Guru SD? Oh My Hot!

Guru SD? Oh My Hot!
Kharisma Suami Tua


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu.


Penculik Putrinya Paquita selalu berpindah pindah. Dan sangat lihay bagai Seorang pemain ulung dalam kegelapan. Sam dan Barra yang paling cerdik dapat dilebihi dengan kamuflase sang penculik yang kelihatannya memang bukan orang sembarangan.


Cherly menyandarkan tubuh lelahnya didekat jendela dengan tangan terlipat didada saat melihat perempuan yang berstatus dokter itu datang.


Maya!


Wanita itu masih tetap cantik seperti dulu. Cherly hanya menatap nanar walau berusaha tegar. Maya tiba dengan seorang anak ini hampir membuat dirinya shock.


Maya memeluk putranya disofa depan sambil berkata dengan mata berkaca kaca.


"Ini Rumah Ayahmu Nak!"Bisiknya dengan serak. Anak lelaki berusia delapan tahun itu nampak mengangguk dengan takut takut.


Cherly baru saja mendengar penuturan Dr Maya dengan seksama. Wanita muda yang cantik berstatus sebagai Istri syah Barra dan memiliki empat anak dari lelaki itu terlihat hebat dengan sikap tenangnya.


Cherly merasa tidak perlu terpancing dengan semua penuturan Dr Maya. Tentang hubungannya dengan Barra.


"Kami belum bercerai Cherly! Tidak ada sate perceraian apapun! Barra masih sah menjadi suamiku. Dan aku tak keberatan jika dia meninggalkan aku dalam waktu lama.


Dan aku juga rela hidup berdampingan denganmu sebagai istrinya yang lain. Mengertilah Cherly! Aku sudah mencoba melupakan Barra! Namun Aku tetap tak mampu! Aku mencintai suami kita itu Cherly! Aku mencintai Barra Chers! Aku rela menjadi yang kedua!" Kata kata Maya bagai anak panah yang menghujam relung hati Cherly.


Cherly tahu bagaimana rasanya mencintai.


Dan Cherly tahu bagaimana rasanya ditolak oleh orang yang kita cintai.

__ADS_1


Lagipula Barra memang pernah mengagumi dr Maya. Namun terlalu sakit baginya harus menerima wanita ini diantara dia dan Barra.


Dia tahu Barra sangat mencintainya dan dia yakin anak laki laki yang dibawa oleh dr Maya itu bukan anak Barra. Wajah dan tekstur wajah atau tubuhnya sama sekali tidak mirip.


Ya Allah. Apa tidak ada cara lain? desanya pelan.


Mengapa wanita ini tak pernah henti hentinya untuk datang menghampiri suaminya.


Dari pada kepalanya makin pusing. Cherly malah mohon Maya tinggal dikamar tamunya hingga Barra pulang nanti. Dia akan pergi kekantor suaminya. Sekalian jalan jalan. Dia merasa kepalanya kian mummet jika terus berada disini mendengar ocehan ocehan Maya tentang suaminya.


Kapan ini akan berakhir? Cherly tahu Barra akan marah jika wanita itu hadir disisi. Barra tak pernah ingin mengecewakan dirinya. Namun wanita wanita penggoda lah yang selalu berlomba lomba memperebutkan suami tuanya yang maskulin itu.


Udara sore ini terasa kian panas. Sisa siang yang memanggang bumi.


Cherly tiba dikantor dan menutup kembali ruangan suaminya yang terlihat kosong. Perlahan kembali melangkah keluar menuju ke Balkon teras lantai dua. Berdiri


Terlihat Barra disana dengan gerak energik. Melatih dan berlarian dengan gaya sporty yang anggun. Diantara siswa siswa SMA yang berpostur tinggi. Namun tetap saja Barra terlihat dengan tinggi badan yang dominan. Suaminya memang menakjubkan dalam segalanya. Cherly baru sadar. Sejak Sepuluh tahun perkawinanya. "Jodoh pilihan Papa memang yang terbaik" Bisiknya dengan bibir tergetar. Cherly melambaikan tangannya kearah Bawah memakai serbet lebar yang diambil dari meja kerja suaminya.


"Hai! Ayah Bharchek! "Pekiknya bagai seorang gadis remaja yang Bucin. Atau malah dikira tim pemandu sorak dari gadis pengantar teh keruangan Barra! Dress berbunga lila kecil pendeknya dengan gerakan rambut lurus indah sepundak itu tampak membuatnya bagai remaja SMA yang dilengkapi flatshoes warna pastel muda sehingga penampilan Cherly terlihat cerah.


Wajah cantiknya dengan olesan tipis menambah citra kecantikan seorang wanita muda yang segar.


Tak ada yang dapat menebak kalau Cherly telah memiliki empat orang anak yang telah menyusu didadanya yang terlihat kencang dan besar itu.


diantara lekukan pinggul kecilnya dengan bokong yang seksi dan berdaging.

