Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Beri Aku Satu Pelukan


__ADS_3

Banta bangkit dengan cepat.


Membawa pisau dan arit dilengkapi sarung tangan Woll tebal pelindung tangan dari sayatan sisi daun jagung yang tajam dan kaku karena telah mengering siap panen.


Banta membawa semua perlengkapan tersebut tatkala mereka menuju ke Huma yang melewati beberapa persawahan penduduk. Yang kini memanjakan matanya yang tajam melihat beberapa burung sawah yang melintas diatas kepalanya. Berombongan kecil dengan cicitan yang ramai.


Dari Belakang Banta berjalan terseok-seok sang Ibu.Cherly ! Dengan membawa beberapa lembar karung yang digulung membulat dijunjung diatas kepalanya yang dilapisi kain.


Berkali kali Ibu Banta tersebut tersandung karena sandal jepitnya yang sedikit miring.


Cherly mengeluh tentang desain murahan sandalnya yang tidak tepat berada melintang diatas kakinya. Antara belahan jari jempolnya .


Melainkan tali sandal itu menyerong hingga membuatnya kesulitan berjalan.


"Dasar sandal murahan! Desainnya asal jadi membuat konsumen tersiksa," Sungutnya kesal. Sambil menggerus kerikil jalanan setapak dengan sengaja meninggalkan bunyi berderit meninggalkan rasa ngilu digigi Banta.


Banta mengerutkan keningnya mendengar ocehan Sang Ibu.Namun tak ayal tersenyum sedih mengingat Ayahnya yang begitu kaya tanpa dapat dinikmati oleh sang Ibu.


Sebenarnya tidak sepenuhnya benar seperti itu.


Dimana Sang Ibu menolak semua pemberian dan transfer uang dari Barra. Dan bukan Barra namanya jika dapat membujuk Cherly .Barra Ayahnya paling egois dalam membujuk berkali kali.


Barra pun memilih diam dalam menghadapi kekerasan hati Istrinya.


Cherly merasa sudah sia sia melanjutkan hidup bersama Barra. Dia merasa pengorbanannya selama ini dan Cintanya kepada Barra sama sekali tak dihargai.


Sekarang Diatas jalan setapak yang berbatu kecil dan ditetesi sisa embun yang hampir menguap oleh mentari pagi. Yang mulai naik perlahan-lahan melalui kaki langit di ufuk timur.


Banta melihat kearah sang Ibu yang masih mengomel kini bertema tentang jembatan diseberang desa yang terbuat dari pohon kelapa itu mulai keropos dan hampir ambruk. Membuat beberapa pekerja dari perkampungan seberang terlambat untuk datang membantunya ditegalan jagung yang mulai mengering dan siap dipanen.


Banta hanya diam.


Anak itu sudah terbiasa dengan Omelan sang Ibu yang dianggap sebagai sarapan rutin telinganya.


Hari ini libur!


Namun Omelan itu tidak libur.


Anak lelaki berusia hampir 12 tahun berwajah dingin itu tak urung hampir tertawa mendengar Omelan ibunya yang menyerempet kearahnya dan dianggapnya mustahil.


"Hei Bharche! Coba kalau kau jadi lurah kelak! Desa ini pasti lebih maju.


Kau bisa menebang pohon jati hutan dipinggir sungai itu untuk dijadikan jembatan! Agar orang orang nyaman saat menyeberang sungai yang merepotkan itu! Aku jadi heran deh! Sejak kedatangan kita kedesa ini jembatan desa itu belum juga klear siapnya! Memangnya itu jembatan raksasa yang menelan biaya milyaran! Aku berdo'a saja semoga kau jadi Lurah berikutnya.


Kau pasti bisa memimpin desa ini dengan bijak!"Kata sang Emak panjang lebar. Sambil sesekali membetulkan letak kerudung kain jarik panjang yang digelung diatas kepalanya sebagai penahan panas.


"Ibu akan menunggu separuh dari usiaku sekarang, Atau!Mungkin lebih!" Jawab Banta singkat.


Cherly terdiam sejenak.


Lalu memberi opini lagi.


" Nanti kalau udah jadi lurah! Jangan seperti Ayahmu! Mata keranjang! Gak ada sukur sukurnya dapat istri cantik! Masih muda! Maskot kampus eehhh. malah ngeyel! Dasar Bangkotan tua bau tanah," Katanya kesal.


Rasa rasanya kata kata" Bangkotan tua bau tanah" Itu menjadi kalimat legendaris yang selalu diucapkan oleh Sang ibu hingga kini. Kalau dalam mode kacau.

__ADS_1


Banta mempercepatnya langkah kakinya yang panjang.


Dia tak ingin mendengar puisi Ibunya yang sama sekali tak terdengar indah.


