
Maya Berlari menghambur kearah rumah dinas mereka! Dengan wajah yang sangat bahagia datang memberi kabar yang pasti membuat Barra tersenyum senang.
"Barra! Mereka akan membangun rumah yang indah buat kita, Sebagai kado perkawinan yang sangat penting untuk menjaga dan melestarikan budaya dan lingkungan sosialnya dibidang Pendidikan dan kesehatan bermasyarakat, Barra!"Kata Cherly menceracau sambil melihat ruangan demi ruangan dirumah itu.
Kosong! Hanya ruangan dingin yang menyambutnya dengan kebekuan yang sangat dalam.
"Barr!"
"BBAR..BARRA!!,"Pekiknya dengan suara penuh dengan kekhawatiran.
Maya menjelajahi sekeliling ruangan depan dekat jendela kaca yang menjadi tempat favorit Barra dihari hari belakangan ini
Matanya tertumbuk pada meja kecil, Sepucuk Amplop besar berwarna Amplop dinas berwarna kuning.
Dan perlahan membukanya dengan hati tak karuan.
Buat Maya, Istriku!
Mungkin dengan kata " Istriku" Memberi sedikit kebahagian buatmu yang sering tersakiti oleh sikapku selama ini. Aku berbahagia bisa mengenal wanita yang baik seperti dirimu!
Kau cukup sabar menghadapi semua kekakuan dan keegoisan yang sangat tidak mudah untukmu.
Namun itu tak akan lama lama Lagi! Kau akan kulepas dengan bebas! Seperti aku yang terbebas dari duniaku yang sangat Menghayati dengan berperan sebagai sang profesional yang penuh bakat.
Namun akhirnya membuatku semakin jauh dari orang orang yang kucintai.
Aku terlalu terlelap dalam mimpi yang tak pernah bisa membuatku meraih segala sesuatu yang paling berarti bagiku dan bagi semua orang yang mencintaiku.
Termasuk kamu!
Aku telah banyak Membuat kalian kecewa.
Aku Harus pergi, Jangan pernah mencariku. Karena kalian tak akan pernah bisa menemui ku lagi.
Kalaupun kalaupun kelak kau menemukan diriku kau akan semakin kecewa, Karena aku bukan lagi seorang yang dapat membuatmu menjadi kagum.
Aku akan menghilang dari penglihatan dan fikiran kalian semua untuk selamanya.
Cobalah untuk mengerti May!
Kau tak akan bisa menaklukkan hatiku! Sampai kapanpun.
Mungkin kita tercipta hanya sebatas partnership yang cocok bergandengan tangan disaat menjalankan tugas kita Sebagai Pengabdi Dinegeri kita yang tercinta ini.
Bukan sebagai pasangan suami istri seperti mimpi yang ingin kau wujudkan.
Katakan kepada Pak Zulqarnain bahwa Barra yang dikaguminya telah pergi kesuatu tempat yang sangat jauh.
Aku akan berjalan kearah tujuan yang tak berujung. Bumi dan langit akan menjadi tempat yang paling aman buatku.
Aku meninggalkan semuanya.
Hanya membawa baju yang melekat ditubuhku
Tolong kirimkan Semua Dokumen penting yang pernah ada dalam hidupku ke Alamat Kak Ali Ramadhan.
Juga pakaian yang kumiliki.
Buku Tabungan dan semuanya. Jika kau berkenan ambillah buatmu. Namun jika tidak,! Kirimkan bersama dokumen dokumen itu.
Aku tak tahu ! Apakah Kakakku masih mau menerima Barang barangku! Jika Dia tak menerimanya Kau boleh membakarnya atau memusnahkan dengan caramu!
Maya!
__ADS_1
Sampaikan salam perpisahanku buat semuanya.
Kau boleh mencetak ulang suratku buat orang orang yang pernah hadir dalam hidupku. Atau Abaikan saja suratku! Biarkan namaku menjadi kenangan dihati orang orang yang nantinya pasti akan menghilang dihapus oleh sang waktu.
Maafkan kesalahan yang telah lalu yang pernah melukaimu.
Aku menyanyangimu sebagai seorang wanita yang sangat penting untuk sebuah perjuangan dalam mempertahankan reputasi hebatku dihari yang lalu.
Namun Aku mencintsi istriku diwaktu lalu dan diwaktu yang akan datang!
Namun Aku tak dapat kembali lagi untuknya atau untukmu.
Teruslah berkarya, Teruslah tumbuh dengan segala rencana yang telah kita buat. Aku yakin kau pasti bisa.
Dariku
Barra Malik Ramadhan.
Maya mengusap matanya yang membasah.
Suara burung prenjak tua dipohon jambu dibelakang rumah menyanyi dengan lirih.
Selirih ******* nafas Maya yang kian hampa.
...****************...
Satu Bulan kemudian.
Laki laki itu berhenti di stasiun terakhirnya hari ini. Dan terus berjalan tanpa kata. Wajahnya yang penuh Dengan Cambang bauk yang membuat orang menghindar saat berpapasan dengannya.
Stasiun demi stasiun telah dilewati seolah tanpa akhir.
Namun belum juga sampai diperhentian yang terakhir. Dia melangkah dengan tegap tanpa kata.
