
Suara yang ribut dari rumah kecil ditingkahi suara Cherly yang melengking. Banta yang menangis menjerit jerit. Sebab kucingnya yang tak mau diajak bermain malah berlari kearah samping rumah. Anak kecil itu. berusaha mengejar dan meminta bantuan Ayahnya! Anak kecil itu lalu berlari kearah pintu kamar Ayahnya yang sedang tertidur. Mulai menggedor dan memukuli pintu kamar tersebut dengan gagang sapu meninggalkan bunyi yang ribut. Banta berbicara dengan bahasa cadelnya sambil menangis minta sang Ayah untuk menggendongnya keluar menangkap kucing yang berlari kearah jalanan. Barra yang masih tertidur karena tadi malam harus bekerja hingga dini hari. Menghitung anggaran pemasukan dan pengeluaran perkebunannya yang kini dikelola oleh Pak Joy dan Rudi! Asistennya yang dibantu oleh beberapa pekerjanya. Barra masih terus memantau dan menyusun rencana pembangunan Kilang pemotongan kayu. Dan pengolahan menjadi papan dan balok bangunan yang selama ini masih berbentuk gelondongan tanpa olahan. Dan Barra berencana dalam waktu dekat akan pergi membawa keluarganya kembali keperkebunannya. Dan memulai hidup dengan tenang bersama Cherly dan anak anaknya. Mungkin sudah waktunya Barra pensiun diusia yang masih terbilang produktif. Karena banyak hal yang harus dimulainya dari saat ini. Lisa yang sedang memandikan Paquita merasa terganggu dengan teriakan Banta yang terus menerus menangis. Cherly yang tengah memasak nasi goreng itu merasa pusing dan mual karena mencium aroma bawang goreng yang sedang dimasaknya. Cherly berlari keluar dapur dan muntah sejadi jadinya. Bu Ani yang sedang mencuci baju Anak anak. mengusap dadanya mendengar Banta yang mengamuk hebat. Barra keluar dari kamar dan mencoba menenangkan putranya.Dengan masih mengantuk Barra menggendong Banta keluar rumah mencari kucing yang dimaksud Banta. Dengan sabar. Pria itu melihat sejenak kearah Cherly yang muntah muntah disudut halaman belakang yang sempit itu.
Barra mendekat dan mencoba meredakan mual Cherly dengan menggosok gosok tengkuk Cherly pelan. Namun Banta memukuli dada sang Ayah agar cepat kembali mencari kucingnya yang kini berlari kearah semak dibelakang rumah. Membuat Barra sedikit mendelik kearah sang Anak. Bukannya takut! justru Banta semakin kolaps dan meliuk liukkan tubuhnya dalam gendongan Ayahnya sambil berusaha turun mengejar kearah semak belukar dan penuh duri dari perdu liar itu. Rumah kecil itu menjadi ramai kala Sang adik! Paquita itupun menjerit. Sepertinya dia mulai lapar karena sejak bangun tidur belum minum ASI ibunya.
Dengan kening berkeringat Cherly berusaha untuk meraih Paquita dari gendongan Lisa. Disaat Cherly hendak memberi anaknya ASI tiba tiba Bu Ani tiba dari pintu belakang dan berkata.
"Nak Chilly! Sebaiknya Paquita jangan lagi diberi ASI lagi! Sebab ASI itu telah berubah rasa dan bau. Dan itu bisa membuat Paquita sakit!"Saran Wanita itu dengan cepat.
"Kenapa Bu!" Tanya Cherly menutup dadanya kembali.
"Kamu periksa dulu kedokter! Kamu mungkin hamil! Nak, " Kata wanita itu lagi.
Cherly merenung sejenak. Dia memang merasa dia tengah hamil lagi sekarang. Sering pusing! Lemas dan merasa sensitif dengan penciuman yang merangsang Seperti gorengan dan bau parfum yang dipakai oleh Lisa. Beberapa hari ini Cherly sering muntah karena sesuatu hal yang ringan. Dia jadi mudah tersinggung dan marah marah kepada Barra dengan hal yang sepele. Barra yang ikut mendengar dari halaman samping jadi terhenti menatap sang istri dengan iba. Barra memang senang mendengar kehamilan istrinya. namun dengan melihat keadaan Cherly yang kian tak menentu itu. Barra jadi kasihan dan melihat istrinya.
__ADS_1
Seperti biasanya Barra hanya menatap Cherly dengan pandangan yang teduh dan mengelus kepala Cherly yang sedang memangku putrinya. Cherly terlihat sangat lelah. Dengan mengenakan daster lengan pendek serta rambut yang kusut masai. Kulit Cherly yang tak pernah lagi Mendapatkan perawatan itu tampak kering. Bibirnya yang terlihat pucat. Membuat Barra merasa bersalah.
Barra menurunkan Banta yang masih menangis. Anak kecil itu langsung dituntun oleh Bu Ani menuju teras depan sambil membawa piring berisi nasi goreng dan ayam sambal pedas. Bu Ani membujuk Banta dan mulai menyuapkan nasi kemulut Banta sambil bercerita tentang burung putri bangau dan pangeran tampan. Banta jadi terdiam mendengar cerita Bu Ani sabil mengunyah makanannya dengan lahap.
