
Tangan itu terulur pelan. Sasarannya adalah rambut keriting panjang halus yang lembut itu bagai geraian sutra yang telah terulur indah bak lambaian dimusim semi dari benua dari mana Truddie berasal. . Baju Truddie tampak kusut. Rambutnya yang terbiasa dengan perawatan tampak lemas tak bertenaga.
Kilaunya yang dulu mengkilap dengan Bleaching yang sempurna kini terlihat kusam tanpa daya.
Dia tampak sangat menyedihkan. Siapa yang dapat menyangkal takdir.
Gadis ceria yang manja bagai burung cendrawasih yang selalu berada didahan pohon dengan lentingan rimbunan dedaunan itu kini terlihat bagai burung punai dengan sayap yang mengayun lunglai tertembak peluru dari sang pemburu liar.
Cendrawasih itu kini menghilang dibalik mimpinya yang kelam.
Sam!
Sang Pemburu yang selalu siap membantai dengan pitingan kuat.
Kini tangan kelam yang berwujud tangan putih malaikat berjari panjang dengan kuku yang tertata rapi itu mengelus pucuk kepala Truddie yang sedang tertidur.
Sam menatap Truddie dengan seraut wajah putih tanpa ekspresi. menunduk, Berusaha meraih kepala Truddie! Dan mencium ubun ubun sang gadis yang kini terkulai disambut sisi lengan Sam yang terduduk didekati gadis malang yang kini tengah mengandung anak Sam. Banyak hal yang akan dilaluinya kelak bersama Sam. Sam adalah sebuah sajak malam yang terlahir dari sebuah tepian hari yang kelam.
Truddie menggeliat tak nyaman. Dan terbangun dengan wajah resah!
Terganggu oleh gerakan Sam yang meremas bahunya dengan pelan.
Truddie menatap pria itu dengan mata bulat netra coklat madu keemasan.
"Sam! "Katanya dengan lirih. Saat melihat pria itu menatapnya dengan aura kelam.
"Apakah kau menyukai serial dengan rasa buah?" Tanya Sam menatap tajam dengan bibir merah tipisnya yang bagai keratan rembulan sabit disaat pasang menjelang fajar.
Bibir indah dengan keratan halus memerah basah. Sam yang tampan bagai Bidara Surga yang turun dari titian pelangi. Saat hujan telah berakhir, Dengan membawa kehidupan baru.
Truddie mengangguk dengan kaku. Truddie masih merasa hidupnya bagai mimpi.
Antara percaya dan tidak saat melihat Sam disisinya.
Sam bangkit, Saat tangan Truddie menahan jemari panjangnya yang lunglai itu dan meremas jemari Sam dengan pelan. Sam memandang kewajah Truddie dan perlahan duduk kembali disisi Truddie.
"Kau merindukan boneka Beruangmu? "Bisik Sam ketelinga Truddie.
Truddie menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku ingin kau disini bersamaku! Sam! Aku tak ingin apapun saat ini, " Balas Truddie pelan. Truddie tak habis fikir! Mengapa sekarang dia sangat suka berbisik seperti Sam!
Apakah Bisikan juga bisa tertular dari orang yang kita cintai? Katanya membathin.
Sam tersenyum samar Hampir tak terlihat.
Sam meraih tubuh mungil Truddie dan memeluknya dengan pasti.
__ADS_1
Ada kehangatan yang menguar dari tubuh Sam. Saat jemari telunjuk Sam meraih dagunya untuk mendongak keatas tepat kearah wajah Sam. Bibir Sam yang memerah itu perlahan mendekat kearah bibir pucat Truddie dan mengecupnya dengan pelan.
Truddie memejamkan matanya seakan ribuan rama rama beterbangan diatasi kepalanya. Truddie membuka bibirnya saat bibir Sam menarik bibirnya dengan keras. Truddie tersentak dengan tiba tiba. Sam berubah dengan cepat! Dari kecupan ringan yang lembut menjadi liar. Memagut dan menyerang bibir Truddie dengan gemas dan brutal. Sisi Liar dari Sam yang timbul yang jarang timbul dipermukaan.
