Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Pria Itu Bernama Malik.


__ADS_3

Cherly melangkah dengan setengah berlari kearah ruangan Neo dan sesekali menoleh kebelakang seakan akan ada yang menerornya dari arah belakang.Rambutnya yang kini tergerai dibelakang pundaknya jatuh dengan bebas.


Setibanya didepan pintu dicegat oleh Ivone."Apa kamu bisa berpenampilan lebih profesional saat Pak Neo sedang menghadapi seorang rekan bisnisnya didalam?" Katanya dengan lirikan mata mengarah ke Blazer hitam Cherly yang terkena tumpahan bedak tabur yang tak terlihat oleh Cherly


Dengan gerakan terburu buru Cherly mengelap Blazernya dengan tissue.


"Rambutmu persis anak sekolahan yang baru pulang dari Clubbing! Tolonglah bersikap profesional disa'at kamu bekerja dengan tuntutan penampilan yang menarik bukan bergaya bagai model yang kalah kontes,"Sindirnya dengan tajam. Membuat Cherly hampir melabraknya.


Dengan mengatupkan bibirnya Cherly masuk keruangan Neo.


Cherly berjalan sambil menunduk! Setengah rambutnya menutupi wajahnya yang lesu.


Tanpa mengenakan make up apa apa.


Bahkan Lipgoss yang tadi dipoles kebibirnya telah habis dimakan oleh lelaki brewok dengan wajah tertutup penuh bulu!


"Hai Cherly! Kenalkan ini Tuan Malik! Pemilik material kayu yang berasal dari pulau Kalimantan itu. Beliau baru satu tahun pemasok glondongan itu. Namun telah sukses besar sebagai pemasok lima besar di Perusahaan kita!"Puji Neo memperkenalkan seorang Pria berbaju lebar dengan mantel bulu yang tebal dan panjang diatas celana Jeans kumalnya yang lusuh. Disana sini terdapat koyakan kecil.


Dengan sepatu kets Gunung yang berlumpur. Mengenakan Topi pets coklat kulit.


Chers mengangguk sambil melihat wajah lelaki yang membelakanginya itu.


Dengan langkah perlahan Chers mendekat memberi salam santunnya kearah lelaki besar tersebut.


Namun tiba tiba mulutnya ternganga kearah lelaki yang tampak cuek dengan wajah menyamping. Kaca mata hitam itu sukses menutupi wajahnya yang tertutup bulu tebal itu.


Kaki Cherly terasa berat dan wajahnya yang polos tampak pucat.


"Oh Tuan Malik! Kenalkan ini Cherly Calon istri saya merangkap Sekretaris pribadi saya. Dia masih berstatus mahasiswi disebuah Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta.


Kami akan bertunangan dua bulan lagi. Pas disaat perayaan Ulang Tahunnya yang ke 22," Terangnya kepada pria besar itu Dengan bangga.


Pria itu membuka kaca mata hitamnya dengan mata menyorot tajam kearah Cherly.


Senyum dibibir yang tak terlihat itu membuat wajahnya tampak bertambah seram.


Cherly bergidik membayangkan peristiwa yang baru saja terjadi diruang rias.


Lelaki itu tak menanggapi perkataan Neo. Dia hanya diam.


"Tuan Neo saya mohon diri, Dan mengenai material itu biarkan Samsul yang mengurusnya."Katanya dengan suara berat. Cherly terlonjak mendengar suara itu. Suara yang sangat akrab dengan dirinya dimasa yang telah lalu.


Pria itu bangkit dan menyalam Neo dengan tegap.


"Senang bertemu dengan anda lagi Tuan Malik,"Kata Neo penuh semangat. Disambut lelaki itu dengan Anggukan.


Cherly berjalan kearah kursinya tanpa semangat.


Lelaki itu menghilang dibalik pintu disambut oleh dua orang security yang mengantarnya kelantai bawah.

__ADS_1


"Dia pria misterius yang pendiam. Dia sangat hebat dan sangat ambisius, Cerdas dan bersahaja," Puji Neo.


Cherly hanya diam dengan hati berkecamuk hebat.


"Neo! Bisakah aku keluar sebentar keruangan Truddie? Ada yang perlu kubicarakan dengannya,"Kata Cheely pelan hampir tak terdengar.


"Oh Silakan Chers, Apa yang tidak buatmu my Babe!"Kata Neo dengan pandangan lembut.


Neo mencari sesuatu dari laci mejanya dan memanggil Ambil sang resepsionis kantor.


"Siapkan mobil Pukul 17.00 Nanti Bram! Saya akan keluar bersama Cherly!" Perintahnya berwibawa.


Cherly berjalan dengan setengah berlari mengejar lelaki bercambang Bak rumput Jepang yang lebat itu!


Melintasi Lalu lalang orang yang sibuk dengan urusannya masing masing.


Cherly terus mengejar pria itu yang berjalan menuju kearah belakang kantor kearah Basement.


Dan ketika lelaki itu telah hampir naik kendaraan pick up box besar beserta seorang pria bertubuh kurus tinggi dengan mata cekung mengerikan.mengenakan topi sport putih menatapnya tajam.


"Barra! Kamu Barra kan?" Tanyanya dengan suara tercekat.


Keringatnya mengalir dikening.


Dia sendiri heran dengan keberaniannya.


Mengapa dia harus mengatakan pria itu adalah Barra?


Lelaki itu hanya diam, Masuk kedalam mobilnya dan menyuruh Sopirnya melajukan mobil.


