
Pria itu menghantamkan kapak besarnya ketunggul kayu yang berada dibelakang rumah. Tanpa ampun! Sehingga tunggul kayu yang keras berusia ratusan tahun itu berderak derak terbelah tanpa daya oleh hantaman tangan Barra pada kapak besi yang bergagang panjang itu.
"Barra ! masuklah! Hari mulai senja! Apa kau tidak capek?" Rayu Maya sambil mendekat kearah Bara yang tengah Sibuk dengan pikirannya dan tangannya yang tak bisa diam.
"Menjauhlah Maya!"Katanya keras.
Namun wanita itu malah mendekat. Dengan keras kepala.
Bara mengayunkan kapak itu dengan bunyi mendesing.
"Wessss Bruk! Praaak! "
"Aduh!" Pekik Maya sambil menutup kedua wajahnya dengan media tangannya.
Bara hanya Berhenti sejenak! Menatap Maya sekilas lalu melempar kapak itu menancap diatas tanah dan pergi masuk kerumah. Meninggalkan Maya sendirian dihalaman belakang rumah yang mulai gelap.
"Dasar Wanita bodoh! Selalu saja mencari masalah, "Sungutnya dengan geram.
Bara sama sekali tak berinisiatif untuk membawa wanita yang tengah kesakitan itu kedalam rumah bersamanya.
Bara pergi kekamar pribadinya yang terpisah dari Maya! Ternyata selama ini Bara tertidur dalam ruang yang tersendiri.
Bara terlentang diatas ranjang berkasur tipis sambil melipat tangannya kebawah kepalanya. Untuk beberapa saat merenung mengingat kemasa manisnya bersama Cherly .
Bara mulai gerah dengan maya yang tadinya berjanji hanya memberi sedikit waktu untuk berpikir tentang hubungannya bersama Cherly! Setelah itu akan kembali bersama keluarga kecilnya.
Dengan dalih Kebutuhan masyarakat desa dan membawa bawa nama Pak Zulqarnain , Pak Camat, Pak Bupati dan kalau bisa Pak presuden sekalian, Pikir Barra dengan jengkel. Sambil bangkit dan meludah lewat jendela kaca yang terbuka. Barra menutup jendela dengan kuat sampai terdengar bunyi yang berderak.
Bara melangkah keluar! Badannya terasa gerah! Sisa keringat ditubuh kekarnya terasa lengket. Namun Aroma yang disukai Cherly dari tubuhnya ini menjadi kenangan pahit bagi Barra.
Barra mengambil handuk yang tersampir dikapstok besi dekat pintu ruang tengah.
"Barr! Kau tega ya! Membiarkan aku terkena serpihan kayu itu, Dan malah meninggalkan ku sendiri diluar!" Protes Maya merasa jengkel .
Bara hanya memiringkan wajahnya kearab Cherly sambil menyeringai aneh.
Membuat Maya merasa tak nyaman. Beberapa hari ini Bara mulai kesifatnya yang menyebalkan. Arogan dan sering bersikap kasar! Kadang Maya berpikir kalau Barra mempunyai kepribadian ganda. Disuatu saat akan bersikap profesional dan pengayom yang baik.
__ADS_1
Namun dikala berikutnya dia akan bersikap kasar tak terkendali.
Seminggu yang lalu dia memukul tiang penyangga Net Volly dilapangan hingga patah! Hanya karena pemuda sekampung ini datang tak tepat waktu! Dan tidak serius dalam berlatih.
Bara memang pendiam dan tak banyak melakukan komunikasi dengan orang lain.
Dan saat ini Bara hanya berpikir tentang Keluarga Ramadhan, Sam dan Cherly juga anak anaknya sehingga membuat sifatnya menjadi labil.
Barra terlihat depresi saat menyadari Cherly tak pernah menggubrisnya dan sama sekali tak merubah keputusannya untuk berpisah dari Barra.
Bara merasa dirinya harus terbagi menjadi beberapa bagian, Dan bagian yang terpenting adalah Cherly dan anak anaknya.
Dia telah hidup bahagia bersama Cherly diperkebunan yang luas itu! Namun Penculik sialan itu datang merebut Cherly darinya.
Dan essens berbahaya itu telah meracuni pikiran Cherly yang sebenarnya sangat mencintai Barra!
Bara menyiram seluruh tubuhnya berkali kali dengan ember berukuran sedang.
Dia mandi bagai raksasa yang sedang kepanasan.
Oh tidak! Mungkin satu peluru akan menembus kepalamu dengan jarak 200 Meter agar kau bisa lebih tenang menghadapi kematianmu, Dan pengikutmu tak dapat memberi pertolongan pertama, Jika patah leher Mungkin Ayahmu akan menyambung dengan besi, leher patah tersebut dengan uangnya yang banyak, "Tekadnya dengan kemarahan yang mendalam.
Selesai mandi mengusap rambutnya dengan handuk kecilnya. Tubuhnya yang tegap dan kekar bagai dewa Neptunus itu. Tampak bersinar dibawa lampu yang bersinar terang dimeja makan kayu itu.