Namun Banta Sangat menyanyangi Sang Ibu yang kini terlihat lebih berisi walau dengan kulit yang gelap. karena selalu terpapar sinar matahari.


"Ibu merindukan Ayah?" Tanya Banta dengan seringai kecil dibibirnya. Menoleh kearah sang Ibu disampingnya.


Cherly terkesima dengan cepat menggeleng gelengkan kepalanya dengan kesal.


"Bharche! Jangan menyeringai seperti itu.Kau jadi mirip seperti Sam! Aneh sekali pria itu tak pernah lagi menghubungi kita. Dia pikir dia siapa! Aku rindu kepada Ayahmu? Huh yang benar saja! Aku malah tak pernah ingat kapan terakhir kalinya aku tertawa tanpa skandal memalukan yang dibuatnya." Kata Cherly lagi lagi meradang. Banta berhenti dan menunduk mematahkan beberapa perdu berbatang alot yang menjalarkan belukarnya yang berduri tajam dan panjang kebadan jalan setapak yang lumayan lebar.


Telapak tangannya berdarah terkena duri mengeluarkan darah yang cukup banyak. Dengan wajah santai dia memijat luka koyakan duri itu dan mengunyah dedaunan dipinggir jalan dimasukkan kemulutnya dan menempelkannya dilukainya yang seketika menutup jalan darah yang keluar .


Cherly terlihat panik. Dengan mata terbelalak.


Banta tersenyum kaku.


"Ayolah Ibu! Ini hanya luka kecil. Jangan berekspresi seolah olah telapak tanganku terbelah oleh kapak ," Kata Banta sambil memiringkan wajah menatap sang Ibu.


Cherly Berhenti mematung dengan nafas memburu.


"Tapi Ibu takut melihatmu Tiap kali melihat darah kau begitu bersemangat. Ibu takut kau menjadi seorang psikopat seperti Sam! Entah mengapa semakin lama Aku melihat kau semakin mirip Sam! Kau bahkan tak ingin berteman dan bergaul dengan banyak orang! Kau juga akan memukul dan melukai orang disekelilingmu hanya karena mereka melakukan kesalahan yang kecil," Kata Cherly menatap wajah Putranya dengan raut was was.


Banta menghentikan langkahnya dan menatap kearah lahan hijau yang membentang tak berbatas.Hingga jauh ke kaki langit.


"Ibu! Bangkitlah! Matahari mulai panas!" Katanya mengulurkan tangan kearah sang Ibu dengan lembut menarik jemari tangan Cherly dengan sangat pelan seakan takut Sang Ibu tersakiti.


"Aku memiliki banyak tanggung jawab buat diriku sendiri dan buat Kalian Bu!" Katanya dengan lembut namun ada ketegasan dalam suaranya.


Putranya benar.


Banta Harus kuat dan tegar . Dia butuh kekuatan yang banyak agar dapat melindungi orang-orang tersayangnya.


Mereka lalu berjalan menuju kearah matahari yang mulai terasa menghangat dan perlahan merambat membakar ketubuh yang dipenuhi oleh semangat hidup dihari depan.


Nun dikejauhan terdengar suara canda ria para pekerja yang mulai berdatangan diladang mereka yang telah siap untuk dipanen.


Senyum sumringah menghias wajah Cherly ditengah arus keringat dikeningnya melihat bungkil jagung berwarna kuning itu persis cahaya Emas dipagi hari yang mengintip dari balik Mayang Mayang yang mulai mengering.


Banta mengeratkan pegangan jemarinya Kepada sang Ibu. Seolah mengisyaratkan perlindungan sejati dari seorang anak belahan jiwa yang pernah bersemayam didalam dirinya selama sembilan bulan. Akan melindungi dan mempertaruhkan hidupnya kelak untuk dirinya dan anak anaknya yang lain.


"Lihatlah Nak! Ada harapan disini! Tanah dan air begitu akrab dengan keringat para petani." Bisik Cherly bahagia.


"Seharusnya Paquita berada disini," Banta membathin sendiri ditengah senyum indah Sang Ibu bagai lengkungan Mayang Mayang Jagung yang melengkung berhembus tertiup angin Huma.


...****************...


Bunga bunga tulip berwarna merah muda yang tumbuh subur sepanjang Bundaran Taman halaman Dome mewah berbentuk lingkaran itu mengitari tembok pembatas kolam yang terbuat dari Gips putih berlapis pualam mahal berwarna putih terang.


Cipratan air mancur yang mengembang indah bagai payung transparant yang memancarkan cahaya keperakan. Dengan genangan air bening yang penuh buih dibagian atas yang berdiameter 30 meter itu.


