
Alexis melangkah dengan sepatu kulit tipis nan ringan berwarna putih. Lengkap dengan Stelan kemeja putih tanpa dasi dengan Celana panjang Cerutty yang sangat pas dikaki panjangnya yang ramping namun berisi.
Bentuk tubuh proporsional yang tinggi itu terlihat luwes saat bergerak mendekati sofa hitam besar dimana Paquita menunggu hingga tertidur bersandar kepinggiran sofa dengan terkulai anggun persis putri yang tertidur ditengah taman yang luas.
Alexis mengusap rambutnya sendiri dengan perasaan yang bercampur aduk.Mengapa janin yang dulu pernah dianggapnya sebagai anaknya sendiri walau dia tahu sepenuhnya janin itu milik Barra, Namun kini telah berubah sedemikian cantik dan luar biasa. Dan mengapa perasaan Alex seperti jatuh cinta pada tempat dan waktu yang salah.
Alexis sadar jika dia memiliki Prilaku sexual menyimpang. Dapat dikatakan seperti Biseksual. Dia cenderung penyuka sesama jenis dan dalam waktu yang bersamaan Alexis juga menyukai lawan jenis. Meskipun dalam waktu yangangat jarang. Namun Cinta itu belum juga pernah datang semenggebu gebu saat dia menatap Cherly . Dan lebih gilanya rasa yang lebih hebat itu datang sejak melihat Putri Cherly yang masih berusia delapan tahun. Sangat mengganggu fikirannya. Alexis susah payah menahan dirinya untuk tidak mencium gadis cilik yang sangat cantik itu. Perlahan kelopak mata gadis kecil itu membuka pelan. Memperlihatkan sepasang mata bening tanpa dosa. Gadis kecil itu tidak tertidur sepenuhnya. Mungkin karena perutnya yang lapar sejak tadi. Karena menunggu seseorang yang kini tengah menatapnya dengan pandangan takjub.
Begitu dekat dan begitu terlihat mengaguminya. Paquita mengerjai ngerjapkan matanya sejenak. Menatap mata yang pernah dilihat olehnya sejenak sebelum matanya terpejam sa'at penculikan ditaman itu terjadi.
Mata yang sangat indah sedikit sipit dan terlihat sangat dingin. Gadis itu memundurkan sedikit tubuhnya kebelakang sofa besar. Paquita sangat tidak nyaman melihat mata Pria yang kini tengah memperhatikan detail wajahnya dengan suasana wajah dan raut yang Aneh.
Takut!
Itu Yang kini dirasa oleh gadis mungil itu.
Gadis kecil kesayangan Ayahnya. Barra.
Alexis tak pernah ingin menatap seinstens ini kepada seorang pria atau wanita selain terhadap Cherly dan putrinya.
"Selamat datang ke Rumahku Paquita!" Suara dari bibir merah yang penuh didepannya terasa menggema digendong telinganya walau terucap dengan pelan.
Rambutnya yang sedikit gondrong itu menjuntai dikeningnya mengingatkan Paquita pada tokoh anime yang keren dan sering dibacanya.
Tokoh pahlawan yang tangguh. Tinggi langsing berisi dan sangat keren dalam imajinasi kanak kanaknya.
Kini lelaki dewasa itu berdiri menjulang didepanna. Dengan kedua tangan disaku celananya dan kemeja bagian atas dengan kancing terbuka memperlihatkan dadanya yang tanpa lapisan dalaman memperlihatkan dadanya yang indah.
Paquita mengernyitkan keningnya seperti berpikir.
Om ini adalah pahlawan dalam komik serial kanak-kanaknya yang sangat fenomenal.
"Anda bisa mengalahkan enam musuh sekaligus?" Kata Cherly dengan spontan.
Pria itu tertegun dengan gaya yang sangat keren . Menarik kepalanya sedikit kebelakang dan menggerakkan rahangnya yang keras seakan akan menggoda.
"Aku bahkan dapat membunuh seratus musuh sekaligus dengan manggis yang terbuat dari besi," Jawabnya sekenanya.Membuat gadis itu seketika melengos kecewa.
"Aku berharap anda melakukannya dengan tangan anda,"Katanya pelan sambil mendesah pelan sambil mengangkat bahunya dengan gaya menggemaskan Dimata Manusia kejam seperti Theodore Alexis.
