
Sam dan Truddie memasuki rumah yang kini tampak sedikit rumahsiawi terlihat (seperti rumah manusia pada umumnya)
Rumah yang tadinya terlihat tak terurus dan bernuansa gelap dan suram, lebih cocok untuk lokasi scene film "Kuntilanak season VI" Dengan pohon besar yang menjulang tinggi dengan juntaian urat dahan yang berserabut saling memilin. Persis monster bercinta. Pada halaman depan kini telah bersih meninggalkan sisa penebangan pohon yang membuat aura rumah itu terlihat hidup.
Beberapa bagian rumah yang tadinya penuh lalang dan perdu menyemak belukar kini terlihat rapi dengan susunan kerikil warna warni dengan tanaman bougenvil kecil yang sangat rapi dan asri. Dijilat kecil berbentuk bundar yang dikelilingi kembang sepatu yang tadinya bagai rawa rawa berwarna hijau keruh sarang nyamuk. Penuh jentik jentik dan keong liar. Kini terlihat bening hasil kurasan Indra dan pak Mamo. Diperintah langsung oleh Barra. Agar rumah cantik sahabatnya ini tak tampak bagai rumah mati.
Kini tersentuh oleh peradaban hunian siap pakai.
Mengingat Kehadiran Truddie yang mungkin saja akan datang dalam waktu yang dekat.
Angin sejuk yang lolos dari dedaunan kecil yang sengaja dipelihara terasa lembut membelai wajah Truddie. Seakan menyambut kehadirannya bersama Sam.
Truddie sempat kaget melihat Aura pekarangan yang berbeda sejak kedatangannya sebulan yang telah lalu. Saat Sam membawanya berkunjung. Rumah yang saat itu tampak bagai tempat penjagaan.
Sementara Sam sama sekali tak terpengaruh dengan suasana rumah yang berganti hangat.
Wajahnya terlihat biasa saja.
Sejak keluar dari rumah keluarga Paulinsky dia sama sekali tak bergeming.
Suaranya hilang dari gendang telinga Truddie.
Berkali kali Truddie melirik kearahnya diam diam. Mengagumi ketampanan Sam yang yang misterius. Sam hanya menyetir dengan santai tanpa bicara. Bibirnya yang merah dengan wajah Continentalnya yang sangat Asia itu sangat indah. jemari panjang dengan potongan kuku yang rapi itupun tak luput dari perhatian Truddie.
Sam memang luar biasa. Tampan! Jenius dan Kharismatik. Tidak ada topeng silikon lembut yang menutupi wajahnya.
Terkadang pria itu mendesis seperti ular saat beberapa motor remaja ugal ugalan yang hampir menyerempet mobil besar milik Barra.
Dapat dipastikan. Jika dia sedang sendirian tanpa Truddie disisinya.
Salah satu dari pemuda penyerempet itu sudah pasti lenyap tanpa nyawa.
Kepulan asap dan debu disepanjang jalan yang berbatu batu meninggalkan kabut kotor dibadan jalan yang memasuki perkampungan yang berpenduduk mulai jarang.
Truddie tak ingin bertanya ini dan itu. Truddie hanya ingin menikmati kebersamaan yang langka dengan manusia yang langka juga.
Truddie lebih memilih untuk tidur dengan bantal kecil yang selalu disediakankan oleh Barra sebagai bantal putranya Disaat dalam perjalanan.
Bharche sangat suka naik mobil sambil tiduran walau berada dalam pangkuan Pengasuhnya. Atau Ibunya.
Dan kini mereka berhenti. Pas didepan satu unit rumah indah berbentuk Clasic walau terlihat sederhana. Dengan desain alami perkampungan dilengkapi serambi bak perumahan pejabat desa tempo doeloe.
Lengkap dengan seng merah bubung lima.
Undakan tangga terbuat dari semen biasa.
Tubuh jangkung Sam yang menjulang terlihat begitu kontras dengan Truddie yang bertubuh mungil. Ramping dan luwes. Sam terlihat kaku saat membuka pintu depan dengan lantai porselen hitam yang berdasar bahan mewah. Pria itu terlihat menunduk. Dengan gaya malas. Apa dia mengantuk? Pikir Truddie pada dirinya sendiri.
Sam kan tak pernah tidur dengan pulas. Sam bisa duduk bahkan walau sedang bermain bola.
__ADS_1
Menurut hasil diagnosa dokter Neurologi yang pernah didengar oleh Truddie melalui Barra. Saraf tidur Sam tetap aktif pada waktu waktu tertentu. Namun dengan keadaan terjaga.
Aneh! Sam memang aneh dan itu tak dapat dipungkiri.
"Selamat datang! " Tiba tiba suara dari dalam rumah mendadak riuh dihadiri oleh Cherly beserta kedua buah hatinya.
Sam hanya diam walau wajahnya terlihat bahagia. Sedang Truddie tampak kaget dalam wajah lelahnya.
Namun tak urung dia tersenyum dibalik kabut kemurungan wajahnya.
Wow! Pekiknya senang! Sambil menerobos masuk memeluk BarChe yang berada dekat Lisa. Sementara Barra menggendong Paquita. Cherly hanya cengar cengir sambil memandang kearah Sam Dan Truddie yang terlihat bagai pasangan kalah lotre.
Truddie dan Sam sama sekali tak romantis!
Yang satu kaku dan satunya merenung bagai Ibu rumah tangga yang sedang terlilit hutang!
