
Suara kasak kusuk dirumah sakit disuatu Kabupaten itu terlihat agak kisruh.
Beberapa perawat dengan Disinspektan ditangan nampak memasuki ruangan yang bercat putih dan sejuk.
Suara mesin pendingin ruangan yang berdengung lembut menambah suasana kian dingin menusuk hingga kehati.
Dilobby beberapa raut wajah terlihat tegang .
Pak Hermawan, Bu Anita dan keluarga Ali Ramadhan yang terlihat gelisah.
Berkali kali mereka melihat kearah pintu kamar yang bercat biru berlubang dilapisi kaca tebal yang bertulis Emergency room dengan list merah. Didalam ruangan yang luas itu terlihat Cherly yang sedang bersandar Denan ditemani sang Kakak,Rania dan Bu Erni.
Mereka harus berada disamping Cherly yang sedang meringis kesakitan.
Seorang suster datang dan pergi memeriksa tekanan darah dan denyut nadi Cherly dengan seksama.
Cherly kian kollaps. Kesakitan tak Terperi itu datang berjeda dan pulih Beberapa saat kemudian kesakitan itu datang lagi.
Dan Suster menginstruksikan kepada Rania dan Bu Erni agar menunggu di luar. Cherly ketakutan dan memegang tangan sang kakak dan Bibinya.
"Kak! Cherly takut! Viii Jangan tinggalin Chers sendirian disini,"Teriaknya diantara sakit dan takut.
Sang Suster yang berjumlah lima orang wanita itu berusaha membujuknya dan memberi semangat kepada Cherly yang sedang menangis.
Cherly menangisi Nasibnya yang sangat malang ini Namun kemudian kembali bersemangat mendengar nasehat sang suster yang kelihatan sangat berpengalaman dan bertindak sebagai suster senior diantara teman-temannya yang mengelilingi Chers.
"Kamu harus Sabar ya Nak! Semua wanita itu memang semua melewati peristiwa seperti ini.
Coba rasakan! Gerakan Bayinya mulai aktif kan? Anak kamu akan keluar sebentar lagi melihat dunia dan melihat wajah kamu! Harus semangat ya Cantik?" Bujuknya dengan sangat lembut.
"Tapi seharusnya Barra Ada disini Sus! Barra! Kamu dimana? Anak kita ingin melihat kita berdua Barra! Kamu kok tega sih! Barr Kenapa kamu jahat sih Barr!"Katanya pilu sambil menangis ditengah kesakitannya yang kian menderanya.
"Huss! Jangan mikirin yang bukan bukan dong,,! Si Barra itu pasti akan datang nanti! Yang penting kamu harus semangat! Toh suamimu itu tak akan merasa kesakitan Seperti yang kamu alami kan Cherly? Ayo dong kakinya ditekuk dan diangkat kepenyangga ini sayang!!"Bujuk Sang Suster senior itu dan berpengalaman itu kepada Cherly lagi sanbil tersenyum menenangkan.
Dan seorang suster menyuntikkan cairan perangsang itu kepinggul bawah Cherly.
Beberapa saat kemudian Cherly seakan kollaps hebat dengan konstruksi diperutnya yang kian menggila tanpa jeda. Serasa sesuatu berputar dan bergerak hebat dirahim bagian bawahnya menuju pintu keluar rahim yang kian mendesak.
__ADS_1
"Barra!!! tolong! ...Sssst ,,,Sasaaaakittt.. ohhhh. ssstt ..Mamaaaa!! Jeritnya dengan pekikan kian keras.
Ruang kedap suara itu seakan menampung jeritannya yang menyanyat hati.
Kedua kakinya yang terbuka tertekuk dengan pinggulnya yang terangkat naik kian mendekati batas ambang nyeri dan sakit yang tak Terperi.
Sakitnya Bagai dikuliti hidup hidup.
Cherly meremas plastik lembut alas ranjang rumah sakit itu dengan sangat kuat.
Suster itu mengambil senter khusus dan melihat Bukaan jalan lahir Bayi dan mengukur dengan menggunakan jari tangannya.
Cherly mengatur nafasnya sesuai anjuran para perawat dan suster itu dengan patuh.
Berkali kali menarik dan membuang nafas dengan teratur.
Keringatnya mulai bercucuran.
Dadanya terlihat naik turun dengan nafas tersengal sengal.
