
Seminggu telah berlalu. Sejak kedatangan Cherly diruangan pribadinya.
Alex Telah melimpahkan separuh jadwalnya di Body building Raksasa yang berperan sebagai pusat kegiatannya sebagai Bankir dan penyelia saham terkemuka di Asia.
Alexis kini sering pulang cepat ketempat peristirahatannya itu. Karena disana ada seseorang yang kini sedang menunggunya.
Untuk sekedar menemani Cherly Alex tiba di Dome Centre Raksasa itu dengan dua belas pengawalnya yang berpakaian serba hitam itu.
Alex berjalan dengan tegap dengan tubuh tingginya yang tampak anggun dan berwibawa.
Hem putih dilapisi jas hitam dengan dasi panjang itu tampak melambai lambai mengikuti arah angin yang lewat disisi tubuhnya yang Atletis.
Tatkala pria itu sampai didepan ruangan khususnya para pengawal itu berhenti dan berpencar kembali kesegala penjuru rumah bagai kucing pengintai yang siaga dua puluh empat jam.
Alex melihat kearah sofa dan tampak terkejut melihat Cherly yang sedang menangis sesenggukan.
Alex melonggarkan dasi berwarna hitam itu.
Dan membuka dua kancing baju bagian atas Hem putihnya.
Dan mendekati Cherly dengan tersenyum tipis.
"Chers! Kamu kesepian?" Tebaknya tepat.
Cherly mengangguk pelan.
Namun pria itu hanya diam dan tidak memberikan komentar terhadap pernyataan Cherly.
Duduk disisi Cherly yang meringkuk dengan tubuh kecilnya yang terlihat menyedihkan.
Pria itu menekan tombol berwarna merah yang ada disisi meja! Dua orang Wanita masuk tak sampai dalam dua puluh detik.
Membuka baju dan Hem putihnya.
Mengganti pakaian pria itu didepan mata Cherly. Pria itu terlihat santai dan biasa saja saat tubuhnya yang indah bagai pahatan Michael Angelo itu hanya menyisakan under wear putih bersih yang menutup tubuh bagian bawahnya.
Cherly merasa sedang berada di dunia lain.
Tanpa Peradaban dan tanpa peraturan. tentang kehidupan norma sebagai seorang manusia yang beradab.
Alex tersenyum kembali kearah Cherly.
Cherly hanya menunduk dengan kaku.
Perasaannya tak enak sejak pagi tadi. Terkadang kerinduannya terhadap orang orang yang dicintainya menggelora.
Anehnya! Namun terkadang seperti tak mengingat apa apa.
Tentang siapa pun dari waktu yang telah dilewatinya.
Alexis tampak bagai boneka tanpa nyawa sa'at kedua wanita itu mengganti pakaian ditubuhnya dengan T Shirt krem dan bawaan celana sport hitam yang tipis dan lembut. Dari bahan nyilon berserat halus dan sedikit mengkilap.
Kedua wanita itu memberi kepada Cherly segelas air putih yang sangat bening .
Cherly meminumnya dengan cepat hingga Tinggal separuhnya dari gelas kecil yang disodorkan salah satu dari wanita itu.
Alex tersenyum penuh arti kepada Cherly.
__ADS_1
Sambil mengelus rambut Cherly dan mengurai rambutnya dengan pelan.
Cherly menjadi mengantuk dan tertidur kembali disofa lembut yang terasa dingin itu.
Alex Mengisyaratkan kepada kedua wanita itu agar pergi.
Dan ketika pintu besar itu tertutup erat dengan raibnya kedua wanita.
Alex mengelus wajah cantik Cherly didalam tidurnya.
"Aku tak akan membunuhmu! Wanita kecil! Dan tidak akan menjadikan dirimu sebagai budak! Namun akan kujadikan hiasan dalam ruangan ini, Untuk menutupi kelainan yang ada pada diriku!" Kata Alex Pelan.
Jemarinya yang halus itu menyelusuri wajah dan leher Cherly dengan pelan.
Aneh!
Mengapa ada getaran aneh dihatinya.
Sa'at menyentuh kulit wanita kecil itu?
...****************...
Truddie membujuk Sang Ibu hingga hampir satu Minggu.
Memijat sang Ibu hampir disetiap malam menjelang tidur.
Makan tepat waktu. Tidak ngemil dan jadi gadis rumahan.
Menyambut Sang Ayahnpulang kerumah dengan membawa kan tas tentengnya yang besar.
Dan bertingkah bagai kucing manis yang lucu.
Yang terletak ditengah hutan yang telah berubah jadi perkebunan yang sangat luas .
Dia juga harus mengajak Grace agar ikut bersama dengan dirinya. Grace malah mengajak Rosita agar ikut kerums Barra. Sedangkan kedua orangtua Cherly yang kini tinggal dikampung dalam waktu yang lama tak tahu menahu peristiwa nahas yang menimpa Putri kesayangan mereka.
