
"Jangan Tinggalkan aku Barra!" Teriak Zheba saat melihat mobil Diesel besar pick up itu melaju meninggalkan debu yang memutih didepannya.
"Barraaa! "Pekikan wanita malang itu menggema diseantero lembah yang sunyi itu.
Beberapa pekerja melihat wanita cantik itu dengan kasihan.
Mengangkat bahu mereka dengan pelan. Dan melajutkan kerja mereka yang hampir rampung.
Urusan Barra bukanlah menjadi hal perlu untuk dicampuri oleh mereka. Dan masalah Pribadi Barra dengan wanita itu tak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Pak Joy melanjutkan Membersihkan ruangan demi ruangan itu dengan sangat bersih.
Memeras handuk penggosok Lemari kayu berminyak itu terlihat acuh tak acuh pada teriakan Zheba.
Dia mulai terbiasa mendengar pertengkaran demi pertengkaran yang terjadi dikamar Barra.
Pria itu menyimpan keheranan yang sangat besar didadanya.
Mengapa ada seorang wanita yang secantik itu ngotot kepada seorang pria yang tak lagi mencintainya.
Bukankah didunia ini banyak pria selain Barra? Majikannya yang Kharismatik itu telah memiliki keluarga. Pak Joy bersiul siul melanjutkan pekerjaan dengan riang seriang saat menerima gajinya yang selalu disertai bonus dari dua orang Boss yang royal terhadap dirinya dan pekerja lain. Yakni Barra dan Sam.
Boss yang pendiam namun tetap menghargai jerih payahnya sebagai pekerja dan memperlakukannya dengan baik.
Sam! Pria yang misterius yang sering menghilang itu beberapa hari ini tak kelihatan.Dan ini bukanlah hal yang baru dirumah ini.
Zheba masuk kedalam rumah. Dan mulai mengacak ngacak barang yang telah tersusun rapi oleh pak Joy.
Sambil menangis Wanita itu menurunkan pigura yang berisi Photo Barra dan Cherly sedang tersenyum menyamping sambil berpandangan dengan mesra.
Zheba menatap photo itu dengan penuh dendam membara! dengan wajah bersimbah air mata.
"Cherly! Dasar wanita serakah tak tahu diri! Kau telah memiliki segalanya! Kau punya keluarga! Punya anak dan Keluarga Ramadhan yang sangat menyanyangimu! Punya Neo yang sangat mencintaimu. Kenapa kau masih merebut milikku satu satunya yang aku punya! Kau serakah Cherly! Aku membencimu! Aku akan membunuhmu wanita sialan..Prannng!" Photo itu dihempas Kedinding kayu yang tebal itu dengan sekali bantingan dan hancur berkeping keping!
Zheba masuk kedalam kamar dan menangis meraung-raung sekeras kerasnya.
Hati Zheba sangat sakit saat Barra mengatakan akan pergi ke Jakarta menjemput istri dan anaknya.
Zheba berusah melarang dan menarik tangan Barra dengan sekuat tenaganya.
Namun Barra tetap pergi bagai tawanan yang lolos dari penyanderaan. Melarikan mobilnya dengan bunyi berdebum dijalanan berlubang yang penuh debu.
...****************...
Pria itu menuntun Truddie memasuki rumah yang berada agak jauh dari pusat kota.
Truddie melihat Arloji mungil yang melingkar dipergelangan tangannya.
Rumah yang terpencil dari rumah yang lainnya. Berapa mayat yang telah dibunuh oleh pria ini ditempat yang sepi ini? Dan dia akan menjadi korban keberapa? Pikir Truddie mereka reka dalam hatinya.
Tak ada yang berbicara!
Sam membuka kunci pintu rumahnya yang tampak bagai rumah jagal bagi Truddie. Bagian dalam rumah , Seperti ruang tamu itu yang bertutup kain putih penghalang debu pada perabot dan furniture yang tak terlihat.
Suram dengan cahayanya yang sangat redup dan menakutkan. Berpuluh puluh sarang laba-laba tampak diatas plafon rumah.
Mereka melintas keruang dalamnya dan terus melewati beberapa ruangan.
"Apa Aku akan dihabisi disini! Agar bangkai tubuhku tak mudah untuk ditemukan?" Desis Truddie pelan.
Sam hanya meliriknya sekilas dengan wajah horror!
__ADS_1
"Sam! Kalau dipikir pikir! Aku belum mau mati deh! Banyak yang masih belum kucapai dalam hidupku yang indah ini," Kata Truddie lagi.
Sam menatap Truddie dengan melembut.
"Aku memang akan membunuh! Membunuh segala "ketakutanmu" Truddie!" Jawab Sam sambil mengelus pelan bibir tipis gadis yang terlihat gemetar itu.
Dan menyentuhkan Bibirnya yang hangat dengan pelan kebibir gadis itu.
Dan menarik kepalanya kembali kebelakang.
Menatap Mata Truddie yang terlihat berbinar indah.
"Chesire! Temani aku tidur malam ini! Aku tak pernah tertidur nyenyak disini!"Bisiknya dengan suara yang serak.
Mengandung gairah yang sangat dalam.
Truddie menunduk menarik narik rok pendeknya yang berwarna merah maroon. Bagai pemain tenis itu.
Dengan kaos pendek tipis berwarna pink.
Rambutnya yang diikat tinggi itu membuatnya bagai tim pemandu sorak pada sebuah Turnamen Basket.