"Cherly! Kau harus istirahat! Biarkan Paquita bersama Lisa! Kamu harus masuk kelakar beristirahat! Biar aku yang akan membawakanmu sarapan! "Ajak Barra sambil mengambil Putrinya dari gendongan Cherly. Cherly hanya mengangguk pelan. Kepalanya sangat sakit. Dan perutnya tak berhenti dengan mual yang menggila.
"Lis! Ambillah Bubur bayi yang kubeli disalam kulkas itu. Dan campuran air untuk melarutkan buburnya haruslah mendidih, Aku takut Paquita sakit perut, " Kata Cherly pelan sambil mengusap keningnya yang berkeringat. Lisa mengangguk mengatakan sambil mohon diri.
Barra menuntun Cherly kearah kamar mereka dan menutup pintu kamar itu dengan pelan. Merebahkan Cherly keatas ranjang. Menempelkan tangannya kekening Cherly. "Hmm. Tidak begitu panas! Tapi wajahmu tampak sangat pucat. "Ujar Barra terdengar agak cemas. Cherly merasa nyaman saat Barra memijat minat keningnya dengan lembut. "Apakah perutmu masih sakit?"Tanya Barra lagi. Cherly mengangguk dengan pelan. Dia merasa beruntung Barra ada disini menjaga dan mengayomi dirinya dan anak anaknya.
"Barra! Sudahlah! Sakitnya sudah hilang, "Kata Cherly sambil menghentikan jari Barra yang mulai melakukan kewilayah Agresi sensitif Cherly. Cherly merasa Menyesal mengapa harus mengikuti Barra masuk kedalam kamar. Barra selalu saja menemukan cara sendiri untuk membujuknya agar terus melayaninya dirancang dalam berbagai situasi. Kadang Cherly merasa Barra terlalu terobsesi dengan tubuhnya yang tak lagi menarik untuk orang lain
Namun Barra sangat menggilai tubuh Cherly dan tak berhenti menikmatinya tanpa mempedulikan Cherly yang sangat kelelahan.
__ADS_1
Seperti saat ini. Tak ada suara lain yang terdengar dari kamar mereka selain dengusan nafas Barra! Dan rintihan pelan Cherly yang bercampur dengan erangan yang tiada henti hentinya. Berkali kali pekikan Cherly terdengar hingga keluar kamar. Barra terus terusan membuat Cherlymengejang dengan liukan tubuh polosnya yang melengkung. Barra tak pernah bosan dengan rasa nikmat yang tiada akhir ini. "Chers! Aku berani bersumpah! Hanya tubuhmu yang dapat memberiku kenikmatan yamg luar biasa! Dan aku tak ingin kau dimiliki oleh siapapun juga." Kata Barra dengan tubuh yang bergetar hebat. Saat pelepasan itu memuntahkan lahar hangat kerongga inti tubuh Cherly yang kecil dan hangat. Barra menggeleng gelengkan kepalanya dengan raut wajah yang sangat puas. Saat pria itu menarik bagian bawah tubuhnya yang terasa sangat sempit dari inti tubuh istrinya. Sedang Cherly meringis menahan rasa perih dari bawah tubuhnya yang terus menderanya sejak kehadiran Barra dirumah ini.
"Barr! Aku Capek,"Bisik Cherly. Hingga Barra tertegun! Dan menyesali Kelakuannya yang mirip Mascohist. Dia terus terusan memperalat Cherly agar terus melayani keinginannya yang sangat besar terhadap tubuh Cherly.
Barra selalu mengagumi Cherly yang tampak hebat dengan tubuh kecilnya yang luar biasa.
Sekarang Cherly masih terbaring lesu diranjangnya. Rambutnya terlihat kusut masai.
Barra sangat suka melihat Cherly yang tak berdaya. Barra membungkuk kembali membelai bahu Istrinya yang terbuka dengan lidahnya yang kesat. Hingga Cherly memejamkan matanya dengan menahan desahannya yang hampir keluar.
"Barr! Jangan lagi! Aku benar benar lelah! "Katanya dengan mata melotot. Saat Barra kembali membalikkan tubuh mungilnya keatas tubuh besar Barra yang sangat kokoh dan keras. Cherly bagai anak kecil yang duduk diatas perut raksasa besar. Barra mengangkat tubuh kecil istrinya dan menurunkannya dengan pelan tepat diatas sasaran yang panjang dan membesar sempurna.Diiringi hentakan pelan dan membuat mata Cherly membeliak dengan bibir Indahnya yang mengatup rapat menahan sakit dan nikmat. Rambut panjangnya yang jatuh dipunggung mulusnya terlihat seksi!
"Kau tahu? Kau adalah wanita terhebatku sampai Akhir ! "Desis Barra dengan suara berat dengan wajah jantannya yang kian memerah panas.
__ADS_1
Cherly melonjak kesakitan! Oh ! Apakah benda besar itu akan sampai menuju kejaninnya yang baru tumbuh? Tidak bilakah Barra membiarkan janinnya tanpa hentakan sehari saja? Kata batin Cherly yang terus disentak kearah atas dan bawah secara teratur dengan gerakan dadanya yang sangat seksi. Sehingga membuat Barra selalu menggila