
"Hallo Semuanya," Sapa Cherly begitu tiba diberanda undakan tangga besar dirumah keluarga Paulinsky. Melambaikan tangannya dengan lima jari kesemua orang yang ditemuinya.
Kemeja pink cerah lengan pendek model krah kecil bulat berwarna putihpasnpress body. Dengan rok pendek hitam yang berbentuk A. Rambutnya yang panjang diikat dengan scraft tipis berwarna pink! Dengan riasan seadanya .
Mengenakan sepatu hitam 2,5 inchi itu, Menyandang tas kecil berwarna pink, Cherly tampak bagai remaja culun yang belum mengenal cinta.
Walau tampil apa adanya memang selalu jadi pusat perhatian yang kedatangannya bagai selalu ditunggu oleh semua orang.
Dia berjalan menuju tangga dengan ceria.
Membuat penampilannya tampak bagai anak kampus sejati.
Dengan langkah panjang Cherly mulai menapakkan kakinya kedalam ruangan yang agak ramai tersebut. Beberapa orang asisten rumah tangga dirumah Truddie sedang membersihkan Beberapa bagian dalam dan luar rumah terlihat tersenyum menyapa Cherly! Dibalas dengan senyum manis Cherly seperti biasanya.
Mereka menyukai Cherly sama seperti mereka menyukai Truddie yang ceria dan ramah pada semua penghuni rumah. "Tu si Paulie Sedang bertapa! Sedang merapal beberapa mantera pengusir roh jahat! " Kata Bu Yos, Salah seorang pembantu senior dan telah menjadi pengasuh Truddie sejak kecil. "Paulie"Adalah panggilan kesayangan Tuan Paul buat putri semata wayangnya itu.
"Ha hah ha! Tapi Roh jahatnya tetap saja masuk Bu!" Jawab Cherly menunjuk Pak Subur yang berkepala plontos lewat didepannya sambil membawa beberapa Paper Bag berisi beberapa potong pakaian Pemilik rumah yang baru siap dijemput. Pak Subur tertawa dengan jenaka sambil membuat kode "Ok" Didadanya. Dengan ibu jari dan telunjuknya. Cherly membalas dengan gerakan yang sama sebelum melangkah kearah kamar. Pak Subur yang tinggi besar itu adalah kepala security dirumah Truddie.
Pak Subur selalu diajak becanda oleh Trio Populer itu. Mereka telah menjalin keakraban dalam waktu yang lama.
Cherly masuk dan melangkah perlahan kearah tempat Truddie yang biasanya melakukan segala aktifitasnya disudut dikamarnya yang luas itu.
Cherly melirik kearah jendela lebar dimana Truddie duduk dengan masih mengenakan kimono mandi berwarna putih bersih rambutnya yang basah.
Cherly mengerutkan keningnya dengan heran!
Truddie !
Duduk merenung didekat jendela bukanlah Gayanya.
Mengapa sejak peristiwa penculikan itu Truddie tampak jadi pendiam dan sering menangis?
Cherly merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan sang sahabat.
"Aku pernah mendengar! Orang yang jatuh cinta jadi pendiam Itu sih lumrah! Tapi kalau merenung didekat jendela aku baru kali ini melihatnya!" Kata Cherly memancing Truddie yang seakan tak menyadari kehadirannya.
Truddie menoleh kearahnya dan tersenyum dengan lebar memperlihatkan barisan giginya yang kecil kecil seperti gigi tupai itu.
" Oh Trud! Kau tak perlu menyeringai selebar itu, kau jadi mirip Chesire Si kucing Alice," Protes Cherly dengan mimik lucu!
__ADS_1
Chesire? Alice? Sam pernah memanggil namanya dengan sebutan itu.
Truddie langsung terdiam dan menunduk dalam-dalam.
Mengapa wajah Sam sering melintas didalam fikirannya?
Sam Yang Jahat! Dan hampir membunuh dirinya?
Dua Minggu sejak keluar dari rumah sakit. Truddie mulai tampak sehat. Gips dilehernya telah dibuka.
Dan keadaanya telah hampir normal sepenuhnya.
"Hei!! Chers! Siapa yang jatuh cinta! Kau sedang membicarakan anak ini! Dia barusan jatuh cinta pada anak perempuan cantik yang ditemuinya diswalayan kecil depan kompleks barusan!" Kata Grace tiba tiba sambil tertawa mengendong Banta Malik!
"Hai! BarChek! Kau ngapain ikut ikutan berada diantara gadis Populer? Memangnya kau siapa heh! Namun memang lebih baik jadi penggemar kami daripada jadi penggemar Ayahmu! dan Sam yang seperti gunung Es itu!" Kata Cherly sambil tertawa dan kemudian berkata dengan sangat serius.
" BarChek! Tak akan pernah seperti mereka! Aku benci mendengar nama itu," Sahut Truddie tiba tiba.
