
Di kediaman Theodore Alexis.
Gadis itu dapat menyesuaikan diri dengan mudah. Suatu keanehan yang tak terpikirkan oleh Alex. Tidak seperti anak anak kecil lain pada umumnya yang akan menangis sepanjang waktu karena terpisah dari orang tua dan saudara saudara mereka.
Paquita selalu mengingat nasehat Sang Ayah ! Barra.
"Merpati putih yang Cantik! Ingat pesan Bapak ini ya Sayang? Jika suatu hari engkau akan diculik oleh seseorang. Bersikaplah dengan baik! Sebelum Bapak tiba di tempatmu! Jadilah anak yang baik dan tidak cengeng! Ayah akan tenang dalam menyusun strategi penyelamatanmu! Kamu harus mengambil hati penculikmu dengan bersikap manis. Maka kau akan terhindar dari bahaya!" Begitu kata kata yang Ayah yang terus diingat oleh gadis kecil itu.
Jauh jauh sebelum peristiwa ini terjadi, Barra telah memprediksi bahwa kehidupan keluarganya dalam bahaya. Mengingat dan menyadari bahwa dia pernah terlibat didalam sebuah bisnis gelap dan ikut dalam suatu spekulasi perbankan yang berbahaya.
Sedikit banyak mempengaruhi ketentraman yang kini dirasakannya bersama sang Istri dan keempat anak anaknya.
Oleh sebab itulah sejak dini Barra telah mempersiapkan dalam mengantisipasi kejadian yang dapat menimpa keluarganya.
Dan Atas dasar itu pulalah Barra tak pernah melarang jika Sam mengajarkan sesuatu hal kepada Putranya Banta Malik Ramadhan yang terkadang Anarkis bagi kaca mata orang awam.
Dan sampai hari ini Sam tetap mengajarkan tentang perlindungan diri dan tekhnik menjatuhkan lawan untuk Banta lewat Ponsel Canggih yang diberikan oleh Sam kepada Banta.
Sam selalu mengamati perkembangan dan kemajuan Banta dari kejauhan.Sam benar benar ingin berperan dan tak berhenti untuk mengawasi keluarga Barra walau dari kejauhan. Kadang Barra terharu melihat cara Sam melindungi keluarga mereka.
Dan kini Paquita akan berusaha bersikap baik. Walau dia sangat merindukan Keluarganya.
Dress cantiknya yang berwarna Violet dilengkapi bunga bunga kecil dengan rambut lurusnya yang panjang menjuntai di punggungnya berhembus indah tertiup angin di Balkon Dome mewah Alexis . Sementara pengasuhnya yang berwajah dingin tampak berusaha sangat ramah dan"Wellcome" Terhadap Putri Barra.
yang notabenenya adalah korban penculikan yang dilakukan oleh Alex.
Alexis mengembangkan senyum dibibirnya yang merah. Wajah Asianya yang sangat tampan bagai icon aktor dunia itu tak henti hentinya menatap putri musuhnya yang memang terlihat luar biasa cantik." Hmm. Anak Barra dan Cherly memang hebat! " Dengus Alex dari layar monitornya. Dia mengawasi Paquita Dari kejauhan antar benua. setiap hari tanpa terlewati. "Sebentar lagi aku akan tiba anak manis! " Bisiknya dengan suara misterius.
Alex menutup Perangkat lunaknya dan mulai tidur keranjangnya yang besar dengan miniatur kolam ditengah taman yang indah. Sementara disekeliling ranjang yang unik itu tumbuh bunga bunga hidup yang bermekaran .Asli bunga hidup dan batu sungai berwarna warni hitam dan putih kombinasi bebatuan berharga lainnya.
Termasuk batu Ruby dan Emerald asli.
sementara Plafond ruangannya didesain bagai bentuk dekor SeaWorld dengan ikan ikan dan terumbu karang ditengah Atol laut dengan nuansa biru yang menyejukkan jiwa. Alex begitu cerdas dalam mendesain ruangan pribadinya sendiri dan tercipta dari imajinasinya yang fashionable. Alex perlahan bangkit dari ranjang Miniatur alamnya dengan gerakan lambat. Seperti ada sesuatu yang difikirkan olehnya. Alih alih bangkit. Pria tampan berusia 30+ itu meraih perangkat serba gunanya yang berbentuk pipih. Mencoba menghubungi asistennya. " Paulermo! Atur jadwal penerbangan ku secepatnya ! Aku harus tiba dirumah tiga jam dari sa'at ini!"Perintahnya dengan suaranya yang serak dan sedikit Bariton. Dia memastikan Tiga jam lagi dia akan tiba di Boarding pass.
__ADS_1
Dia memakai layanan jasa pesawat komersial seperti biasanya. Dengan kabin privat dan dikelilingi oleh para pengawal yang sigap dan siap membidik dengan awas pada setiap titik yang mencurigakan. Namun sejauh ini tidak ada tanda tanda aneh yang dapat membahayakan Sang Milyarder yang terlihat santai dengan penutup matanya yang berwarna hitam sebagai pelindung tidurnya yang unik didalam penerbangan yang memakan waktu lumayan lama.
