Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Pertemuan Yang Tak Terencana.


__ADS_3

Suasana dirumah yang sempit itu terlihat ramai. Banta Malik melompat lompat riang. Dengan kuda karet besarnya yang yang dilompati berulang ulang kali.


Bersorak sorai dengan bahasa kanak kanaknya yang berlepotan bahasa sanksekerta.


Lisa yang tengah memakan kentang goreng dari toples transparan berisi penuh camilan yang gurih itu sambil menonton sinetron kesayangannya.


Sesekali berkomentar tak jelas, Kadang marah marah dibagian scen yang menjengkelkan.


"Oh ! Dasar musang berbulu kucing! Begitu pandai bersilat lidah! Phuih! " Katanya dengan gemas bercampur geram. Meludah tanpa isi kelantai semen.


Membuat Cherly yang tengah menyusui Paquita menggeleng gelengkan kepalanya.


Mengapa harus seserius itu menonton sinetron yang bisa mengakibatkan sakit jantung. Sementara persoalan didalam hidupnyapun telah begitu rumit.


Putri kecilnya itu telah mulai tertidur! Cherly masuk kedalam kamarnya dan meletakkan Paquita ke Box Bayinya. Memasang kelambu tipis yang berbahan Nylon yang lembut.


Paquita tampak damai didalam tidurnya. Cherly berjalan kearah lemari pakaiannya. Mengganti bajunya dengan baju tidur. Dengan memakai piyama putih bergaris lurus hitam.


Mulai merebahkan tubuhnya kekasur. Dia merasa capai seharian ini. Dia perlu istirahat dengan pemulihan kesegaran tubuh dan jiwanya yang lelah. Sedangkan Banta akan tidur sekejap lagi bersama Lisa dan Bu Ani.


Banta! Sama seperti Ayahnya! Tak suka tidur terlalu cepat. Selalu tidur dalam waktu jauh malam.


...****************...


"Truddie! Cepatlah Nak! Kau berjalan seperti Bekicot! Keluarga Hardiman Soedono telah menunggu Sejak empat puluh menit tadi,"Kata Nyonya Ning sambil berjalan cepat bagai kilat menarik sang anak! Bagai seorang Ibu yang mengajak sang anak untuk menonton layar tancap didepan rumah yang telah mulai tayang dalam waktu singkat dan menutup babak sebelum sempat ditonton.


"Aduh! Mama! Biar ajalah mereka menunggu! Masih empat puluh menit! Bukannya empat jam,"Keluh Truddie terlihat tak senang.


Kaki mereka menapak memasuki restoran yang besar tersebut. Langsung memasuki ruangan luas yang bercahaya perak dengan penerangan yang cukup.


Langsung menuju meja Rekomendasi privat VVIP. Disana telah menunggu Keluarga Hardiman Soedono.


Dengan Segera wanita setengah baya yang terlihat ceria dikursi tengah bangkit menyambut Bu Ning dan Truddie.


"Aduh Truddie! Kamu Cantik sekali nak! Ibu jadi pangling," Katanya sambil memeluk Truddie yang tersenyum tipis.


Truddie mengenakan gaun merah dengan manik kecil berlekuk didekat bahunya dengan lipitan kecil yang membuat bentuk gaunnya terlihat cantik dan lucu.


Cocok dengan kepribadiannya. Sementara diseberang meja besar yang penuh dengan pelbagai makanan itu tampak seorang pemuda berwajah manis bertubuh tinggi jangkung yang berpenampilan perlente. Menatap Truddie dengan matanya yang berbinar binar penuh kekaguman.

__ADS_1


Truddie terlihat hebat malam ini.Gaun merah itu menjuntai diantara kaki putihnya yang halus! Dengan sepatu mungil berwarna merah. Gaun Tanpa lengan dengan potongan hurup V Dibagian leher. Yang berhias Kalung emas mungil dengan liontin permata berbentuk Bunga matahari. Disertai anting mutiara catolan berlian yang mengerlip samar ditelinganya yang kecil dengan lengkungan indah.


Rambut keriting Cantiknya digelung keatas! Dihiasi jepit kecil panjang mengkilap dengan hiasan sayap kupu kupu berwarna merah dan biru. Truddie Tampak dewasa diusianya yang menjelang 23 Tahun.


