Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Apa Yang Kau Cari Zhe!


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu! Semua masih terasa asing bagi Cherly. Dan Bibinya Erni telah kembali ke Jakarta.


Diantar oleh Barra dengan dua orang temannya.


Tak terdengar apa apa dilembah ini selain suara mesin pemotong kayu dikejauhan beradu dengan suara jangkrik rimba dan serangga hutan lainnya saling berebut dengan bunyi dan irama yang berbeda. Bahkan terdengar suara sebagian suara serangga itu berbunyi bak sirene kebakaran atau suara mesin yang kekurangan energi. berdenging menembus gendang telinga Cherly.


Suara burung Burung yang aneh yang belum terdengar oleh Cherly seumur hidupnya.


Yang terdengar hingga jauh malam.


Beberapa orang pekerja terdengar bermain gaple hingga lewat tengah malam. dibawah penerangan Lambu yang bermesin diesel itu. Mesin raksasa itu terdengar berdengung ribut dari arah belakang rumah. Namun anehnya! Sang anak sama sekali tak terganggu dengan suara bising itu.


Barche' terlihat tidur menelungkup dengan gaya bebas.


Barra masih terlihat membolak balik jurnal bulanan dengan melihat dengan teliti rubrik Indeks saham hari ini.


Cherly menatap suaminya yang duduk tak jauh dari ranjang kayu mereka.


"Barr! Kamu capek ya!" Katanya sambil memutar mutar jemarinya didaster bercorak batik halusnya.


"Hm,"Sahut Barra pendek.


"Barr Aku jelek kan?Coba lihat! Kulitku mulai kasar! Dan mulai kusam! Barr! Kulihat kau mulai tak tertarik Lagi padaku!" Kata Cherly pelan sambil menunduk.


Barra tak menanggapi kata kata itu,Dia hanya diam dan asyik dengan Majalah tebal itu.


Dengan kacamata minusnya.


Cherly kesal dan menggigit bibirnya sendiri dengan gemas.


Ketukan dipintu depan sayup sayup terdengar olehnya.


"Siapa yang datang bertamu malam malam begini,"Kata Barra setengah mengeluh.


Ternyata Pak Joy yang telah lebih dulu membuka pintu depan itu dengan siaga penuh.


Sam!


Berdiri dengan gagah didepan pintu dengan kemeja lengan panjang berwarna variasi hitam putih dipadukan dengan jeans hitam yang sangat serasi ditubuh tinggi itu.


Tanpa syal atau Scarf seperti biasanya.


Cherly tiba didepan Sam dengan daster tipisnya dan dengan rambut tergelung dengan asal.


Meninggalkan juntaian rambut yang tak beraturan.


Sam menatap dengan aneh.


"Ibunya Barche'! Kau tampak berbeda,"Sapa Sam pertama kali membuka mulutnya.


Cherly Merengut masam.


"Ya Jelaslah tampak beda! Aku kusut! Kulit kusam! Jelek! Kau tak usah mengejekku Sam! Ada cermin yang menampilkan wajah jelekku ini! hingga suamiku tak berselera lagi terhadapku!" Ucap Cherly kesal.


Barra terdiam dan duduk dikursinya dengan santai.

__ADS_1


Menatap Sam dengan lekat.


Sam tersenyum tipis kearah Barra! " Aku tak mengatakan bahwa istrimu jelek," Katanya dengan wajah berseri.


"Apa wanita hamil selalu begitu?"Tanyanya lagi pada Barra sambil ikutan duduk disamping pria yang sangat pendiam itu. Dan sudah seperti saudaranya sendiri.


Barra hanya memiringkan kepalanya kearah Cherly Sambil menggeleng gelengkan kepalanya tak habis pikir.


Mengapa Cherly suka sekali berprasangka buruk padanya.


Juga kepada Sam. Yang barusan tiba kerumah ini.


menurut Barra Cherly tetap cantik dan menarik.


Malah semakin cantik dengan perut dan dadanya yang mulai membesar.