Sam tak pernah peduli dia sedang berada dimana. Dia hanya mengikuti gairahnya secara alamiah. Saat mengangkat tubuh Truddie kepangkuannya dan mulai mengungkung tubuh Truddie dengan keharuman tubuhnya yang penuh magnet liar dan roman yang tersembunyi.
Deru nafasnya mulai memburu dengan ******* liar yang menerpa wajah Truddie. Baju Truddie mulai terbuka dengan tiba tiba tanpa disadari oleh Truddie sendiri. Tangan Truddie meremas kaos hitam Sam dibagian punggungnya yang terlihat mulai kusut oleh jemari mungil Truddie yang lentik. Sam tak bisa berhenti. Gerakan lincah penuh gairah berbalik dari sifatnya yang dingin. Tubuh bagian atas Truddie yang seluruh susu itu telah terbuka dengan bebas dibawa bibir Sam yang panas dan kian memerah. Dan bibir Truddie yang kini berubah merah dan membengkak. Dan tampak basah. Wajah Sam yang telah memerah berpindah tempat keatas dada Truddie yang terlihat pasrah itu membuat seorang bocah kecil yang sedari tadi berdiri didepan pintu masuk itu tercengang tak mengerti. Wajah anak kecil itu terlihat sama dinginnya bagai Sam.
Banta alias Barche!
Hanya berdiam diri memandang wajah Sam yang akrab dipikirannya.
"Jangan gigit Mama Trud! Nanti Dia akan mati Om!" Kata Bharche dengan nada khawatir. Namun tak tersirat rasa takut diwajahnya
Anak itu malah khawatir melihat Truddie yang memejamkan matanya dengan lemah.
Mungkin Banta berpikir kalau Truddie akan mati karena melihat Sam menggigit dada dan leher Truddie.
Sam menoleh dengan pelan bagai replay lamban.
Menatap Banta yang berdiri dengan tongkat pendek Bisbol yang dipegang kuat.
"Kau membunuhnya! "Katanya pelan.
Sam mengerutkan keningnya sambil menyisir rambutnya kebelakang dengan kelima jemarinya.
"Oh! Aku telah mengotori mata suci anak kecil ini, "Sesalnya dengan pelan.
Sam terlihat tak peduli dengan kejadian yang memalukan seperti anggapan Truddie yang berfikiran normal itu. Sam!
Malah dengan gaya santai menarik lengan Bharche Dan mendudukkannya dipangkuannya.
Terdiam sejenak! Seakan ada masalah yang lebih serius dipikirannya disaat ini.
Lalu bangkit dari duduknya tanpa menoleh kearah Truddie.
"Ayo kita kembali kedalam dan membuat Puzzle yang lebih rumit! Setelah itu kita akan belajar bagaimana cara mengeluarkan tubuh dari jaring jaring sialan itu! " Ajaknya dengan pelan sambil menggendong Anak usia empat tahun itu menuju kamar tanpa menoleh kearah Truddie yang kini sedang sibuk sendiri memperbaiki letak bajunya yang baru saja dihantam badai Tornado yang diakibatkan oleh Sam.
"Sabar Paulie! Dia akan normal pada waktunya! "Hiburnya pada dirinya sendiri.
...****************...
Cherly muncul dimulut pintu sambil mengomel ngomel panjang kali lebar.
Keranjang bawaannya yang terlihat penuh dibawanya sendiri bagai Perempuan kuat bak wonder woman rumah tangga yang penuh peluh dengan dan rambutnya yang diikat asal terlihat menguntai tak beraturan.
Barra yang tengah sibuk membuat kolam kecil buat Putranya memelihara ikan! Seperti permintaan Banta Malik.
__ADS_1
Termasuk membuat kandang ayam dihalaman samping menggeleng gelengkan kepalanya menatap istrinya yang kini lebih mirip emak emak bermulut lancip yang penuh dengan sungutan dan ocehan yang membuat Indra ! Sang sopir yang ikut membantu Barra melongo melihat maskot"Gadis Populer" itu yang kini mengenakan sandal butut dengan daster berlengan tiga perempat yang terlihat mulai lusuh dengan motif bunga yang pudar.
