
Cherly merasa gamang saat menapakkan sepatu 4 cm nya dilantai kaca dengan ornamen aliran sungai itu.
Dinding dindingnya yang tinggi berukuran tebal dengan nuansa gelap dan dilengkapi lapisan anti peluru dibeberapa bagian penting dan terbuka.
Cherly mengenakan style coklat naturalisasi berbahan chiffon yang lembut. Beranda kecil disekitar dadanya.
Cherly merasa canggung dengan dadanya yang terlihat membusung besar sebagaimana biasanya bentuk dada ibu muda yang menyusui.
Namun hal itu malah membuatnya semakin eksotis dengan tubuh ramping dan mungil.
Warna bajunya yang lembut membentuk terusan selutut yang sedikit longgar itu sangat serasi ditubuhnya.
Cherly baru saja mendengarkan dengan teliti Briefing pagi yang diarahkan langsung oleh Leaders senior dikantor yang bertaraf Multinasional itu.
Cherly dapat menarik nafas dengan lega.
Tugasnya sangatlah ringan!
Cherly hampir saja tertawa menutup mulutnya dengan kemari lentiknya yang kecil itu.
"Saat leader yang berbahasa Inggris itu mengatakan bahwa Tugasnya cuma sebagai pengantar minuman dan. membukakan pintu buat tamu tamu penting!
"Kalau cuma buat minuman! Mending si Lisa yang bekerja disini ! membukakan pintu untuk sang CEO? Aneh sekali! Apa mereka tak punya tangan untuk membuka pintu sialan itu!"Katanya kecewa.
Harga dirinya sebagai Alumni Kampus Biru yang keren terinjak injak seketika.
Dengan wajah cemberut Cherly duduk meringkuk mengangkat kedua kakinya keatas kursinya dengan wajah menekuk.
Wanita berambut Blender hasil Cat rambut mahal dengan Body Ala Jenifer Lopez dengan bokong padat berisi yang sengaja melenggang didepan hidung Cherly yang tengah down dibawa nol derajat itu semakin membuat panas dihati membuat Cher mantan gadis populer itu memonyongkan bibir dengan jengkel.
Wajah Cantik Gadis yang bernama Lora itu seakan meremehkannya.
"Wajah editan Salon aja sombongnya hak ketulungan, " Gumam Cherly pelan.
Namun setidaknya Lora terpilih jadi asisten pribadi sang CEO. Sedang Cherly merasa dirinya tak ubah bagai gembok yang menumpang AC diruangan megah ini.
__ADS_1
Cherly bangkit hendak menumpang menangis dikamar mandi!
Dia harus bertahan demi uang Lima juta sebagai gajipemula yang termasuk fantastis bagi seorang pemula amatiran seperti dirinya.
Cherly melewati ruangan pribadi sang CEO dan tak sengaja mendengar suara Lora sang sekretaris dengan logat barat yang dibuat buat.
Cherly tidak pernah iri dengki dengan keberhasilan seseorang namun sikap Lora yang jelas jelas meremehkan kemampuannya sejak awal pertemuan membuatnya terluka.
Cherly terpaku saat melihat layar monitor besar yang bertengger disisi dinding bercat hitam kombinasi putih itu.
Alex!
Tampak Ale berada didalam layar televisi Asia yang tengah tersenyum ditengah tengah kerumunan para Bankir dunia. Senyuman itu menampilkan wajah tiran yang berkuasa, Kejam dan misterius. Dengan cepat Cherly memasuki Kamar mandi yang sangat luas itu.
Kamar tertutup ini lebih mirip suit Room hotel bintang lima. Dengan batu pualam hitam dengan wastafel tanpa sentuhan tangan. Cukup menampilkan sidik jari sebagai ciri pribadi dari para karyawan, Maka air akan mengucur pelan membasahi telapak tangan dan sebagai tombol penutup cukup dengan menempelkan sidik jari kembali.
"Oh! Setidaknya aku bisa bermain main dengan riang dikamar mandi ajaib ini setiap hari sebelum para tamu dan Sekretaris Seksi itu masuk kedalaman ruangan.
Bermain main dengan wastafel melalui sidik jari ini sangat mengasyikkan, " Bisik Cherly geli sendiri. Berulangkali mematikan dan menghidupkan pancuran baja besi putih itu dengan asyik. Sehingga baju sebagian atasnya sedikit basah.
"Apa kerjamu sebagai penjaga pintu itu masih kurang? Apa Aku harus menyuruh Adolf untuk membuatmu menjadi penjaga pancuran baja itu? " Suara beraksen Eropa dan Mandarin itu membuat Cherly mendongak menatap tubuh tinggi menjulang disisinya.
Kaget dan takjub.
Namun dengan serentak rasa kecewa datang menjalar menuju otaknya. Cherly mulai murka.
Dan Alex adalah orang yang pertama kali harus menerima luapan kemurkaan Cherly. Yang sejak kemarin ditahan dengan sekuat tenaga. Sebab tak ada yang bisa dimarahi olehnya dikantor yang megah ini.