Dia memasuki sebuah kawasan pinggiran rel yang sangat kumuh dan penuh bau berbagai aroma dipembuangan sampah yang menggunung.
Dia menggelar koran diemperan rumah petak yang kecil.
Dan besok dia akan berangkat ketujuan berikutnya sebagai seorang pria dengan jati diri yang tak dikenali lagi.
Dia akan bekerja sebagai kuli panggul beras atau apa yang dapat memberinya kehidupan.
Dan sekedar bekal kesebuah desa dekat pinggiran hutan hujan yang basah.
Yap tempat yang sangat jauh ini.
Sehingga tak ada yang dapat mengenalinya.
Hingga suatu waktu dia akan sampai kesebuah tempat yang dianggapnya dapat menjadikan akhir sebuah perjalanan yang ditujunya didalam suatu pencarian.
Bulan demi bulan itu terus berjalan.
Pria yang tak dikenal itu berjalan tanpa mengenal lelah.
Stasiun kecil dan stasiun besar sebagai tempat tinggalnya disementara waktu.
Dengan otaknya yang cerdas dapat memenangkan turnamen catur jalanan.
Tatkala mengambil hadiah dengan tumpukan uang! Orang orang disekitarnya bertanya tanya. Akan dipergunakan uang sebanyak itu! Oleh orang gila jalanan?
Namun dia tersenyum dibalik bibirnya yang penuh semak berbulu."Kau tidak lebih pintar dariku dan Aku tak lebih picik darimu," Pikirnya dalam hati.
Dan tatkala segerombolan pemuda mencegatnya, Hendak mencuri apa yang telah menjadi miliknya. Dia akan Menghajar anak muda itu satu persatu hingga mencium tanah atau dengan rahang yang patah.
__ADS_1
Dan esoknya pria itu lenyap bagai angin dari tempat yang dianggapnya tidak aman bagi dirinya.
Dia memang petualang! Sekali petualang tetaplah petualang!
Dan kali ini Pria Brewok mengerikan itu berspekulasi disebuah kasino besar yang berperan sebagai jockey untuk sang pemain yang tak begitu cerdas. Dengan bantuan lelaki berbaju lusuh dengan penuh cambang bauk itu dapat meraih keuntungan yang besar.
Dan tatkala semua pemain rolette klasik mencarinya keseluruh kota. Lelaki itu telah menghilang bagai Hantu.
Dia terus berkelana dengan sekantung karung penuh uang bersama lusuh bersama barang kaleng rongsokan. Untuk bekal perjalanannya yang kian jauh.
Hingga memasuki sebuah kawasan hutan hujan di suatu dikota tepian daerah yang landai penuh Ilalang.
Lelaki itu tersenyum dibalik kumisnya yang lebat.
Cahaya matanya dengan ceruk kecil yang terus menyorot tajam.
Hmmm Alangkah suburnya Negeriku!
Bisiknya dengan suara beratnya.
Mungkin suatu waktu dia akan kembali kemari.
Menapakkan kaki tegapnya yang ditumbuhi penuh bulu yang kasar.
Dan dia akan berbalik pergi untuk sementara waktu.
Mencari rejeki agar membuat daerah ini menjadi sebuah lahan yang penuh dengan pepohonan yang dapat menghasilkan penghidupan baru bagi dirinya.
Kelihatannya dia kembali berspekulasi besar besaran dengan peruntungan yang semakin tampak nyata.
Alangkah indah hidup yang dirasakannya kini.
Bebas tanpa ikatan apa apa. Dia berjalan dengan kamuflase yang berbeda dari waktu ke waktu.
Bersembunyi dengan identitas baru. Dengan nama baru dan pengharapan yang baru.
Beberapa hari kemudian .
Saat menandatangi secarik kertas yang bagai sebuah berkas penting.
Tangan mereka saling berjabat menyilang.
" Silakan Pak Malik!
Tanah ini sangat luas. Anda dapat mengelolanya dan menjadi pemilik barunya sekarang! Tanah ini wilayah gambut dan bekas pertambangan. Tak ada yang bisa dihasilkan dengan tanah segersang ini. Tanpa air! Dan tanpa pengolahan yang cocok hanya akan membuat investasi jadi sia sia," Katanya dengan jujur.
Pria bernama Malik! Memiliki mata setajam elang dengan wajah mengerikan itu tersenyum dan bahkan mirip seringaian yang menakuti Pemilik lama dari lahan itu.
Dengan cepat menyingkir pergi dengan karung yang berisi uang pembelian dari si Pria seram.
"Hmmm Mungkin lahan yang luas ini bisa kumanfa'atkan sebagai lahan gambut yang berpotensi tinggi."Bisiknya.
Sambil melihat secarik kertas kecil yang tersembunyi dibalik saku kumalnya yang baru saja didapatnya.
Keningnya mengernyit heran dan merasa asing.
Kartu tanda peserta sebuah pelatihan dipusat Olahraga pemuda.
Yang bertulis sebuah nama: Barra Malik Ramadhan.
Pelatih Karate Pemuda Indonesia.
"Selamat tinggal ! Mungkin suatu hari nanti kita akan kembali dilain waktu dan kesempatan," Bisiknya sambil merobek kartu itu menjadi potongan yang kecil dan diterbangkan oleh angin.
__ADS_1
Ya! Pria itu adalah Barra Malik Ramadhan.