Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Hitam Putih Kehidupan.


__ADS_3

Cherly mengibas ngibaskan celana jeans panjang Barra yang sangat berat itu untuk dijemur disamping rumah sewaan kecilnya ini.


"Huh! Mengapa Celana ini berat sekali! Apa dicelana ini ada serbuk besi sebagai campuran bahan kainnya! "Kata Cherly terengah engah menahan berat.


Bara yang sedang menggendong anaknya Paquita! Hanya melihat dari jendela rumah. Barra merasa kasihan pada Cherly! Mengapa perempuan keras kepala ini tak mau menerima sarannya agar membeli mesin cuci! Dan sampai hari ketiga Barra dirumah sewaan ini Cherly seakan menghindar dari Barra. Mencari alasan untuk keluar kamar saat Barra datang. Mencuci piring! Mengepel lantai Dan memasak! Hingga malam hari.


Mengunci pintu kamarnya dengan alasan capek bekerja disiang hari.


Sebaiknya Bu Ani dan Lisa dipulangkan saja kerumah Ibu Anita.


Untuk apa mereka berada disini jika Cherly yang repot harus melakukan semua pekerjaan rumah. Kata Bara dalam hati.


Bara jadi jengkel dan sangat kesal dengan sikap Cherly yang selalu menghindar.


Banta memeluk kaki Ayahnya sambil minta digendong juga. Dengan sigap menggendong kedua anak anaknya dikedua lengannya yang besar. Banta tertawa senang sambil memegang megang tangan mungil sang adik yang berada ditangan kiri Ayahnya.


Banta sangat senang dapat bermain digendongan Sang Ayah.


"Bapak! Om Sam kok nggak pelnah datang agi! " Katanya pada sang Ayah! Hingga membuat nafas Barra terasa menyesak dengan pilu.


Barra mencium kepala anaknya dengan penuh haru.


"Om Sam sudah berada disurga! Banta makan yang banyak biar bisa sekuat Om Sam!"Kata Bara dengan suara parau! Kerongkongannya terasa seret saat mengi gas tentang Sam. Dan yang beberapa kali mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan Barra.


Sam Selalu berkata.


"Cherly dan anakmu akan sedih jika kau mati atau terluka! Biar aku saja yang mati! Tak ada yang menangisi kematianku! Aku hanya memiliki dirimu yang menyanyangiku dengan tulus. Jika aku mati! Kau bisa memiliki semua uang yang kumiliki. didalam sebuah bank Dunia Aku tak memerlukan uang itu! Aku lebih memerlukanmu Kak! Sandi dan Pin rekeningku tersimpan disebuah koin kecil perak yang bergambar naga!" Saat itu Barra memesan koin antik itu dari Sichuan! Sebuah wilayah yang dekat dengan Beijing China.


Barra tak ingin uang Sam! Barra hanya membutuhkan Sam selalu diisinya dan keluarganya. Menikmati kehidupan yang sebenarnya. Melihat Sam menikah dengan seorang gadis yang dicintainya. Memiliki anak untuk meneruskan generasi berikutnya.

__ADS_1


Barra juga memiliki uang yang lebih dari cukup untuk keluarganya.


Satu hari sebelum Tragedi naas itu menimpanya Sam mengabari Barra lewat Email. Sam mengirim pesan kepada Barra. Dan berkata! Koin rahasia dan sandi rekeningnya telah diberikan kepada Truddie.


"Sam! Lihat! Bukan hanya aku yang menangisi kepergianmu! Ada Banta! Cherly! Dan Truddie! Kami semua menyanyangimu Sam! "Bisik Barra dengan mata yang memerah.


Barra membawa anak anaknya mendekat kearah Cherly yang selesai menjemur pakaian. Memompa air dari sumur yang berada dibawah tanah tertutup gorong gorong pipa semen. Membuat Barra menggeleng gelengkan kepalanya. Wanita berdaster itu tampak basah kuyub ditubuhnya yang mungil.


"Kenapa kau begitu keras kepala Cherly! Kalau kau tak mau membawa pakaian kotor itu ke Tukang Binatu setidaknya aku dan indra bisa membantu memompa air cucian itu! Kau malah melarang kami mendekat! Apa maksud... "Kata kata Bara terpotong saat Cherly menggerakkan gerakkan tangannya! Memberi isyarat agar menjauh. Dengan wajah tak suka melihat kedatangan Barra ketempat dia sedang memompa air itu.


Membuat Bara sangat geram bergegas masuk kedalaman rumah masih membopong kedua anaknya yang telah mulai mengantuk. Dengan kehangatan tangan sang Ayah yang mengayun ayun kedua anaknya dilengannya


Barra memasukkan Paquita ke Ayunannya listriknya yang berayun dengan buaian lembut sendiri.