Alexis mendehem sejenak mendengar tanggapan gadis kecil itu.
"Apa kau kecewa? Oh tidak! Aku akan mengalahkan mereka dengan tangan kosong sebanyak tiga orang!" Akunya jujur.
Alex merasa bodoh .
Mengapa dia harus bicara jujur didepan gadis cilik ini.
Bukankah seharusnya dia mengatakan dapat mengalahkan sepuluh orang atau dua puluh orang untuk menanamkan kekaguman pertama dari gadis cilik itu?
"Oh ! Siapa namamu? Kita bahkan belum berkenalan," Katanya mulai berdusta.
__ADS_1
"Apakah anda salah satu penculik itu?"Tanya Paquita lagi dengan polosnya.
Lagi lagi Alex tertohok.
" Mmm. boleh dibilang begitu!" Katanya kini sambil menggaruk-garuk dagunya yang bersih.
"Oh! untuk berapa lama?"Tanya Paquita ingin tahu.
"Mungkin kau lapar! Kita harus makan," Kata pria itu tak menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Paquita barusan.
Anak kecil itu lalu mengangguk pelan dan mulai menurunkan sebelah kakinya kelantai. Alexis menghampirinya dan menarik tangan kecil yang indah itu dengan pelan.
Rasa aneh itu sontak menjalari sekujur tubuh Alex. Rasa aneh yang belum pernah dirasakan oleh Alex selama hidupnya. Sesuatu yang hangat dan mendamba tanpa sebab. Alex terus menggenggam jemari mungil itu kelipatan jemarinya yang panjang. Mulai berjalan menyusuri Hall luas menuju kearah dalam Dome.
"Anak ini milikku! Aku tak peduli walau harus mati karenanya,"Bisiknya dalam hati dibalik wajahnya yang terus menatap dingin kearah depan dengan dagu yang keras.
...****************...
Sam meremas stir mobilnya dengan kuat. hingga urat urat lengannya terlihat keluar. Baju kaos pendeknya terasa basah didalam dinginnya suhu kota Singapura siang ini.
Dia telah pulang dari masa hibernasi panjangnya bersama sang istri, Yang tinggal di dekat garis pantai Florida. Truddie! Dan juga putrinya Thorne. Yang kini berusia 7 Tujuh tahun. Ditinggal bersama dengan komunitasnya.
"Awas kau Alex!"Desisnya dengan suara mengerikan. pelan namun bermakna mendalam.
Sam tahu! Alex telah tiba di Singapura. Dan Sam takningin sesuatu terjadi pada Paquita.
"Sanchez! Siapkan Tiga orang pentingmu! Untuk melacak sistem pengaman rumah tempurung itu!" Katanya dari ponsel mininya.
Dan meletakkan kembali benda kecil itu disampingnya.
Jarum jam itu terus mendekat kearah angka lainnya dengan detak teratur.
Malam nanti Dia berjanji akan membuat Alexis tertidur selamanya tanpa sempat berpamitan kepada Kroninya yang telah berpartisipasi atas penculikan Anak Barra.
Dan Saat yang dinantikan tiba.
Tiga bayangan hitam mengendap dari jarak jauh mendekati Dome Alex tanpa suara. Mereka bagai hantu didalam cerita horor yang menyeramkan.
"Kraak!" Suara patahan dari kegelapan terdengar ditengah desau angin malam.
Dan disusul beberapa dengkuran kematian para penjaga yang berdiri siaga sebagai pagar betis Dome yang terlihat sunyi.Sebuah bayangan yang terus berkelebat ringan menyender masuk kedalam Hall dan melesat masuk bagai siluet panjang menempel kedinding Dome yang dingin.
"Selamat datang di Dome ku Sam!" Suara dari belakang dinding yang terhampar permadani hijau dengan kursi besar terbuat dari besi putih berukir itu membuat Sam mengernyitkan keningnya dengan heran.
"Kembalikan Putri Barra!" Kata Sam perlahan sambil berjalan mendekat penuh aura membunuh.Alex tersenyum miring terlihat tenang dibalik rasa waspadanya.
