Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
The Moonlight Is Back!


__ADS_3

Lembaran demi lembaran membawa kisahnya masing-masing.


Penuh cerita panjang yang mengukir kisah hitam dan putih.


Dengan jejak mimpi dan kenangan yang akan usang terbawa sang waktu! Pergi lalu menghilang.


Cherly tak ingin larut dalam sebuah mimpi yang tak memiliki tepi. Dia adalah tipe seorang gadis yang Dinamis dan selalu menatap dunia dengan caranya yang sederhana.


Lugu! Polos didalam gemerlap kehidupannya sebagai gadis Populer.


Cherly memutar mutar tubuhnya didepan sebidang cermin yang besar memantulkan bayangan dirinya seutuhnya.


sekilas tak ada yang berubah dengan dirinya secara keseluruhan.


Wajah halusnya yang bersinar merona, Dengan bibir yang memerah berisi penuh dan tampak lembut.


kulitnya memancar cerah putih cerah bagai pualam yang telah digosok dengan sutra,Tanpa garis dan guratan yang membayang menguar kecantikan wanita yang hakiki.


Rambutnya tetap tergerai lembut diatas pundaknya yang berlekuk sempurna.


Dada indahnya tetap membusung indah tanpa cela. putih dengan bulatan padat bagai bulatan purnama disa'at penuh. putih halus tanpa noda.


Dengan bokong padat yang membulat indah bagai bungkahan roti bagel Turkey yang kenyal dan padat namun lembut dan kenyal.


Cherly tersenyum puas melihat penampilan yang menakjubkan itu.


"Bibi Erni memang tiada duanya dalam mengurus aku! Cherly is Back!"Katanya dengan bangga.


Cherly menatap Anaknya yang duduk dikursi Bayi, Sambil mempermainkan Giring Giring bulat yang menggelantung didepan kursi kecilnya. Ludahnya meleleh keluar membentuk garis lurus dan jatuh dipermukaan kursi yang lucu berbentuk bebek berwarna kuning.


"Hai! Barche! Kamu lagi apa! Mengagumi kecantikan Ibu! dengan liur menetes saking takjubnya, Ya kan?" Kata Cherly sambil tersenyum.


"Kok Barchek Sih! Bukannya namanya Banta Malik Ramadhan," Protes Bini Erni yang baru datang membawa susu buat Sang Bayi berusia 5 bulan itu.


Banta Malik Ramadhan. Nama "Banta" Dinukil dari nama seorang jagoan legendaris yang berasal dari daerah paling Barat Indonesia. Yakni "Banta Ali"


Namun karena Nama Ali sudah terpakai oleh kakak lelaki Barra yang bernama Ali Ramadhan.


Maka Nama itu terpotong menjadi Banta Malik Ramadhan.

__ADS_1


"Oh! Suka aja memanggil namanya begitu, Singkatan dari Barra dan Cherly, Gitu lho Bibi!" Jawab Cherly dengan Gaya centil.


Barche! Nama yang aneh,Pikir Bibinya sambil geleng geleng kepala. Kini sifat ceria Cherly kembali muncul. Seakan akan telah move on dari masa lalunya.


Dia menyebutkan nama Barra tanpa beban apa apa lagi. Begitu bebas dan terlihat lepas dengan beban yang dulu membelitnya.


Banta, Si Bayi mungil yang ceria! Jarang sakit dan tidak cengeng, Jika sedang terjaga,Anak itu bermain dengan Asesoris anak anak yang bertebaran dikamar bayi itu.


Setelah puas bermain main Banta akan tidur dengan nyenyak di box Bayi dengan damai.


Para pengasuh bayi itu bergantian berebut menjaganya! Terdiri dari keluarga dekat Pak Hermawan dengan sang senior penjaga yang ahli di bidangnya, Yaitu Bibinya Erni!


Cherly Seakan akan menjadi seorang kakak. Bukan berperan sebagai seorang Ibu! Keluarganya seakan sengaja mengambil alih tugasnya sebagai Ibu, Mengingat sebentar lagi Cherly akan melanjutkan pendidikannya. Dia akan berangkat bersama dengan Banta diikuti oleh tiga orang pengasuhnya.


Dia akan kembali kekampus Biru!


Dan Banta Ramdhan akan tinggal didalam pengasuhan para Bibi bibi Cherly itu dirumah Pak Hermawan, Dan pastinya mereka mengasuh anaknya seperti menjaga gelas yang rapuh.


Mereka sangat hati hati dalam mengasuh Banta kecil.


Mulai dari istirahat, Makan dan bermain, Telah terjadwal dengan sangat baik dan teratur.


Dia harus mempersiapkan diri untuk berpisah diwaktu waktu tertentu dengan sang anak Di jadwal kuliahnya yang padat.


Cherly belum pernah berpisah dengan anaknya yang masih berusia 5 bulan tersebut. Cherly tak pernah berpisah dari anaknya walau semenitpun. Walau dijaga oleh para pengasuh Cherly tetap berbaring disamping sang anak yang berparas tampan itu. Dan sangat mirip dengan sang Ayah.Barra Malik Ramadhan.