Barra sengaja tidak terlalu sering menjamah Cherly karena Barra kasihan melihat istrinya yang terlihat lesu dan tak bertenaga siangnya. Sedangkan Cherly sangat sibuk dengan segala macam pekerjaan yang harus dikerjakan Olehnya bersama dengan Ibu Ani.


Namun Cherly jadi salah kaprah dan menganggap dirinya jelek.Dan marah marah sejak kemarin.


Membuat Barra bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Cherly.


Menatap Cherly dengan tajam bagai mata elang diraut wajahnya yang dipenuhi oleh bulu yang belum sempat dicukur karena sibuk.Mengerjakan berbagai hal disiang hati dengan para pekerjanya.


"Barr! Ak..Aku tak bermaksud..." Kata Cherly terputus sa'at tangan besar itu meraih tubuhnya dan membawanya masuk kedalam kamar.


Dengan pintu yang masih terbuka.


Cherly meronta-ronta digendongan suaminya.


Sam Mengangkat bahunya pelan dan dan berjalan pelan kearah pintu kamar dan menutupnya dengan penuh pengertian.


Sam merasa tak perlu mendengar rintihan dan erangan yang telah sering didengar olehnya.


Di apartemen mereka sewaktu menculik Cherly diwaktu yang telah berlalu.


...****************...


Maya selesai melayani dua orang pasiennya yang masuk secara bersamaan dengan keluhan ringan yang berbeda.


Sejak kedatangannya kedesa ini.Ketakuyan akan obat medis dan jarum suntik sudah mulai berkurang.


Para penduduk berlomba lomba datang ke Puskesmas walau sekedar Pos Yandu atau suntik Kontrsepsi.


Anak anak yang terserang cacar air tidak lagi berobat rumah dan diberi Baluran daun daunan berwarna hijau sehingga anak anak yang sakit itu tampak bagai alien hijau seperti di film animasi Hotel Transylvania.


"Bu Dokter! Ada yang ingin bertemu!" Kata asistennya yang bernama Suster Nana.


"Iya! Aku berkemas dulu! Tunggu dilobby!" Jawab Maya Sambil mencuci tangan dengan cairan Disinspektan.


Juga membasuh wajahnya dengan foam wajah yang selalu tersedia dikamar mandi.


Ari! Sang asisten ruangannya membereskan stetoskop dan alat alat lainnya dari atas meja.


Menyusunnya kekotak dan memasukkan kedalam lemari kaca besar disisi Meja periksa Maya.

__ADS_1


Maya mengganti bajunya dengan baju yang dibawanya dari rumah. Membuang masker yang dipakainya kedalam box sampah. Menggantungkan baju tugasnya dikapstok dekat kamar ganti dekat pintu kamar mandinya.


Mengoleskan sedikit Compact dan lipstik berwarna burgundi dengan tipis.


Menyisir sekilat rambut sebahunya dengan rapi, Sehingga wajahnya tampak cerah dan Ayu disiang itu.


Dengan perlahan melangkah menuju Lobby.


Siapa itu? Pikirnya dengan bertanya tanya.


Wanita yang membelakanginya dengan mengenakan baju berwarna hijau Tosca yang membalut tubuhnya yang terlihat indah disisi kaca jendela menatap kearah jalanan.


"Selamat Siang! Ada keperluan Apa Mbak?" Sapa Maya dengan pelan.


Membuat wanita itu berbalik dengan wajah tersenyum manis.


Cantik! Rasa rasanya Maya pernah melihat wanita itu! Tapi dimana?


"Hai Maya! Kenalkan saya Zheba! Kamu cukup memanggilku dengan sebutan Zhe saja,"Kata Zheba mengenalkan dirinya.


Maya sudah menebaknya! Wanita ini seseorang yang pernah dikenalnya.


Wanita yang berasal dari masa lalu Barra! Suaminya. Maya menjadi murung,Wanita ini mengingatkan dirinya pada Barra yang selama ini berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya walau sangat sulit Baginya.


"Aku telah menemukan dimana "Suami" mu Barra berada!" Katanya to the point.


Maya terjengit sambil mengerutkan keningnya .


