Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Antara Mimpi Dan Kenyataan.


__ADS_3

Dan haripun terus berjalan seperti biasa,


Membawa cerita yang terus berganti.


Tiga bulan telah berlalu tanpa ada yang tahu.


Persahabatannya dengan Sheba, Terjalin semakin erat.


Zheba tak ingin Cherly bernasib seperti dirinya.


Disakiti dan ditinggal pergi oleh barra. Dan anak yang belum sempat dilihatnya hadir kedunia, Meninggal akibat keguguran. Karena fisiknya yang lemah.


Dan Barra seakan menutup kisah gelap kehidupan asmara dimasa lalunya dengan Zheba.


Dan menuding Zheba dengan tuduhan bohong!


Dengan berselingkuh bersama atasannya Kevin!


Kevin tak ada apa apanya dibanding Barra.


Barra yang panas, Yang sangat lihai mengendalikan dirinya. Saat dalam percintaan yang memabukkan. Barra yang dingin, Namun menyimpan berjuta kehangatan yang mampu membuai dan menyentuh syurga terdalam.


Dan kini Cherly akan dalam masalah besar. Jika Barra tahu sesuatu tentang Neo.


Yang mulai sering datang ke kampus.


Walau sekedar datang menjemput dan menatap Cherly dari kejauhan.


Neo yang tahu dari manik mata Cherly.


Bahwa Cherly menyimpan beban berat ditubuh kecilnya.


Namun berbagai hal dilakukan Zheba agar Neo dan Cherly tak bisa leluasa bertemu dan mengikat janji kecil.


Dengan sebuah ajakan acara makan malam romantis berdua.


Zheba takut, Barra akan mengkambing hitamkan Neo.


Dan memiliki alasan untuk meninggalkan Cherly yang malang.


...****************...


Cherly menggeliatkan tubuhnya didalam selimut tebalnya.


Badannya terasa dingin walau AC telah dimatikan.


Minggu pagi seperti ini biasanya dia akan membuat masakannya sendiri.


Namun pagi ini dia merasa kepalanya masih sakit.


Pukul 9 Lewat sepuluh menit.


jam wekker cucko itu berbunyi membangunkan Chers.Dia sama sekali tak merasa lapar.


"Kenapa kau begitu pemalas , Gadis kecil!" Suara Bariton itu bagai mimpi dalam memory Cherly.


Apa ini sedang rondenvous?


Mengingat sesuatu yang telah pernah terjadi?


Cherly bangkit terduduk dan menguap pelan.


Gaun tidur tipis berwarna biru berbahan brokat lembut itu menerawang ditubuh polosnya.


Cherly mengusap perutnya.

__ADS_1


"Kau Lapar nak? Ibu tidak lapar! Ibu akan makan kalau Ibu lapar, Tapi Ibu tak akan minuman bersoda lagi sejak kau tidur disini," Katanya berbicara seorang diri.


"Seharusnya kau tetap makan walau tak merasa lapar Cherly," Kata suara itu lagi membuat Cherly terlonjak menoleh kearah pintu kamar yang terbuka separuh.


Dari ruang tengah keponakannya Pedro dan Salsa terdengar berebut sesuatu.


Dan suara Ayahnya yang menengahi ank anak kecil itu.


"Berikan untuk Pedro kereta apinya dan untuk Salsa boneka Barbie itu, Jangan! Pedro , Kue Bikang itu untuk Tante Cherly! Rania ! Simpan semua olehnoleh Barra kebelakang nanti diaduk dan diacak acak oleh Salsa. Dia kira mainan juga," Suara Sang ayah membuat Cherly yakin ininbukan mimpi.


Dia menatap Barra yang tersandar didinding Dengan tangan terselip disaku celana jeans-nya.


Wajahnya tampak bertambah tampan, Dengan sisa cukuran cambang dan kumis nya yang membiru dan sedikit kasar.


dengan kemeja panjang krem terlipat hingga siku.


Jeans biru gelapnya yang panjangnya terlihat selalu menakjubkan.


Wajah Barra tetap datar namun menatapnya tak berkedip.


Mungkin Barra tak memahami apakah saat ini dia merindukan isterinya atau sekedar keinginannya yang tak terbendung terhadap Cherly.


Yang tak tertahankan. Barra yang selalu memikirkannya


sehingga mulai kehilangan akal sehatnya saat mencium Maya disuatu senja. Dan hampir saja membawa wanita itu


kedalam kamarnya.


Karena seolah-olah wanita itu adalah istrinya.


"Hei Barra! Lihatlah istrimu! Jam segini belum bangun dari tidurnya! Apa didikanmu belum bisa kau andalkan sebagai Seorang pendidik profesional?" Suara Rania bercampur dengan hiruk pikuk diruang tengah itu terdengar ribut.


Barra hanya tersenyum sambil menoleh keruang tengah dimana para pembuat onar itu masih berebut tentang hal yang lain.


Dan mulai bangkit dengan lemah. Barra datang mendekat namun ditepis oleh Cherly dengan cepat. Matanya berkaca kaca. Dengan cepat dia memasuki kamar mandi dikamarnya dan menguncinya dari dalam .


Dia membasuh wajahnya dan menyikat giginya sambil menangis."Tumben dia tidak berteriak dan berkata" Dasar pria tua tak tahu diri!"


Barra tersenyum tipis dan mengetuk kamar mandi perlahan.


"Cherly! Buka dong! Kita akan makan bersama.'Kata Barra dengan suara yang sangat dirindukan oleh Cherly.