Ya! Truddie tampak tertekan walau wajahnya menunjukkan kebahagiaan. Sisi yang lain Sam yang masa bodoh. Dan kini pria aneh itu malah masuk kedalaman kamar setelah menjawil hidung Bharche yang berlari mengikutinya masuk kedalaman kamar. Sementara tamu tamunya yang hadir lebih dulu bengong menatap punggungnya dari belakang.
Truddie masih terlalu lemah untuk berkicau seperti biasanya.
Untuk memarahi Sam saat ini dia tak mampu.
Tapi tidak untuk besok.
Sam akan tahu bahasa planet Truddie.
Lagi pula Kejadian barusan dirumahnya membuat dirinya sedikit banyak shock!
"Hai Trudd! Kau sudah mantap dengan pilihanmu? "Katanya terdengar prihatin.
Truddie hanya mengangguk sambil mencium Pipi Putri kecil Cherly yang baru berusia tiga bulan lebih beberapa hari itu.
Cherly merenungi nasib sahabatnya itu.
apakah Truddie merasa benar dengan keputusannya.
Mengingat sifat Sam yang tidak mudah.
tak urung membuat Cherly ragu.
Tinggal dengan pembunuh berdarah dingin seperti Sam sama artinya tinggal dikandang Singa yang buas.
Truddie dituntut sabar bagai pawang penjinak hewan buas dipenangkaran.
Barra melangkah keluar merentangkan kawat jemuran buat Truddie diisi rumah.
Cherly dan Barra bukanlah tipe manusia yang ingin tahu urusan pribadi Sam ataupun Truddie.
Barra lebih suka membantu sang Sahabat yang masih terlihat termangu ditempat.
__ADS_1
Sam berada didalam kamar sedang Truddie berada diruang depan bersama Cherly dan Lisa.
Bu Ani dan Bibi Erni mulai sibuk menata makanan diatasi meja. Indra dan Barra mulai memasuki rumah Sam dan pergi menuju ruang belakang. Untuk membersihkan diri.
Mereka akan menyambut kedatangan Truddie dirumah ini dengan cara yang sederhana.
Selepas Magrib mereka akan makan bersama bagai sebuah keluarga besar.
Pak Mamo Pegawai baru yang direkrut Barra akan membeli beberapa jenis makanan yang ingin disantap oleh mereka selepas makan malam nanti.
Barra tak ingin terlalu merepotkan istrinya yang sedang sibuk menuruti permintaan Bharche dan adiknya yang sangat rewel.
Sementara Cherly terlihat lebih lemah beberapa hari terakhir ini.
Mengerjakan pekerjaan rumah walau dibantu oleh Bu Ani dan Lisa. Tetap saja membuatnya sangat kelelahan ditambah melayani Barra yang tak mengenali tempat dan waktu. Membuat Cherly kehilangan banyak energi.
Barra selalu berkelakuan bagai maniak **** membuat Cherly kewalahan.
Cherly membuang nafas dengan pelan menahan mual yang dirasakannya beberapa hari terakhir ini.
Dia merasa was was.
Apakah dia akan hamil lagi. Barra tidak pernah memakai alat kontrasepsi adapun dalam berhubungan intim dengannya.
Dan Cherly juga tak pernah menelan pil kontrasepsi pencegah kehamilan.
Barra mengajaknya berhubungan dengan tiba tiba dan peristiwa menyenangkan orion berjalan sesuai keinginan sang suami sehingga alat kontrasepsi terlupakan.
"Kau kelihatan sangat lelah! Istirahatlah, " Saran Bu Ani prihatin sambil menggendong Paquita yang baru diambilnya dari gendongan Lisa. Cherly mengangguk dan masuk kedalaman kamar setelah mencium putrinya dengan gemas.
Bu Ani menyempatkan diri mengelus rambut Truddie dengan penuh rasa sayang.
"Tunggulah disini nak! Mungkin sebentar lagi Sam akan keluar, " Bisiknya dengan pelan kepada Truddie. Gadis itu mengangguk pelan sambil mulai memejamkan matanya dalam duduknya.
Bu Ani berdendang kecil sambil mengaduk aduk bubur bayi yang masih terasa hangat.
Sementara Bharche sibuk berlarian bersama Lisa menangkap Laron yang merubung dilampu teras depan. Anak itu baru saja keluar dari ruang kamar utama .
Mungkin Dia bosan berada dikamar bersama Sam yang mulai sibuk dengan Laptopnya.
Entah apa yang sedang diutak atik oleh Sam dengan alat alat canggih dikamarnya sehingga membiarkan Truddie diluar tertidur disofa ruang tamu. Gadis malang itu tidur menekuk dengan kaki kecilnya yang mungil dan punggung tersandar dihead Sofa depan sepeninggal Cherly.
Cherly seolah mengabaikan Sahabatnya ini untuk menguji kepekaan Sam yang masih berkutat sendirian dikamarnya.
Waktu terus beranjak. Hingga jarum pendek di jam dinding itu bergeser mendekat kearah angka tujuh lewat empat puluh menit.
"Hmm ! Akhirnya manusia langka itu keluar juga, "Bisik Bu Ani dalam hati.
Saat melihat tubuh menjulang dan jangkung itu berada dipintu kamarnya sambil menarik kedua lengan panjangnya kertas.
__ADS_1
Hhh ternyata dia bisa lelah juga! Pikir Bu Ani sambil pergi keruang belakang. Menyuap Paquita dimeja makan.
Suasana sangat tenang. Setenang langkah Sam yang datang mendekat kearah Sofa dimana tubuh Truddie tidur menekuk dengan bagai anak malang yang tertidur dipinggir jalan. Perlahan tangan Sam yang indah terulur kearah kepala Truddie!