
Musim kemarau telah berlalu.
Digantikan oleh musim hujan yang basah.
Cherly mulai melupakan segala kesedihan yang telah menimpanya.
Dia mulai berlapang dada atas semua yang telah terjadi.
Tak ada kebencian seperti sa'at tak ada rasa penyesalan.
Bulan keempat sejak kehadirannya dikampung ini.
Dia mulai hidup dengan wajar . Tanpa mimpi dan tanpa bayangan.
Dia mulai berusaha melupakan semua tentang Barra. Mungkin namanya telah mulai terlupakan.
Dia tidak menyesali pamornya yang jatuh.Dia mulai takjub akan perutnya yang mulai membuncit sempurna.
Dia mulai merasakan tendangan kecil diperutnya.sepasang tangan kecil yang harus menyikut perutnya dari dalam.
Hujan mulai turun dengan deras! Angin menghembus kuat bagai tiupan dari mulut raksasa kearah jendela kamar kayunyabyang menghantam daun jendela hingga berdebam.
Dengan susah payah Cherly Bangkit kearah jendela. Berusaha menutupnya dengan lengannya yang kecil dengan beban berat diperutnya yang terasa menariknya kearah depan.
"Chers! Biar Bibi saja yang menutupnya, Berbaringlah! sebentar lagi Bibi Ramlah akan tiba dari pasar membawa minyak cengkeh dan minyak zaitun yang akan Bibi buat Ramuan untuk musim penghujan.Bumbu rempah rempah itu sedang Bibi jemur siang tadi, Tunggal diangin anginkan saja, Baru akan Bibi racik dan buat olahan hebat.
Selain tubuhmu yang tidak akan berubah bak perawan kembali , Tubuhmu juga akan sehat.
Perutmu tidak kram dan Tubuhmu akan bebas dari angin," Kata Bibi Erni panjang lebar. Sambil menutup jendela kamar Cherly. Sambil menggelar selimut diranjang Cherli.
"Bi! Cherly mulai sering ketakutan dan nafas Cherly jadi sesak!" Kata Cherly dengan mata berkaca kaca.
Dia rindu pada Ayah dan Ibunya, Terutama Pada Barra Suaminya.
Cherly menangis sambil berbaring. Semua ini sangat berat buat ditanggungnya seorang diri.
Barra! Sedang Apa Dia sekarang?
...****************...
__ADS_1
Nun jauh diseberang pulau disebuah desa yang sangat jauh.Pria itu merenung sendiri melalui hari demi hari yang dilaluinya bagai sebuah slide panjang yang manis dan yang kurang menyenangkan.
Barra tak habis-habisnya berpikir! Apakah seperti itu adanya, Seorang Wanita yang tengah mengandung anak pertama mereka harus dipisahkan dari Sang suami demi tubuh indah dan kesehatan.
Apakah berhubungan badan dengan isterinya adalah sebuah dosa Besar? Adat seperti apa yang tengah diyakini Cherly? Dan mengapa kakak iparnya Rosita juga ikut ikutan mendukung ide nyeleneh itu?
" Melamun lagi Barra?" Suara Maya terdengar dari arah pintu masuk.
Barra hanya terdiam dan berpura pura tak mendengar pertanyaan dari Maya.
"May! Mungkin Aku akan berangkat besok ke Jakarta.Aku harus menjenguk Istriku! Aku harus mencari dimana persembunyian Cherly.Mengapa semua mendukung kepergiannya dengan perut yang semakin membesar dan kesehatannya yang pasti semakin menurun."Katanya pelan seakan merenung tentang sesuatu.
Maya nenatap Barra dengan penuh kepedihan dan dengan mata berkaca-kaca.
"Pergilah Barra! Aku tak dapat menghalangi kepergianmu! Cherly adalah masa depanmu dan aku hanyalah seorang pecundang yang mengganggu kebahagiaan kalian." Kata Maya dengan sendu.
Barra datang mendekat dan mengelus kepala Maya dengan lembut.
"May, Maafkan aku! Seperti kesepakatan kita berdua. Jika dalam waktu tiga bulan aku tak akan dapat melupakan dirinya maka Pernikahan kita tak akan terjadi! Ternyata aku sangat mencintai Gadis kecil itu! Lihatlah aku! seakan hilang dari pribadiku yang sebenarnya. Kinerjaku dalam empat bulan terakhir telah menurun karena memikirkan tentang Cherly dan calon anak kami! Hatiku sangat sakit dan aku berpikir aku adalah seorang Bajingan yang telah menelantarkan Istriku sendiri."Kata Barra dengan suara yang lemah.
Barra merasa dirinya tak pernah selemah ini
"Dan ini adalah bulan Ke delapan kehamilannya,.Aku seperti pria tengik yang tak tahu diri. Membuatnya hamil lalu pergi.meninggalkannya." Renung Barra kian merasa bersalah.
Mungkin Dua atau tiga Minggu lagi Cherly akan melahirkan karena usia kandungannya telah memasuki angka sembilan bulan.
Maya melihat kearah Barra dan melangkahkan kakinya menuju ke arah Barra. Mendekap kepala Barra kedadanya. Dan mengusap rambut Barra dengan pelan.
Barra hanya terdiam tak kuasa berkata apa apa.
Wanita ini sangatlah baik dan selalu menjaga segala keperluannya sejak kedatangan mereka secara bersamaan.
