
Desa Makmur Jaya.
"Hai, James Bond! Kudengar ada gebrakan besar disana! Yang akan kau buat! Apa kau membawa Khabar gembira buat kami yang hanya berdiam didesa ini?" Kata Zulqarnain kepada Barra yang baru mulai bertugas hari ini.
Dengan mengenakan stelan Olah Raga yang terlihat pas dibadannya yang Atletis dan Sporty itu.
Barra menyambut toos dari kepala desa yang keren itu dengan tersenyum senang.
"Dokter Maya sudah dua kali bertanya tentang kedatanganmu kepada Jamilah," Katanya dengan raut bahagia. Jamilah adalah salah satu pegawai Kelurahan yang masih berstatus gadis. Yang berusia diawal 30 an yang masih melajang.
Barra tercenung sejenak. Bayangan wajah Cherly saat menangis di Bandara melintas jelas di memorynya.
Cherly Gadis yang manja dan sering dimarahi oleh Barra.
Gadis itu melawan dengan tubuhnya yang kecil dan mulutnya yang cerewet, Membuat Barra kesal.
Barra tersenyum simpul saat mendengar kata kata dari kepala desa yang sudah dijadikan saudara angkatnya.Beliau dengan semangat 45 Menjodohkan Barra dengan dokter cantik itu.
Bagi Barra Cherly tetap yang tercantik ditengah labilnya emosi gadis remaja yang awkard itu.
Dan waktupun berlalu membawa semua masa yang tertinggal dalam kenangan.
Barra bukanlah tipe seorang lelaki yang terpaku pada seorang wanita ditengah jiwa bebasnya sejak pengkhianatan yang dilakukan oleh Zheba yang sampai hari ini masih dicintainya dalam kebencian yang mendalam.
Dan Barra juga tak semudah itu mempercayai Cherly yang baru dikenalnya. Karena Barra tahu Cherly masih muda dan bisa saja berubah seiring waktu. Barra tak ingin kecewa untuk yang kedua kalinya.
Cherly yang masih mencintai sang kekasih yang bernama Neo itu, Dan masih menyebut nama Neo didalam mimpi malamnya.
Barra sedang mengontrol anak anak yang sedang berlatih buat pertandingan antar sekolah berkompetisi memperebutkan Piala Daerah Tingkat II. Dari kejauhan bersama sang kepala desa yang menatap wajah Barra yang keren. Entah mengapa Pak Zulqarnain sangat senang melihat penampilan Bara dari berbagai sisi.
Mereka berdua memandang sekolah yang banyak menyimpan harapan dan mimpi dimasa mendatang.
Sekolahnya tergabung dalam dua Gedung berbentuk permanen dengan beberapa ruangan kelas dengan.Yang satu bangunan digunakan buat Sekolah Dasar dan gedung satunya lagi dipakai untuk Sekolah tingkat SMP.
Gedung ini memiliki Halaman Yang sama. Halaman yang sangat luas ini dapat memadai daya tampung siswa yang lumayan memadai dengan siswa yang terus meningkat.
Mengingat mutu dan kualitas sekolah yang masih baru itu terlihat semakin kedepan dalam konsekuensi yang menunjukkan grafik naik dalam perbaikan potensi siswa.
Yang terus berkembang dengan baik.
Sarana belum mencukupi dengan siswa dan tenaga pengajar yang masih minim.
Desa ini baru berkembang dan perlu banyak pembenahan dan akan diharapkan terus berkembang melalui para pendidik dan masyarakatnya yang bahu membahu saling membantu dalam memajukan kreatifitas anak anak mereka.
"Barra! Apa kau baik baik saja?" Tanya sang kepala desa yang periang itu kepada Barra saat melihat Barra sedikit melamun.
__ADS_1
Biasanya Barra akan merespon percakapan dengan cepat dan bergairah.
"Oh Tidak Ada apa apa, Bang!" Kata Barra terlihat gugup.
"Apa kau lelah?"Kata Zulqarnain dengan penuh perhatian.
" Iya , Bang! Perjalanannya sangat melelahkan,"Katanya.
Barra menarik nafasnya panjang.
"Bang! Sebenarnya Barra telah menikah!" Terangnya membuat Pak Kepala Desa itu terlihat kaget.
"Benarkah?"Katanya memohon kejelasan.
Barra mengangguk pasti.
"Namanya Cherly, Anak teman kakakku, Dan dia masih berkuliah di Jakarta," Ucapnya lagi.
Sebenarnya kepergian Barra ke Jakarta adala untuk mengurus dokumen keluarga barunya itu.
