
"Kamu tidak makan? Nanti perutmu sakit! "Kata Arie menatap wajah Truddie yang terlihat pucat. Truddie hanya menggeleng pelan.
"Apa kita akan pergi untuk berbulan madu ke Raja Ampat? Agar kesehatanmu membaik dengan cepat? Aku khawatir melihat konsisimu Truddie! Aku dapat menahan diriku! Sebagai seorang suami! Tapi sangat prihatin melihat kau kian memucat!"Bisik Arie ketelinga Truddie. Serta
Mencium pipi Truddie dengan lembut. Truddie menunduk pelan Dia masih duduk diatas ranjangnya yang berhelaian selimut putih berbunga bunga hitam terhampar diatas pangkuannya yang tertutup dengan gaun hitam dari sutra yang sangat lembut berlengan panjang Menutupi hampir semua tubuhnya Seperti suasana hatinya yang menghitam. "Tidak usah Mas! Aku merasa lemas sekali! Kepalaku pusing! " Jawab Truddie hampir tak terdengar.
Dia telah sah menjadi Istri Arie Soedono sejak seminggu yang lalu. Penanda tanganan surat pernikahan itu telah tertera dikantor catatan sipil Negara. Tanpa pesta yang meriah. Hanya dihadiri beberapa handai tolan dan kerabat dekat mereka.
Truddie menolak pesta yang meriah atau pernikahan yang megah. Kondisinya sama sekali tak mengizinkan. Kesehatan Truddie terus menurun. Anehnya! Tiap kali akan diperiksa oleh dokter Truddie menolak Apalagi untuk berobat kerumah sakit. Truddie terang terangan menolaknya. Ibunya sampai bingung. Dan bertanya tanya. Ada apa dengan Truddie? Tak ada lagi tawa ceria itu. Tak ada senyuman! Pandangan matanya terlihat kosong. Tak ada bias dan binar cahaya.Yang ada hanya kegersangan! sejak kepergian Sam tak ada nama yang ada dalam memorinya.Sam!Telah terlalu dalam menancapkan namanya dihati Truddie! Yang ada dalam fikirannya hanyalah tentang Sam.
Sam yang telah meninggalkan noktah hitam dalam putih hati Truddie. Dengan benih suci tanpa noda yang kini bersemanyam dirahimnya. Dan tak terasa oleh tangan. Hanya terasa oleh fikiran. Arie menatap wajah Truddie yang eksotis. Wajah yang sangat indah. Bibir merah yang terlihat kering. Rambut keriting Mie itu kini telah menjadi lurus kembali. Tak ada perawatan rambut keriting cantik yang dulu digandrunginya.
Nyonya Ning menatap sang Anak dengan sedih.
Dua tahun lalu! Truddie pulang dari Salon langganan keluarga mereka.
"Ta daaa!!!! Coba lihat Truddie deh! Sudah mirip Allanis Morisette Penyanyi kesukaan mama! Ha ha ha!" Katanya dengan centil sambil mengibas ngibaskan rambut keriting mie itu dengan bangga. Ibunya hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Baginya pribadi! Truddie Masih lebih cantik dari penyanyi kesukaannya sejak muda itu.
Truddie terlihat sangat seksi dengan tanktop coklat yang hanya sebatas bawah dadanya yang terlihat besar dan feminin namun Sporty!
Yang memperlihatkan perut ratanya yang mulus dengan pusar bertindik bola perak putih mirip anting emas yang dipakainya.
Celana Chaky tiga perempat yang sangat lucu itu membuat Truddie bagai anak punk yang berkelas. Dan bintik coklat samar diwajahnya sebagai ciri khasnya yang sangat keren. Dengan sampiran Tas sandang Moschino dibahunya melengkapi penanpilan Truddie yang cantik dan eksentrik!