"Hai Paulie! Mengapa jadi berubah serius begitu? Mama jadi asing deh," Kata Ibu Truddie, Ibu Ning! Yang datang membawa beberapa potong apel, melon dan alpukat yang dipotong kecil dengan sedikit mayones dan yoghurt pekat kedalam piring kecil dengan garpu plastik yang disodorkan untuk Banta Malik.
"Ini buat tubuh gembulmu! Anak hebat!"Kata Wanita Parobaya berusia 48 Tahun yang terlihat masih cantik dan modis itu kepada Banta Malik.
Membuat Ibu Truddie tersenyum dengan senang. " Ibu Berani Taruhan! Cucu Oma yang cakep ini pasti memiliki penggemar yang lebih banyak dari Trio Populer kalian," Kata Ibu Ning lagi sambil mencium rambut lebat Banta Malik yang tengah duduk di sofa panjang dan lebar itu.
"Baguslah ya Barche'? Asal jangan jadi Playboy seperti Ayahnya,"Kata Grace menimpali sambil mengelus ngelus kepala anak kecil itu.
Membuat Cherly dan Truddie tersenyum penuh arti.
Terbayang oleh Truddie .
Cherly yang seharian dikurung Barra dikamarnya. Dan dengan tubuh memerah bekas percintaan.
Truddie menatap anak kecil itu dengan takjub! Tak habis habisnya.
Wajah gantengnya yang lucu dengan makan dengan lahapnya.
"Sama seperti Ayah si Barche', Makannya lahap dan Oh..Aku jadi lapar Ma,"Pintanya manja pada sang Ibu.
Wanita itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya membelai rambut Truddie sekilas sebelum keluar menjemput makanan buat sang anak.
__ADS_1
...****************...
Disebuah Tempat yang jauh.
Hingar bingar musik yang memekakkan telinga itu berdentam dentum dari segala penjuru dinding dan memantul kependengaran .
Gelak tawa orang orang yang masuk kedalam klub besar itu tampak kian ramai. Dengan warna warni lampu Blitz tang mengumpat menyambar nyambar setiap sudut dan tengah ruangan yan luas dan agak redup itu.
Dipenuhi dengan berbagai tingkah dan gaya para pengunjung yang datang berjibun untuk menghibur diri mereka sendiri dan bersama teman temannya.
Pria dengan wajah pucat dengan lilitan scraft dileher itu tengah minum bersama dua orang temannya.
Lebih tepatnya mitra usahanya! Bukan teman sejati seperti layaknya persahabatan yang terjalin dengan ramah dan penuh tawa.
Pria Itu tidak tertawa atau tersenyum. Wajahnya dingin dan serius. Mereka berkata sesekali dan pria dingin itu terlihat terkadang tak meresponnya dengan serius.
Sam menatap sang waitres wanita yang sangat cantik dengan rambut keriting Ala tokoh Animasi Alice Adventure of the Wonderland.
Sam menatap nanar kepada gadis pengantar minuman dibalik wajahnya yang pucat itu.
"Chesire!"Desisnya pelan.
Ingatannya kembali melayang keseorang gadis yang hampir dihabisi olehnya."Truddie! Ya Namanya Truddie! Bagaimana keadaan gadis itu sekarang! Apa dia masih hidup?"Fikirnya sambil mencekal gelas kaca berisi minuman didepannya.
Menahan perasaannya yang kian tak menentu dari hari ke hari. Meremas gelas itu dengan kuat hingga mengeluarkan bunyi berdetak dan dan rembesan kemerahan pekat mengalir dari sela jari jemari tangannya yang panjang itu.Membuat mintra didepannya kaget dan tercekat heran.
"Hei tuan Sam! Tangan anda berdarah! Apa yang terjadi pada anda! Dan tolonglah lepaskan pecahan kaca itu dari tangan anda!" Kata pria bertopi lebar ala koboi itu terlihat dengan mimik wajah yang ngeri.
Sam tak bergeming malah meremas pecahan gelas itu semakin kuat, Seakan ingin menebus kesalahannya karena telah berusaha untuk menghabisi nyawa gadis cantik yang mulai sering bermain didalam difikirannya.
Matanya masih menatap wanita pengantar minuman yang melihat kearah tangannya yang bersimbah darah dengan wajah bak penonton film horror.
Lalu berbisik pelan dengan iringan mata cekung yang menakutkan, Sehingga wanita itu mundur kebelang dengan langkah pelan
"Kau wanita berdada rata! Kau bukan dia! Pergi dari hadapanku!" Perintahnya dengan pelan.
Kedua mitra itu pergi kearah security dengan menyuruh membawa kotak obat sebagai pertolongan darurat terhadap mitranya yang terlihat aneh itu.
Dan saat petugas bersama mitra itu tiba ditempat mereka duduk! Tak ada siapa siapa disana! Selain gelas minuman yang pecah menjadi potongan potongan kecil yang berlumuran darah.
__ADS_1