...****************...


Nun dibelahan pulau yang lain.


Alat berat yang membuat paluh yang panjang dengan penanaman pipa 12 inci itu sebagai saluran air yang memanjang terbentang melintang melewati bukit hingga dari balik gunung yang jauh itu. Puluhan para pekerja itu terlihat bekerja dengan topi berwarna kuning ditengah sengatan sinar matahari yang membuat peluh mereka mengalir dengan deras.


Barra! Sang pria kekar penuh brewok dengan singlet putih dengan Jeans biru koyak dibagian paha dan betis yang berbulu itu terlihat berdiri ditengah lahan yang mulai ditanami di musim penghujan beberapa waktu yang lalu.


Musim penghujan yang telah mulai mereda.


Dan sesaat lagi digantikan oleh musim kemarau yang panjang. Jadi pipa pipa Paralon terbuat dengan bahan PVC tebal itu harus telah siap diakhir Minggu ini.


Dengan saluran air bersih dari atas gunung yang bermata air sangat jernih dengan sumur besar yang sangat jauh dari lokasi media tanaman yang mulai menghijau.

__ADS_1


Seakan terjadi Reboisasi besar besaran di lahan yang landai dilahan yang sangat luas ini.


Barra menatap kearah Puluhan ribu media anakan sawit yang mulai bertumbuh subur. Dilahan gambut bekas pertambangan dengan tanah yang rusak itu.Seakan telah disulap menjadi lahan luas membentang menghijau sejauh mata memandang. Dan disebelah barat ditepian kaki gunung itu ditanami dengan barisan kayu Meranti hutan dan kayu jati yang masih berukuran 50 cm.


Dengan beberapa lembar daun yang kecil berbentuk tunas baru yang mulai muncul di celah daun.


Di tengah lahan it berdiri satu unit gubuk kayu yang berukuran 6x7 terbuat dari kayu hutan. Dengan serutan kasar namun kokoh dengan paku paku raksasa.


Tiangnya yang bulat berbuku buku membulat itu terlihat aneh dan mirip bangunan rumah pohon suku terasing yang belum mengenal peradaban.


Atap yang terbuat dari seng bekas tua yang telah menguning dimakan usia.


Pintu Sorong yang terbuat dari triplek tebal berlapis kayu yang tak rapi.Dilengkapi engsel dengan gembok raksasa menggantung mengerikan, Mirip gembok penjara para tawanan perang tempo dulu.


Barra menghantamkan Pacul besi kearah sebuah batu besar didekat paluh dan menghalangi saluran penanaman Pipa saluran air itu.


Pria itu tak henti hentinya menghantamkan Pacul itu menimbulkan bunyi dentingan. Bagai bunyi besi yang beradu dengan baja yang memercikkan pijaran api yang memercik berkilau dibawah matahari.


Barra menghantam batu itu kian kuat sehingga pecah membentuk bongkahan besar yang terlontar keras terhantam kearah jari kakinya hingga mengeluarkan darah yang mengalir membasahi tanah bakal perkebunan yang sangat luas itu.


Anehnya Barra sama sekali tak merasa sakit atau perih. Walau berhenti dengan hantaman paculnya kebatu besar itu. Dan Mengoyak kaos singlet putih tipisnya dan mengikat lukanya menjadi pembalut darurat dengan wajahnya yang datar. Tanpa Ekspresi.


Barra duduk mengusap peluh yang membanjir diwajahnya yang penuh bulu bulu kasar itu.


Dan meraih cangkir kalengnya yang berisi kopi.


Barra menghirup Kopinya dengan nikmat dan menyalakan rokoknya dan menghisapnya dengan dalam.


Menghembuskan dengan perlahan. Lalu menyandarkan tubuhnya Kedinding gubuknya yang berderit kasar itu dengan wajah yang puas.


Sambil menekuk kaki kirinya yang panjang. Menatap sebaris belibis gunung berwarna putih yang terbang berbaris membentuk huruf v dilangit biru diantara embun putih yang berarak dengan indah.


Mengingatkan Barra kesebuah keindahan yang masih sangat dirindukan. Namun tak ingin merusak keindahan yang telah tersakiti oleh perbuatan buruknya dimasa lalu.


Seraut wajah yang selalu hadir menghiasi mimpi indah malamnya, diantara mimpi buruknya yang mencekam.


"Cherly! Dimana pun kau berada! Aku berharap kau akan berbahagia, Walau kau bukan tercipta untukku lagi! Dan jagalah anakku! disisi hidupmu dengan pria yang lain," Bisiknya diantara kumisnya yang merambah menuruni bibirnya yang tak terlihat jelas.


"Chers! Itu adalah nama Populermu! Gadis bodoh! Yang telah mencintai Pria yang bodoh," Bisiknya sambil memejamkan matanya . Dan perlahan mimpi indah kembali menjenguknya. Tidur dibawah cahaya matahari itu adalah langka untuk manusia yang langka

__ADS_1


__ADS_2