
Sam melihat sinyal yang berkelip kelip merah dari ponsel kecilnya. Selama hampir 28 hari menjelajah lewat pencarian dari radar mini canggih miliknya
Yang kini terarah ke Bagian Timur.
Tubuhnya terlihat kurus tak dapat tidur sama sekali.
Dan serealnya yang membuih basi diatas meja.
Melihat kearah Barra yang terlihat semakin tak menentu.
Barra hancur!
Setelah dua hari menghilang dengan Pak Joy dan Anton.
Pulang dalam keadaan lusuh.
Seakan menunggu kematian.
Istrinya yang diculik serta Anaknya yang telah dibawa kembali keJakarta.
Keluarga dan teman temannya kecewa padanya.
Sam menatap layar dengan teliti sambil tersenyum sinis.
"Hmm Pinokio! Boneka kayu! Mau bermain main denganku?" Katanya dengan sinar mata yang mengukir aneh!
Sam memutari meja kecil itu dengan gerakan luwes.
Melihat Barra yang sedang memasukkan Revolver itu kepinggangnya.
"Bar! Info Adrian bohong! Kita tidak bisa mempercayai lelaki itu! Kita akan menunggu Info Bram dan Ganes! Dari bagian wilayah timur Bandara Changi! Singapore! Aku sudah menemukan titik koordinat tempat kondomium itu,"Bisik Sam.
"Kita sudah membuang buang waktu begitu banyak, Karena informasi yang salah itu! Aku berpikir untuk memenggal kepala Adrian!"Kata Sam pelan.
"Tidak Perlu! Aku sudah memecatnya! Dan dia telah kuusir sejak kemarin bersama Zheba! Adrian bekerja sama dengan wanita licik itu! Mengukur ulur waktu kita agar lambat bertindak! Bertujuan untuk menahan kita mencari Cherly dan akan semakin sulit untuk ditemukan!"Kata Barra menyesal.
14 hari telah berlalu.
Apakah Cherly masih hidup? Pikirnya dengan pahit.
"Jangan khawatir Barra! Cherly masih hidup! Aku yakin! pelacakku! Akan semakin akurat dengan tingkat kehidupan target! Cherly baik baik saja!" Katanya dengan nada menguatkan keyakinan Barra yang kian menipis.
Barra menatap kearah Sam dengan mata yang bersinar kembali.
" Apa kau yakin Sam?" Kata Barra.
Sam mengangguk serius dan menunjukkan sesuatu dari ponsel kecilnya. Dengan detektor canggih yang mengerlip dengan sinar penuh.
Barra menyambar Jaketnya dan melompat melalui meja besar itu menuju pintu.
"Kita akan berangkat ke Bandara sekarang!" Ajak Barra.
Namun Sam menahan tangan Barra yang memegang lengannya.
"Kita akan menggunakan Helly! Lewat jalur wilayah Timur!
Kita akan menunggu Owl abu abu itu keluar, Disebuah Casinno dibagian Utara."Bisiknya dengan yakin.
Alex pasti keluar lewat jam malam.
Tanpa pengawalan yang sangat ketat.
Tangan Sam Terasa gatal! Ingin mendengar patahan leher mangsanya dengan bunyi derakan halus yang sangat disukainya.
Barra mengelus Revolver yang bergagang dingin itu.
Dia tak pernah mendengar revolver itu menyalak lagi. Selain menghantam kepala Babi hutan yang menyerang tanamannya.
__ADS_1
"Apa aku harus mendengar Salakan yang tak ingin kudengar lagi? Namun untuk Cherly Aku akan mengulangi kembali kekerasan yang tak ingin kulakukan! Alex Atau Aku yang harus menyalak lebih dahulu," Bisiknya dengan suara serak.
...****************...
Lima belas hari.
Cherly Tampak riang. Dengan Mengenakan terusan Lila yang berbunga selutut itu.
Rambutnya yang tergerai dengan bertelanjang kaki ditaman Dome lantai atas yang penuh dengan barisan bunga Lavender berwarna Lila . Senada dengan baju Chers yang lembut.
Cherly!
Alex menatap wanita itu dengan takjub!
Dan mendekati Cherly dengan perlahan.
Alex baru saja keluar dari ruang Istirahatnya.
Menatap Cherly dibawah sinar mentari hangat dari balik Jaring jaring berbentuk grafis dari Flat tipis berwarna perak.
Alex tampak bersinar bagai bunga kertas berwarna putih.
Dengan Celana panjang longgar dengan T Shirt putih Transparan yang tipis, Dengan terawang dan berlubang lubang bulat kecil. Cherly menatap Alex dengan Takjub dan melihat pria itu dengan binar yang berbeda.
"Hai Alex! Kenapa aku terkadang sering lemas dan muntah! Apa aku hamil?" Tanyanya pada Alex yang tersenyum dengan manis kearahnya.
"Iya! Kau hamil! Anak kita akan segera lahir Cherly! Kau harus menjaga kandunganmu sebaik baiknya!"Jawab pria itu mengelus wajah Cherly yang kini tampak merona.