Memasukkan Banta juga ke Box Balitanya yang berisi kotak musik yang mengalun merdu membuat Banta mulai memejamkan matanya. . Dengan suasana menjelang siang yang lumayan sejuk karena mendung.


Bara melihat kembali kearah Cherly yang sedang mengomel tentang cuaca yang tak bersahabat.


Cherly masuk kedalaman kamar mandi dibelakang rumah dan menguncinya dari dalam. Membuka dasternya yang basah. Meraih kain basahan untuk menutupi tubuhnya yang kini Polos. Dengan satu teriakan yang belum sempat terucap dari bibirnya. Saat tangan besar itu membekap mulutnya. Dan dengusan yang sangat dikenalnya itu membuatnya terbeliak kaget.


Barra!


Sejak kapan lelaki Brengsek itu mengumpet dikamar mandinya, Pikir Cherly merasa lemas saat Bara mulai menyentuhnya. Dengan nafasnya yang panas! "Aku sangat merindukanmu Cherly! Aku bisa benar benar gila! Bahkan lebih parah dari Sam! Jika kau pergi dariku! Desis Bara dengan nafas menderu. Cherly semakin cantik matanya. Tubuhnya yang kian berisi dengan kulit yang kian halus bercahaya.


"Apa Alex pernah menyentuhmu disini? "Ejek Barra dengan suara serak saat menyentuh bagian bagian feminimnya yang sangat sensitif dengan sentuhan Barra!


Cherly tak kuasa menjawab selain merintih pelan.


Brengsek! Kau pikir aku wanita murahan yang bisa disentuh oleh sembarang pria dalam keadaan sadar! Maki Cherly dalam hati.

__ADS_1


Alex pernah mencium dan memeluk tubuhnya dalam keadaan otaknya yang sedang kolaps.


Bara terus melancarkan aksinya ditingkahi percikan air kran yang gemerincik nyaring di bak semen yang berair sedikit itu.


"Barr... Barr... Barra! Aaah! Tolong berhenti! Akuhh... Harusss... Memasak... Ahhhkkk!" Peliknya lirih. Saat tubuhnya menumpu ke Bak semen itu dengan sekuat tenaga bertahan namun semua sia sia. Dan akhirnya yang terdengar hanya lenguhan dan geraman bagai suara Singa yang dilanda berahi hebat.


Membuat kamar kecil itu bagai bergetar.


Disela rintihan dan de*ah*n yang seakan tiada henti. Bibir Cherly yang merah dan terlihat basah itu tak kuasa mengatakan apa apa lagi. Selain memasrahkan dirinya dengan hentakan dan kayuhan yang seakan tak ada habis habisnya. Barra telah lama menahan segala hasrat dan keinginnyanya bagai hewan buas yang lepas dari kerangkeng besi.


Tubuh Cherly yang baru dua bulan selesai Partus(Melahirkan) itu Berkali kali merasa cairan hangat itu menyiram rahimnya kembali. Cherly ketakutan.


Bagaimana kalau dia hamil lagi? Paquita masih begitu kecil.Bathinnya dalam hati.


Matahari kian meninggi.


Dan Pintu kamar mandi itu belum juga terbuka satu jam tertutup dengan rapat.


Membuat Lisa gelisah! Dia merasa gerah belum mandi sejak pagi tadi.


Duhh! Kak Cherly! Seharusnya sudah sadar! Kalau mandi lama itu saat masih berstatus


Gadis Populer bukan setelah jadi Ibu dengan dua orang anak, Sungutnya dengan kesal.


Satu Jam lebih! Pintu itu terbuka pelan tanpa suara. Lisa yang berdiri dekat jendela melihat Barra yang keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk lebar. Dan Cherly yang melangkah terlatih bagai orang habis terserang penyakit Typus! Tiba tiba dengan sekali ayunan tubuhnya dibopong Bara dengan cepat menuju rumah. Setelah melihat kekiri dan kekanan bagai maling ayam yang takut ketahuan.


Bara berjalan setengah berlari membawa Cherly hingga kekamar.


Dengan cepat Lisa menyelipkan tubuhnya kesisi pintu. Takut Barra malu! Karena melihat aksi malingnya.

__ADS_1


Lisa mengikik sendirian.


"Kayaknya si Paquita punya adik lagi ni! Hii Kan Cherly dikejar hingga kekamar mandi! Ngeri juga punya suami seperti Ayahnya si Banta!" Kata Menggedikkan bahunya dengan geli.


__ADS_2