"Teruslah menghinaku Alex! Mengapa kau tak menyuruh Adolf bodoh itu untuk menugaskan aku agar mengukur berapa debit air k**c*ng para Karyawan kantor besar ini! Kalian semua meremehkan kemampuanku! Apa aku terlihat sebodoh itu? Yang benar saja! Aku paling benci harus membuka pintu untuk tamu tamu agung itu! Dan apa bedanya aku dari Si Lisa sepupuku yang cuma tamat SD! Cuma diperintahkan untuk membuat minuman dan menghidangkannya kepada tamu istimewa seperti Kau! Kalau bukan karena anak anakku butuh biaya dan menopang hidupku yang tak ingin membebani kedua orangtuaku! Aku tak sudi bekerja dikantor megah dan bergaji besar ini!
Kalian para Tiran Jahat! Aku adalah Cherly kemala Ulfa dengan nilai rata rata A. Beraninya Adolf membuatku jadi jongos dan jadi bulan bulanan Sekretaris cantik itu! Hiks... Hiks...Hiks" Tangisannya pecah perlahan bagai pancuran yang belum dimatikan dengan sidik jarinya itu.
Alex Mengelus rambut Cherly dengan penuh kerinduan sambil menatap wajah cantiknya yang tanpa polesan itu.
Lelehan ingusnya langsung ikut meramaikan suasana kesedihan yang terpancar lewat airmata dan liurnya yang membentuk bening memanjang dimulutnya saat dia mengurai hal hal buruk yang menimpanya dikantor barunya ini. Alex menarik wajah Cherly kedadanya dan mengecup puncak kepalanya.
__ADS_1
"Aku merindukan kau dan anakku! Paquita! Apa putri kita baik baik saja? " Tanyanya tanpa memberikan komentarnya pada Ocehan Cherly yang berapi api barusan.
Cherly menarik kepalanya dari dada Alex dengan pelan! Menatap wajah Alex yang luar bisa dibawa lampu kamar mandi yang benderang.
"Lex! Aku heran deh! Mengapa sih kita bertemunya harus dikamar mandi! Jerman dikit lah! Ditaman! Ditrotoar! Atau diBioskop!
Bukankah ini aneh! Jangan jangan kau sengaja mengikuti aku kemari kan? " Tanyanya dengan penuh rasa Heran!
Alex tak menjawab! Melainkan mengusap wajah Cherly dengan jemarinya yang panjang dan berkuku rapi.
"Kau belum menjawab pertanyaan dariku Chers! Apa anakku Paquita baik baik saja? " Tanyanya dengan nada tegas.
"Iya! Dia baik baik saja! Dia menangis karena aku berpisah dengannya sepanjang hari! Dia kehausan dan tak mau minum susu formula Bayi seusianya. Dan...Ough! " Desisnya pelan saat merasa telapak tangan Alex memegang dan mengelus dadanya dengan menekannya lembut.
"Apakah semua susu formula yang asli itu tertahan disini? Sehingga dadamu tampak hampir meluap keluar? " Katanya dengan heran tanpa merasa bersalah telah menyentuh dada wanita itu.
Dengan tangan masih bermain dirasa Cherly dengan lihai.
"Jangan Lex! Dadaku sakit sekali!"Kata Cherly berusaha melepaskan tangan Alex dari dadanya yang terasa mengeras.
Ale melepaskan tangannya dan berpindah memegang kedua bahu Cherly.
"Chers! Aku sangat merindukan dirimu selama berbulan bulan! Aku tak bisa melupakan segala galanya tentangmu?" Dan Cherly merasa dunia berputar saat merasa bibir yang penuh dan panas itu menyentuh bibirnya yang bergetar. Membawa Cherly terbang melewati fatamorgana kaca.
Tangannya dengan lincah menelusuri tubuh Cherly yang berisi. Penuh gairah yang membara.
Ruangan itu terasa memanas seketika saat seseorang datang menutup pintu otomatis dari luar! Seolah tak mengizinkan ada seseorang yang datang keruangan tertutup untuk mengganggu kesenangan Boss besar yang terlihat membara itu.
Cherly mendorong dada Alex dengan kuat! Namun malah dia sendiri yang terjajar ketembok. Tubuh Alex yang keras seakan bagai batu yang sangat kukuh. Tak dapat dihentikan dengan tiba tiba.
"Jangan Alex! Aku datang kemari untuk bekerja! Kau membuat hariku bertambah buruk, " Keluhnya sambil mengusap bibirnya yang terasa membengkak.
Cherly berlari keluar dengan kecewa. Setelah berteriak kesetanan security untuk membuka pintu kaca.
Dan pintu itupun membuka perlahan.
__ADS_1
Cherly menghambur keluar sambil menangis
Mengapa para lelaki itu selalu datang hanya untuk mengeksplorasi tubuhnya dan melecehkan dirinya. Setelah Semua didapat kesenangan itu. Lalu pergi meninggalkannya dalam kekecewaan seperti Barra!