Dan setelah menyelesaikan segala urusan dokumen penting keluarga kecilnya.
Disamping keperluannya dalam memberikan petunjuk dan arahan penting kepada kelompok pemuda pecinta Alam itu.
Disuatu sisi dia ingin Barra tetap berdomisili disini selamanya dan demikian juga dengan Dokter Maya yang mulai menyatu dengan warga.
Pak Zulqarnain ingin mereka bersama .
Tapi kini kata itu tertelan angin dan hanya menjadi kata "
Seandainya"
...****************...
Dr Maya menatap dari jendela yang terbuka lewat gedung Puskesmas ditempatnya kini bertugas.
Menatap Barra dengan stelan olahraganya dengan pandangan terkesima.
Barra memang pria yang penuh kharisma.
Dia berjalan sambil berbicara dengan gaya yang anggun dan santai sambil sesekali tersenyum kearah Pak Zulqarnain. Pak Kepala desa itu tampak familiar dengan duet yang kompak dengan bersatu mengemban amanah yang telah dibebankan kepuncak mereka.
Barra yang disiplin dan eksis dibidang Pendidikan dan Olah raga. sedangkan Pak Zulqarnain berperan sebagai penasehat dan pembina warga warga desanya yang sangat kreatif dan selalu ingin bertumbuh.
Maya tersenyum kearah mereka dan menunduk tersipu saat Pak Zulqarnain melambai kearah sang dokter yang tengah memandang kearah jalan tempat mereka berdua berjalan dengan mengobrol tentang banyak hal.
__ADS_1
Maya terbayang tentang kilas balik masa lalunya yang telah membuatnya trauma tentang banyak hal yang berhubungan tentang cinta dan hidup bersama seorang pria. Namun dibalik kesunyian hidupnya kini.
Maya seolah ada harapan dan impian yang ingin dimulainya dari awal.
Lelaki dengan brewok tipisnya itu dengan pandangan sekelam malam menatapnya dengan teduh.
Dari balik jendela kaca yang putih dan membuatnya seakan mimpi manis dimasa remajanya dulu hadir kembali.
Membawa semerbak wangi wangi bunga ditanam puskesmas yang berwarna merah.
Barra!
Laksana Bara hangat yang dapat mencairkan kebekuan hatinya yang selalu tersembunyi.Dari suatu mimpi yang telah dikuburnya sedalam angan angan kosong dari sebuah pengkhianatan.
Barra adalah Api panas mengandung suatu keinginan yang menghamba tentang seorang pria impian yang ada dalam tidur malamnya.
Lelaki dengan segudang prestasi dan memiliki banyak potensi dalam hidupnya.
Barra adalah harapan Maya yang tersembunyi.
Kini hadir menghampiri dalam sunyi.
Perlahan Maya melangkah kearah depan dan menuju kehalaman mendekat kearah jalanan desa didepan Puskesmas tempat bertugasnya.Para pasien telah mulai jarang , Beberapa petugas kantor membersihkan kantor dan menutup jendela jendela samping dan tetap membiarkan jendela bagian depan terbuka.
"Halo Bu dokter yang Cantik! Apa anda punya waktu diakhir Minggu? Kita akan makan enak dirumah Perkebunan desa kita, Dengan beberapa ekor ayam dari swadaya penduduk untuk kita nikmati bersama," Kata Pak Zulqarnain menyapa lebih dulu dengan ajakan.
Disambut dengan anggukan lembut dr Maya.
"Ok! Pak, Siapa yang dapat menolak ajakan yang manis ini,Iya kan Pak Barra?"Kata dr Maya sambil tersenyum kearah Barra yang tersenyum tipis kearahnya.
Sekilas Barra teringat tentang Chers yang sangat suka dengan daging ayam goreng dan Mie goreng yang dibuat oleh Bu Ani.
Kelak Barra akan mengajari banyak hal kepada isteri kecilnya yang cerewet itu.
Tentang makanan enak dan cara permainan yang lebih nikmat pada Chers.
Perlahan Barra meragu kembali saat mengingat tentang Neo.
Apa Chers masih berhubungan dengan pemuda itu.
Barra kembali ragu.
Maya mulai berjalan disisi Barra dan berusaha lebih dekat karena Maya merasa Barra adalah pria ideal dan partner yang pas yang telah ditemukan dalam pencariannya selama ini.
Barra sang James Bond yang dingin dan kaku perlahan mencair saat bersama klub tiga serangkai itu.
__ADS_1