"Kalau pun kau tahu! itu tidak akan berguna Zheba! Barra mungkin telah berbahagia dengan wanita pujaannya yang bernama Cherly itu! Aku sangat mencintai Barra seperti halnya dengan dirimu! Tapi Kita hanyalah sebuah takdir yang mengiringi langkah Barra, Dan sebagai pelengkap cerita didalam hidup Barra! Jika kita memaksakan kehendak kita agar terus bersama Aku takut kita akan kecewa,!"Kata Maya menerawang keluar.


Melihat kearah kaki pegunungan yang memagari desa mereka. Sebaris merpati melintas terbang, Seakan membawa terbang semua harapan dan impiannya hidup bersama Barra.


Zheba berjalan mendekat kearah Maya dan menatap Maya dengan lekat.


"Kau kalah sebelum kompetisi dimulai! Kau lemah! Kau seorang istri yang masih sah secara hukum, Kau tidak menggugat dan tidak berniat untuk bercerai darinya. Sehingga masih berstatus sebagai istrinya. Ayo bersama sama menghancurkan Wanita serakah itu! Dia telah merebut semua kebahagiaan kita! Aku merelakan Barra agar menjadi milikmu! Setelah wanita itu lenyap dari sisi Barra! Kau tahu? Cherly itu meraih Barra dengan segala cara! Meraih keluarga Barra sebagai senjata agar menyatukan dirinya kembali dengan Barra.Aku tahu! Kalau Barra masih sangat mencintaimu! Seandainya wanita ****** itu tidak muncul lagi Barra pasti menjadi milikmu!"Bisiknya meyakinkan Maya yang tampak takut untuk memulai sebuah permainan yang diskenariokan oleh Zheba.


Maya sangat merindukan Barra namun takut untuk melangkah sejauh itu.


"Apa kau mau menemani aku menuju ketempat Barra? Apa kau yakin dia masih mencintaiku? " Bisik Maya sendu. Sambil menatap Zheba.


"Hmmm Aku yakin percayalah padaku Maya, Kau wanita baik yang sangat dihormati Barra, Kalian pernah saling menyukai dan pernah tinggal bersama, Aku yakin Barra masih mengagumi dirimu seperti dulu," Dorong Zheba dengan bersemangat.


"Barra kini telah menjadi seorang Pengusaha yang sangat sukses, Dia Pemilik tanah perkebunan yang sangat luas. Juga memiliki Banyak uang yang tidak terhitung dibeberapa Simpanan rahasia. Dia semakin tampan berwibawa dan memiliki jaringan usaha yang luas.


Kau adalah wanita terbaik untuknya! Bukan Cherly! Aku akan cukup bahagia kalau kalian akan bersatu kembali," Jawabnya sambil mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada Maya.


" Hubungi Aku Kalau kau masih mencintai Barra! Dan kita akan bekerja sama! Aku dengan senang hati membantumu! Kau lebih panta memilikinya dari pada wanita muda bau kenvur yang manja dan tak memiliki apa apa ! Selain mengandalkan orang tuanya. Ha ha ha dia bukan tandinganmu Maya. Kita adalah wanita mandiri yang sukses! Mata Barra buta telah memilih dia!" Kata Zheba sambil menutup mulutnya dengan jemari lentiknya yang bercat coklat. Dia terlihat bagai peri yang membayang indah memanjang dalam bayangannya dilantai granit yang mengkilap itu.


Maya tersenyum bahagia saat Zheba memeluk dirinya dan menjalin sebuah misi penting!


Zheba undur diri dan melangkah menuruni tangga marmer Puskesmas dengan Highhells tingginya. Menuju mobil dengan Sopir yang menunggunya Denan setia.


Mobil itupun berlalu menempus terik yang menyengat.


"Kau tahu Moz! Aku selalu bisa menemukan kembali Barra dengan caraku sendiri! Wanita itu hanya sebagai seorang alat untuk mendapatkan Barra agar berada disisiku kembali!"Senyumnya yang licik tersebut mengembang dengan garis lurus yang tajam.

__ADS_1


Sang Sopir mengangguk dan menyeringai kearah Jalanan.


"Anda bisa mengandalkan aku Nona Zheba," Seringainya terlihat dingin dan penuh dengan balutan warna kejahatan.


__ADS_2