Dia tahu dibalik tubuh Sam ada beberapa peledak mini yang dapat digerakkan dengan otomatis oleh rekannya yang dipastikan tengah mengintai dari kejauhan.
Dan Sam dapat mengendalikan bahan peledaknya dalam satu gerakan kilatnya.
Sam Tak dapat dipandang enteng. Pria itu Seakan memiliki seratus nyawa didepan musuh musuhnya.
__ADS_1
"Apa kau punya Bukti? Aku yang menculik anak Barra? Kau dan orang orangmu bisa menggeledah rumahku , Aku tak akan menghalangimu! Dan aku tahu kau punya detektor canggih yang dapat mendeteksi keberadaan anak Barra disini! Silakan!!" Ucap Alexis sambil mengangkat kedua tangannya keatas! Seolah ingin menunjukkan kalau dia tak menggunakan dan memegang senjata apapun saat ini.
Dan wajahnya terlihat sangat santai sa'at Sam berjalan dan memulai pencarian dengan menggunakan radarnya.
Detektor canggih yang dilengkapi radar milik Sam dapat bekerja dengan Efektif dengan Radius 5 kilometer.
Aneh!
Pencarian Sam Nihil.
Tidak ada jejak atau notif yang menyatakan Paquita berada disekitar rumah.
Alexis menepuk tangannya dengan anggun.
Dan berkata.
"Kau terlalu buang buang waktu dengan memasuki rumahku dan membunuh orang orangku Sam! Tuduhanmu sangat tidak berdasar! Aku tahu kau seorang pekerja Profesional dijaringan gelapmu! Kau mempertaruhkan kualitas hebatmu dengan bersikap tidak profesional. Aku merasa kita telah impas sejak tuduhan palsumu mengarah ke anak buahku saat ledakan itu terjadi! Dan kau sengaja kubiarkan hidup karena telah memberi aku waktu untuk mengenal wanita Milik Barra! Aku menyukainya! Namun aku tak secerobohmu yang berasumsi melakukan penculikan anak Barra!" Kata kata Alexis terdengar dingin dan masuk logika.
Tak ada saksi yang melihat dengan jelas. Bahwa Alex lah yang telah menculik Paquita.
Sedikit Banyak Sam menjadi bingung.
Bukankah selama ini asumsinya selalu benar dan instingnya sangat peka.
Dan mengapa saat ini dia harus terkecoh.
Melihat kearah monitor mininya yang kosong!
"Bagaimana mungkin?"Bisiknya masih belum yakin akan kemampuannya yang terasa kian melemah.
Sam menatap Alex dengan tajam.
"Hari ini kau benar! Karena Bukti yang ada sangat lemah! Namun aku percaya instingku yang melebihi anjing pelacak paling cerdik! Tapi aku tetap yakin Kaulah yang telah membawa pergi Paquita! Dan menyembunyikannya disuatu tempat. Dan disaat aku mengetahui kau lah penculiknya! Kau akan menemui kematianmu melebihi kematian Kekasih Gay mu!"Sahutnya tajam.
Alexis terjengit didalam hatinya.
Namun dia tersenyum sinis kearah Sam!
"Aku menyesal dengan misi mu yang gagal Sam! Namun Aku selalu salut padamu! Kau dapat menembus pengamanan pagar betis ku yang hebat! Mereka orang orang terpilihku!" Kata Alexis tulus. Mengagumi Sam.
Sam Hanya diam dan menekur kelantai. Mengelap bibirnya yang terasa kering.
Dia ingin membunuh Alexis sa'at ini juga.
Namun atas alasan Apa?
"Mereka orang lemah! Aku akan membunuh pekerja sebodoh itu," Ucap Sam sadis dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Sebelum melangkah pergi Sam berhenti tanpa menoleh.
Karena dia berharap ucapannya didengar buat dirinya sendiri.
__ADS_1
"Siapapun yang menculik Paquita! Kuharapkan berlakukan dia dengan baik! Dia suka menangis saat hujan tiba! Dan suka susu rasa Vanila pekat" Kata Sam Lemah untuk dirinya sendiri. Sebelum melangkah pelan. Menuju keluar dimana para tubuh yang kaku itu tergeletak diantara tiga tubuh berpakaian hitam yang telah menunggunya.
Dan misi pun Gagal!