
Tak ada bogem mentah yang mendarat diwajah Barra saat tiba dirumah Ali.
Tak ada kata Makian yang terucap dari bibir Pak Hermawan yang Bijaksana.Dan Tak ada wajah masam yang menyambutnya.
Melainkan peluk kerinduan untuk sang adik yang pulang bagai anak yang hilang.
Semua kata maaf yang terucap dari bibir Barra yang tergetar tulus disambut dengan tulus oleh keluarganya.
Apakah keluarga yang seperti ini harus ditinggalkan dan dilupakan hanya demi seorang wanita yang bernama Zheba?
Tidak!
Zheba adalah seorang gadis dari masa lalunya yang terbuang! Dan sekarang datang bagai api ditengah kemarau panjang. Siap membakar dengan pemantik kecil yang tak terlihat.
Banta Malik! Menyambut sang Ayah bagai manusia asing yang menarik untuk diperhatikan.Duduk malu malu dipangkuan sang Ayah bagai anak kecil yang menemukan tempat bermain.
Mempermainkan kancing kemeja Barra dengan ragu ragu.
Membuat Cherly terharu melihat kelakuan sang anak.
Nasehat Pak Hermawan dan Ali Ramadhan datang bagai air mengalir hampir sepanjang malam menyejukkan hati Barra yang dalam kelelahan.
"Aku berjanji Ayah! Akan menjaga Anak dan istriku sebaik baiknya dan melindungi mereka dengan segenap kemampuan yang ada pada diriku," Ikrar Barra dengan suara bergetar. Pak Hermawan Menatap Barra masih dengan tatapan yang sama! Masih bagai tatapan Tiga tahun yang lampau.
Barra tetaplah sebagai sosok yang hebat dimatanya.
Pak Hermawan terlalu mengagumi sang mantu yang tetap hebat dimatanya.
Barra mencium tangan Pak Hermawan dan Ali Ramadhan juga tangan kakak Iparnya yang berhati lembut itu. Rosita mengangguk haru sebelum menampar pipi sang adik dengan pelan!
"Aku membencimu Barra! Seperti aku juga menyanyangimu juga, Mengapa kau tak pernah memberi Khabar kalau masih hidup," Kata Rosita sambil tersenyum haru.
Barra hanya menunduk dalam dan merasa bersalah.
Semua keponakannya hadir disini. Termasuk keluarga Rania.
Hingga jauh malam rumah besar itu masih menyala terang. Bercerita tentang banyak hal. Kisah yang telah terjadi dalam sebuah perjalanan dalam hidup dengan waktu yang lama.
Cherly akan masuk kedalam kamar bersama sang anak yang tertidur dipangkuan sang Ayah.
Barra menatap kepergian Cherly sa'at menggendong tubuh gemuk anaknya dengan tubuh Cherly yang terlihat kurus dan pucat.
Barra merasa bersalah telah membuat Cherly banyak menyimpan penderitaan karena dirinya.
"Maafkan aku Cherly,"Kata hati Barra dengan tulus.
...****************...
Jauh disebuah Desa yang damai.
Seraut wajah itu tampak memandangi photo berukuran poscard yang terjatuh dari lembaran bukunya yang tebal.
Senyum itu membias diwajah yang tampan itu dengan garis rahangnya yang kuat.
Wanita itu terduduk dengan mata yang kian memanas.
__ADS_1
"Barra! Kau dimana? Aku sangat merindukanmu.
Apakah aku masih berada dalam ingatanmu?" Bisik wanita berambut pendek itu duduk dan tersandar lesu kesisi lemari kantor yang dingin itu.
Tak ada Khabar berita dari Barra untuknya
Tak terdengar bisikan angin tentang arti kehadiran Barra yaitu pria yang tidak mencintai nya.
Khabar yang datang silih berganti tentang Barra.
Namun tak ada satupun yang bercerita tentang diri Maya yang pernah hidup bersama Barra.
Barra benar benar telah melupakan dirinya.
Tak ada arti Maya bagi pria itu.
Namun mengapa cinta kepada Barra semakin kuat merekam hatinya?
Semua seolah hilang terbawa waktu. Namun nama pria itu tetap terukir sebagai pria yang pernah menuliskan namanya dalam selembar kertas janji suci sebuah ikatan yang kuat, Yakni pernikahan yang singkat dan membekas dihati Maya.
Maya mendekap photo itu kedadanya.
Sampai hari ini! Maya tetap melihat Barra sebagai sosok yang sangat penting dan layak memberikan seluruh cintanya kepada Barra.
Hanya Barra yang pantas untuk mendapatkan cintanya dan hanya Barra yang dapat menduduki tempat tertinggi dihatinya.
"Barra! Apa Aku harus datang ketempat kau berada?" Tanyanya berbisik pada dirinya sendiri.
...****************...
Tubuh Cherly berbalut selimut lembut bercorak bunga yang berwarna merah.
Rambutnya yang tergerai diatas bantal tampak teratur dan mengembang dengan menakjubkan dibawah lampu tidur yang bersinar temaram.
Cherly tidur terlentang dengan tangannya yang terletak disisi wajah cantiknya.
Barra duduk disisi ranjang itu dan mengelus pelan lengan Isteri. Mengapa wajah istrinya yang tertidur bak malaikat yang sangat indah itu harus sering tersakiti?