Kini Gadis ceria itu telah hilang. Seperti bintik coklat diwajahnya yang telah menghilang. Wajahnya jadi terlihat makin pucat. Seminggu yang lalu Bintik coklat itu hilang sama sekali dari wajahnya. Entah karena apa! Tepat Disaat usia kehamilannya memasuki usia tiga bulan. Seseorang masuk kelakar Truddie membawa nampak berisi sarapan buat Truddie.
Ternyata adalah Ibu Truddie. Meletakkan nampak besar itu diatasi meja diisi ranjang Truddie.
__ADS_1
Ibu Ning menghampiri menantunya! Arie.
"Kamu yang sabar ya! Menghadapi Truddie! Dia masih labil dan belum bisa mengerti tentang kewajibannya sebagai Istrimu! Tunggulah! Dia pasti berubah seiring waktu ,"Kata Ibu Truddie menyabarkan dan memotivasi Arie. Agar jangan bosan dalam mendidik dan memenangkan hati Truddie. Yang terasa mulai kian berbeda dari hari ke hari. Sejak menjadi istri Arie selalu saja masih tidur dikamarnya sendirian. Arie yang terbiasa bekerja hingga larut malam pun bisa melewatkan malamnya tanpa istri kecilnya yang cantik itu disisinya. Alasan Truddie cukup masuk akal. Dia tengah sakit. Tapi apakah dia bisa terus terusan bertahan agar tidak hidup dan tidur bersama suaminya selamanya ? Ini sangat Aneh.
Truddie melirik Ibunya dengan sendu.
Seandainya Mama Tahu bagai mana tersiksanya aku saat ini! Bisiknya dalam hati.
"Ma! Truddie ingin ke Toko Buku lama yang ada diperkampungan pinggir rel yang kumuh! Tempat Truddie membeli komik lama yang dulu Mama tunjuki ke Truddie itu Lho! Truddie suntuk! Mau baca buku aja dikamar!"Pinta Truddie pada Sang Ibu.
"Boleh saja! Arie yang akan menemani kamu kesana! "Jawab Ibunya sambil menatap kearah sang menantu. Arie mengangguk dan membelai rambut Panjang Truddie dengan lembut. "Udah deh! Kalian tunggu dimuat aja gih! Truddie mandi dulu dan berganti baju! Biar segaran dikit."Katanya dengan sedikit ceria menyuruh Arie dan Ibunya menunggu diluar kamarnya.
Ibu Ning tergelak dengan lucu oleh sikap Truddie.
"Eh! Kamu ndak boleh gitu dong! Kamu lupa ya! Si Arie itu kan suami kamu! Masa iya sih dia kamu suruh menunggu diluar! " Sergah Ibunya lagi dengan masih tertawa. melihat kearah menantunya Arie yang hanya tersenyum penuh pengertian.
Truddie tersipu malu dan pergi berlari kearah kamar Mandi dan menutup pintunya dengan keras. Karena salah tingkah.
"Aku sudah siap! Yok kita cimon, "Ajak Truddie mulai terlihat lincah dengan kakinya yang memakai sneakers putih.
Sejenak Ibunya dan Arie berpandangan! Dengan heranTruddie tampak segar dan sangat sehat. pipinya yang kian berisi memerah alami dengan bibir basah dan sangat menggoda. Rambut lurusnya tergerai indah dibawahTopi pet berwarna hitam . Dengan memakai kacamata rayban hitam lebar menutupi matanya.
Kaos lengan panjang belang belang hitam putih dan jeans panjang berwarna hitam.
Truddie benar benar bagai remaja kecil yang sedang memasuki usia pubertas.
Sekilas tak ada yang tahu kalau Truddie sedang mengandung seorang anak diperutnya yang masih terlihat merata itu.
__ADS_1
Mereka berdua segera meluncur kearah timur. Dan Pak Bruno security dan merangkap Sopir sang Ayah saat ini diminta untuk mengemudikan mobil Arie.