Hanya mengenakan Celana pendek berwarna putih dengan bulu bulu dipahanya yang kekar dan keras itu membuat Maya menelan ludahnya berkali kali.
"Barra! Ada telur puyuh balado dan kuah bacon daging dilemari makan! Kita akan makan bersama sama ya! "Kata Maya dengan lembut.
Barra hanya diam dan masuk kedalam kamar. Memakai pakaiannya dengan cepat.
"Maya! Aku akan pergi kejakarta dalam beberapa hari! Pak Arif akan menggantikan jam Pelajaranku dalam minggu ini. Aku perlu refreshing dalam beberapa hari kedepan." Kata Bara yang telah bersiap dengan penampilan rapi.
Kemeja biru dan jeans biru itu membuatnya tampak segar! Dipunggungnya tersampir beberapa pakaian yang akan diperlukan saat dalam perjalanan nanti.
Mata Maya menghangat! Harus sampai kapan dia harus begini! Bara tak pernah menghargai dia sebagai istri.
Dan bahkan hampir tak pernah menyentuh dirinya. Dan Bara selalu berkata, Bahwa mereka lebih cocok menjadi partner kerja bukan sebagai pasangan suami istri.
__ADS_1
Tapi Maya sangat mencintai Barra seorang. Dengan rela dan besar hati walau hanya tinggal serumah dengan Pria jantan itu. Dengan tinggal serumah Maya dapat menyentuh Barra! Walau hanya sebatas memeluk dan mencium Barra.
Itu lebih cukup buat Maya daripada harus kehilangan Bara dari penglihatannya.
Tak ada kata kata manis dari bibir Barra dan tak ada kecupan selamat tinggal. Bara langsung melarikan Jeep model tahun lama berwarna krem pudar itu. Menghilang dalam kabut malam yang mulai mengelam.
Meninggalkan Maya yang merosot turun kelantai keramik yang dingin.
"Barra! Apakah kau akan kembali? Mengapa aku harus mencintai pria seperti dirimu? Sekuat adapun aku bertahan Cherly lah yang memenangkan hatimu, Aku Capek Tuhan! Hilangkanlah Cinta yang menghamba ini dari hatiku! Namun untuk saat ini Aku tak mampu untuk melupakan Barra dari hatiku! Aku sangat mencintainya Tuhan! "Tangisan Maya kian pilu.
Sesosok tubuh yang lewat mengenakan baju putih dengan Celana panjang Cardigan hijau datang memasuki pagar kayu dirubah dinas Bu dokter yang Cantik itu.
Maya cepat cepat menghapus airmatanya dan berdiri menyambut sang tamu.
"Oh Hasrul! Silakan duduk! Suami saya tidak berada dirumah! Mungkin kalian tidak akan bisa bermain catur malam ini, " Kata Maya berusaha untuk dapat terlihat seriang mungkin.
Hasrul berwajah simpatik dengan senyum ramah diwajahnya.
Hasrul Datang mendekati Maya! Tanpa berbicara mengusap wajah Maya yang terluka dibagikan keningnya! Akibat terkena serpihan kayu yang keras itu!
"Jangan menyiksa dirimu lebih lama lagi Maya! Kau wanita yang baik! Tak perlu berusaha seberat ini dalam merebut hati seorang pria yang sama sekali tak mencintaimu! Luka ini! Kayu itu! Hampir saja menusuk matamu! Pria itu sama sekali tak peduli! Pada akhirnya kita tahu! Bara itu bukan guru yang menanamkan moral dengan baik.
Dia hanya guru Olah Raga yang banyak memiliki kekurangan. Orang seperti Barra tidak cocok dijadikan sebagai panutan didesa ini. Bara adalah kombinasi antara Pergolakan jiwa yang penuh tantangan.. Dan terlalu berbahaya dengan jiwanya yang kompleks."Kata Hasrul memberikan opininya tentang Barra dengan jujur.
Hasrul adalah seorang Arsitek dari kota.
Yang diterjunkan oleh Kantor Pengairan Daerah. Untuk mengelola Pembangunan Irigasi dan sistem pembangkit Listrik Tenaga Diesel Raksasa yang masih dalam pembangunan Tahap pertama. Hasrul tinggal didesa ini sejak satu bulan yang lalu! Pria berjiwa hangat dan ceria itu diam diam menyukai Maya! Istri yang ditelantarkan oleh Barra.
Hasrul Selalu memperhatikan Maya dan mulai terpesona dengan sikap Maya yang luwes dan penuh kesabaran.
Dibawah lampu yang terang itu mereka saling bercerita dengan sopan. Sambil mencicipi masakan Maya yang tak disentuh oleh Bara!
"Percayalah Maya!Kau adalah koki terhebat yang pernah kutemui!"Kata Hasil mengacungkan jempolnya.
Maya Tersenyum dengan manis. Sambil menata kembali meja yang berisi mangkuk kosong dengan makanan enaknya yang telah tandas tanpa sisa.
Hasrul menatap dengan takjub! Dan berharap senyum Maya jangan pernah hilang dari pandangannya .
__ADS_1