Dan Berulang kali mengejan dengan kuat.
Dan tiba tiba secara naluriah Cherly mengejan sekuat tenaga yang tersisa..
"Ahhhhj...Oooouuggghghhhhhhh...Owa Ouwwa !"Jerit Bayi itu terdengar memenuhi ruangan yang luas dan kedap suara itu dengan keras.
Cherly terbaring dengan lemah. Keringat dan Airmatanya bersatu tanpa sadar! memenuhi wajahnya.
"Selamat Cherly sayang! Kamu telah memiliki Bayi laki laki yang sangat tampan!"Sambut Suster itu sambil memeluk kepala Cherly dengan terharu! Dan mencium kening Cherly.
Suster itu kagum melihat Cherly yang masih muda dengan tubuh kecilnya yang kuat.
Cherly mengangguk penuh haru sambil menggenggam tangan Si suster yang baik hati itu.
"Terima kasih Suster,"Jawabnya lemah hampir tak terdengar.
Tatkala Suster memotong tali pusar anaknya dan mengeluarkan Ari Ari si Bayi .Mereka langsung mengurus Cherly dengan sangat telaten, Menimbang berat badan badan bayi itu dan memandikan Bayi tersebut dengan penuh kekaguman.
__ADS_1
Beratnya 3,7 kg. Dengan tinggi badan 95 cm.
Sehat dan normal. Besar dan berat yang seimbang.
"Kelak anak ini berpostur tinggi besar dan gagah,' Kata suster itu. Mengingatkan Cherly kepada sosok Barra yang tinggi besar.
"Ayahnya juga Tinggi besar sus!" Jawabnya lemah sambil berusaha tersenyum membayangkan wajah Barra dipelupuk Matanya.
Cherly tersenyum diwajah cantiknya yang pucat.
Setidaknya Dia sudah menjadi Wanita sejati buat Barra. Ayah anaknya.
Dia tetap bertahan dengan memelihara putranya yang tampan. Membuatnya lebih bersemangat menjalani hidup walau hanya sekedar mengenang Barra dalam ingatannya.
Banyak kisah manis yang telah terjadi Dihari yang lalu bersama Barra.
Dan Cherly tersenyum lebar saat mendengar suara riuh rendah dari pintu yang sedikit terbuka saat perawat itu memberitahukan kepada keluarganya diluar bahwa Cherly dalam keadaan baik baik saja sambil memperlihatkan sekilas sang bayi tampan tersebut kepada para kumpulan sanak keluarganya dilobby yang berseru riang sambil berucap kata syukur. Yang tak henti hentinya kepada Allah.
Cherly Bahagia dengan binar matanya yang kembali berbinar binar bening bagai berlian.
Menyambut hari hari yang baru bersama anaknya .
Cherly meringis dengan pelan saat *********** tersa berdesir dan berdenyut perlahan.
Kata bibi Erni! Itu pertanda bahwa ASI buat bayinya keluar dengan lancar dan cepat.
Bibi Erni memang ahli dalam merawat Cherly.
Cherly terlihat kuat dan tegar diusianya yang belum genap 20 tahun.
Pak Hermawan dan keluarga Ali Ramadhan benar benar sangat berbahagia dengan kelahiran Putra Barra dan Cherly.
Dan tanpa mereka sadari Barra mulai tak hadir dihati dan penglihatan mata mereka lagi. Seakan terhapus oleh kebahagiaan yang tak terlukiskan Denan kehadiran bayi tampan bersuara keras itu.
Barra! Mulai terpinggirkan dihati mereka dan tak ada yang perlu disesali dengan cetak biru yang telah ditakdirkan oleh Allah.Mereka berharap Cherly dapat bertahan dengan kejadian yang telah terjadi Dihari yang lalu.
Semuanya akan berlalu membawa lembaran lembaran usang. Dan tergantikan oleh lembaran baru dengan cerita-cerita yang baru yang lebih baik dari hari kemarin.
__ADS_1
Memang seharusnya cerita harus berubah! Menurut skenario Tuhan, Bukan skenario dan mengikuti rencana yang dirancang oleh manusia bagai seorang Arsitek yang merancang sebuah desain bangunan yang sesuai dengan rancangan yang bertulis sketsa sketsa dari berbagai bentuk dan sisi yang ingin dibangun oleh sang desainer yang paling hebat sekalipun.