Mereka mempercayai Barra dan Bu Ani. Dengan oetugas dan pekerja yang banyak menjaga Cherly dipedalaman itu,
Semua informasi yang menenangkan hati itu didapat dari Bibi Cherly! Yaitu Bibi Erni.
Bibi Erni ikut serta mengantarkan Cherly kerumah Barra. Dan melihat semuanya berjalan dengan aman dan tak kurang apapun.
Sehingga Pak Hermawan dan Bu Anita terlihat Berbahagia sa'at akan melangkahkan kaki menuju kedesa mereka.
Rosita tak akan memberi tahukan kejadian yang menimpa Cherly kepada kedua orangtua Cherly.
Atau Rania yang kini tingga bersama suaminya, Joko! yang berprofesi sebagai seorang Abdi negara.
Dan kini Rania tinggal di Asrama bersama keluarganya.
Dan Mereka pun berangkat menuju kerumah Barra.
Sam tetap menunggu hingga berita gembira yang datang dari Truddie dan Grace.
Mereka akan berangkat menuju menjenguk Barra yang pastinya tengah terluka. Dengan menghilangnya sang isteri yang sangat dicintainya itu.
...****************...
__ADS_1
Truddie menghambur kerumah kayu yang sangat indah itu.
"Aku suka desain rumah yang sangat artistik ini Sam! Aku merasa nyaman sebelum tiba kedalam rumah! Sam Apa kau bisa membuatkan ku rumah secantik ini?"Kata Truddie dengan riang saat menapak diundakan tangga kayu yang halus Itu.
Sam hanya terdiam.
Dia terlalu sibuk dengan fikirannya sendiri. Cherly yang hilang.
Dan Sam! belum juga menemukan titik terang. Dalam pencariannya.yang Telah meliputi hampir keseluruh pelosok Tanah air.
Pintu rumah yang didorong oleh Truddie dengan kekuatan penuh itu berdebam terbuka dengan lebar.
Menyuguhkan pemandangan yang luar biasa.
Membuat Truddie meradang murka.
Barra sedang berpelukan bersama dengan Maya didekat diruang tamu yang sedang sepi itu.
"Hai Brengsek! Kau masih bisa berpelukan dan beradegan seronok dengan wanita itu disaat temanku hilang dan nasibnya belum diketahui hingga kini?Kau keterlaluan Barra! Tadinya aku mengira kau sedang dalam keadaan berduka! Atas kehilangan Istrimu! Tapi Aku salah! Kau terlihat sedang menikmati hari hari indahmu bersama wanita lain.Kau jahat Barra!" Bentak Cherly dengan suara melengking keseantero rumah kayu besar itu.
Barra yang kebingungan dengan kedatangan Maya yang tiba tiba memeluk dirinya. Tak dapat dielakkan dengan menghalangi sentuhan Maya yang dadakan ini.
Barra tak bergeming atas tuduhan itu.
Barra yang merasa tak berbuat salah hanya terlihat masih bingung.. Namun tak dapat menyembunyikan keheranannya.
Mengapa semua seakan tersetting dengan baik. Bagaimana mungkin Maya datang Memeluknya Persis disa'at Truddie dan Grace Masuk kedalam rumahnya?
Padahal baru saja Barra melihat Maya dan Zheba berada dikamar mereka.
Dan Maya berubah jadi agresif sa'at memeluk Barra dan berjinjit mencium bibir Barra.
Yang belum sempat berbuat apa apa. "Aku dan Grace akan membawa Banta Malik pergi ke Jakarta. Disini berbahaya, Dan diasuh oleh orang orang yang jahat dan penuh intrik!
Aku bosan melihat tingkah lakumu Barra!"Desis Truddie dengan geram
Rosita yang datang 20 Menit lagi Akan tahu fakta tentang Barra yang yang tidak setia.
Grace hanya diam dengan Airmata yang terus berlinang!
"Chers! Dimana kamu kini?"Bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Truddie ingin menjerit setinggi langit
Mengapa Nasib Cherly begitu buruk.
"Aku benci Barra dan Sam," Bisiknya dengan raut yang terluka.
Sementara dikamarnya Zheba tersenyum dengan penuh kemenangan.
Dia yang mendorong Maya agar keluar dan memeluk Barra disaat Truddie dan keluarga Barra tiba.
Mereka akan pergi membawa anak kecil pengganggu itu.
Dan sebentar lagi Maya akan didepak dengan licik.
Hingga Dia dan Barra akan dapat berdua , Bersama seperti dulu lagi!
__ADS_1
"Hai Adrian! Infomu! Sangat spektakuler! Aku akan menstransferkan sedikit masukan kerekeningmu!" Kata Zheba sambil menghembuskan nafasnya dengan penuh kebahagiaan.