"Bagaimana dengan Pertunangan Arie dan Truddie Paul? Sebaiknya diselenggarakan secepatnya! Mengingat Arie yang telah mulai berangkat minggu ini ke Negeri Jiran dalam rangka menjalin sebuah kerjasama dagang mungkin akan berada disana beberapa minggu." Kata Pak Hardiman Soedono membuka pembicaraan kedua keluarga itu. Truddie tampak tidak terkejut dengan tujuan pertemuan dua keluarga besar itu. Truddie telah diberi tahu oleh Ibunya tentang perjodohan ini. Seminggu yang lalu.


Truddie hanya diam! Tidak mengatakan iya! Dan tidak juga mengatakan tidak! Truddie hanya pasrah dengan apa rencana Tuhan yang mengatur semua tentang jodohnya.


Pria bernama Ariesman Soedono itu tampak berbahagia sambil memberikan cincin berlian berukir bunga dari berlian murni yang mahal. Ketangan Calon istrinya! Truddie.


Meraih jemari Truddie yang cantik.


"Terimalah Hadiah kecil dariku! Truddie! Sebagai tanda sebuah ikatan yang akan segera terjalin sehari depan, " Katanya pelan sambil mengecup jemari Truddie dengan mesra. Membuat kedua keluarga itu bertepuk tangan memberi Tepukan tangan sebagai Aplaus kepada calon pasangan yang tampak serasi itu. Truddie tersenyum sumringah dengan menunduk malu.


Ya! Dia pantas berbahagia! Arie yang tampan dan manis! Mapan! berprofesi sebagai Insinyur pertambangan dan pengusaha resmi Negara yang menjalin kerja sama penjualan mineral Bumi penting dengan beberapa negara tetangga. Dan Berjanji akan menjadi pria yang dapat membahagiakan Truddie Selamanya.


Tanpa mereka sadari! Sepasang mata memperhatikan semua gerak gerik Truddie dan Arie dari sudut restoran ber Hall luas itu dengan sinar mata yang aneh.


...****************...


Truddie selesai membersihkan sisa make up yang menempel diwajahnya. Kini wajahnya terasa ringan dan sangat lembut. Truddie mengelap wajahnya dengan handuk muka yang kecil dan berserat lembut! Truddie mengelap tubuh indahnya dengan bersih. Dia tak biasa tidur dengan keadaan debu yang menempel dikulitnya walau sedikit! Memakai gaun tidurnya yang berbahan lembut dan sedikit tebal. Berwarna merah muda. Cuaca lumayan dingin dengan sisa hujan yang masih mengembun direrumputan taman depan saat Truddie turun dari mobil bersama kedua orang tuanya.


Truddie membawa piring kecilnya kekamar dan memakannya dengan pelan. Dan hampir berteriak kaget tatkala sesosok manusia telah berdiri dihadapannya dengan tubuh menjulang.


"Sam! " Bisiknya dengan pelan! Seakan. melihat setan disiang bolong. Sam menyeringai sinis menatapnya dengan mata berkilat tajam! Membuat buku kuduk Truddie merekah dibalik gaun tebalnya. Dan menutup jendela tempat dia melompat masuk dengan tidak hormat kekamar Truddie.


Wajahnya yang dingin dan memutih didalam cahaya lampu kamar Truddie yang terang lebih mirip seorang Vampir penghisap darah.


"Sam! Kau kemana saja selama ini? "Tanya Truddie membuang rasa takutnya. Menatap Sam yang tampak berbeda. Mengenakan pakaian serba putih hingga sneakers ditelapak kakinya.


Rambutnya mulai memanjang melewati bawah telinganya terlihat hitam legam. Dengan matanya yang misterius dengan keratan bibir tipis yang indah kemerahan.


"Aku Berada dibawa langit rumahku! Dan ketika melintasi restoran itu melihatmu sedang berbahagia dengan lelaki yang akan kau nikahi! Aku hanya datang mohon pamit sejenak! Besok Aku akan pergi menuju belahan dunia yang jauh! Semoga kau berbahagia! "Katanya sambil memberikan sebutir koin bulat terbuat dari perak yang bergambar naga. Truddie mengerutkan keningnya dengan pandangan tak mengerti.


