawa Putrinya.
"Ma'af Chers! Aku tak sengaja! " Bisiknya sambil mencium kening sang Istri. Cherly mengangguk dan melingkarkan kedua lengannya memeluk kepala suaminya. Mencium Pipi Barra yang terasa kasar. Mata Barra penuh kabut saat dia menancapkan sesuatu yang sangat besar semakin dalam dan menyembur benih kesuburan ditanah humus yang gembur dan lembut. "Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu! Istriku! "Bisiknya serak diakhiri hantaman gairahnya yang kini tumpah melebur menjadi satu didalam tubuh istrinya.
Cherly yang tak dapat membuatnya bosan selama berpuluh tahun!
Mata Cherly terpejam dengan tubuh yang basah oleh guyuran keringat yang masih menetes diatas permukaan kulitnya yang lembut.
Barra mengecup puncak dada istrinya yang hangat dan halus itu.
Hingga Cherly mengernyitkan keningnya menahan sesuatu.
__ADS_1
"Aku sedih Barr! Aku hanya menyusui Paquita selama tiga bulan saat adiknya diatas Dean yang keguguran itu telah berada didalam kandunganku tanpa sadar. Dan akhirnya aku kehilangan janinku karena terlalu banyak mengkonsumsi nenas mengkal. Sampai akhirnya Dean muncul."Kata Cherly sedih sambil menyurukkan wajahnya diketiak Barra. Dua suka berlama lama dilipatan lengan atas suaminya yang penuh bulu itu.
Terasa wangi jantan Barra berasal dari situ.
Wangi pepohonan hutan dan maskulin. Cherly menghirup dalam dalam kekulit Barra yang keras menyatu dengan ototnya. Cherly merasa damai dibawa ketiak suaminya. Cherly bermain main disita sambil memilin milin bulu ketiak Barra yang harum.
Cherly merasa terlindungi dan selalu merasa dicintai kini. Dan Cherly yakin dengan janji suaminya akan membawa Paquita kembali bersamanya. Bukankah Barra adalah pria kuat yang menguasai berbagai keahlian?
Barra jago dalam segalanya.
"Barr! " Panggil Cherly pelan. sambil memutir mutir pucuk dada suaminya. Sehingga rahang Barra mengetat menahan sesuatu.
"Hmmm ! " Geram Barra tertahan.
Membuat Cherly tertawa geli melihat reaksi Barra.
"Kamu tu kan Jago Karate! Jago Panjat gunung. Renang. Berkuda. Menembak. Bola! Cerdas Cerdik. Hampir semua deh kamu bisa! Dari semua keahlianmu. Coba sebutkan! Apa yang paling kamu sukai,"Tanya Cherly iseng.
Barra menatap lekat kemala Cherly.
Dan mengusap usap rambut Cherly asal sebelum Barra bangkit. Dia harus segera mengurus kehilangan putrinya.
"Bar! Kau belum menjawab pertanyaan dari ku! "Teriaknya lagi.
Barra meraih handuk dikapstok dekat pintu kamar mandi kamar mereka.
Sambil tersenyum tipis diwajahnya yang keras.
"Aku suka dengan keahlianku diatas ranjang dalam menjinakkan kucing manis seperti dirimu, "Jawab Barra sambil cepat menyelinap ke kamar mandi.
Dia takut Cherly akan menyiram wajahnya dari gelas yang kini sedang dipegangnya.
Barra merasa terlalu konyol berkata demi kian. Cherly menggeleng gelengkan kepalanya
.
__ADS_1