Dan itu telah menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat terjalin diantara mereka.
Namun Barra merasa perasaan terhadap Maya adalah rasa sayang dan hormat kepada wanita yang sangat baik itu.
Tak ada nafsu yang menggelora. seperti rasa terhadap Cherly. Dia selalu ingin bersamanya dengan melewati hari dengan pertengkaran dan perang dingin.
Namun menguap tatkala tubuhnya yang keras bersentuhan dengan kulit Cherly yang selembut sutera.
__ADS_1
Cherly yang menjengkelkan dan sering memaki maki dirinya dengan bahasanya yang sangat Buruk.
Malah membuatnya sering tersenyum dan tertawa terbahak bahak sa'at mendengar humor garing Cherly yang tak lucu!
Perlahan Barra melepaskan pelukan Maya dan menatap kedalam mata Maya yang seakan meredup.
Menyentuhkan Bibirnya kepermukaan bibir Maya yang serasa dingin dan bercampur airmata.
Barra tak dapat menikmatinya seperti sa'at menikmati bibir Cherly yang laksana marsmellow manis yang sangat lembut melumer dimulutnya.
"Barra! Sebaiknya kau kembali pulang! Dan ceraikan Cherly secepatnya!"Suara itu seakan menggelegar tatkala Barra melihat wajah sang kakak, Ali Ramadhan berada diambang pintu dengan raut wajah yang sangat lelah dan menyedihkan!
"Kak! Kenapa Kak Ali tak memberi Khabar kalau akan datang hari ini?"Tanyanya sambil melepaskan Maya dengan pelan.
Ali tersenyum Pahit sambil membuka sepatunya dan Duduk dengan rasa lelah dan penat.
"Kalau aku datang memberi kabar terlebih dahulu,Maka aku tak akan pernah bisa menemukan perbuatan yang tidak senonoh mu dengan kekasihmu itu Barra! Sekarang kalian akan menikah saja . Jangan menumpuk dosa! Kalian berdua adalah manusia biasa dan wajar melakukan kekhilafan. Tapi kalian adalah dua tokoh panutan semua warga Masyarakat dan ini tak bisa dibiarkan. Dari pada kalian bermaksiat lebih jauh , Maka selagi aku disini! Kalian akan menikah! " Kata Ali Ramadhan.
Membuat Barra terhenyak kaget .
Sementara Maya hanya menunduk diam dengan gemetar, Antara takut dan malu.
"Tapi! Bagaimana dengan Cherly Kak, Aku telah memutuskan bahwa aku kan menyusul ketempatnya Kak! Aku sangat mencintainya kak!"Kata Barra dengan tegas Tanpa rasa takut.
"Jangan menyebut nama gadis malang itu lagi Barra! Kau bahkan tak pantas menyebutkan namanya lagi! Aku telah mengetahui segala kelakuan antara kau dan Dokter Maya! Cherly berusaha membelamu didepan semua keluarganya agar namamu tidak menjadi buruk! Cherly beralasan akan pergi kepulau untuk mengikuti therapi kesehatan dan mental untuk menyiapkan diri menjadi seorang Ibu, Yang diberi perawatan dari Bibinya! Apa ini wajar? Tidak! Cherly telah tahu semuanya. Tentang kelakuan burukmu! Namun dia takut, Penyakit jantung Ayahnya akan kambuh karena merasa bersalah telah menjodohkan pria brengsek sepertimu dengan Putri kesayangannya yang cantik jelita itu. Cherly juga takut kalau Aku dan Rosita akan membencimu. Oh...Cherly yang malang menyembunyikan kejahatanmu dengan menyiksa dirinya sendiri! Jangan! Barra! Jangan lagi! Kau jangan lagi datang ketengah tengah kebahagiaan kami dan diantara kesedihan yang telah kau buat."Kata kata Ali Ramadhan sangat menusuk hati Barra.
Ali adalah orang yang paling disayangi oleh Barra. Dan lelaki itu telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk kebahagiaan Barra.
Dan Kini secara langsung mendepaknya dari keluarga besar mereka milik Barra satu satunya.
Cherly dan juga calon anaknya.
"Kalian menikahlah! Dan tinggallah disini selama lamanya. Bahkan sampai kau mati! Jangan pernah Lagi menunjukkan Wajahmu didepan kami lagi! Aku akan menghubungi Kepala Desa Zulqarnain itu dengan segera, Nanti malam kalian akan menikah! Dan Kau telah mati dihati kami, Walau aku akan menjadi saksi wali nikahmu! Setelah itu hubungan kita tak ada apa apa lagi Barra! Anakmu kelak sebagai penggantinya." Kata Ali Ramadhan sambil mengeluarkan ponselnya. Dan menghubungi Kepala Desa dengan cepat.
Hari mulai senja sa'at Barra menatap kearah langit dan berharap dia lenyap kedalam Mega yang memerah, Dan dilupakan oleh orang orang!
Dan Barra merasa hidupnya akan berakhir.
Ali Ramadhan tak mengerti apa yang tegah dirasakan oleh Barra saat ini.
__ADS_1
Kalaupun dia akan mati, Hanya satu keinginannya, Yaitu bertemu dengan Cherly yang sangat dirindukannya dengan Anaknya yang kini akan terlahir kedunia sesaat lagi.