Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Kala Mendung Tiba.


__ADS_3

Deraian daun yang berguguran jatuh terurai berserakan dijalankan kasar berlapis kerikil batu kali menuju kearah gapura rumah cantik Cherly dan suaminya.


Suasana yang sejuk diantara cahaya matahari siang pada minggu yang cerah ini membuat Cherly dan anak anaknya pergi berbelanja untuk satu minggu kedepan. Sekalian mampir ketaman kota.


Beberapa hari lalu Paquita mengatakan sangat ingin bermain ayunan Disaat menunggu Ibunya (Cherly) berbelanja.Ditaman bermain itu sangat aman karena banyak para Ibu Ibu dan anak anaknya bermain dengan bebas. Dan beberapa Satpam yang berjaga jaga disekitar taman.


Semua asisten rumah tangga sebanyak empat orang ikut serta. Kecuali Banta. Anak lelaki muda itu pergi bersepeda dengan teman temannya pagi pagi sekali ke daerah perbukitan dan melewati jalan lintas perkebunan teh dibagian Barat kota.


Kini rumah terlihat sepi.


Bagian dalam rumah yang sunyi itu terlihat warna kuning lembut keemasan menjuntai tirai jendela besar yang melambai tertiup angin siang yang terasa hangat namun teduh dirindangnya pepohonan disisi samping dan didepan rumah.


Beberapa pria asisten rumah tangga berdiri disamping rumah dekat perdu liar yang mulai merambat dan pria itu tampak sedang menggunting akar akar liar semak pohon hias yang belum diurus dalam minggu ini.


Beberapa Bougenvil dan Nusa Indah yang memiliki banyak cabang. Setiap minggu akan dipotong dan dirapikan sedemikian rupa.


Gemerincik air dari pancuran semen dipadu Mozaik Porselen bercat hitam dengan cerobong kecil berisi air yang jernih itu memancar dengan buih kecilnya diatas permukaan kolam yang berukuran cukup lebar berisi beberapa ikan Koi dengan kombinasi warna emas dan berwarna warni hitam dan merah terang. Tampak berlari mengejar satu dengan yang lainnya. Bermain dan melik liku sisir tan jernih itu.


Jam dinding menunjukkan angka sebelas lebih dua puluh menit.


Suasana damai itu tiba tiba berubah seketika saat suara keras yang datang dari ruang kerja Barra.


"Jangan pernah berani menginjakkan kakimu dikantorku atau datang kerumahku Maya! Kau akan menyesal! Jika Cherly sampai tahu !semuanya Kupastikan kau dan anakmu akan lenyap selama lamanya, "Kata Barra menggelegar. Mengejutkan Banta yang baru pulang dari olah raga bersepeda dengan teman temannya. Yang tergabung dalam Club Olahraga disekolahnya.


"Apa? Dia bukan anakku Maya! Apa aku perlu melakukan tes DNA?" Kata Barra penuh penekanan.


"Kenapa harus marah? "Tanya Banta Singkat. Mengerutkan kening Sambil mengusap keringatnya dengan handuk kecil. yang diambil dari ransel dibelakangnya punggungnya. Peluh yang masih mengalir pelan dari keningnya yang masih mengenakan topi sport yang berlukiskan logo Olah raga dunia. Membuat nafas Barra terhempas pelan. Namun dapat menguasai emosinya yang tadinya bergejolak hebat.


Perlahan tatapannya melembut kearah sang Putra tampan.


"Kamu sudah pulang! " Jawabnya lebih mirip suatu pertanyaan. Dan tak menjawab dengan tepat pertanyaan dari putranya.


Membuat Banta mendengus tak senang. Barra tahu!Anaknya tak suka jika lawannya biaranya balik bertanya, Sangat persis dengan tabi'at Sam


"Hhh! Bukan jawaban itu yang kuinginkan, " Kata pelan Banta dengan dingin.


Sambil bangkit dari kursinya menuju kebelakang. Membuka Mesin pendingin. Sebelum membersihkan dirinya.


Barra mengangkat bahunya. Dia Sadar dengan kekecewaan Banta.


Banta yang yang lebih sering berkata datar. Berbicara seadanya dan lebih sering bersikap Acuh terhadapnya.


Terkadang Barra seakan akan merasa sedang berbicara dengan Sam! Banyak persamaan sifat dua pria yang berbeda Generasi itu.