"Alex! Apa kita akan meresmikan hubungan kita? Setelah anak kita lahir?" Kata Cherly seakan menerawang.
Pria itu memeluk Cherly dengan lembut dan mencium ujung kepalanya.
Cherly tersentak! Seseorang pernah memperlakukan dia seperti ini! Tapi Siapa? Bukankah dia hanya mempunyai Alex disampingnya.
"Alex! Aku ingin keluar! Jalan jalan keluar! Ke Club, Mall Atau apa kek! Aku bosan disini! Dasar Pelit!" Ucapnya sambil merajuk.
Namun secepat kilat Alex merampas bunga tersebut.
"'Jangan hirup bunga itu! Ada racun didalam wanginya!" Katanya terlihat cemas.
Cherly tertawa dengan nakal.
"Itu sama sepertiku! Cantik tapi membawa racun untukmu Alex!" Katanya dengan pandangan menggoda.
Alex tak dapat berpura pura menyukai seorang wanita.
Terhadap wanita cantik yang menggoda ini.
Pada awalnya kepura puraan itu akhirnya menyebabkan sesuatu kesungguhan.
Alex benar benar menyukai senyum Cherly yang bersinar ditengah taman.
Seperti Alex yang benar benar tergoda melihat gaun berpotongan rendah dan menunjukkan sisi feminim Cherly yang terlihat menakjubkan.
Gaun yang tersingkap oleh angin menampilkan kaki jenjang kecilnya yang mungil.
Alex menarik nafasnya dan memejamkan matanya dengan mengalihkan fikirannya ke obyek yang lain.Namun tak kuasa Ketika Cherly datang mendekat.
Duduk disisi semen pembatas dengan tangan bertumpu ke pot gypsum besar berukir itu.
Alex berdiri persis didepan Cherly yang duduk sambil menatap keatas, Menatap wajah Alex yang tampak kuning keemasan tertimpa mentari yang mulai melemah kuning keemasan.
Alex merasa sesuatu yang hangat menjalar ketubuhnya saat kedua tangannya meraih bahu Cherly yang terasa sangat lembut dan halus ditelapak tangannya.
"Cherly!"Bisiknya .
Alex merasa suaranya Terasa asing ditengah angin yang berdesir menerbangkan serbuk sari bunga yang bertiup lewat hidungnya yang merasa wangi ditengah gelora hatinya yang berkecamuk Antara keanehan yang timbul sejak wanita itu hadir disini.
__ADS_1
Wajah Alex memanas saat menyentuhkan keningnya dipuncak kepala Cherly yang harum mewangi.
Menebar aroma cinta yang membara.
Tubuh Alex terus membungkuk merasakan aroma Cherly lewat pori pori rambutnya yang sangat lembut.
Sedang Cherly merasa ada kejanggalan diantara rasa hangat didadanya.
Fikirannya masih meraba raba.
Mengapa dia berada disini.
Terkurung bersama orang orang misterius yang berwajah dingin.Tidak ada tawa.
Tidak ada Senda gurau. Semua berjalan seperti robot.
Bekerja dengan porsinya masing masing.
Siang malam tak ada bedanya.
Mengapa dia bisa hamil.
Sementara dia tidur ditempat yang terpisah dari Alex
Apakah Alex memperkosanya saat dia sedang tertidur?
Mengapa Cherly tak mengingat Ayah Ibunya.
Dan semua memory diotaknya hanya ingatan tentang Alex.
Benarkah Alex dan Dia adalah pasangan yang sangat serasi?
Mengapa Alex yang tak pernah menyentuh dirinya bisa hamil.
Apakah Alex telah menjadikannya sebagai bahan dalam percobaan dalam sebuah eksperimen berbahaya bagi masa depannya?
Cherly menarik nafasnya dengan pelan.
Saat melihat mata Alex berubah menjadi merah penuh gairah dengan nafas memanas.
Oh! Cherly pernah melihat wajah seperti itu dulu! Tapi dimana?
Dan tatkala bibir yang panas itu menyentuh bibirnya yang terbuka. Meraup bibirnya dengan penuh hasrat!
Cherly terbeliak dengan mata terbuka. lebar.
Barra! Nama itu menggaung ditelinganya.
Siapa Barra?
Dengan Cepat pria itu memeluknya dengan penuh tuntutan. Menarik tubuh Cherly hingga berdiri.
Merapatkan tubuh Cherly kedadanya dan menyatukan ke T-shirt tipisnya yang kini memanas.
Disaat tangannya ingin membelai tubuh Cherly lebih Jauh.
Wanita itu bertanya.
"Alex! Barra itu siapa?" Tanyanya pelan.
Alex tak menjawab. Melepaskan pelukannya ditubuh Cherly .
Membalikkan badannya Kearah pintu ruangan uang terbuka.
"Masuklah! Hari telah mulai gelap!" Perintahnya.Sambil.memasukkannkedua tangannya kesaku celana longgar Maxima yang lembut dan cerah itu.
Cherly mengekor dari belakang dengan hati masih bertanya-tanya.
__ADS_1