Tampak asri. Diantara Palm mungil berwarna kekuningan yang berbaris rapi menuju gerbang utama rumah yang berbentuk lingkaran.Penuh dengan buah merah yang tersusun diatas tandan tandan Mayang pinang hias yang cantik itu.


Membias warna hijau kuning. Dan merah muda yang sangat eksotis. Dipagi yang cerah dihalaman Rumah Alexis yang berbentuk Kubah bundar yang sangat megah berwarna Hijau Pupus dengan ornamen tumbuh tumbuhan. Yang terlihat sejuk dan elegan.

__ADS_1


Dome tersebut lebih bertema alam dihiasi Relief hewan hewan damai yakni kupu kupu dan Bunga dengan berbagai kombinasi warna yang dominan hijau yang lembut.


Anak kecil itu melihat rombongan kecil berpostur tinggi dan anggun itu berdiri didepan barisan para pria berbaju hitam.


Berjalan dengan cara Galant memasukkan tangan kirinya kedalam saku celana berbahan Denim yang terlihat berserat sangat halus. Dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju pintu utama .


Wajahnya terlihat memakai masker berwarna putih.


Memperlihatkan batang pangkal hidungnya yang mancung di bulatan mata yang khas Asia.


Rambut gondrong itu terikat sedikit kebelakang dengan juntaian poni belah tengah yang menjuntai indah.


Rambut mengkilat dan legam itu tampak menakjubkan dilatar belakangi tumbuhan hijau yang berjejer rapi dari pot besar porselen di beranda Dome yang berwarna senada.


Alexis!


Terlahir begitu sempurna dengan rahang yang ramping namun terlihat tegas dan kukuh.


Dihiasi kulit putih bersih dan lembut.


Paquita berjalan sambil menunduk melihat kakinya yang mungil dan tanpa alas.


Diatas lantai pualam hitam dengan umparan warna gelap.


Rambut panjang melewati pundaknya lurus bagai sutra hitam yang siap dicelup dalam Madu hablur.


Garis wajah yang lembut dalam balutan piyama berwarna maroon. lengan pendek dan celana longgar yang panjang.


Memegang bantal kecil berbentuk strawberry warna merah.


Mendekap Bantal yang imut itu kedadanya.


Langkah kaki panjang pria itu terhenti dengan pelan diatas sepatu kulit halus berwarna hitam.


Menatap gadis kecil itu dengan sepasang mata diatas Masker putih itu.Tajam tanpa berkedip.


"Mengapa kau tak mengenakan sandal kamarmu ,Pa!" Teguran lembut itu berasal dari pengasuhnya yang memasuki ruang luas itu. Dengan terburu buru.


Dan kemudian menunduk takzim saat melihat sang Tuan berdiri persis didepan Paquita.


Menunduk kearah sang gadis kecil yang mengkeret ketakutan hampir tak ada dialoq yang panjang sejak pertemuan pertama mereka.


Dan tiba tiba tubuh tinggi itu bergerak melaju dan pergi dengan gaya khasnya melewati Gadis kecil itu yang masih menunduk.


Rombongan kecil itu terus berjalan melewati koridor panjang yang luas memasuki Hall bagian dalam melewati tangga putar lantai pertama dan menuju ruangan tertutup yang berpungsi sebagai eskalator buat sang pemilik rumah dan pengawal pribadinya. Mereka langsung menuju lantai keempat dimana berfungsi sebagai ruang pertemuan rahasia dan strategi pusat bisnis Alexis.


Namun kali ini Bukan ruangan itu yang dituju oleh Alexis. Melainkan menuju kekamar peristirahatannya.


Dengan gaya santai dia berbicara melalui Arloji hologramnya.


"Leo! Bawa Paquita kekamarku sekarang!" Katanya dengan pelan namun dapat didengar oleh pengawal yang kini berhenti mengikutinya hingga lima meter dari pintu kamar besar itu.Alexis Melepaskan stelan hitamnya hingga menyisakan kemeja berbahan tipis berwarna putih bersih dan menyampirkannya kebahu melangkah kedalam ruangan pribadinya yang sangat luas. Bagai sebuah kondomium raksasa dipenuhi berbagai peralatan Canggih dalam ukuran besar.


Alexis duduk dikursi putar besar sambil menatap langit-langit diatasnya yang membentuk awan biru yang jernih.


Suara langkah kaki kecil itu terdengar nyaring ditelinganya yang awas. Menatap kearah pintu besar yang dibiarkan terbuka. Alexis tercekat dengan wajah dingin namun menyiratkan kerinduan yang dalam.

__ADS_1


"Paquita! Kemarilah! Beri aku satu pelukan," Katanya setengah berbisik diantara belahan bibirnya yang terlihat memerah.


__ADS_2