Truddie dan suaminya duduk di jok belakang. Truddie sebenarnya tak nyaman pergi bersama Arie. Namun sang Ibu memintanya agar ditemani oleh sang suami yang tampan dan perlente itu. Truddie merasa Arie terlalu berlebihan dalam berpakaian sangat formal itu. Mengenakan Setelan kantor yang mahal hanya untuk membeli buku dan komik bekas sesuatu tempat kumuh yang berbaur dengan berbagai orang yang berasal sebagian besar darikelas bawah. Dan dilingkungan yang agak semrawut. Oleh karena itulah Pak Bruno juga diharuskan ikut bersama Truddie dan Arie sebagai pengawal mereka saat berjalan kearah tempat ramai itu. Orangtua Truddie sangat berhati hati menjaga Truddie yang pernah diculik diwaktu yang lalu.
Dan penculik itu bernama Sam!
Kini penculik itu benar benar telah menculik hati dan perasaan cinta Truddie.
Termasuk masa depan dan Semua harga diri Truddie yang telah dibawa Sam.
Dan Truddie benar benar terserang Stockholm Sindrom.
Truddie berjalan sambil memasukkan sebelah tangannya kesatu sisi celananya. sambil memilih milih buku dengan gaya santai.Tubuh mungilnya hampir lenyap ditengah keramaian pengunjung Bazar Buku lama itu. Dari kejauhan Pak Bruno dan Suaminya menatapnya dengan sesekali melambai kearah Truddie. Jarak mereka tak lebih dari lima meter.
Truddie tiba tiba merasa ingin mencari sebuah buku best seller lama berjudul "Seruni Merah Jambu" Karya Pearls buck.
Buku ini direkomendasikan oleh Cherly beberapa tahun yang lalu. Dan Truddie terpanggil untuk membacanya Disaat menjelang tidur diranjangnya yang sangat nyaman malam nanti.
Truddie melangkah kian menjauh dari kedua pria itu. Tanpa sadar. Truddie terus mencari cari buku langka itu pada susunan novel lama yang bertumpuk tumpuk dengan berbaris rapi. Kedua pria itu terlihat asyik mengobrol dikursi kayu dibawah pohon Cherry yang berdaun lebat membentuk para para rindang dengan suasana sejuk dibawahnya. Pak Bruto dan Arie merasa tempat ini aman dari orang jahat yang hendak mencelakai gadis sederhana dan berpakaian sopan seperti Truddie. Truddie memasuki gang sempit para penjual buku yang ikut dalam bazar besar itu. Dan Tiba tiba sebuah tangan menarik tangannya dengan keras dan menekan tubuhnya kedinding beton yang berada disisi toko/kios kecil penuh tumpukan buku yang bersusun hingga hampir keflapon toko kecil itu. Ternyata tempat ini adalah paling sudut dari kios yang berderet panjang itu.
Truddie terjajar kesudut dinding dengan wajah yang memucat dalam ketakutan. Tangan itu menekan pergelangan Truddie dengan keras. "Sakit. Tolong lepaskan tanganku, "Kata Truddie pelan. Mendongak keatas menatap sosok bertubuh tinggi didepannya. lorong luas beratap seng tinggi yang jauh disisi Truddie hanya berisi kardus kardus kosong dan penuh rak buku yang tak terpakai lagi. dengan ruangan suram tanpa penerangan itu tampak menakutkan.
Truddie kembali gemetar menatap lekat wajah yang ditutup hoodie hitam dan kaca mata hitam dengan masker yang lebar.
Truddie ingin berteriak saat Hoodie dan kaca mata hitam itu diturunkan oleh pemiliknya. Truddie lebih memucat dan melongo Bagai melihat Artis KPop Idolanya yang lagi hadir dipesta ulang tahunnya yang ke 17 tahun.
Namun wajah terkejut itu berubah muram bersimbah air bening dengan lirih memeluk tubuh tinggi kaku itu dengan penuh kerinduan yang terpendam.
__ADS_1
"Sam! Bawa aku bersamamu! "Bisiknya lirih. Karena Truddie masih mengira ini adalah mimpi.
Mungkin dia pingsan di bazar buku yang ramai ini dan sedang bermimpi bertemu Sam.