Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Dilema Dirumah Kecil


__ADS_3

Tak ada yang dapat memprediksi hidup ini kedepan. Seperti apa hari ini dan apa yang terjadi di jam berikutnya. Semua masih samar dalam kasat mata manusia.


Demikian juga dalam keluarga kecil Barra.


Dalam senyum dan tawa yang terkadang berbalut luka. Semua dapat dihadapi oleh mereka dan mengisi hari hari mereka dengan gelak canda dikelilingi tiga buah hati mereka yang Tampan dan cantik. Seakan hari hari adalah milik mereka. Sam dan Truddie telah pergi ke Havana, Kuba. Mereka akan tinggal dipesisir pantai tak jauh dari Key West, Yang kira kira berjarak beberapa ratus km dari Florida. Setelah menyelenggarakan pernikahan sakral mereka disebuah Gereja kecil yang terletak dikaki bukit yang hijau.


Sam telah memboyong sang istri bersamanya sesuatu negeri yang jauh untuk dapat bertahan hidup ditengah komunitas komplotan mafia asing. Namun akrab bagi Sam. Namun pasti asing bagi Truddie pribadi


Entah seperti apa kehidupan mereka kedepannya hanya Tuhan yang tahu. Cukup air mata yang menetes turun satu persatu turun dari telaga mata Cherly saat Truddie mengucap selamat tinggal untuknya dan sang suami yang terpana saat melihat Sam menautkan jemarinya kejemari Truddie. Suatu gerakan yang pasti dan penuh dengan perjuangan yang akan dibebankan keatas pundak seorang pria seperti Sam.


Namun Barra tak meragukan kemampuan Sam dalam menjaga Truddie selama bersama dengan dirinya.


Barra dapat memastikan kemampuan Sam dalam melindungi dirinya dan keluarga barunya itu. Sam bertahan hidup sejauh ini. Dan dapat bertahan dari semua musuh musuhnya yang terkadang tak dapat diterima oleh akal sehat manusia. Truddie dan calon anak mereka akan aman sejauh Truddie dapat memahami dan mematuhi segala instruksi dan arahan Sam. Dalam upaya perlindungan diri mereka berdua.


Banta menatap kepergian Sam dan Truddie dengan nanap. Hati bocah lelaki itu seakan ikut separuh terbawa bersama Sam.


Banta Malik sangat menyanyangi Sam! Demikian juga dengan Truddie.


Namun tak ada airmata yang keluar dari kelopak mata Banta maupun Sam!


Hanya debaran hati mereka yang membuncah pedih.

__ADS_1


Sam meremas jemari Truddie menahan perasaan sedihnya hingga Truddie merintis kesakitan. Sam berharap suatu hari nanti dia dapat kembali bertemu dengan Anak lelaki Barra yang sedang menatap dari balik punggungnya yang menjauh.


Saat Mobil Box besar itu membawa pergi tubuh Sam dan Truddie Banta masih dapat melihat kemeja biru langit yang dipakai Sam hingga menghilang ditikungan jalan yang tertutup pohon pohon jalanan.


Dan Banta baru masuk ketika tangan Barra menuntunnya pelan masuk kedalam rumah kecil mereka.


"Aku lebih suka melihat mata pisau tajam yang menebas putus tanganku daripada berpisah dengan lelaki kecil itu" Desis Sam dengan tatapan kosong. Membuat Truddie terjengit ngeri. Truddie sadar seperti apa Sam memperlakukan anak anak Barra. Khususnya Si Bharche!


Mereka bersama hampir setiap waktu. Dalam lima bulan tinggal dalam satu rumah bersama di Istana kecil Barra dan Cherly.


Namun Sam harus pergi meninggalkan keluarga Barra yang telah dianggapnya keluarga satu satunya demi melindungi dirinya dan sang istri yang mulai mendapat teror dari beberapa penyusup yang mulai mencium keberadaan Sam yang telah mulai betah dengan kehidupan barunya.


Membuat Sam harus mengganti indentitasnya dan Truddie. Dan jalan yang harus ditempuh adalah menjauh dengan identitas baru buat mereka berdua.


Nantinya ditempat yang baru mereka akan tergabung dikomunitas masyarakat yang kebanyakan adalah orang orang dari Kelompok Sam. Yang berdomisili diwilayah hitam namun mendapatkan perlindungan penuh dalam keselamatan Truddie.


Sam tak masalah dengan dengan dirinya sendiri. Dia dapat menjaga dirinya dengan sangat baik. Namun berbeda dengan Truddie yang sangat lemah dalam kondisi berbadan dua. Lebih sering tinggal berdua dengan Cherly dan anak anak yang dianggap tak dapat menjamin keselamatan Truddie.


Sehingga Sam kerepotan dengan menjalankan misi misi rahasianya.