Kadang Barra berfikir . Mungkin Tuhan dulu ingin memberikan Banta dirahim Truddie melalui benih Sam. Dan malah tersesat keRahim Istrinya Cherly! melalui benihnya. Barra melihat kian hari sifat Banta lebih mirip Sam. Dan Sampai hari ini Banta kerap berhubungan dengan Sam melalui Gawai canggihnya yang dihadiahkan oleh Sam tepat dihari Ulang tahunnya yang ke delapan. Sam memang mendidiknya dengan ekstrem dari kejauhan. Banta lebih sering menuang uneg unegnya kepada Sam. Dan Sam selalu memberi masukan yang aneh dan dinilai sangat kontroversi. Anehnya Banta mengikuti apa yang diinstruksikan oleh Sam dengan senang hati. Ini sangat buruk!


Sehingga anak itu sangat kaku dan dingin sama seperti pribadi yang dimiliki Sam.


Terlepas dari sikap Antagonis Banta.


Barra tak peduli. Barra malah senang Melihat Banta.Bukankah Barra dapat menaklukkan sifat mereka dengan mudah dengan caranya?

__ADS_1


Yang jadi Fikiran Barra saat ini adalah Banta


yang mungkin saja mendengar Percakapan Barra dan Maya lewat telepon barusan. Barra sangat takut Banta akan membencinya.


Membuat Barra kian geram kepada wanita tetap ngotot ingin nekat mendatangi Barra kerumahnya atau kekantor nya setelah 8 tahun pergi tanpa khabar.


Barra benar benar kaget saat Maya mengatakan bahwa poto bocah lelaki berusia 8 tahun itu adalah darah daging Barra. Sedangkan Barra merasa kalau dia dan Maya bisa dihitung beberapa kali melakukan hubungan badan. Dan seingat Barra selalu membuang spermanya diluar tubuh wanita itu . Saat berhubungan dengan Dokter cantik mantan istrinya itu Barra selalu berfikir bahwa wanita itu adalah Cherly.


Dan Tak ingin terseret lebih jauh dengan drama wanita itu. Barra juga tak mau mengklaim anak laki laki Maya Adalah anaknya.


"Aku harus membuat tes DNA anak itu! Akkh!Aku tak mau mengakui begitu saja kalau anak itu adalah anakku! " Katanya membathin.


"Cherly tak boleh tahu akan hal ini! Aku tak ingin menyakitinya seperti dimasa lampau, " Janji Barra kembali.


Barra benar benar tak habis Fikir. Mengapa wanita wanita itu selalu ingin menghancurkan mahligai indahnya bersama Cherly. Tak bilakah melihat Keluarganya bahagia?


Lagi lagi matanya tertumbuk kepada Email dinasnya.


Dia memang mengunggah Emailnya ke media sosial demi kepentingan kerja. Tidak untuk bermaksud mengundang wanita dari masa lalunya kembali datang menjenguknya.


Dimana saat kebahagiaan keluarganya kian lengkap?


Namun justru. Mengapa ada poto masa lalunya bersama Zheba? Terpampang jelas dalam keadaan pose yang teramat mesra.


"Maya! Zheba! Maya! Zheba! "Teriaknya frustrasi.


Barra tersandar kedinding ruangan yang terasa kian dingin. Dia merasa kalah telak !telah membuat masa depannya kian suram dengan kehadiran kedua nama tersebut.


"Apakah didunia ini tak adalagi pria yang lain? Apakah didunia ini hanya dihuni olehku? Sehingga mereka tak pernah berhenti mencoba untuk mengganggu ketenteraman hidupku? "Tanyanya bagai kehilangan akal.


Dan Disaat Barra berusaha berperang mengalahkan kemelut hidupnya dan rumah tangganya Dibelahan tempat lain seorang pria dengan memakai jaket panjang berwarna hitam dengan kaca mata hitamnya . Membingkai wajah tampan nan rupawan menuju kearah taman bermain. Kakinya yang beralas mahal itu kian mendekati pasti kesatu tempat. Dititik koordinat yang tepat.


Beberapa pasangan bersama anak anak mereka menoleh kearah pria tampan berpakaian necis dan terlihat bagai iconik film film Gangster dari Jepang.


Lengkap dengan dua orang pengawal pribadi dibelakangnya.


"Mama! Lihat Om tampan berpakaian serba hitam itu! Bukankah Itu keren? "Tunjuk seorang anak laki laki dengan pandangan memuja kearah pria berstelan hitam tersebut.


Sedangkan Sang Ibu yang tak sadar hampir tersandung ketrotoar jalanan pembatas taman bertembok serendah lutut.