Tak puas berbicara dari kejauhan. Cherly menurunkan keranjang belanjaannya berkacak pinggang menghadang kearah sang suami yang terdiam menatap istrinya yang kini seolah olah melabrak dirinya yang berdiri dengan singlet putih tipisnya yang kini terlihat basah oleh peluh ditubuh kekarnya yang penuh otot.
"Lihat deh Bar! Aku baru saja membawa si Bharchek kepasar! Kau tahu?"Katanya terjeda dengan mata melotot. Menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
"Mana kutahu Cher! Kau kan belum mengatakannya! "Kata Barra dengan senyum miringnya dengan mata terpicing menahan geli.
"Kau dan Sam telah mencekokinya dengan pelajaran psikopat! Dia melihat orang tertabrak motor! Tergeletak penuh dengan darah! Anakmu itu mendekat dengan takjub dan mengatakan darah itu seperti selai stroberi! Dia juga memukul anak yang lebih besar darinya hanya karena telah menginjak kakinya tanpa sengaja! Hidung anak malang itu sampai berdarah! Dan dia suka melihat darah yang mengalir dari hidung anak yang dipukulnya!" Kata Cherly dengan nafas memburu.
Barra mendekati Cherly dan mengelus kepala istrinya dengan lembut. Seolah menenangkan Cherly yang terlihat kalap. Sementara Banta Malik kini berdiri jauh didekati pagar sambil memperhatikan Anjing
tetangganya yang tengah kawin dipinggiran jalan yang sepi. Takjub!
Melihat hal itu Cherly semakin histeris dan membentak anaknya dengan gemas.
"Hai! Bharche! Masuklah kerumah! Kau Benar benar minta ibu pukul? " Katanya dengan kesal.
Membuat Barra menuntun istrinya masuk kedalam rumah dan memanggil putranya dengan isyarat tangan. Tanpa bersuara.
Anehnya! Banta menurut dengan patuh. Berlari mendekati sang Ayah dan mulai bergelayut ditangan kekar ayahnya.
"Bapak! Kita jadi kan pergi berburu kehutan mencari Harimau putih seperti kata Om Sam! "Katanya dengan polos.
Barra hanya tersenyum dan menggendong putranya menuju kedapur. Menyusul Cherly yang masih mengomel.
"Tidak ada Acara pergi berburu! Bapakmu dan Om Sam telah memberikan pelajaran yang salah untukmu! Besok aku akan membawamu ke Psikiater untuk memeriksa kejiwaanmu! Aku takut melihat anak seusiamu bahkan sudah bisa bertindak bar bar ditempat ramai!"
Kata Cherly sambil menyusun belanjaannya kedalam lemari pendingin.
"Indra! Ambillah belanjaan yang masih teronggok dipinggiran jalan itu! Dasar! Semua sama saja! Aku jadi heran deh! Istri Sultan kok merasa jadi Babu! Heh ! Ayah si Bharchek! Tidakkah kau kasihan melihatkuyang siang malam melayani kau dan anak anakmu! Ditambah lagi dengan kelakuan Anakmu yang aneh itu! Hai Sam! Kau jangan cuma diam berpura pura menutup kupingmu! Kau mau Si Bharche itu mirip kau? Tumpahkan saja Sereal itu kewajahmu! Agar kau tahu panasnya hidupku akibat perbuatan dirimu dan Barra dalam mendidik pria kecil yang parah itu!"Decak Cherly kesal.
Sam hanya tersenyum tipis mengetuk betul meja makan dengan telunjuknya kanannya.
Truddie menutup mulut menahan tawa.
Melihat Emak emak yang bermulut judes itu.
Cepat cepat dia menyelinap kedalam kamar Sam! Karena dia tahu sebentar lagi dia juga pasti terkena imbasnya.
Tak urung Truddie merasa kasihan melihat Cherly.
Yap betul!
Cherly dan dia sama.
Wanita dari dua orang Jutawan namun serasa pelayan!
__ADS_1