Hanya demi menjaga Truddie. Dan Sam telah terlalu dalam memyeburkan diri kedalam komplotan rahasianya. Tidak seperti Barra yang masih bebas melenggang kemana saja tanpa harus takut terkena timah panas dari pengintai yang berhati kejam. Dan siap mengincar nyawa kemana saja. Barra tetaplah berada diposisi yang bebas dan seorang pengabdi didalam negeri dengan segala potensinya yang multiversial. Dan tak mudah tumbang dan terhenbus dengan segala skandal masa lalunya yang penuh warna. Barra tetap berdiri tegak dan kokoh dalam tiap tiap kemelut hidup dan roman kehidupannya dengan wanita wanita yang berdiri diantara kehidupan mahligai perkawinannya dengan Cherly.

__ADS_1


Dari balik jendela kamarnya Barra menatap sang istri yang hari ini mengomel dengan topik masalah yang berbeda.


"Lis! Coba lihat awan diatas itu! Benar benar menakutkan hitam berarak bagai kelinci raksasa diantara kilau kilat yang mengerikan. Oh sial sekali! Cucianku akan berbau apek didalam gudang sumpek ini. Baju baju Paquita itu masih betah berada disalam kegelapan gudang. Oh gadis kecilnya yang malang! Bar! Kau bisa lihat kan? Kau cuma bisa memproduksi anak anak hingga tiga orang dan mungkin saja akan bertambah lagi. Namun siapa yang menyangka!Kau bahan tak bisa melindungi pakaiannya dengan memberikan fasilitas yang memadai buat anak anakmu! Dasar pria tak peka! sama seperti guruh datang dan pergi tak bisa diprediksi dengan tepat! "Kata kata dari bibir indahnya yang seksi menyindir Barra yang masih berdiri sambil tersenyum dengan mengendong Paquita yang menarik narik celana Cardigan hijau navy nya agar digendong. Barra mendudukkan Paquita dilengan besarnya dan menyandarkan punggung mungil Paquita kedadanya serta mencium rambut putrinya yang halus dibibirnya yang menahan senyuman mendengar sindiran sang istrinya yang terlihat masih marah marah dihalaman samping rumah.


"Mengapa Ibu si Banta marah marah! Bukankah dia sendiri yang meminta agar mencuci pakaian dengan tangan serta mengurus segala pekerjaan rumah tangga sebagai bukti bahwa dia wanita hebat karena dapat mengajak kemampuan dirinya dalam hal yang tadinya dianggap sepele, Namun kini dia juga yang merasa kewalahan dengan pekerjaan yang seakan akan tiada habisnya.! Dasar wanita aneh! "Bisik Barra dalam hatinya.


Cherly menatap Barra dari pakaian yang membentang terdekat dam tergantung dijemuran dengan mata indahnya. Barra menyeringai kesahnya separuh menggoda. Cherly membuang wajahnya sambil mendengus kesal.


"Jangan menatapmu seperti itu Ayah Bharche! Aku bisa melihat wajahmu itu! Kau megejekku kan? Aku dapat merasakan ketidak pedulianmu itu! Kau bahkan marah saat aku menyuruhnya membelikan selembar kecil tampan," Sentaknya dengan jengkel.


Barra hanya mengangkat bahu dan mulai melangkah keluar kamarnya masih dengan menggendong Paquita yang memeluk leher Ayahnya yang begap dan kokoh. Singkat putih lengan pendeknya terlihat membalut tubuh kekarnya yang terlihat kekar dan penuh otot.


"Kamu mau makan nak? "Tanya Barra kepada Paquita. Anak itu mengangguk pelan.


Barra mengambil piring dan mengisi piring dengan nasi dan lauk. Goreng ayam garing dan perkedel daging kentang sedikit gerusan Tomat dan kecap asin. Paquita sangat suka dengan Makanannya . Barra menyuapi putrinya dengan penuh kasih sayang. Sesekali mencium ubun ubun Paquita yang sedang mengunyah makanannya dengan Nikmat. Barra berharap hari ini dan esok dia dapat mengasuh Putrinya yang cantik dengan rambut sebahunya yang lembut ini.


Menjaga Putra putrinya dan berkumpul dengan Wanita yang dicintainya itu.


Dan wanita yang dicintai Barra itu kini tengah menyeret keranjang cuciannya sebagai wadah kain kering yang terasa lembab oleh angin yang mengandung uap air.


"Indra! Tolong angkat keranjang yang teronggok seperti monster ini kerumah. Aku takut hujan tiba tiba datang mengguyur dari atas sana. Atau jerih payahku saat mencuci dan menjemurnya akan berakhir sia sia,"Gerutunya masih dengan raut kesal.

__ADS_1


__ADS_2