Dilengkapi sepatu sneakers putih yang simple.
"Aku tak suka melihatmu memakai pakaian ini! Kau tampak bagai wanita bebas dan sangat cantik,"Kata Sam sambil mengelus dan meraba seluruh bagian wajah gadis itu.
Bagai orang buta yang ingin mengenali seseorang dari struktur wajahnya.
"Aku bukan milik siapa siapa Sam!" Jawab Truddie pelan.
Sam menggeleng gelengkan kepalanya sambil berdecak.
"Anak kecil?" Tanya Truddie heran.
Sam mengangguk pasti.
"Anak Barra yang nakal itu! Dia memukul pipiku," Seringainya terlihat samar seperti seulas senyum yang tersembunyi.
Truddie hampir tertawa.
"Si BarChek memukul wajahmu? masih syukur dia tidak kencing diwajahmu! Aku pernah! Saat membaca majalah dikamar ibunya dia ngompol di pipiku," Kata Truddie pelan dengan mata berbinar-binar.
Sam terdiam dan membuka bajunya.
Membuka lemari besar dikamar itu. Barisan baju baju dan berbagai barang tersusun dengan sangat rapi dan tertata dengan baik.
Sam mengambil sehelai kaos hitam tanpa lengan. dan memakai celana pendek hitam tipis berbahan nylon yang sangat ringan.
Tubuh tinggi itu sangat keren dengan tonjolan otot yang keras dan berkulit putih kekuningan itu.
Sam sangat keren.
"Aku membeli baju untuk kau pakai malam ini," Katanya sambil menarik sebuah bungkusan plastik yang besar.
Sam mendekat kearah Truddie dan mulai membuka pakaian Truddie satu persatu.
Truddie menahan nafasnya saat jemari Sam tanpa sengaja menyentuh bagian tubuhnya yang sangat sensitif itu.
Sam tak bergeming sa'at melihat tubuh Truddie yang polos karena semua telah dilucuti oleh Sam dengan sangat terlatih. Sam mengambil pakaian yang baru saja dibelinya siang tadi.
Memakaikan baju terusan tanpa dalaman itu. Dengan Renda lebar dan kancing yang bersusun puluhan dibagian tengah hingga kebawah gaun hitam warna pencil itu.
__ADS_1
Skirt bukan Rok pun bukan!
Berwarna pensil yang sangat lembut dengan sangat tertutup. Dengan krah bulat yang menutupi hingga kelehernya.
Gaun panjang yang hampir menyentuh lantai rumah berwarna merah itu. Berlengan panjang penuh renda yang sangat norak menurut Truddie. Tawanya hampir meledak.
Seumur umur belum pernah memakai pakaian seperti ini.
Kecuali saat pesta Halloween dan dia berkostum hantu wanita rumah tua bersetting abad pertengahan.
Sam! Pria yang sangat aneh!
Selera yang aneh.
Dan berpikir aneh.
Pria itu mengelilingi Truddie.
Sambil mengetuk ngetuk jari telunjuknya diatas hidungnya yang mancung!
"Aku melihat wanita yang sangat seksi sekarang," Katanya dengan wajah terlihat sangat puas.
Membuat Tawa Truddie lagi lagi hampir meledak!
"Yang benar saja Sam! Aku merasa bagai Quin Elizabeth muda! Kau tinggal memasang korset dipinggangku dan menyanggul rambutku keatas.Agar orang orang tahu.
Kalau aku adalah salah satu keturunan Bangsawan dari Eropa.
Jika hanya seperti ini aku bagai Ibu ibu yang pergi menghadiri pernikahan massal." Kata Cherly tertahan saat merasa sesuatu yang hangat menyentuh pelipisnya.
"Kau benar benar sangat seksi! Kau cantik! Aku bahagia melihatmu seperti ini," Bisik Sam Lagi.
Bukankah seleranya juga aneh?
Sam tak tertarik sama sekali dengan keindahan tubuhnya yang telah terpampang didepan matanya.
Dalam keadaan tanpa sehelai benangpun.
Pria itu hanya mencium bibirnya sekilas. Mengajaknya tidur bersama eh! Ternyata malah mengantarkan Truddie pulang kembali kerumahnya. Dengan memakai baju musim salju ini!
Truddie cemberut sepanjang jalan .
Pria gila itu hanya diam menatap jalanan.
Dan hanya memakai baju orang gila ini. Membuat mood Truddie jadi buruk.
"Padahal Aku udah siap siap ni! Dasar cowok nggak normal,"Kata hati Truddie dengan gemas.
"Ih! Ni cowok Gay Apa! Kesel deh,"Kata hati Truddie pelan.
Dan Truddie turun digardu satpam rumahnya dengan berjalan menunduk. Pak Subur dengan empat orang anggota gengnya tertawa hampir bersamaan melihat kostum yang tak lazim dipakai Truddie.
"Hai Truddie! Kau lomba kostum apalagi? Gamis bukan Gaun pun bukan,! Hua ha ha kau terlihat aneh nak! " Kata pak Subur lucu tanpa bermaksud mengejek.
Truddie tidak marah! Mereka memang pantas tertawa.
Dengan cepat Truddie melesat masuk kedalam kamarnya.
Dia takut Tawa Pak Subur menular sampai kedalam rumah.
"Ih dasar Cowok Gila!"Decih Truddie.
__ADS_1