Tapi Cherly Benci karena Barra mengacuhkan teleponnya.


Cherly tak peduli dan tak membukakan pintunya.


"Ok deh, Aku akan pergi, Jaga dirimu baik baik," Suaranitu berkata tegas . Dan Barra membalikkannya tubuhnya.


Brak! Pintu kamar mandinya itu terbuka dengan seraut wajah yang bersimbah airmata.


Memeluk Barra dari belakang sambil menangis.


Membuat Barra tersenyum dengan Jail tanpa ada yang melihat.


Dia hanya menggoda Cherly. Berpura pura hendak pergi. Dan gadis kecil ini terperdaya untuk kesekian kalinya.


"Barr, Jangan pergi lagi! Cherly bahkan bangun cepat dan memberi makan buat perutku yang sialan ini! Aku selalu sakit! Kepalaku pusing! Aku sering demam! Aku anemia dan juga terkena gerd!" Tangisnya sesenggukan dipunggung Barra yang tersenyumn bercampur kasihan.


Barra membalikkan badannya dan menghadap kearah Cherly yang masih menangis.


Mengusap rambut istrinya yang indah dan terasa lembut ditelapak tangannya yang besar.


Mengelus wajah Cherly yang lembut dan terlihat pucat.


Menghapus air mata diwajahnya dan mengusap ingusnya yang meleleh dibawah hidungnya.

__ADS_1


Barra menggelap wajah istrinya hingga bersih dan meraih kepala Cherly kedadanya yang lebar.


Membuat Cherly semakin sedih dan menangis sejadi jadinya.


Sehingga Rania dan Suaminya Joko menoleh kearah kamar Cherly dengan pintunya yang terbuka.


"Chers! Udah dong! Nangis Bombay nya! Gak lucu akh.


Barra kan bukan Sahkruh Khan dan kamu bukan Kajol! He he he, Dasar cengeng! " Kata Rania dengan mimik lucu.


Sehingga Joko menariknya keruang depan.


"Apaan sih, Ikut campur urusan kamar Cherly, Usil banget ya si kakak! " Katanya tersenyum grogi kearah Rania.


Joko memang periang tapi dia cukup pemalu kalau menyangkut hal yang berbau sensitif.


Barra membungkuk dan menyentuh kening Cherly! Dan merambat turun kepipi dan bibirnya yang tak Semerah dulu.


waktu pertama kali mengecup bibir Istri cantiknya.


Rasa asin airmata itu dihapus oleh bibir Barra Denan penuh kehangatannya. Dan tanpa sadar suara jadi hening.


Hanya deru nafas mereka tersebar membahana diantara detak jantung yang kian berdentum keras.


Denan sekejab ruangan besar itu menjadi panas dan oksigen menjadi sangat sedikit buat Cherly.


Saat Barra yang mendamba menyentuhnya Dengan panas membara.Hingga tak sadar dengan pintu yang masih terbuka.


Tubuh lemah Cherly yang ringan digendong dengan bopongan tangan yang kukuh itu menuju pintu, Dan Barra menutup pintu kamar itu dengan kakinya.


Membawa Cherly menuju sofa mungil Cherly dan merebahkan tubuh Cherly yang kini menghangat.


Gaun brokat halus itu terbang jatuh menuju lantai dengan lunglai. Dan Barra tak menyia nyiakan kesempatan yang sedikit buat mereka berdua.


wajah Cherly yang menempel didada kerasnya terasa sangat lembut. Dada Cherly yang tak kalah lembut. Bagai jelly yang kenyal dan terasa manis itu terhimpit ditubuh besarnya yang berbulu tebal dan sangat maskulin.


Dan serangan kecil itu dimulai dengan awal yang lembut.


Namun seiring jarum detik dan jarum menit yang berputar.


Serangan berubah kasar dan Brutal.


Pekikan dan Geraman gemas bercampur gairah pagi itu kian terdengar liar.


Cherly mulai kepayahan.


Namun Cinta dimatanya mengisyaratkan penyerahan diri yang muthlak buat Barra.


Erangan dan rintihan Cherly berbaur dengan lenguhan dan dengusan nafas Barra yang panas.


Cherly hampir pingsan sa'at serangan itu meningkat dalam tempo yang sangat cepat. Membuat gerakannya tanpa jeda. Membuat Cherly tak berhenti bergerak.


Perut bagian bawahnya sangat sakit. Saat benda besar itu terasa menyentuh mulut Rahimnya.


Saat serangan dahsyat itu datang dengan hentakan demi hentakan keras yang penuh tenaga. Sehingga bunyi kriet kriut dari sofa bagus itu hampir tak terdengar.


oleh Barra yang larut Denan kenikmatan yang tiada Tara.


Saat dia membujuk Cherly yang Menangis diantara kenikmatan dan kesakitannya agar kuat, Karena lahar panas itu serasa hendak mencapai ujung tujuannya.


Membuat Cherly terjajar kesisi Sofa yang mungil dan akhirnya satu hentakan keras penghabisan dengan gempuran dahsyat yang membawa lahar panas yang membuncah dengan deras . Bruk!! Dan tubuh Barra pun menegang hingga beberapa sa'at kemudian.


Membiarkan Sofa tempat kegiatan mereka itu kini jeblok dengan papan ukiran yang terpisah dari busa tebal berlapis kulit hitam nan lembut.


Sofa bagus yang dibelikan oleh sang Ayah dari sebuah kota penghasil meubel di Indonesia itu pun Ambruk dibawah tubuh Cherly dan Barra.

__ADS_1


__ADS_2