__ADS_1


Tak ada pula yang mengenali Cherly di Yayasan besar ini.Sebagai istri sang pemilik Yayasan dan merangkap sebagai guru senior juga. Selain beberapa orang guru dan pegawai. Yang pernah datang kerumah mereka Disaat hari hari besar tiba kebetulan mengenal Istri Pak Barra Malik Ramadhan . Cherly sangat jarang datang berkunjung kemari. Jika tak ada perihal yang sangat penting.


Beberapa siswa langsung menoleh dan saling pandang penuh arti. Bahkan beberapa dari mereka tersenyum jail dari belakang Barra .Karena mengira Cherly adalah salah satu mahasiswa pengagum Pak Barra yang bermodus wawancara dengan sang instruktur pendaki Gunung. Sebagai motivator di Gerakan remaja Pencinta Alam.


Barra melihat sekilas kearah Cherly. Tanpa senyum. Membuat bibir Cherly cemberut.


Barra menoleh kembali ke arah siswanya. Memberikan pengarahan sejenak kepada Anggota klub sebelum melangkah kearah tangga samping menuju ruangannya. Langkah kaki panjang dan tegap itu tiba dilantai atas dan terus. melangkah kearah ruangannya tanpa melihat kearah Cherly yang mulai menghentak hentakkan kaki kelantai dengan marah. Mengikuti suaminya masuk kedalam sambil. mengomel ngomel.


panjang kali pendek.


"Hei Ayah Bharche! tadinya aku mau memberikan kamu ciuman terbaikku! Tapi karena kau tak menyambut aku sebagai tamu istimewamu disekolah ini. Lihat! maka aku akan mencoret coret serbet lebarmu itu dengan spidol, Rasai saja kau tak punya tissue untuk mengelap bibirmu saat selesai makan dan minum ha ha ha! "Katanya puas. Dengan mata memicing kearah suaminya yang tersenyum kecil kearahnya. Sambil berdiri dengan tangan kiri dipinggang sementara tangan kanan melambai lambaian serbet lebar katun itu yang telah habis tercoreng cemong hingga disemua tempat kain tak bersalah itu. oleh goresan spidol .Cherly memang kadang bertingkah kekanakan, Barra menggeleng gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Sedangkan kedua tangannya berada di Saku celana panjang sport nya yang berwarna putih. senada dengan atasan T Shirt putih lengan pendek. Dikombinasikan les hitam vertikal garis hitam horizontal disisi samping pakaian olah raga Barra.


Yang terlihat serasi dutubuh atletis suaminya. Namun Cherly mencoba mengganggu Barra . Dengan begitu kekesalannya yang tak terluapkan bisa tersalurkan dengan sehat


"Oh!! Aku tu ya! Paling kesel dengan Pria tua! Bujang lapuk bau tanah! Sok keren sok Cool kayak gaya Pria tua yang lagi mengelap keringat baunya itu ya?"Kata Cherly dengan wajah Menggemaskan dimata Barra.


Cherly suka mengganggu Barra sejak pernikahan mereka. Padahal Cherly telah tahu sifat Barra yang terkesan dingin dan pendiam. Tapi Cherly tahu Barra sangat senang dengan kedatangannya ke tempat tugasnya. Barra pernah malah mengajak Cherly agar berlatih menjadi guru bersamanya di sekolahnya. Agar mereka berdua selalu berdekatan tiap hari. Begitu alasan Barra.


Perlahan Barra. melangkah pelan menghampiri Cherly dengan pasti. Kini senyum mesum itu terlihat disudut bibir sang suami. Cherly tau arti senyum itu. Senyum yang biasanya digunakan Barra untuk mengajak bercinta! Kini membuat Cherly terbelalak ngeri. Bagaimana mungkin mereka akan berbuat maksiat dikantor suaminya. ! Ups!


Hai setidaknya Bukan maksiat karena mereka telah menikah.


"Hai. Ayah Bharche! Stay Away! Aku mohon jangan disini! Dinding tripleks tebal yang belum jadi tembok kedap suara ini tak mampu menampung suara seksiku saat aku menjerit meneriakkan namamu dengan sensual! Apa kau tidak malu menggarapku disofa kecil itu? Tubuh besarmu tak muat bertengger disana.


Sofa malang itu akan ambruk karena hentakan raksasamu! Dan manuver ultrasonik mu yang membuat gedung ini bergetar. "Kata kata Cherly meluncur lincah tak membuat Barra berhenti. Dan malah memepet tubuh Cherly kedinding dan mulai menciumi wajah Istrinya. Dengan cerdik Cherly melorotkan tubuh kecilnya dengan mudah kebawah.dan berlari kearah pintu sambil meleletkan lidahnya. Sambil tertawa terkikik geli.

__ADS_1


Membuat Barra menahan keinginannya dengan wajah memerah.


__ADS_2