"Barra! Brengsek!! Kau pikir aku tak mengenalimu? Brengsek! Kau lelaki ******! Tak tahu diri! Lelaki Bangkotan tua bau tanah! Pengkhianat! Persetan dengan penyamaranmu! Aku benci kau menciumku! Najis! tau nggak! "Teriaknya hampir gila.


Dan lelaki itupun melajukan kendaraannya meninggalkan Cherly dengan teriakannya.


Lelaki itu hanya menatap kedepan dan berkata kepada temannya.


"Perempuan itu kadang emosional dengan seseorang dan meneriaki seseorang yang dianggap seseorang yang telah mengecewakannya," Katanya pelan.


"Iya, Pak Malik dan mungkin seseorang itu adalah seseorang yang duduk di sampingku sa'at ini," Katanya tanpa ekspresi.


Dan lelaki brewok itu hanya terdiam.


"Chers! Aku mencintai kamu dan anakku! Namun kamu juga harus bahagia bersama Neo yang sangat mencintaimu,"Katanya dalam hati .


Hatinya sangat sakit mendengar teriakan istrinya dan sangat merindukan anaknya.


"Sam! Kita menuju Perwira 11 Lokasi kediaman Keluarga Hermawan dan Kakakku, Ali Ramadhan,"


...****************...

__ADS_1


Dari kejauhan Barra menatap anaknya yang sedang membawa bola berukuran besar yang berwarna biru didadanya.denhan dengan langkahnya yang lucu dan pendek pendek.


Bersama seorang wanita berusia sekitar 25 tahun yang berbaju biru bertepuk tangan menyemangati Banta Malik Ramadhan yang sedang bermain bola.


Barra menatap anaknya dengan takjub.


Sebelum ini Barra telah banyak melihat photo photo anaknya yang diambil lewat ponsel Samsul sang Sopir. Yang merangkap Asisten Barra.


Samsul sang pria berwajah dingin mirip zombie itu.


Samsul adalah seorang pria kejam tanpa ekspresi dan tidak memilki hati nurani sebagai manusia.


Dia telah melanglang buana dengan catatan hidupnya yang kelam.


Samsul Sering disebut dengan sebutan "Sam" Yang tak pernah tertawa dan tak pernah terlibat percintaan dengan seorang wanita.


Bertubuh kurus tinggi dan berambut lurus ,Sangat licik dan lihay. Memiliki 1001 strategi untuk melindungi diri dari orang orang yang berusaha mencelakainya.


Barra bertemu dengannya disebuah Kasino besar, Saat Pemuda berusia 34 tahun itu mencoba melarikan diri dengan membawa sejumlah uang hasil spekulasi curangnya disebuah pusat perjudian.


Mereka bertemu dan menjalin sebuah kebersamaan dengan persahabatan yang unik dan jarang berinteraksi dan berkomunikasi seperti layaknya persahabatan pada umumnya.


Dengan secepat kilat Pemuda Kurus itu melompati pagar dan menuju kearah pengasuh itu dengan berjalan santai namun waspada.


"Jangan berteriak! Dan jangan bilang pada siapapun, Kalau lelaki itu ingin bermain dengan anak kecil itu sejenak." Katanya dingin. Dan pengasuh itu menganggukkan kepalanya dengan ketakutan. Dan duduk didekat lelaki itu dengan gemetar.


Barra mendekati putranya yang menatapnya dengan penuh keheranan.


Namun sama sekali tidak takut kepada Barra.


Yang datang membawa tali temali dan menjalinnya didepan anaknya. Membuat anak lelaki tampan itu takjub dan mendekat kearah Barra. Dan perlahan duduk dipaha kekarnya yang ditepuk oleh anaknya pelan. Sambil tertawa memegang temali yang saling mengait membentuk jaring, Persegi dan banyak tema lainnya.


Anak itu berbicara padanya dalam bahasa yang tak jelas! Membuat Barra merasa lucu tersenyum dibalik kumisnya dan mengelus elus kepala sang anak.


Mencium ujung kepala Banta Malik dengan penuh haru.


"Tinggallah disini bersama Ibumu Nak! Ayah akan datang sesekali menjengukmu dan memantaumu dari kejauhan.


Tak akan kubiarkan satu orangpun menyakitimu kelak," Janji Barra dalam hati.


Setelah beberapa menit melepas kerinduan dengan putranya . Kedua lelaki aneh itu menghilang dengan mobil box besar itu. Dan Banta Malik dibawa memasuki rumah dengan cepat.


"Aduh! Banta Sayang! Air mandimu yang hangat itu hampir mendingin karena kelamaan bermain diluar,'Kata Bibi Erni mengambil Banta Malik dari gendongan pengasuhnya yang berwajah pucat Dengan tangan yang sedingin es.


Sementara dipos gardu luar. Kedua satpam yang sedang berjaga mengusap usap matanya dengan ekspresi mengantuk.


"Huh. Mengapa aku tiba tiba tertidur pada jam segini, Mata yang kollaps," Katanya dengan heran . Melihat kearah sang teman yang sedang tertidur pulas .


Dia melihat sekilas kearah air mineral yang diberikan oleh seorang pria kurus berikut beberapa batang rokok yang mereka isap. berasal dari pemuda berwajah dingin itu.

__ADS_1


Seperti terhipnotis mereka memakan dan menggunakan beberapa media makanan dan rokok itu sehingga membuat mereka terkapar sejenak.


"


__ADS_2