Barra sering bersikap buruk dan sering memarahi Cherly.
Barra menyibak rambut istrinya dan mengelus wajah Cherly dengan pelan. Barra mengusap bibir Cherly yang tampak pucat dengan wajah lelah.
Tangan Barra turun mengelus perut Cherly yang terlihat rata. Anaknya sedang tumbuh kembang dirahim Cherly sa'at ini. Dan Barra tak ingin membangunkan tidurnya. Barra selalu memperlakukan tubuh Cherly bagai sebuah mainan!
Barra seakan tersentak dengan perbuatannya sendiri. Dia menyesal ! Namun Barra tak pernah bisa mengontrol dirinya saat berdekatan dengan istrinya.
Cherly yang kesakitan diantara rintihannya yang terdengar merdu ditelinga Barra. Barra tak mengerti mengapa dia bagai seorang yang kehilangan akal sehat sa'at bersama dengan wanita ini? Barra tak seperti itu sa'at bersama Zheba ataupun Maya walau telah berstatus sebagai istrinya.
Barra tak pernah bosan melihat dan menyentuh tubuh Cherly yang selalu bagai baru baginya.
Barra bahkan mampu tak berhubungan dengan wanita lain selama bertahun tahun. Keinginannya serasa mati jika Cherly tiada disampingnya.
Namun mengapa justru Barra tak pernah mau memperdulikan penderitaan Cherly? Barra seakan kerasukan roh jahat yang memperlakukan istrinya dengan jahat. Dan Barra pernah mengkhianati istrinya dengan menikahi wanita lain. Walau itu semua diluar kehendaknya. Melainkan atas desakan Ali Ramadhan yang menganggap Barra telah melanggar hukum pernikahan dengan Maya.
Wanita yang menjadi obyek difikirannya itu membuka matanya sa'at merasakan seseorang tengah mengelus perutnya. Cherly merasa bermimpi saat melihat suaminya ada tatkala dia membuka matanya dari tidurnya.
__ADS_1
"Barr! Mengapa kau tak tidur, Kau kan lelah,"Katanya dengan suara parau. Dengan mata yang masih terlihat mengantuk.
Barra terdiam melihat selimut yang tersibak itu.
tubuh Cherly yang hebat itu selalu bisa membangkitkan sesuatu yang sering tertahan selama ini.
Barra kembali kewatak aslinya. Wajahnya langsung menggelap saat melihat pemandangan yang indah itu.
Sesuatu yang indah ditubuh yang mungil itu selalu seakan mengundangnya untuk menjadi seorang yang berbeda. Gairah gelap itu hadir pada seorang wanita yang selalu terlintas dipikirannya disetiap malamnya.
"Chers! " Bisiknya tak berdaya menahan lonjakan hasrat yang terasa akan meledak dengan hanya melihat bagian yang terkecil. Dengan gerakan yang tak sabar mendesak tubuh Cherly yang tersembunyi didalam selimut.
Cherly hanya pasrah dan menerima semua serangan Barra yang membuatnya terpekik pelan.
Dan bagai hembusan angin yang mengusik kelopak mawar itu bergoyang dari bawah jendela kamar yang besar.
Saat Barra membisikkan sebuah janji yang mampu meluluhkan hati yang telah pernah tersakiti.
Cherly tercipta sebagai alat musik malam yang indah.
Meliuk dan melaju dengan ritme musik malam yang jauh.
Suaranya yang merdu membuat sang pengayuh menjadi bersemangat agar secepatnya sampai ketepian.
Menuju sebuah pulau yang penuh bunga dan sarat dengan keindahan.
Cherly adalah suatu nyanyian alam yang mengumpar warna keindahan. Melengkung bagai pelangi setelah hujan.
Membias warna yang indah!
Dan Barra terpana saat melihat kening yang berkeringat masih berusaha tersenyum ditengah debur ombak jantungnya.
Wanita hebat itu mampu memberi sesuatu keindahan yang hakiki bagi Barra.
Tanpa bersuara. Senyap ditengah kesunyian malam
Berkali kali dia melihat kearah Banta Malik yang tertidur tanpa beban.
Cherly bukanlah wanita yang mementingkan dirinya sendiri.
Cherly lebih mampu memberikan kenyamanan kepada sang anak dan membahagiakan suaminya dalam waktu yang bersamaan.
Barra merasa semua beban itu seakan sirna. Dengan lembut mengelus pipi wanita hebat itu.
"Mengapa kau kini terlihat agak berbeda? Lebih dewasa dan bijaksana, Aku adalah gurumu! Namun aku terlihat lemah dalam menahan diri," Bisiknya lembut.
"Karena kau pemarah dan dingin,Kau tak bisa menahan kesabaran didalam kedewasaan usiamu," Jawab Cherly.Barra mengerutkan keningnya .
"Apa yang dapat kau lihat! Suatu fakta dari sisiku yang buruk?"Kata Barra meminta opini dari Cherly untuk segala kekurangannya.
"Kau dingin, kaku dan puritan! Dasar lelaki tua bau tanah!" Katanya terkekeh pelan.
Barra hanya menyeringai dan meraih kepala Cherly kedadanya, Memeluknya dengan erat.Dengan senyum samar dibibirnya.
Menunggu Sang Surya esok hari
__ADS_1