Dia merasa bukan seorang Numanistik atau pengoleksi benda antik berbentuk koin antik yang terlihat antik ini.


"Jika kau masih mengingatku! Kau bisa melihat benda itu. Jika kau tak ingin mengingatku! lagi! Buang saja benda itu ke Tong sampai dipinggiran jalan! "Katanya sebelum berbalik pergi. Truddie termangu sejenak sebelum berteriak.


"Sam Tunggu! "Katanya dengan susah payah. Sambil berlari kearah Sam! Memeluk pemuda misterius berstelan putih bak malaikat penjaga pintu kebaikan.

__ADS_1


"Sam! Jangan pergi! " Katanya sambil menenggelamkan wajahnya dipunggung Sam yang keras dan terasa kaku! Sam terpaku dengan rasa yang aneh.


Dan berbalik pelan.


Memegang dagu Truddie dengan jemarinya yang terasa hangat. Menatap kemata indah Coklat Truddie yang kini berlinangan .


Mengapa benda sialan berbentuk cairan bening dari mata indah Truddie membuatnya terluka? Sam mengusap Air bening itu dengan ibu jarinya perlahan. Hingga jatungnya bergetar saat ibu jarinya tanpa sengaja menyentuh bibir Truddie yang lembut.


Sam membungkuk dan menyentuh bibir Truddie yang terasa bagai jelly manis yang beraroma jeruk. Lembut dan harum. Dan menjadi mabuk oleh gairah panas yang datang menyerbu dimalam yang dingin. Tubuh Truddie yang melembut kini menjadi sebuah media yang menakjubkan untuk disentuh dan rasakan oleh pemuda dingin yang kini memanas.


Truddie merasa melayang keatas awan saat tubuh mungilnya terangkat keatas ranjang yang empuk.


Suara kesiur angin yang tertahan lewat jendela berkaca tebal itu tak mampu mengusir rasa panas yang kian membakar. Tubuh Truddie yang melengkung dengan indah terhampar polos membuat suatu geraman dari mulut Sam dengan wajah memerah.


Memainkan tubuh indah yang luar biasa itu dengan gairah primitif yang membuat Truddie menjerit lirih berkali kali.


Ditengah suara lonceng malam dikejauhan yang menandakan manusia lain yang telah terlelap.


Diantara keringat yang kini mengalir deras dari dua anak manusia yang berbeda latar belakang yang kontras.


Berkali kali Truddie menjerit lirih disambut dengusan nafas Dan yang kian menggelora dalam gelepar kenikmatan yang berlumur dosa! Didalam norma kehidupan manusia yang mempunyai batasan.


Namun Batasan itu telah hilang oleh lenguhan panjang yang tak biasa dalam gelora gelombang gairah yang tak berkesudahan.


Truddie terkapar dalam kelelahan yang tiada terkira.


Hingga lonceng malam yang panjang berbunyi dari persimpangan jalan yang sunyi.


Saat Geleparan yang berakhir dengus nafas yang saling memburu panas.


Satu teriakan tertahan memenuhi ruangan yang kian terasa sesak oleh hempaskan demi hempasan.


Jeritan Truddie kini mereda dibuang kedap suara yang damai itu.


Dada Truddie terlihat bergelombang saat Sam menarik selimut pin yang lembut itu menutupi tubuh mereka berdua. Sam mengelus pipi yang memerah antara keringat dan airmata. Satu kecupan yang langka mendarat dikening Truddie yang kini terbaring lemah.


Sam! Bukanlah pria dingin tanpa nafsu dan gairah! Dan adalah pemain malam yang lihai dan penuh petualangan yang membawa Truddie berkali kali! Menuju Nirwana tanpa wujud yang memporak porandakan segala pertahanan Truddie yang telah dibentengi sejak lama. Sam menatap kemanik mata Truddie yang mulai memejam.


"Selamat Tidur Truddie!"Bisik Sam pelan.Memeluk tubuh Truddie yang kini terasa mendingin. Mata mereka berdua terpejam menunggu esok hari!

__ADS_1


Melihat mimpi mereka yang pasti beranjak pergi.


__ADS_2