Alex tersenyum bangga saat melihat atraksi Paquita Yang tengah berenang dengan lincah dikolam renangnya diawasi oleh beberapa pengawal yang tetap siaga ditepi kolam yan bening kebiruan itu. Alex merasa nyaman setidaknya Paquita hanya menangis selama dua hari. Setelah itu dia mulai belajar dan bermain bebas dengan tiga orang pengasuh dengan tiga karakter yang sangat membantu. Sang gadis kecil itu.
Alex tidak main main dalam merencanakan visi dan misinya dalam mengambil gadis kecil ini.
Pria tampan ini pun tak ingin Paquita hanya berdiam diri saja. Anak kecil ini dididik dan diberi pelajaran secara layak dan kreatif. Alex belum pernah menampakkan dirinya sejak anak itu telah dibawa ke Dome mewahnya. Alex tetap menunaikan kesibukannya seperti biasanya dalam perjalanan bisnisnya yang melanglang dunia. Paquita yang tak pernah melihatnya seakan tak mengetahui dirinya sedang dalam sebuah misi pribadi Alex. Dan mencoba bersikap wajar dengan orang orang disekitarnya selain ketiga pengasuhnya yang seru.
Sehabis berenang dengan puas. Hasil didikan latihan Barra. Paquita keluar dari kolam melalui tangga Kuningan besi yang berada disisi kolam luas itu.
Dia menyeka wajahnya dengan handuk putih lebar yang lembut .
Dua orang pengasuhnya menghampirinya dan membawanya keruang ganti untuk membukakan bikini hitam dengan kombinasi merah bata yang membalut tubuh kecilnya.
Memandikan gadis kecil kembali dengan air hangat. Dengan pelembab dan sabun khusus Agar kulit gadis kecil itu tetap lembut dan membilasnya dengan hati hati.
Paquita hanya diam dan sesekali memberikan instruksi kepada Pengasuhnya agar menyiapkan makanan yang menggugah seleranya. Saat tubuhnya masih berbalut baju mandi berwarna putih dengan gambar Winny the Pooh.
Paquita menikmati kehangatan Hair dryer yang menyapu kuduknya dengan lembut.
"Kita harus menyambut seseorang Princes! Seseorang yang hebat bagi kita semua!" Beritahu Mirriam dengan ceria. Dibalas anggukan Anak kecil itu. Walau dia belum tahu siapa yang akan datang menemuinya nantinya.
"Boleh aku tahu siapa? "Ujar Paquita penasaran.
"Rahasiaaa, " Kata Mirriam sambil memainkan matanya kearah Paquita.
Membuat gadis kecil ini menyebikkan bibir cantiknya dengan lucu.
"Aku berani bertaruh dengan lima batang wortel besar ! Kalau orang itu tidak baik!"Kata Paquita pelan.
"Apa kau biasa bertaruh dengan buah buahan jika sedang menebak?" Jawab Claudia, Pengasuh satunya lagi.
""Bagai mana sistem taruhan dengan wortel?"Tanya Sonya lagi. Pengasuh yang paling pendiam. Paquita memastikan Sonya seumuran dengan Lisa. Sepupu Ibunya yang kini pasti sedang menangisi kehilangannya.
__ADS_1
Paquita tersenyum kecil sebelum menjawab.
"Kau cukup memakan wortel itu jika tebakanku benar!" Kata Paquita dengan membesarkan matanya kearah pengasuh pengasuhnya yang masih sibuk menaburkan dan memoles lembut wajahnya dengan powder wangi translucent kewajahnya.
"Oh ! Anak yang lucu! Aku akan dengan senang hati membuat Juice wortel kesukaanku jika tebakanku salah," Cerocos Mirriwm lagi sambil memulas akhir wajahnya setelah menyemprot baju dibagian tengah dengan spray yang harum.
"Sudah! Kau bisa melangkah tanpa sepatu flat tipismu dilantai, Aku yakin wajahmu sudah halus seperti pantat bayi," Kata Claudia lagi dengan senyum penuh kagum.
Paquita tersenyum miring kearah Claudia.
"Kau bicara jorok sekarang , Nona Claudia! Aku bisa menghukummu dengan sepiring Srikaya mentah!" Katanya dengan mata menyipit.
"Oh! Apakah "Pantat Bayi" Sesuatu kata Vulgar Miriam? Aku tidak menyebut Pantat Mirriam bukan?" Kata Claudia lagi sambil tertawa kencang.
Disambut tawa Mirriam yang tanpa suara.
"Kau tahu Nona kecil? Aku suka kalau wajahku mirip pantat bayi. Karena orang akan mencium dengan gemas!" Jawab Mirriam tak mau kalah.
Paquita hanya memasang wajah bego dengan gaya dibuat buat. Anak ini memang lucu! Fikir Sonya senang.
Sekarang semua sudah siap .
Mereka membimbing tangan gadis kecil cantik itu menuju ruang utama rumah.
Membentuk Hall yang lumayan besar di tengah bangunan besar itu.
Dan perlahan mendudukkan Paquita disebuah sofa tebal berwarna hitam.
" Kau boleh duduk disini menunggu supraise yang kami berikan!" Ucap Mirriam senang. Dia tak juga puas menatap wajah cantik Paquita yang terlihat bagai Bidadari kecil. yang berada dalam umparan warna.
Menakjubkan!
Batin Mirriam pelan.
__ADS_1
Lima belas menit lagi. Alex akan datang!