"I.. ya! Oh apakah taman bermain ini telah berubah untuk tempat Shooting film Mafia Asia? " Rutuknya dengan malu saat seorang pengunjung taman tertawa menutupi bibirnya dengan lima jarinya kemelut. Melihat si Ibu muda yang hampir jatuh terjengkang mencium rumput taman yang menghijau.


Karena terlalu khusyuk menatap sang pemain Bak Gangster berkas hitam panjang selutut.


Langkah panjang itu tepat menuju kesatu titik dimana seorang anak perempuan yang sangat cantik tengah berayun ayun dengan pelan sambil memeluk boneka Panda kedadanya dengan sebelah tangannya.


Sementara dimulut mungilnya tersampir lolipop berwarna merah hingga membuat bibir tipisnya ikut memerah.


Tangan panjang itu terhenti ditali Ayunan yang mengayun pelan. dan akhirnya berhenti dengan tepat digaris tengah tempat kaki mungil itu menapak diatas rerumputan hijau.


"Hallo! Paquita! Apa khabarmu! "Bisik suara ditelinga sang gadis kecil. Yang langsung menoleh kearah belakang.

__ADS_1


Tepat menatap ke manik hitam yang berkilat dengan aneh. Seraut wajah yang sangat dingin berbalut ketampanan yang sempurna.


Hitam! Tampan! Takut!


Tiga kata itulah yang mewakili dalam fikiran Paquita saat ini.


Sejenak gadis kecil itu mengerjap cantik dengan bulu lentik matanya yang membingkai manik coklatnya yang bening.


"Dia sangat mirip dengan Cherly! Dia sangat cantik. Dia milikku! " Kata pria berbaju hitam itu yang hanya terucap didalam hati.


"Om! Si. siapa? " Tanya Paquita terhadap karena takut.


Tangan mungilnya yang berjari lentik dan indah tampak berpegangan kuat diterali besi ayunan sedangkan sebelah tangannya memeluk boneka putih hitam itu dengan erat.


Dirasanya mengatakan kalau dia harus berhati hati. Alarm berbahaya bagai bunyi lonceng didalam benak kecilnya.


Senyum menawan dari Pria itu tampak menakutkan bagi Putri Kesayangan Barra tersebut.


Wajah itu menunduk kian dekat kewajah cantik Paquita. Membuat gadis kecil itu menjauh dengan spontan.


"Aku adalah seseorang yang mencintaimu di masa lalu! Bahkan jauh sebelum kau terlahir kedunia ini!" Bisiknya kembali dengan pelan walau terasa sangat mengerikan ditelinga Paquita.


Mulutnya tercekat dengan mata membulat sempurna saat tangan bersarung hitam dari arah depan menutup mulutnya sejenak tanpa terlihat dengan gerakan cepat bagai pemain akrobat dengan memakai kassa tipis. dan pandangan Paquita menjadi Kabur. Dengan tubuh serasa melayang setengah sadar.


Dan dengan langkah ringan Pria satunya menarik lengan Paquita dengan lembut. Paquita berjalan dengan pandangan kosong! dalam diam sekilas tampak normal.


Kaki kecilnya yang memakai sepatu Flat dengan kaus kaki Mengikuti pria satunya kearah lain. kedua lelaki itu menuju kearah yang berlawanan. Paquita terus berjalan digandeng oleh pria itu. Yang bertindak seolah olah pria itu adalah Ayahnya.


Langkah kaki mereka tampak wajar dan tidak tergesa.


Pengunjung lain tak ada yang curiga.


Sementara Baby sister yang masih bersama Cherly,Dean dan Amaliah masih membeli Es krim di Depot Es yang tak jauh dari Taman.


Dan Kini rombongan kecil Istri Barra tiba ditaman.


"Pachi! Cepat datanglah kemari gadis cantik! Atau Es krim mu akan mencair! "Panggil Cherly menatap Ayunan yang kosong. Perasaannya jadi tak menentu.


Terbayang olehnya!


Beberapa banyak musuh Barra dari masa lalu yang dapat mencelakakan keselamatan keluarga Barra.


Dan kini Putrinya lenyap.


Cherly tak yakin Paquita pergi bermain keempat lain.


Terlebih saat Cherly melihat Lolipop Putrinya terjatuh dan tertinggal dibawah ayunan diatas rerumputan hijau. Bagai terjatuh dengan cepat.


Dengan wajah memucat dan sekuat tenaga berteriak.


"Tolong! Putri ku diculik!

__ADS_1


__ADS_2